Batu Agropolitan

Malang Post

Batu Agropolitan

Berita terbaru dan terlengkap  Kota Batu dan sekitarnya

Selalu Dekat dengan Anak


KESIBUKAN menjadi bidan di Puskesmas Beji, tidak membuat Jatu Permana Guptasari melupakan keluarganya. Wanita asli Kasembon Kabupaten Malang ini selalu menyempatkan untuk mengajak dua anaknya berlibur. Bahkan dia pun memiliki jadwal khusus liburan, yaitu setiap Sabtu jika tidak piket.

Menurut Jatu, suami dan dua anaknya menjemput di tempatnya bekerja. Selanjutnya mereka sama-sama untuk pergi ke tempat berlibur. Sekalipun bukan tempat yang jauh, tapi berlibur bagi ibu 28 tahun adalah momen untuk dirinya lebih mendekatkan diri dengan dua buah hatinya.
”Paling sering ke Malang Olympic Garden (MOG). Disana dua anak saya bisa main di playground,’’ kata Jatu sembari tersenyum.
Wanita cantik ini mengakui, bekerja memang mengurangi waktu dirinya bersama keluarga. Tapi demikian, bukan berarti dia mengabaikan perkembangan dua anaknya. Setiap waktu saat alumni STIKES Negeri Malang ini longgar dia langsung menelpon.
Di telepon, Jatu akan menanyakan aktifitas dua anaknya seharian. ”Ngobrol ringan, ya seperti ibu pada umumnya,’’ katanya.
Bukan itu saja, setelah pulang kerja wanita ramah ini juga ngobrol dengan buah hatinya. Termasuk melihat pekerjaan rumah dua anaknya.
”Kalau mereka ada PR saya mendampingi mereka mengerjakan, dan mengajari jika ada yang susah,’’ urainya.
Jatu mengatakan, jika cita-cita menjadi bidan itu sejak dirinya masih kecil. Salah satu yang mendorongnya untuk menjadi bidan adalah sosok sang ibu yang juga seorang bidan. ”Dulu cita-cita saya  ingin jadi seperti ibu, itu saja,’’ katanya. Cita-cita tersebut pun diwujudkan oleh Jatu dengan dirinya sekolah di STIKES Negeri, dan lulus tahun 2008 lalu. Nasib mujur pun menghampiri dirinya, karena Oktober 2008 lalu ada penerimaan CPNS di Kota Batu. ”Saya daftar, dan Alhamdulillah di terima. Maret 2009 saya mulai kerja di Puskesmas Beji ini,’’ tambahnya.
Jatu selama ini harus pulang pergi Kasembon-Kota Batu. Dia membawa kendaraan sendiri dan menempuh perjalan 1.5 jam setiap kali jalan. Jatu pun mengaku lelah. Tapi rasa lelah itu seketika hilang setelah dia bertemu dan melihat dua buah hati serta suami.
”Kalau malam, saya piket mulai pukul 20.00. Berangkat dari rumah pukul 18.00,’’ urainya.
Sejauh ini, menurut Jatu, dia tidak pernah mendapatkan kesulitan. Terlebih saat melakukan pertolongan wanita yang melahirkan. Hal inilah yang membuat dirinya terus bersyukur karena selalu memperoleh kemudahan saat membantu persalinan. (ira/feb)

Diberi nama Putra Jalibar, Warga Berebut Adopsi


Bayi Tanpa Orang Tua, Seminggu di Puskesmas Beji

BATU - BAYI laki-laki tampak tidur terlelap di sudut salah ruangan Puskesmas Beji, kemarin. Saat Malang Post datang, bayi bernama Putra Jalibar Bosky ini sama sekali tidak bergeming. Hanya sesekali saja mulut dan tangannya bergerak. Bayi laki-laki ini adalah bayi yang ditemukan warga di Jalan Lingkar Barat, Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan/Kota Batu, Selasa (19/4) lalu.

