Batu Agropolitan

Malang Post

Batu Agropolitan

Berita terbaru dan terlengkap  Kota Batu dan sekitarnya

Cair, Suasana Bedah Buku Pokja Pendiri Kota Batu

BEDAH BUKU: Prof Hariyono, Brigjen Sugiarto, dan Agus Syamsuddin saat menjadi pemateri bedah buku Pokja Pendiri Kota Batu di Balai Kota Among Tani, Rabu (25/5), kemarin. (Foto: Firman Arief Setyawan/Malang Post)

BATU - Gelak tawa dan canda ringan mewarnai acara bedah buku Pokja Pendiri Kota Batu, Rabu (25/5), kemarin. Acara tersebut diselenggarakan di aula lantai lima balaikota Among Tani Pemkot Batu begitu cair karena tidak ada jarak antara pemateri dan peserta.
Buku yang berjudul Pokja Pendiri Kota Batu tersebut merupakan buku yang berisikan tentang sejarah pendirian Kota Batu. Perjuangan dan perjalanan Kota Batu sebagai daerah otonom yang berdiri sendiri.
Acara bedah buku dibuka Ketua Tim Penggerak PKK Kota Batu, Dewanti Rumpoko. Dewanti Rumpoko mengungkapkan, acara bedah buku tersebut merupakan sosialisi kepada masyarakat dan generasi muda tentang ssejarah dan terbentuknya kota Batu. “Ini bisa memberikan pelajaran kepada generasi muda mengenai fakta-fakta pendirian Kota Batu,” ungkapnya.
Dia menambahkan, buku Pokja Pendiri Kota Batu bisa dicetak lagi menjadi lebih ringkas. Buku itu bisa dibaca semua lapisan masyarakat mulai dari pelajar, mahasiswa, maupun pekerja. “Buku yang diringkas dengan kata-kata mudah dipahami akan membawa masyarakat untuk memahami tentang sejarah berdirinya Kota Batu. Buku itu juga bisa digunakan untuk anak-anak sekolah,” ungkapnya.
Dalam acara bedah buku Pendiri Kota Batu tersebut dihadiri sedikitnya oleh 250 orang. Para peserta yang hadir berasal dari kalangan pejabat pemerintahan, tokoh masyarakat, pelaku sejarah berdirinya Kota Batu, prakitisi pendidikan  dan mahasiswa. (mgc/feb)

Tiap Tiga Bulan Beli Buku

Foto: Yusnia Purwaningrum.

BUKU adalah jendela dunia. Hal itu berlaku untuk Yusnia Purwaningrum. Dokter Hewan di Kampung Sapi Adventure, Beji, Batu ini gemar sekali dalam membaca buku.
“Tanpa keliling dunia, kita bisa keliling dunia dengan membaca,” ungkap Yusnia Purwaningrum kepada Malang Post.
Perempuan lulusan Institut Pertanian Bogor 2010 ini menjelaskan manfaat membaca buku antara lain bisa melatih imajinasi berfikir, mengubah dari awalnya tidak tahu  menjadi tahu, selain itu dengan membaca bisa mendapatkan hiburan dan pengetahuan.
“ Membaca buku juga bisa mengambil dari apa yang telah dibaca,”  tegasnya.
Dirinya mengaku setiap tiga bulan sekali harus membeli buku-buku baru untuk menambah koleksi-koleksi bukunya. “Ya jumlahnya tergantung budget saya mau beli berapa. Tapi yang jelas setiap tiga bulan, saya menyempatkan untuk membeli buku,” ungkap perempuan kelahiran 18 Desember 1987 ini.
Perempan beralamatkan di Jalan Cemara Rentes Sidomulyo, Kota Batu ini mengaku terinspirasi dari salah satu penulis Cina bahwa gaji yang diperoleh harus digunakan untuk kegiatan harian, tabungan, dan keperluan untuk membeli buku. “Ya, terinspirasi dari salah satu penulis Cina ini, saya akhirnya menyisihkan uang untuk membeli buku setiap tiga bulan sekali,” ungkap perempuan berumur 28 tahun ini. (mgc/feb)

