Malang Post

Batu Agropolitan

Limbah Manusia Akan Dikelola UPTD

Share
BATU - Limbah kotoran manusia, sebentar lagi bisa diolah melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Air Limbah Domestik. UPTD ini bernaung di bawah Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Kota Batu, yang khusus menangani penanganan limbah tersebut mulai dari pengangkutan dari rumah-rumah, hingga pengelolaan IPLT (Instalasi Pengelolaan Lumpur Tinja).
Pemkot Batu sendiri,  sudah menyiapkan payung hukum berdirinya UPTD ini. Beberapa waktu lalu, Walikota Eddy Rumpoko telah menandatangani Perwali Nomor 19 tahun 2014 tentang Pembentukan UPTD Air Limbah Domestik.“Masalah air limbah domestic dan air bersih, menjadi misi pemerintah Indonesia untuk Millenium Development Goals (MDGs-red),” ujar Imam Suhadi, Governance Specialis Pengelolaan Pelatihan Iuwash Jatim.
Untuk mencapai itu pemerintah pusat menargetkan 100 – 0 – 100 yakni mewujudkan akses air minum 100 persen dalam pengelolaan badan tertentu yang bisa memenuhi standart baku mutu air bersih.
Target selanjutnya adalah 0 (nol) daerah kumuh dan target 100 dalam penanganan air limbah domestic. “Angka 100 terakhir ini adalah bagaimana Pemkot Batu bisa memberikan layanan terkait air limbah domestic , Iuwash mensuport pemerintah pusat untuk mendorong 12 kabupaten dan kota di Jatim mewujudkan misi tersebut,” ujar Suhadi.
Kota-kota tersebut adalah Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Kota Mojokerto, Kabupaten Mojokerto, Jombang, Batu, Kabupaten Malang, Kota Malang, Kota Probolinggo dan Kabupaten Probolinggo.
Terkait hal tersebut, Pemkot Batu bekerjasama dengan Indonesia Urban Water Sanitation dan Hygiene (IUWASH) melatih beberapa pegawai dari beberapa instansi seperti PDAM, beberapa SKPD di Pemkot serta Pokja Sanitasi AMPL di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BPPD).
UPTD ini akan menangani tiga aspek, yakni San 1 (Terkait individual sistem), San 2 (Sistem Pengelolaan Domestic Komunal), San 3 (skala kawasan) dan San 4 (Instalasi Pengelolaan Limbah Domestik).“Semua elemen ini harus berkesinambungan, 4 San ini tidak mungkin bisa berjalan, kalau tidak ada kesadaran masyarakat, karena itu perlu ada UPTD,” terangnya. 
Selain mempersiapkan UPTD, Suhadi menjelaskan pihaknya mendorong Entrepreuner Sanitasi tumbuh di Kota Batu, pasalnya ketika masyarakat  semakin sadar akan pentingnya sanitasi maka dibutuhkan semakin banyak sanitarian.
Target dari program ini adalah tertatanya air limbah domestic. Pasalnya di kota apel ini masih banyak warga  yang membuar air besar di sungai. Kalau pun ada WC di rumah namun justru limba dialirkan ke sungai tanpa diola di septitank.
Hasil analisis Iuwash, ternyata cukup mengejutkan. Pengelolaan sanitasi di 
kota wisata ini masih nol. “Kenapa dikatakan nol, karena masih ada yang buang air di sungai atau membuang kotoran langsung ke lubang. Kalau pun ada yang disedot di septitank, membuang kotorannya tetap di sungai, kan sama saja dengan pak pok,” ujar Eko Purnomo, City Coordinator Iuwash Kota Batu.
Di Kota Batu terdapat kurang lebih 36 unit ipal komunal, namun masih perlu pembinaan karena hingga kini belum diketahui secara pasti air buangannya apa sudah memenuhi baku mutu air atau belum.“Jika ada UPTD nanti akan ada pengelolaan secara langsung limbah domestic, kesiapan UPTD ini kita awali dengan melatih sumber daya manusianya,” terang Eko. (muh/lyo)
comments
Last Updated on Saturday, 28 March 2015 17:13

Page 10 of 37