“Kondisinya baik, semuanya stabil,  minumnya juga  sudah bagus,’’ kata Bidan Puskesmas Beji, Yuliana.
Diceritakan Yuliana, saat kali pertama ditemukan, bayi laki-laki ini kondisinya sehat. Dia memiliki berat 2.7 kilogram dan panjang 40 centimeter. Namun demikian, karena tidak mau minum, kondisi kesehatan bayi inipun drop. Bahkan Kamis (21/9) bayi tersebut harus dibawa ke RS Karsa Husada (RS Paru), lantaran mengalami Bilirubin tinggi. ”Kondisi bayi waktu itu kuning, sehingga langsung di rujuk ke rumah sakit,’’ kata Yuliana.
Berada di ICU selama empat hari, kondisi bayi pun membaik. Hingga kemudian kembali ke Puskesmas Beji. ”Baru pulang Minggu (24/4),’’ tambah Yuliana sembari mengatakan, selama sakit, bayi laki-laki ini mengalami penurunan berat badan tiga ons.
Sejak Minggu (24/4) lalu berada di Puskesmas Beji, berat badan bayi ini kembali naik satu ons, yaitu menjadi 2.4 kilogram. Kondisi bayi membaik karena dia mulai banyak minum.
Bayi tersebut sementara diberinama Putera Jalibar Bosky oleh Kepala Puskesmas Beji, dr Yohanes Bosco Hardjono.  Dia tidak minum susu formula, melainkan ini minum ASI murni. ”Di sini kebetulan ada pegawai yang juga memiliki bayi, jadi dia memberikan ASI. Selain iu, dr Bosco juga membawa ASI,’’ kata Yuliana. Sebelumnya, Bosky mendapat susu formula. Tapi dia enggan minum dari botol.
”Kemarin minumnya harus disendok, tapi sedikit sekali. Sekarang minumnya sudah banyak, pipisnya lancar dan buang air besarnya juga lancar,’’ tambah wanita berkacamata ini.
Di Puskesmas Beji, Bosky mendapat perawatan sangat intensif. Dia dirawat oleh puluhan tenaga medis yang berjaga secara bergantian. Rata-rata mereka memandang gemas bayi yang ditemukan dengan tali pusar masih menempel tersebut. Bahkan, mereka pun rela menggendongnya secara bergantian, terutama malam hari.
Menurut Yuliana, jika malam Bosky kerap merengek. Tapi saat dia didekap, rengekannya hilang. ’’Kalau lapar dia nangis, jadi kita langsung kasih susu. Jika mulai merengek kita langsung gendong,’’ tambahnya.
Selama ini Bosky ditempatkan di ruang pelayanan Puskesmas Beji. Dia tidur di atas box. Pihak Puskemas pun cukup ketat melakukan pengawasan. Terutama saat malam hari, pintu tempat bayi ini dirawat dikunci. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi sesuatu pada Bosky.  
Sejak sembilan hari berada di Puskesmas Beji, Yuliana mengatakan cukup banyak orang yang ingin mengadopsi. Tidak terkecuali keluarga pejabat di Kota Batu. Kendati tidak menyebutkan namanya, tapi keluarga pejabat ini cukup getol datang.
Tapi demikian, karena kasusnya  masih ditangani Polisi, pihak Puskesmas meminta warga lebih dulu mendatangi Polres Batu. ”Di sini hanya perawatan saja, untuk proses adopsi silakan ke kepolisian dulu aja,’’ urainya, sembari menyebutkan selama 10 hari Bosky menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan, selanjutnya akan diserahkan ke Dinas Sosial dan Tenaga Kerja. ”Prosedurnya demikian, tapi kami belum tahu juga,’’ tandasnya.(ira/feb)

ER Tanggung Biaya Korban Longsor


BATU – Kusmiatun, 56 tahun, warga RT06 RW06, Dusun Babatan, Kelurahan Temas bertekad melanjutkan pekerjaan, yaitu membuat dapur dan kamar mandi rumahnya. Sekalipun, pembuatan pondasi di rumahnya telah merengut nyawa Sutikno, 51 tahun suaminya, dan anaknya M Samsul, 26 tahun mengalami patah tulang.

‘‘Kalau tidak dipondasi, longsor akan semakin parah. Rumah warga di sebelah juga akan kena longsor,’’ kata ibu tiga anak ini dengan nada patah-patah.
Kusmiatun mengatakan, dia tinggal di rumah tersebut sejak tiga tahun silam. Sebelumnya dia tinggal bersama dua anaknya yaitu M Samsul dan Siswanto, 29 tahun, di kampung. Selama tinggal di rumah baru ini, beberapa kali dilakukan perbaikan.
‘‘Sebulan lalu kami berniat membangun kamar mandi dan dapur di belakang rumah, memanfaatkan tanah yang ada,’’ katanya.
Untuk membangun dapur dan kamar mandi ini, Sutikno tidak meminta bantuan orang lain. Dia mengerjakan sendiri, dibantu dengan dua anaknya. Awalnya pekerjaan itu dilakukan dengan lancar. Bahkan, dia juga melubangi tanah yang digunakan sebagai pondasi.
‘‘Semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Untuk pondasi pak Sutikno membuat galian sedalam 170 centimeter dengan lebar 40 centimeter,’’tambah Kusmiatun.
Selama melakukan penggalian, Sutikno dan Samsul pun awalnya cukup lancar. Hingga akhirnya kemarin. Secara tiba-tiba tanah di atas bapak dan anak ini ambrol, dan kemudian menutupi tubuh keduanya.
‘‘Saya di situ. Saya melihat langsung suami dan anak saya tertimbun longsor,’’ katanya.
Seketika itu juga Kusmiatun dan Siswanto panik. Mereka berteriak minta tolong, sembari menggali, tanah yang menimbun Sutikno dan Samsul. ”Waktu menggali  kami kesulitan, karena tidak hanya tanah, tapi juga banyak batu besar,’’ kata  Siswanto.
Pria 29 tahun inipun mengangkat tubuh ayahnya dari dalam galian. Dia masih melihat sang ayah bernafas dan minum. ”Bapak sempat minum dua kali, dikasih minum oleh warga,’’ katanya dengan mengambil nafas panjang. Tapi demikian, karena kondisinya parah, nyawa Sutikno tidak bisa ditolong. Pria yang kesehariannya bekerja sebagai petani ini menghembuskan nafas terakhirnya saat perjalanan menuju RS Baptis.
”Tadi dimakamkan di TPU Dusun Glonggong, Kelurahan Temas,’’ kata Siswanto. Sementara M Samsul, kata Siswanto, sudah membaik. Samsul menjalani operasi pukul 09.00 kemarin. ”Kalau tidak ada halangan, besok (hari ini) bisa pulang. Doanya saja mbak,’’ tambah Siswanto.
Ditanya soal biaya, Siswanto mengatakan jika seluruh pengobatan Samsul di tanggung oleh  Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko atau akrab disapa ER. ”Setelah kejadian pak Wali ke sini, kemarin juga langsung ke RS Baptis untuk menengok adik saya. Di RS Baptis pak Wali berjanji menanggung seluruh biayanya selama menjalani perawatan disana,’’ urainya.
Sementara itu Kepala Bagian Kesra Pemkot Batu Teguh Wijanarko mengatakan jika Pemkot Batu menyiapkan santunan kematian kepada keluarga Sutikno korban meninggal akibat terkena longsor Selasa (26/4) lalu. Santunan yang diberikan besarnya Rp 5 juta. Santunan ini diberikan untuk mengurangi beban yang ditanggung oleh pihak korban.
Nilai santunan ini memang jauh lebih besar dibandingkan santunan Pemkot Batu kepada warga miskin yang meninggal karena sakit. ”Kalau sakit atau meninggal secara normal santunan yang diberikan Rp 1 juta. Tapi karena ini musibah, santunan yang diberikan Rp 5 juta, itu maksumal,’’ kata Teguh.
Santunan itu akan diberikan Pemkot Batu kepada keluarga korban atau ahli waris korban. Tapi demikian, untuk pencairannya, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Pertama surat keterangan miskin dan surat kematian.(ira/feb)

Bapak Anak Tertimbun Longsor


BATU - Tidak ada hujan tidak ada angin, ayah dan anak warga Dusun Babadan RT 6 RW 6, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu tertimbun tanah longsor, sekitar pukul 18.00, Selasa (26/4) kemarin. Akibat kejadian itu sang ayah, Sutikno, 55 tahun, meninggal dunia saat dilarikan ke RS Baptis. Sedangkan anaknya, M Samsul, 21 tahun mengalami patah tulang bahu sebelah kiri.

Hingga berita ini diturunkan warga bersama-sama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu bersama relawan masih berada di tempat kejadian perkara. Korban Samsul juga masih menjalani perawatan intensif di RS Baptis Kota Batu.
"Kejadiannya menjelang Maghrib, saat itu kedua korban sedang menggali pondasi rumah. Ada galian baru sedalam 1,5 meter, mendadak tebing setinggi enam meter  engan lebar tiga  meter longsor dan menimpa keduanya," ujar Eko, warga setempat.
Saksi pertama yang mengetahui kejadian ini adalah Agus Santoso, tetangga korban dan Ayong, pemilik rumah yang letaknya tepat di atas tebing longsor. Saat itu Ayong sedang tertidur pulas di dalam rumahnya, mendadak ia terbangun saat mendengar gemuruh tanah ambrol.
Bersama-sama warga yang lain, Ayong mencoba memberikan pertolongan dengan menggali urukan tanah dengan alat seadanya. "Waktu itu, kedua korban masih hidup, meskipun dalam kondisi tidak sadarkan diri. Korban meninggal dunia saat perawatan di RS Baptis," terang Rokim, Kasi Kedaruratan dan Logistik, BPBD Kota Batu.
Menurut Rokim, korban berniat membangun rumah dan diawali dengan menggali pondasi. Diduga kondisi tanah yang gembur membuat tanah ini mendadak longsor.
Agus Santoso, tetangga korban yang saat itu berada di tempat kejadian perkara menuturkan, peristiwa itu terjadi sesaat sebelum kedua korban hendak mengakhiri pekerjaannya. “Saya membantu memasukkan tanah ke dalam karung. Menjelang Maghrib saya mengajak korban menghentikan pekerjaan. Ayo ngaso wes surup (ayo istirahat sudah Maghrib),” ujar Agus.
Ketika kedua korban hendak naik, mendadak tebing longsor dan langsung menimbun kedua korban. Agus yang berada di dekat lokasi, juga nyaris tertimpa longsoran, namun ia berhasil menghindar, hanya kakinya yang tertimbun sedikit tanah.
Spontan Agus berteriak hingga didengar Ayong. Mereka pun menggali menggunakan cangkul. “Kita sangat berhati-hati karena khawatir cangkul kita terkena tubuh mereka, kurang lebih 30 menit baru kita temukan tubuh mereka,” ujarnya.
Warga menemukan tubuh Samsul dalam posisi berdiri terjepit diantara material, lima menit kemudian mereka menemukan tubuh Sutikno yang tertimbun didalam material tanah bercampur batu sedalam kurang lebih dua meter. (muh/mgc/feb)

Program Tak Jalan, Mbenjes Namanya


BATU – Pimpinan DPRD Kota Batu ikut kecewa terhadap SKPD di Pemkot Batu karena program masih minim terlaksana hingga akhir April ini. Padahal tahun ini adalah tahun politik bagi Kota Batu seiring persiapan Pilkada awal 2017 nanti. DPRD sanksi program bisa berjalan jika tidak cepat dilaksanakan sejak awal tahun.

Sebagai contoh, gedung DPRD mengalami kerusakan. Dewan terus mendesak Pemkot Batu segera melakukan renovasi terhadap kerusakan itu. Renovasi tetap belum dilaksanakan meski kerusakan cukup parah dan kuatir ambruk.
‘’SKPD tidak boleh hanya pintar membuat perencanaan di atas kertas, namun minim penerapan di lapangan. Saya juga senang kalau bikin perencanaan tok sudah dapat bayaran, kemudian jadinya kertas lantas dibuang ke tempat sampah. Tulis besar-besar, mbenjes itu namanya,’’ ungkap Cahyo Edi Purnomo, Ketua DPRD Kota Batu.
Perencanaan dari renovasi gedung sudah dilaksanakan, ia berharap segera ditindaklanjuti dengan renovasi. “Perencanaannya sudah selesai, harusnya sudah ada pembangunan. Kami minta pembangunan dilakukan Februari atau Maret, namun hingga akhir April ini belum ada pelaksanaan,” ujar mantan Ketua DPC PDIP Kota Batu ini.
Politisi PDIP ini menegaskan renovasi gedung dewan ini mendesak, karena temboknya tidak hanya retak namun sudah ambles. Untuk perencanaan renovasi saja, anggota DPRD mengalokasikan anggaran sebesar Rp 50 juta. Sedangkan renovasi dialokasikan anggaran sebesar Rp 1,7 milyar. Anggaran ini dilakukan untuk renovasi sebagian gedung saja.
Konsultan sudah memaparkan perencanaan renovasi kepada DPRD. Dari paparan itu diketahui bahwa gedung DPRD Kota Batu kondisinya saat ini miring ke Utara, untuk menahannya akan dilakukan sudetan bangunan.
“Di sudetan ini akan diberikan beberapa pilar untuk menahan kemiringan, karena selama ini pemasangan pondasi gedung dewan dulu hanya secara acak saja,” jelas Cahyo. Pondasi yang ada tidak kuat menahan beban bangunan, hingga gedung wakil rakyat ini miring ke utara.Karena itu dibutuhkan kecepatan untuk merenovasi gedung dewan, sebelum ambruk.
Dia juga menyoroti, program-program lain banyak belum jalan. Padahal warga Kota Batu dan wisatawan sudah menunggu aksi atau program Pemkot melalui SKPD-SKPD itu.  (muh/feb)

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL