BATU - Dibanding guru di pinggiran Kabupaten Malang, rute perjalanan yang dilewati Henu Lismawati memang terbilang sudah ramai. Guru di SMPN Satu Atap Gunungsari 04 Kota Batu, tiap hari berangkat dari Singosari, Kabupaten Malang  ke Dusun Brau. Dia mengajar, sejak kawasan tersebut, hutannya masih lebat dan rumah penduduk tak seramai sekarang.
Brau memang dikepung gunung, otomatis rute yang dilalui pastinya banyak jalan turunan, dan tikungan yang tajam. Setiap harinya, ia rela pulang pergi mengajar dengan menggunakan kendaraan sepeda.
“Saya berangkat mengajar, antara jarak rumah dan sekolah sekitar 30 kilometer hanya menggunakan sepeda motor jenis lama. Demi memberikan ilmu dan pendidikan kepada murid saya yang berada di kasawan pegunungan,” ungkap Henu Lismawati kepada Malang Post.
Menurutnya, memang menjadi pengajar di desa terpencil dan pegunungan, bukan menjadi impian setiap orang, apalagi di sekolah fasilitasnya sangat terbatas. Tapi, perempuan enam bersaudara ini, mempunyai kemauan tekat yang besar demi mencerdaskan peserta didiknya menjadi manusia yang sukses.
“Pasti semua orang, jika mendapat tugas mengajar. Kebanyakan memiih tempat yang bagus dengan fasilitas yang memadahi. Tapi di sini, justru saya lebih tenang dan memahami arti kepedulian,” ujarnya.
Guru mata pelajaran Bahasa Inggris ini, berangkat mengajar pagi-pagi dengan jarak antara rumah dan sekolah lebih dari 30 kilometer.
“Saya tiba di sekolah memerlukan waktu sekitar satu jam lebih, belum di jalan ada kemacetan. Berhubung di sekolah ini masuknya jam 07.30 WIB. Jadi, setiap hari saya berangkat mulai pukul 06.00 WIB,” terang perempuan alumni IKIP Malang ini.
Setiap hari melewati hutan dan jalan yang menurun dengan tikungan yang tajam, sebab tempat mengajarnya di kawasan pegunungan. Pengalaman pertama kali melewati hutan, ia masih belum hafal dengan trek jalan dengan puluhan tikungan yang tajam.
“Ketika beangkat sampai di tengah hutan kalau pagi keadaannya masih gelap, jadi pikiran saya harus fokus. Kalau tidak fokus saat berkendara akibatnya saya bisa celaka masuk jurang. Selain itu, jalannya masih sempit kalau ada papasan salah satu kendaraan harus mengalah,” akunya.
Jika musim hujan seperti saat ini, ia sangat khawatir dengan keadaan jalan yang basah. Kemudian, tanah yang berada di kawasan hutan jika terkena hujan dan tanahnya meluber ke jalan.
“Ketakutan saya, tanah yang turun ke jalan akubat hujan, jalanan menjadi licin, dan saya harus ekstra hati. Kemudian, kalau terjadi longsor maka jalan menuju sekolah akan terhambat, karena tidak ada jalur alternatif lainnya,” terangnya.
Disinggung suka duka mengajar di daerah terpencil di pegunungan, istri M. Yusuf ini mengungkapkan, pengalaman yang menyenangkan yakni sepanjang perjalanan bisa melihat pemandangan yang indah, dan kesejukan udara di kawasan pegunungan.
“Saya suka mengajar disini, tentang pemandangan dan kesejukan udaranya. Selain itu, siswanya terlihat antusias dan semangatnya sangat tinggi untuk menempuh pendidikan,” tuturnya.
Dia menambahkan, untuk jumlah pengajar di SMPN Satu Atap ini, jumlah gurunya ada tujuh orang. Tapi yang menetap hanya 4 orang saja.
“Memang di sini masih kekurangan jumlah guru, jadi satu guru mengajar merangkap lebih dari satu mata pelajaran, denga jumlah keseluruhan ada 60 siswa,” paparnya.
Disamping itu, kemampuan siswa di sini sangat berbeda dengan siswa yang ada di kota. Dalam memberikan pelajaran harus ekstra sabar, telaten dan serius. Berbeda dengan siswa yang ada di kota sudah mengenal teknolgi.
“Di sini siswa masih belum banyak mengetahui tentang teknologi, karena daerah ini, belum diakses jaringan internet yang baik, apalagi sinyal HP yang tidak stabil. Kalau saya mendapat tugas dari Dinas,  mau tidak mau harus turun gunung dulu,” urainya.
Motivasi yang banyak diberikan kepada siswa adalah untuk tetap terus belajar dan tidak putus sekolah. Caranya dengan bercerita kesuksesan orang lain, dan memutarkan video motivasi. Bertujuan agar siswa dapat memahami arti dari kerja keras dalam suatu kesuksesan.
“Saya akan terus mengemban tugas mencerdaskan siswa di Kota Batu, khususnya di daerah terpencil seperti ini. Apalagi sekarang dipercaya menjadi Kepala Sekolah SMPN Satu Atap Gunungsari 04 Kota Batu,” pungkasnya.(mg12/ary)
loading...

Please publish modules in offcanvas position.