Sediakan Mobil Antar Jemput, Pasang Ajakan Bersekolah

ANTAR JEMPUT: Fraksi PKB meninjau kondisi SMPN 1 Atap Desa Gunungsari beberapa waktu lalu, termasuk sarana antar jemput untuk para siswa. (Foto Muhammad Dhani Rahman/MPG)

BEBERAPA papan bercorak menarik beberapa pekan ini terpasang di sudut-sudut Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji. Papan ini bertuliskan ajakan untuk bersekolah ini dipasang SMPN 1 Atap Gunungsari.
Memang sedikit berbeda dengan SMP Negeri lain yang cenderung menunggu siswa yang mendaftar, SMPN 1 Atap Gunungsari malah harus bekerja keras berburu murid di sekitar sekolah. Sekolah ini berada di dusun paling terpencil di Desa Gunungsari, yakni di Dusun Brau, sebuah dusun yang berada di daerah pegunungan yang berbatasan dengan Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.
“Kalau kita tidak memasang banner seperti itu, kita bisa kehilangan siswa, karena rata-rata warga lebih suka mensekolahkan anak-anak mereka di SMPN yang berada di jantung kota,” ujar Henu Lismiyati, Kepala SMPN 1 Atap Gunungsari.
Tahun ini saja lulusan SDN 1 Atap Gunungsari yang tinggal di Dusun Brau hanya 6 siswa saja. Jika tidak berburu siswa ke dusun yang lain, Henu khawatir tidak akan ada lagi yang sekolah di SMPN 1 Atap Gunungsari.
“Karena memang penduduk usia SMP-nya sedikit, dusun ini saja penduduknya kurang lebih hanya 570 jiwa,” jelas Henu.
Saat ini tercatat jumlah siswa kelas 7 sebanyak 26 siswa, kelas 8 sebanyak 15 siswa dan kelas 9 sebanyak 19 siswa. Karena itulah, ia melakukan promosi ke dusun-dusun yang ada di sekitar  Dusun Brau.
Minat masyarakat untuk bersekolah di SMPN 1 Atap Gunungsari memang agak kurang, dibandingkan sekolah di SMPN yang ada di jantung kota. Meskipun jauh, warga lebih memilih menyekolahkan anaknya di sana.
Salah satu penyebabnya adalah letak SMPN 1 Atap Gunungsari ini memang jauh dan tidak ada sarana transportasi umum. Solusinya, pihak sekolah menyediakan mobil khusus untuk antar jemput siswa.
“Mobil antar jemput ini bantuan dari Pemkot Batu, sangat bermanfaat,” ujarnya.
Menurut Henu, meski sekolahnya berada di dusun terpencil, kualitas sekolahnya tidak kalah dengan sekolah lain. Meski diakuinya, sekolah ini masih belum punya ruangan untuk laboratorium, perpustakaan masih gabung dengan SD, begitu juga dengan Musholla dan lapangan olahraganya.
“Kepinginnya sih kita mempunyai kantin sendiri, selama ini anak-anak jajannya di PKL yang ada di depan sekolah, sementara banyak motor lalu lalang, jadi kita khawatir keselamatan anak-anak,” ujarnya.
Ditanya mengenai guru, SMPN 1 Atap Gunungsari kesulitan mendapatkan guru Bahasa Jawa dan PKN. Selama ini sekolah mengoptimalkan guru yang ada untuk mengajar beberapa mata pelajaran sekaligus. (muh/feb)

Kuota CJH Kota Batu Menurun


Kuota jamaah haji Kota Batu tahun ini mengalami penurunan. Jika tahun sebelumnya, kuota mencapai 137 jamaah, tahun ini kuota jamaah haji hanya 102. Dari jumlah tersebut yang melunasi BPIH sudah 66 orang, atau sekitar 64 persen. Jumlah tersebut dengan cadangan, 3 jamaah. Hal ini dikatakan oleh Kepala Seksi (Kasi) Penyelenggara Urusan Haji Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kota Batu Achmad Fa’iz.
”Tahun lalu yang melakukan pelunasan hanya 129 jamaah, dan jumlah itu yang berangkat. Untuk tahun ini jumlah kuota hanya 99 ditambah 3 orang cadangan. Jadi total kuota 102,’’ katanya. Berkurangnya jumlah kuota tersebut dikatakannya, sesuai dengan ketentuan dari pusat.
Dia menjelaskan, jamaah yang berangkat tahun ini, adalah mereka yang mendaftar tahun 2009 dan awal tahun 2010 lalu.  Tapi demikian, dari jumlah tersebut dia mengatakan belum tentu semuanya bisa berangkat. Jamaah yang tidak bisa melunasi biaya haji tentu saja dipastikan tidak bisa berangkat.
”Tahun lalu juga demikian, dari 137 itu yang melunasi hanya 129 saja. Tapi kami berharap, seluruh jumlah tersebut bisa berangkat tahun ini,’’ tambahnya. Terlebih, dari tes kesehatan yang sudah dilakukan, kondisi para jamaah semuanya baik, dan bisa berangkat ke tanah suci.
Menurut Fa’iz, semua tahapan pemberangkatan jamaah hampir 100 persen sudah dilakukan. Mulai dari tes kesehatan maupun pengurusan pasport. Bahkan, 75 persen dari jumlah 102 jamaah ini paspornya juga sudah jadi, dan sudah ada di Kantor Kemenag.
Sedangkan 25 persen lagi masih dalam proses.
”Semuanya sudah foto, tinggal tunggu jadinya saja,’’ katanya.
Pasport itu sendiri saat ini disimpan di Kantor Kemenag. Pasport tersebut akan dikirimkan ke provinsi setelah tahap pelunasan.
Pria ramah ini menuturkan, untuk pelunasan biaya ibadah haji, pihaknya membuka dua tahap. Yakni tahap pertama pelunasan dilakukan pada 19 Mei-19 Juni 2016. Sedangkan untuk tahap ke dua yakni 20 Juni – 30 Juni 2016.
”Dari tahapan inilah nanti di lihat jumlah jamaah yang melunasi. Dan mereka yang melunasi itulah, kemudian berkasnya dikirim ke provinsi untuk kemudian dilanjutkan ke pusat,’’ katanya. Sementara itu Winarti, 52 tahun  salah satu calon jamaah haji kemarin tampak datang ke Kantor Kemenag Kota Batu. Dia datang sembari membawa berkas pelunasan. Wajah pun terlihat sangat sumringah. ”Sebelumnya ditelepon jika saat ini tahap pelunasan. Tadi saya ke Bank Jatim, untuk membayar sisa pembayaran, dan sekarang menyerahkan berkas pelunasan ke Kemenag,’’ katanya.
Warga Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ini mengatakan dia daftar tahun 2009 lalu. Tahun ini dia berangkat sendirian ke tanah suci. Itu karena suaminya sudah berangkat lebih dulu. ”Semua tahapan sudah saya lakukan. Beberapa waktu lalu sudah melakukan tes kesehatan, Alhamdulillah sehat. Sekarang menyerahkan berkas pelunasan,’’ tandasnya.(ica/big/ira/ary)

Endang: Tak Etis Bicara PAW

BERSAMA: Endang Imam Kabul (kanan) bersama Dewanti Rumpoko saat acara gemar makan ikan (Ft: dok Malang Post)

BATU – Endang Susilaning Rahayu memilih diam sekalipun berpotensi menggantikan posisi almarhum Wito Argo sebagai anggota DPRD Kota Batu. Istri mantan Wali Kota Batu, Imam Kabul ini memilih tidak banyak bicara saat ditanya soal Pergantian Antar Waktu (PAW).
”Kita ini masih berduka mbak. Tidak etis jika ngomong PAW,’’ katanya.
Tapi demikian, sebagai kader partai dirinya pun mengaku siap, jika dia ditunjuk. ”Apapun keputusannya saya serahkan ke partai. Karena saya ini adalah kader partai. Tapi sekali lagi janganlah diungkit masalah itu dulu. Kami masih berkabung, dan sangat kehilangan sosok pak Wito,’’ urainya.
Dihubungi Malang Post, Endang justru banyak bercerita kedekatakannya dengan almarhum Wito Argo. Bahkan, Endang mengaku jika Wito merupakan sahabat terbaiknya. Salah satu bukti kedekatannya dan Wito Argo ini terlihat saat keduanya sama-sama hadir dalam kegiatan makan ikan bersama yang digelar DPC PDIP di Jalan Lingkar Barat (Jalibar) Desa Oro-Oro Ombo, Minggu (8/5) lalu.
Saat itu Wito sempat menggandeng tangan Endang yang datang sendirian di kegiatan tersebut. Wito juga menggandeng tangan Endang saat ibu dua anak ini naik panggung yang disediakan.  ”Waktu itu hujan, dia tidak banyak bicara. Dia hanya menuntun dan mengantar saya naik panggung,’’ katanya.
Bukan itu saja, Endang juga mengatakan Wito sempat menggandeng tangannnya dan menuntunkan saat naik mobil. Sepanjang perjalanan menuju mobil tersebut Wito juga tidak berbicara apa-apa.
”Dia itu panggil saya mami. Dia membahasakan saya ini adalah ibunya, dan kami sangat dekat,’’katanya.
Di mata Endang, Wito adalah kader partai yang sangat baik dan loyal, serta memiliki pendirian yang sangat kuat. Dia mengumpamakan, jika Wito mengatakan A, maka A itulah yang dipilihnya. Di partai, Wito juga enggan menyimpan persoalan. Jika ada masalah, dia langsung mengajak anggota lainnya untuk memecahkan persoalan itu.
“Terakhir bertemu Jumat (13/5) malam lalu di kantor DPC. Saat itu saya minta tanda tangan beliau untuk pencairan uang.  Dan dia langsung menandatangani. Saat terakhir bertemu tersebut, Wito lebih banyak diam. Padahal biasanya, Wito sangat supel,’’ tegasnya.
Tapi demikian, Endang mengatakan jika saat bertemu terakhir kondisi Wito juga sangat sehat. Lantaran itu juga, Endang pun mengaku kaget saat dirinya mendapat kabar sahabat terbaiknya itu meninggal dunia.
Endang menguraikan jika saat dikabari, posisinya sedang berada di Pekalongan. Saat itu dia kulakan batik di wilayah Batang yang berjarak 80 kilometer dari Pekalongan. Lantaran itulah, dia mengatakan tidak bisa datang saat Wito meninggal dunia.
Sepanjang perjalanan kulakan,  Endang mengaku tidak konsentrasi. Dia terus teringat sahabatnya itu.  Tapi begitu, dia memilih tetap melanjutkan kulakannya, hingga Selasa (24/5) dinihari dia sampai di Kota Batu. .
”Begitu sampai rumah, istirahat sebentar. Dan paginya saya datang ke rumah almarhum,’’ katanya. Saat melayat, Endang pun memberikan support kepada Monica Elyani, istri Wito Argo.
Endang pun mengaku teringat masa lalunya saat melihat Monica. Dia teringat saat ditinggal oleh H Imam Kabul. Dia sangat shok. “Kasusnya kan sama, kami sama-sama ditinggal secara tiba-tiba tanpa sakit. Makanya tadi saya juga banyak memberikan support kepada bu Monica,’’ tandasnya.
Sementara itu koreksi diberikan Divisi Hukum KPU Mardiono.  Di berita sebelumnya, Mardiono mengatakan di periode sebelumnya juga ada pengajuan PAW  dari Partai Amanat Nasional. PAW terhadap Heri Purwanto anggota DPRD yang meninggal dunia. ” Yang mengajukan PAW atas almarhum Heri Purwanto bukan PAN, tapi PKPB, partai pak Heri waktu pemilu 2009-2014. Sedangkan Pileg 2014-2019 pak Heri lewat PAN dan tidak terpilih,’’ tulisnya lewat pesan WhatApp.
Seperti yang diberitakan sebelumnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Batu bertindak pasif terkait proses Pergantian Antar Waktu (PAW) anggota DPRD Kota Batu Wito Argo yang meninggal dunia Sabtu (21/5) lalu. Itu karena dalam soal PAW, KPU hanya sebagai penyaji data saja. Sedangkan untuk prosesnya PAW sendiri diajukan oleh partai yang menaungi.(ira/feb)

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL