Malang Post

Komunitas


Lagu Tak Hanya Membahas Cinta

Share
MALANG – Banyak komunitas bertaburan di Malang Raya, Komunitas tersebut berdiri dengan latar belakang yang berbeda, mulai dari pecinta otomotif, pecinta binatang, hingga komunitas yang mencintai musik lawas, seperti Komunitas Pecinta Koes Plus Arema (KPKA) yang terbentuk dari berbagai kalangan. Namun satu, kecintaan mereka sama, yakni Koes Plus.
“KPKA ini berdiri karena banyaknya pecinta Koes Plus yang ada di Malang. Komunitas kami berdiri untuk saling berbagi mengenai kecintaan kami,” beber Ketua KPKA, Agus Basuki.
Dia menjelaskan, latar belakang profesi berbeda ada pada anggota KPKA. Mulai dari dosen, manager hotel, anggota TNI, sopir, mahasiswa, pegawai negeri sipil, guru, dan banyak lainnya. Mereka memiliki alasan untuk mencintai Koes Plus dan ratusan lagu yang mampu menyatukan mereka.
“Banyak penilaian dari anggota komunitas ini tentang karakteristik lagu-lagu Koes Plus. Ada yang berpendapat Koes Plus adalah band yang tidak hanya membahas masalah cinta, tapi juga menjunjung nama bangsa dan negara karena dalam lagunya banyak yang bertemakan bangsa, negara dan kekayaan alam Indonesia,” papar dia kepada Malang Post.
Dari perbedaan tersebut, anggota KPKA saling menguatkan. Sebab satu tujuan anggota komunitas ini, melestarikan semua tembang dari Koes Plus, dengan cara mereka. Mulai dari kerap menaikkan tembang andalan seperti Kolam Susu, Bujangan, hingga Untukmu, serta melakukan kegiatan amal.
“Kami tidak hanya kumpul untuk bersenang-senang saja. Tetapi suatu waktu kami juga ingin berbagi dengan sesama,” jelas dia.
Tak pelak, acara konser yang biasa dimanage oleh pengurus KPKA, kerap kali berbalut dengan tajuk amal. Sehingga, setelah mereka berkumpul dan bersenang-senang, ada hasil yang mereka dapatkan, yakni berbagi kebahagiaan dengan orang lain. (ley/feb)

Tempat Inspirasi Bernama di Jalan Cimanuk
Kenangan anggota komunitas terhadap idolanya biasanya gayeng dibahas di markas komunitas di kawasan Jalan Cimanuk, Kota Malang. Di markas yang sekaligus didesain sebagai Hard beat Cafe ini mereka guyub bersilaturahmi sekaligus memainkan musik dan lagu Koes Plus.
“Markas kami di Jalan Cimanuk tempat untuk berinspirasi. Termasuk mengeluarkan ide untuk menggelar acara,” ujar Ketua Komunitas Pecinta Koes Plus Arema (KPKA), Agus Basuki.
Dia menerangkan, di tempat tersebut pun menjadi inspirasi untuk mendirikan grup band seperti Besi Tua dan Koes On 7. Dua grup berbeda generasi yang memiliki minat sama, menyanyikan lagu dari grup band yang digawangi oleh Koeswoyo bersaudara tersebut.
“Saat ini kami memiliki generasi penerus yang masih muda, tetapi memiliki daya tarik pada musik klasik nan legendaries ini. Sehingga, KPKA ini berhasil melakukan regenaris dan tidak memutus keeksisan lagu Koes Plus,” papar dia panjang lebar.
Dia menjelaskan, bila KPKA sering mengisi acara dalam acara bernuansa tempo dulu, Misalnya beberapa waktu lalu ada momen tahunan Malang Tempoe Doeloe yang juga rutin menjadi panggung KPKA berekspresi menyanyikan lagu-lagu Koes Plus.
Bagi anggota KPKA menjadi suatu kebanggaan jika mereka bisa bertemu dan berfoto bersama personel asli Koes Plus. Personilnya kini tinggal dua, Yon Koeswoyo yang masih tetap aktif bermusik dan mengibarkan Koes Plus di Indonesia, dan sang basist Yok Koeswoyo yang tetap berkarya di usia senja. “Melalui grup ini kami bisa bertemu dengan Koes Plus juga, ketika menghadiri acara di kota tertentu,” pungkas Agus. (ley/feb)
comments

Obyek Foto Sama Dengan Gambarnya

Share
SATU Lagi komunitas fotografi yang terbilang kreatif. Bila komunitas fotografi identik dengan modeling, tapi tidak dengan komunitas satu ini. Padepokan Sawah Wetan Omah (SWO) berkonsentrasi terhadap fotografi makro. Obyek maupun model fotografi makro adalah serangga dengan ukuran mini.
Fotografi makro adalah fotografi dengan jarak sangat dekat untuk mendapatkan detail yang tinggi namun tidak memerlukan bantuan alat pembesar optik seperti mikroskop. Fotografi makro biasanya memiliki rasio 1:1. Yaitu, besar ukuran gambar yang dihasilkan sama ukurannya dengan benda aslinya.
Sebagai contoh, pada film 35 mm, lensa harus dapat fokus pada area sekecil 24×36 mm, yaitu ukuran gambar pada film. “Komunitas ini baru terbentuk setahun yang lalu. Berawal dari keinginan dan hobi yang sama, yakni mengeksplorasi fotografi makro,” ujar Ketua Komunitas SWO Fotografi Makro Bambang Susadnoko kepada Malang Post.
Dijelaskannya, untuk menghasilkan karya yang bagus, tidak selalu dengan alat mahal. Buktinya, komunitas yang dipimpinnya tersebut bisa melakukan hal itu. Yakni dengan menggunakan lensa standart, bisa menghasilkan karya luar biasa, yakni kamera DSLR dengan lensa kit 18-55 dengan tambahan filter close up.
“Harganya pun cukup terjangkau, antara Rp 100 ribu-Rp 200 ribu. Namun, hasilnya bisa menyamai dengan lensa mahal seharga jutaan,” kata dia. Asalkan, pengambilan gambarnya sesuai dengan teknik, seperti kaca pembesar. Dengan begitu kata dia, akan menghasilkan karya yang luar biasa dan tidak kalah dengan lensa mahal.
Sedangkan serangga yang menjadi obyek maupun model fotografi diantaranya, semut, nyamuk, belalang, kupu-kupu dan hewan lainnya yang tergolong hewan mikro atau kecil. Sedangkan hasil gambarnya kata dia, jelas dan jernih. Selain itu, kata dia, obyek yang menjadi foto makro ini, terlihat jelas dan besar sepeti aslinya.
“Makro itu dipandang sebelah mata oleh sebagian orang dan peminatnya orang. Tapi, kami bisa melakukannya dengan alat terbatas dan murah,” kata kakek dua cucu ini. Untuk itu, dia mendorong para pemuda menekuni dunia foto makro ini. Lantaran perkembangan dunia foto makro juga bisa menjanjikan. (big/feb)

Eksplorasi Serangga di Hutan
SEBAGAI Komunitas fotografi makro, Padepokan SWO berkomitmen untuk mengeksplorasi keindahan serangga yang berada di Malang selatan. Mulai, kupu-kupu, semut, nyamuk, belalang menjadi obyek utama dari anggota komuntas yang berasal dari Desa Pamotan RT 3 RW 4 Kecamatan Dampit ini.
“Biasanya kami hunting di hutan, kebun taman dan daerah hijau lainnya yang ada di Malang selatan. Tentunya daerah hijau itu, memiliki ekosisitem berupa serangga,” ujar Ketua Komunitas SWO Fotografi Makro Bambang Susadnoko kepada Malang Post.
Dijelaskannya, Kabupaten Malang mempunyai potensi alam dan ekosisitem luar biasa. Hal itulah yang menjadi minat anggotanya untuk mengeksplorasi keindahan alam yang berada di Kabupaten Malang. Yakni melalui karya berupa hasil foto melalui pengambilan teknik fotografi makro. Karya tersebut kata dia, kemudian diikutkan melalui pameranpameran foto. Maupun bisa juga dibagikan melalui media sosial di internet.
Semisal Facebook, Twitter, Instagram, Path, forum kaskus dan bermacam media sosial lainnya. “Kami lebih banyak membagikan hasil karya foto ke dunia maya. Karena lebih mudah membagikan lewat Facebook atau semacamnya. Apalagi mayoritas anggota kami merupakan anak muda,” ujar pria yang akrab disapa Pakde ini.
Dijelsakannya, saat berdiri pada tanggal 13 Desember 2014 lalu, komunitas ini hanya berjumlah 13 anggota. Namun, sekarang sudah mecapai 50an anggota. Dikatakannya, seluruh anggota Komunitas Fotografi Makro SWO mempunyai hobi yanbg sama. Yakni kecintaan hunting terhadap hewan kecil dalam hal ini serangga.
“Kecintaan terhadap hewan serangga yang menjadi obyek fotografi, itulah yang membuat unik dari komuntas ini,” kata dia. Tidak hanya hunting, komunitas ini juga peduli terhadap pelestarian lingkungan. Diantaranya tidak melakukan pembunuhan terhadap hewan dan juga melakukan kegiatan konservasi dengan menanam bibit pohon.
Menurutnya, ada oknum yang belum mengerti fotografi makro, membunuh serangga terlebih dahulu supaya mempermudah hasil jepretan. Tapi tidak dengan komunitas ini yang tetap melakukan pelestarian ekosisitem dan konservasi lingkungan.
“Kesulitasn dari pengambilan foto makro ini adalah ketika mendekati objek hewannya. Dibutuhkan kesabaran, karena serangga tersebut gesit dan kecil. Selain itu, kami juga melakukan konservasi berupa penanaman bibit pohon,” pungkasnya. (big/feb)

Foto Bisa Menggunakan Kamera HP
TIDAK Hanya menggunakan kamera DSLR, fotografi makro juga bisa menggunakan kamera ponsel.. Untuk bisa mengambil foto makro dengan kamera hp, diperlukan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Syarat wajib yang harus dipenuhi adalah pemakaian lensa tambahan, yang biasa disebut lensa macro, yang khusus digunakan untuk hp.
Lensa macro ini sudah banyak tersedia di pasaran. Atau bisa juga menggunakan lensa bekas kamera roll. Salah seorang anggota Komunitas Fotografi Makro Padepokan Sawah Wetan Omah (SWO) Suparno Dedy Haryanto mengatakan, pemakaian lensa macro untuk ponsel ini sangat mudah. Untuk lensa beli di pasaran, biasanya ada penempel magnetnya.
“Jadi tinggal tempelkan lensa di belakang lensa kamera hp anda. Kamera hp pun siap untuk dibuat pengambilan foto macro,” ujarnya kepada Malang Post. Dijelaskannya, pengaturan focus pada mode infinite, atau bagi ponsel yang tidak memiliki fitur infinite, bisa memakai mode landscape atau mode sesuai keinginan..
Lanjut dia matikan mode auto focus pada ponsel. Untuk metering mode, pilih mode spot, agar pencahayaan bisa terpusat ke area yang dituju saja  “Kemudian, setting resolusi kamera pada resolusi tertinggi. Ini berguna saat anda melakukan edit cropping. Hasil foto tidak akan pecah waktu dicropp,” urai pria berusia 37 tahun ini.
Menurutnya, memotret macro, apalagi dengan kamera ponsel harus memiliki kesabaran ekstra, karena pengambilan foto harus dilakukan sedekat mungkin dengan objek. Apalagi objek yang kita foto adalah serangga atau hewan -hewan kecil lainnya, yang kadang tidak mudah untuk mendapatkan moment diam mereka.
“Tinggal teknik pengambilan saja. Bisa juga mengginakan remot pengontrol yang berada di tongkat narsis (Tongsis),” uraimya. Meski memakai mponsel, dia menjamin hasilnya tidak kalah dengan kamera DSLR.
Asalkan saat teknik pengambilannya, sesuai dengan apa yang menjadi acuan maupun panduan. “Bukan hal yang mustahil memotret serangga kecil menggunakan ponsel. Buktinya saya melalui komunitas Fotografi Makro SWO ini bisa melakukan. Tentunya berkat sharing sesama anggota komunitas,” pungkasnya. (big/feb)
comments

Futsalnya Amerika Populer di Malang

Share
KOMUNITAS yang gemar olahraga makin menjamur di Malang. Salah satunya adalah ‘Flag Football Malang’. Komunitas yang beranggotakan anak muda ini baru berusia tiga tahun. Tepatnya terbentuk pada 20 November 2011 lalu.
Kendati belum populer, namun komunitas ini sangat digemari anak muda. Apalagi mereka yang doyan berolahraga. Komunitas ‘Flag Football Malang’ ini baru kali pertama ada di Kota Malang. Namun di kota-kota lain seperti Surabaya, Jogyakarta, Jakarta dan Bandung sudah lama ada, bahkan sudah cukup populer.
Terbentuknya komunitas ini berawal dari obrolan dua anak muda yang kenal lewat media social facebook yang dilanjut dengan pertemuan (kopi darat). Radya Mahardika dan Muhammad Faris. Keduanya adalah mahasiswa Universitas Brawijaya Malang. Radya warga asli Malang, sedangkan Muhammad Faris berasal dari Jakarta.
Mereka awalnya mengobrol ringan seputar olahraga Flag Football. Karena tertarik, apalagi di Malang belum ada, keduanya kemudian sepakat untuk membentuk olahraga ini.
“Faris yang memberikan teknik bagaimana cara bermain Flag Football. Karena sebelumnya, saat masih SMA ia pernah tergabung dalam tim Flag Football di Jakarta,” terang Tito Nugraha Pangestu, Ketua Flag Football Malang.
Flag Football merupakan sebuah variasi dari permainan American Football atau bisa juga disebut “futsal” nya American Football.  Flag football adalah permainan sejenis American football tetapi tanpa menggunakan Tackle.
Peralatan di Flag Football sangat berbeda dengan American Football.Yang harus di gunakan hanya baju kaos atau olahraga serta bendera yang diikatkan di pinggang.Tidak perlu helm dan Protective Gears karena tanpa Tackle. Peraturan Flag Football di Indonesia di keluarkan oleh IFFA ( Indonesian Flag Football Association).
Jumlah pemain untuk Flag Football ini, berjumlah minimal 6 orang dan maksimal 8 orang. Sementara untuk permainan American Football berjumlah 11 orang. Serta dengan minimal 3 offensive line (OL). Waktu pertandingan 2 x 25 menit atau 2 x 20 menit. Lapangan berukuran 80 x 40 meter.
American Football biasanya dimainkan dengan cara menghentikan pembawa bola  sang pembawa bola harus dijatuhkan dengan cara ditabrak atau dengan full kontak fisik. Sedangkan di Flag Football , untuk menghentikan pembawa bola cukup dengan menarik flag/bendera yang berada di samping kanan, kiri , dan belakang pinggang pembawa bola.
Cara bermain flag football itu sendiri cukup mudah dipahami, untuk mencetak skor, pemain dari tim offense harus menerima pass yang dilemparkan atau membawa lari bola yang diberikan sampai ke endzone tim defense.  Sedangkan tim defense mencegah tercetaknya skor yang dibuat oleh tim offense.
“Permainan ini sangatlah menarik karena selain tidak banyak terjadi kontak fisik dan tidak membutuhkan biaya yang banyak,  semua orang dapat bermain Flag Football. Bahkan, cukup banyak pemain dari berbagai kalangan dan semua postur tubuh. Bahkan adau pula dua pemain perempuan yang sampai saat ini rutin mengikuti latihan Flag Football bersama,” terang mereka. (agp/oci)

Terbuka Untuk Semua Kalangan

KETIKA komunitas ini terbentuk, awalnya hanya delapan orang saja yang tergabung. Namun dua bulan kemudian, setelah dikenalkan dengan menyebarkan brosur, banyak yang tertarik dan mulai bergabung. Tidak hanya mahasiswa dari Universitas Brawijaya saja, tetapi juga ada mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), bahkan pelajar SMA.
“Sebetulnya kalau secara keseluruhan, jumlah anggota yang tergabung dalam Flag Football Malang sangat banyak. Tetapi yang saat masih aktif ikut latihan ada sekitar 40 orang. Dan saat ini sudah terjadi tiga kali perubahan kepengurusan,” ungkap Divisi Kepelatihan, Daniel Efraim yang juga dibenarkan Wakil Ketua Flag Football Malang, Toufan Dharmawan.
Semua orang, kata mereka, bisa tergabung dalam komunitas Flag Football Malang. Baik tua, muda, berbadan kurus ataupun gemuk, bisa bergabung. Karena Flag Football Malang ini, sama sekali tidak ada persyaratan khusus, hanya yang tergabung dalam anggota harus sering ikut latihan.
Waktu latihan komunitas Flag Football Malang ini, dalam sepekan mengagendakan dua kali latihan. Yaitu pada hari Rabu pukul 15.00 serta pada Sabtu pukul 14.00. Tempatnya menggunakan lapangan Rektorat Universitas Brawijaya Malang. (agp/oci)


 
Belum Miliki Pelatih, Belajar dari Video

USIA komunitas ini memang baru tiga tahun, namun Flag Football Malang sudah beberapa kali ikut ternamen. Mulai dari turnamen Merdeka Bowl di Jakarta yang merupakan event paling bergengsi. Event lainnya adalah Nasional Frendly Games hingga Collegebowl.
“Nasional Frendly Games, adalah sebuah turnamen yang lokasinya berpindah. Sebelumnya bertempat di Bandung, Jogyakarta serta Semarang,” ujar Tito Nugraha Pangestu, Ketua Flag Football Malang.

Malang pernah pula menggelar kejuaraan yakni Collegebowl. Tahun lalu, turnamen tersebut kali pertama diadakan di Malang.

”Selain mengikuti turnamen, kami juga sering melakukan uji coba dengan tim Flag Football dari Jogyakarta, Surabaya serta Sidoarjo. Waktunya setiap empat bulan sekali,” jelas Tito.
Dari beberapa kali mengikuti turnamen tersebut, memang Flag Football Malang sama sekali belum merasakan juara. Tetapi untuk target 2015 nanti, tim komunitas Flag Football Malang, menargetkan untuk menjadi juara. Terutama turnamen Merdeka Bowl yang merupakan turnamen paling bergengsi untuk olahraga ini.
Segala persiapan untuk bisa menjadi juara, sudah dipersiapkan sejak saat ini. Mulai menambah jadwal latihan dan pertemuan rutin. Nantinya pada awal tahun 2015 juga akan sering melakukan uji coba. Ini mengingat banyaknya anggota yang mulai bergabung dalam Flag Football.
“Selama ini kami memang tidak memiliki pelatih khusus. Tetapi kami selalu sharing dengan Faris serta Wira, yang sama-sama dari Jakarta dan pernah tergabung dalam tim Flag Football,” bebernya.
Selain itu, mereka juga selalu melihat metode dari beberapa video tentang pertandingan Flag Football di luar negeri.
”Dari video tersebut langsung kami pelajari teknik bermainnya. Setelah menguasai teknik, pada latihan hari Sabtu, kami melakukan simulasi game melawan teman sendiri,” paparnya.
Kedepannya, mereka juga akan berjuang untuk lebih memajukan olahraga ini. Bagaimana Flag Football ini, bisa menjadi olahraga yang digemari anak muda. Khususnya pelajar SMA ataupun SMK, sehingga bisa menjadi kegiatan ekstrakurikuler.
“Yang saat ini sudah menjadikan olahraga ini sebagai kegiatan ekstrakurikuler adalah di SMA Negeri 1 Malang. Tetapi nantinya kami berharap supaya bisa diikuti sekolah lainnya,” jelas Daniel.
Selama melakukan kegiatan, biaya operasional untuk latihan ataupun mengikuti turnamen berasal dari dana para anggota. Sebab setiap bulannya, anggota selalu mengumpulkan uang untuk mengisi kas. Uang yang terkumpul pada kas itulah, yang digunakan untuk biaya kegiatan komunitas Flag Football Malang. (agp/oci)
comments

Olahraga Aman Tanpa Kontak Fisik

Share
Apa Itu Flag Football? Flag Football sebenarnya adalah versi “aman” dari American  Football. Kenapa dikatakan aman? Seperti diketahui, American Football adalah olahraga  yang cukup keras karena mengandalkan kekuatan fisik.
Dalam permainannya, American Footbal juga mempertontonkan kontak fisik yang keras,  karena masing-masing pemain berusaha menahan pergerakan lawan dengan adu badan.  Karenanya, dalam American footbal setiap pemainnya menggunakan alat pengaman mulai dari  pakaian khusus dan juga helm pelindung.
Flag Football disebut sebagai versi aman dari American Footbal karena dalam olahraga  ini kontak fisik dihilangkan. Sebagai gantinya, pemain mencabut bendera (Deflagging)  yang diikatkan di pinggang pemain untuk menghentikan pergerakan. Karena itulah olahraga  ini disebut flag football.
Di Indonesia, olahraga ini masih belum begitu umum di telinga masyarakat. Padahal, di  negara-negara lain, termasuk negara-negara Asean, olahraga ini sudah cukup populer.  Presiden IFFA Denny Yustiadi menuturkan, sampai saat ini memang baru segelintir orang  yang tertarik untuk memainkan olahraga yang kategorinya masih olahraga rekreasi itu.
Flag Footbal dibawa ke Indonesia oleh sekelompok orang-orang yang baru mengenyam  pendidikan di luar negeri sekitar tahun 2000 lalu. Namun, karena hanya sekedar  dimainkan oleh mereka saja dan tidak ada sosialisasi apapun terhadap masyarakat, maka  tidak terjadi regenerasi pemain sehingga akhirnya Flag Football saat itu vakum begitu  saja.
Kemudian pada tahun 2009, muncul keinginan dari Denny dkk. yang berhasrat menghidupkan  kembali olahraga tersebut di Indonesia dan memasyarakatkannya. Dari sana, minat masyarakat  rupanya cukup bagus. Berbagi pengetahuan membuat mereka tertarik dan akhirnya Flag  Football mulai menggeliat.
Saat ini, selain di Jakarta sebagai kota lahirnya IFFA, komunitas-komunitas Flag  Football mulai bermunculan di kota-kota lainnya di Indonesia. Diantaranya Bandung,  malang, Pekanbaru, Balikpapan, hingga Palembang.
Peluang Flag Football untuk menjadi olahraga yang diminati masyarakat sangatlah besar.  Meskipun saat ini baru beberapa kelompok saja yang memainkannya, namun bukan tidak  mungkin dalam beberapa tahun kedepan Flag Football menjadi olahraga yang tidak asing  lagi di telinga masyarakat.
Olahraga tersebut terbilang olahraga yang sangat mudah karena tidak membutuhkan  fasilitas dan peralatan pendukung yang rumit. Pakaian bebas bisa kaus dan celana  pendek atau training, tidak ada pakaian khusus. Lapangan yang digunakan juga  fleksible, bisa gunakan lapangan bola, lapangan basket, dan ukurannya juga bisa  disesuaikan karena bisa dimainkan 8 lawan 8, atau bahkan 5 lawan 5. (net/oci)
comments

Berikan doorprize sangkar burung

Share
BATU – Setelah beberapa pekan libur, latihan bersama (latber) burung berkicau kembali digelar di halaman Dinas Perumahan (dulu Dinas Pemuda dan Olahraga/Dispora), Sabtu (29/11) hari ini. Panitia dari KWB Bird Club akan memberikan doorprize berupa sangkar burung kepada para pemenang.
Mahfud, salah satu panitia latber KWB BC menjelaskan, pihaknya menyediakan tiga sangkar burung. Para pemenang nanti akan mendapatkan undian dan mereka yang beruntung bisa membawa sangkar burung tersebut selain hadiah-hadiah lainya.
‘’Sangkar burung tersebut digunakan sebagai doorprize karena kami ingin memberikan penghargaan lebih kepada para kicaumania. Itu karena kicaumania sangat antusias mengikuti latber,’’ jelas Ifud, sapaan akrabnya kepada Malang Post.
Soal sangkar burung itu, kata dia, panitia sudah pernah memberikan kepada pemenang beberapa waktu lalu. Kini doorprize kembali diberikan agar kicaumania semakin semangat merawat burungnya dan mengikuti even yang selalu digelar oleh KWB BC.
Dia menjelaskan, KWB akan membuka beberapa kelas dalam latber kali ini antara lain cucak ijo, lovebird dan cendet. Pemenang berbagai kelas itu tetap akan mendapatkan hadiah seperti latber sebelumnya meski ada hadiah sangkar burung. Hadiah tentu tidak hanya diberikan untuk pemenang 1 hingga 3, tetapi pemenang 1 hingga 10.
‘’Pemenang bisa mendapatkan hadiah berupa uang dan piagam. Mereka masih memiliki kesempatan mendapatkan sangkar jika menjadi pemenang dalam undian,’’ tambah warga Kelurahan Sisir Kota Batu ini.
Latber kali ini, kata dia, bakal diikuti sekitar 500 para kicaumania. Mereka bukan hanya pemilik burung yang brasal dari Batu, tetapi juga Malang Raya dan beberapa kota di sekitar Malang. (feb)
 
comments

Page 1 of 7

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  Next 
  •  End 
  • »