Malang Post

Komunitas


Terbentuk dari Caci Maki dan Hinaan

Dimana pun berada dan apa pun aksinya, Komunitas Peduli Malang (ASLI malang) selalu kompak.

Kemajuan Kota Malang, tidak tergantung pada siapa pemimpinnya. Tetapi karena adanya semangat dan kepedulian dari masyarakat yang bersatu untuk memajukan kota pendidikan ini. Komunitas Peduli Malang (ASLI Malang), adalah kumpulan masyarakat di Malang, yang memiliki kepedulian tinggi untuk membuat Kota Malang lebih maju.
Komunitas ini baru terbentuk 15 Juni 2014, yang dideklarasikan di Restoran House of Juminten Jalan Kahuripan Kota Malang. Kendati baru seumur jagung, tetapi ASLI Malang memiliki jumlah anggota yang luar biasa. Total ada lebih dari 2500 anggota.
Mereka yang tergabung dalam komunitas ini, tidak hanya anak muda, tetapi juga orang dewasa. Usianya pun beragam, mulai dari usia 17 tahun hingga 60 tahun. Bahkan tidak mengenal jabatan, karena semuanya bias bergabung dalam komunitas ini. Mulai dari pelajar, mahasiswa, PNS, pengacara, kontraktor, TNI, dosen bahkan Lurah.
“Kami tidak pilih-pilih anggota. Siapapun yang peduli dengan Kota Malang bisa bergabung. Tidak ada persyaratan khusus, yang terpenting adalah peduli dengan Kota Malang. Bahkan masyarakat yang dari luar Malang, kalau memang peduli bisa bergabung,” ungkap Ketua Komunitas Peduli Malang, Syafirullah El Muharam.
Terbentuknya ASLI Malang, memang tidak secara sengaja. Berawal dari kumpulan masyarakat Malang dalam grup facebook Diskusi Walikota Malang. Dari media sosial tersebut, banyak orang yang menghina, mengeluhkan dan mencaci maki setiap kebijakan Pemerintah Kota Malang.
Melihat banyaknya ‘kicauan’ orang yang menjelek-jelekkan dan menghina, Syafirullah, lalu berfikir bahwa untuk memajukan Kota Malang, tidak harus dengan cukup mengkritik atau protes, tetapi harus juga harus bisa memberikan solusi dan aksi nyata. Ia pun kemudian mengirim undangan ke beberapa orang dalam media sosial untuk mendiskusikan masalah ini.
Ternyata undangan tersebut direspon cukup banyak orang, hingga akhirnya dalam diskusi diputuskan untuk membuat Komunitas Peduli Malang (ASLI Malang). “Awal terbentuk, komunitas ini belum memiliki sekretariat. Namun saat ini, sudah memiliki sekretariat sendiri di wilayah Sulfat Malang,” ujarnya.
Dengan terbentuknya ASLI Malang ini, seluruh anggota berkomitmen menjadikan Kota Malang untuk lebih maju. Kebijakan Pemerintah Kota Malang yang bertujuan untuk memajukan Kota Malang, harus mendapat dukungan penuh.
“Protes, mengeluh dan mengkritik boleh saja, tetapi harus diimbangi dengan solusi dan aksi nyata. Komunitas Peduli Malang ini, terbentuk karena peduli dan ingin membantu pemerintah memajukan Kota Malang. Karena kami tahu banyak permasalahan di Kota Malang, yang memang harus diselesaikan bersama-sama,” terang Bayu Wijaya, Lurah Sawojajar, yang merupakan salah satu Dewan Pembina ASLI Malang.(agp/ary)

Fokus Aksi Nyata ke Lingkungan
Setelah terbentuk susunan kepengurusan, ASLI Malang memiliki tiga fokus kegiatan untuk menjadikan Kota Malang ini lebih maju, yaitu social, ekonomi serta hukum. Sosial adalah, suatu bentuk kegiatan aksi nyata dari komunitas ini, seperti kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Contohnya adalah aksi cabut paku yang terdapat pada pohon-pohon di pinggir jalan raya.
Aksi ini selain menunjukkan bentuk protes, tetapi juga memberikan teguran sekaligus contoh kepada masyarakat supaya tidak lagi menancapkan paku di pohon. Sebab selain merusak lingkungan dan bisa membuat pohon mati, juga karena pohon bagian dari sumber kehidupan.
Sebagai bentuk kegiatan social lainnya, ASLI Malang juga akan mengadakan pagelaran seni budaya, untuk meningkatkan budaya lokal. Rencananya pagelaran seni budaya ini akan diadakan pada tahun depan. Bentuk kegiatannya seperti seni tari, jaranan, bantengan atau budaya lokal lainnya.
“Ini kami lakukan supaya generasi muda tidak lupa dengan budaya sendiri. Padahal budaya lokal sangat banyak, dan anak muda sekarang sangat apatis lebih memilih budaya asing, daripada budaya lokal. Target peserta pagelaran ini adalah seluruh warga Malang, karena pagelaran seni budaya ini akan kami jadikan event rutin,” terang Syafirullah El Muharam.
Kemudian kegiatan ekonomi, ASLI Malang akan membuat gerai atau mendirikan tempat khusus di tengah Kota Malang, yang menjual merchandise khas Malang, yang selama ini belum ada di Malang. “Karena seperti Soak Malang, masih belum menunjukkan asli kaos khas Malang, lantaran pemiliknya adalah orang Surabaya. Termasuk walikan, juga belum ada karena yang memiliki walikan adalah orang Jogja. Kapan waktunya, akan kami lihat keuangan dan produk-produknya nanti, yang jelas akan kami buat besar-besaran,” paparnya.
Sedangkan hukum,  lebih pada norma dan etika. Yaitu memberi teguran kepada masyarakat yang melanggar lalu lintas atau melanggar lingkungan. “Contohnya, kami akan menegur orang yang menancapkan paku pada pohon. Sebagai contoh nyatanya, kami mengadakan aksi cabut paku pada pohon, dan selama melakukan aksi anggota tidak boleh ada yang merokok,” jelas dia.(agp/ary)

Rutin Santuni Yatim Piatu
UNTUK meningkatkan silaturrahmi serta keakraban sesama anggota ASLI Malang, setiap bulan sekali pada minggu pertama selalu diadakan pertemuan rutin. Dalam setiap pertemuan, melakukan diskusi yang menjadi permasalahan atau problem di Kota Malang, yang kemudian dari problem tersebut dilakukan dengan melakukan aksi.
“Apa yang menjadi permasalahan selama sebulan, kami diskusikan. Kemudian dari diskusi tersebut setiap permasalahan akan dilakukan aksi nyata,” terang Syafirullah El Muharam.
Tidak hanya itu, ASLI Malang juga melakukan kegiatan social membantu sesama yang membutuhkan. Salah satunya adalah pemberian santunan kepada anak yatim piatu. Pemberian santunan ini dijadikan sebagai kegiatan rutin yang dilakukan setiap sebulan sekali.
Dananya berasal dari penggalangan sponsor, termasuk iuran dari anggota ASLI Malang. “Ini karena kami juga ingin peduli dengan anak-anak yatim piatu,” katanya.
Selain pemberian santunan kepada anak yatim piatu, Komunitas Peduli Malang juga peduli dengan para korban bencana alam. Setiap kali ada kejadian korban bencana alam, ASLI Malang juga melakukan penggalangan dana untuk sedikit membantu meringankan beban korban bencana.
“Kami juga pernah membuat Hutan Kota Ksatrian Dalam dengan menanam sekitar 50 bibit pohon berbagai jenis, salah satunya adalah jenis trembesi. Ini kami lakukan karena melihat kondisi Malang yang sudah semakin panas,” katanya. (agp/ary)

Cabut Paku Gandeng PNS dan Siswa SMA
AKSI cabut paku, merupakan salah satu bentuk aksi peduli lingkungan yang dilakukan Komunitas Peduli Malang. Aksi ini sudah dilakukan dua kali dalam bulan September ini. Pertama pada 14 September lalu di sepanjang Jalan Bandung hingga Jalan Veteran. Aksi kedua di sepanjang Jalan Kawi sampai Jalan Dieng Kota Malang pada Minggu (28/9) lalu.
Aksi ini sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap lingkungan di Kota Malang. Sekaligus memberikan pengertian pada masyarakat, bahwa pohon adalah sumber kehidupan. “Aksi ini merupakan aksi rutin yang kami lakukan setiap dua minggu sekali,” katanya.
Dalam setiap melakukan gerakan aksi cabut paku, selain melibatkan anggota ASLI Malang, juga melibatkan petugas dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), kader lingkungan serta petugas Satpol PP. Termasuk juga menggandeng pelajar SMA Negeri 8 Malang, yang tergabung dalam Gerakan Pecinta Mayapada (Gapema).
“Mereka terlibat dalam aksi ini, karena mereka peduli dengan Kota Malang. Aksi ini, bertujuan supaya masyarakat tahu dan sadar bahwa lingkungan adalah sumber kehidupan. Sehingga sangat sayang sekali jika pohon mati karena dirusak manusia. Setelah paku kami cabut, apakah masyarakat masih mau menancapkan paku lagi ke pohon?,” tandas Syafirullah.
Saat melakukan aksi cabut paku, satu persatu pohon yang berdiri di kanan-kiri jalan dilihat. Jika ada paku yang tertancap dicabut menggunakan catut. Jika paku tertancap tinggi, mereka menggunakan alat tangga untuk menggapainya. Selain mencabut paku,  ASLI Malang juga membersihkan lingkungan. Sampah yang berserakan di tepi jalan dipungut untuk dibuang pada tempatnya.
Bersih-bersih paku ini dilakukan dengan begitu semangat. Tidak hanya anak muda, orangtuapun juga terlihat ikut bergabung, baik wanita maupun pria. Bahkan satu pohon ada yang terdapat puluhan biji paku. Aksi yang dilakukan bersama-sama ini juga menarik perhatian masyarakat sekitar, termasuk pengguna jalan yang melintas.(agp/ary)

Latber Singo Diikuti 500 Burung

MALANG –  Latihan bersama (latber) burung berkicau, kembali digelar di gantangan Singo Kamis (7/8) lalu. Bertempat di Jalan Danau Maninjau, Sawojajar, latber ini berlangsung cukup meriah. Tidak kurang dari 500 burung terlibat dalam event yang digelar secara rutin tersebut.
Panitia Latber Gantangan Singo, Heru Widodo menyebutkan, latber kemarin merupakan event ke dua setelah hari raya lalu. Sebelumnya, pihaknya menggelar Latpres, yang diikuti lebih dari 1000 peserta.  “Latpres bertema Halalbihalal sudah kami gelar minggu lalu, sekarang Latber rutin,’’ katanya.
Meskipun hanya latber, antusias para pecinta burung tidak surut.  Terbukti peserta yang datang tidak hanya dari Kota Malang tapi juga luar kota Malang. Ini menunjukkan, bahwa Gantangan Singo menjadi barometer lomba burung berkicau. Bahkan, saat ada event berlangsung, Jalan Maninjau, tempat gantangan ini ada selalu penuh dengan mobil dan motor.
Dari pantauan Malang Post, banyak peserta yang datang membawa  mobil dan datang membawa lebih dari satu burung. “Burung belum bisa dikatakan berprestasi jika belum beradu di Gantangan Singo,’’ kata Ilham, salah satu peserta.
Seperti latber pada umumnya, panitia membuka semua kategori atau jenis burung untuk lomba. Diantarannya, Love Bird, Kenari, Kacer, Cucak Hijau, Anis Merah, Cendet dan Kacer. Masing-masing jenis, pihak panitia membuka tiga kelas lomba, yakni kelas Favorit, Bintang A dan Bintang B. Masing-masing kelas dibedakan pada biaya pendaftaran.
Menurut panitia, untuk kelas favorit biaya pendaftaran Rp 50 ribu, kelas bintang A dengan biaya pendaftaran Rp 35 ribu, sedangkan Bintang B, Rp 20 ribu. Sementara untuk burung yang berprestasi, tim panitia tidak sekedar memberikan uang pembinaan. Tapi juga memberikan piagam, sebagai bukti prestasi burung. “Gantangan Singo ini didirikan dengan tujuan memberikan wadah untuk para pecinta burung berkicau, sekaligus menjadi tempat bersilahturahmi para pecinta burung,’’ tandas Heru. (vik/feb)

Tak Hanya Menang di Malang
MALANG - Bisa ngoceh saat naik  gantangan bisa dilakukan semua burung. Bahkan burung kelas pemula sekalipun. Tapi panjang kicauan dan terus menerus tidak semua burung bisa melakukan. Salah satu burung yang bisa ngekek panjang adalah Sabrina. Burung jenis Love Bird milik Constantino, warga Malang ini memberikan kemampuan ngekek panjangnya saat naik gantangan. Bahkan, kicau Sabrina ini mulai terdengar saat penutup kandangnya mulai dibuka.
"Ini kelebihan Sabrina. Begitu penutup kandang dibuka, dia langsung ngoceh," katanya.
Tak ayal dengan kemampuan ngekek yang panjang dan terus menerus, burung dengan mayoritas berwarna kuning ini pun kerap mendapat juara. Tidak hanya di Kota Malang tapi juga saat beradu di luar Kota Malang.
Dikatakan Iwan, meskipun Sabrina sangat berprestasi, bukan berarti dirinya terus mengikutkan burung yang dirawatnya ini lomba. Kepada Malang Post, dia menyatakan kesehatan dan stamina Sabrina tetap diperhatikan. "Seminggu maksimal 4 kali ikut gelar lomba baik latber maupun Latpres. Kalau terus menerus kasihan. Ya kita sendiri kalau terus menerus diforsir tenaganya kan drop juga," katanya sambil tersenyum. Dia juga mengatakan prestasi memang penting, tapi persaudaraan lebih penting. "Kita di gantangan kan tidak hanya ikut lomba burung, tapi bersosialisasi dengan para kicau mania," tandas Iwan. (vik/feb)

Pedofil Makin Oke
MALANG - Pedofil merupakan jenis burung kenari. Berumur sekitar 7 bulan, burung milik Yohan warga Jalan Gadang ini kerap menarik perhatian. Tidak hanya juri yang  melakukan penilaian di gantangan, tapi juga warga yang hadir kerap terpukau mendengar ocehan binatang mungil ini.
Sinyo yang membawa Pedofil di gantangan Arema BC mengatakan jika untuk membuat Pedofil ngoceh memang bukan hal yang mudah. "Perawatannya yang penting. Untuk menciptakan burung yang bisa ngoceh panjang harus ada perawatan ekstra tidak sekedar memberi makan, minum, atau mandi dan berjemur saja," ungkapnya. Tapi dia menambahkan, ada vitamin khusus untuk membuat stamina Pedofil tetap oke.
"Kita manusia kalau ingin terlihat prima juga minum vitamin, burung jugs, kalau ingin sehat juga harus mengkonsumsi vitamin," urainya. Buka itu saja, Sinyo juga mengatakan mental burung juga harus dilatih. Yaitu dengan kerap membawanya di gantangan. "Pedofil kan tidak tiba-tiba sering juara, dia juga melalui proses. Yang jelas mental burung inilah yang harus dijaga," tambahnya.
Sementara ini Sinyo membenarkan banyak orang yang tertarik untuk memiliki Pedofil, lantaran prestasi yang ditorehnya. Namun begitu, pria yang datang ke gantangan Arema Denpom BC dengan mengendarai mobil Kijang ini enggan menjual. Dengan nada bercanda dia pun bercetus  "Hahaha, kalau harganya cocok saya mau melepas, bercanda. Belum, belum ingin dijual. Target kami membuatnya berprestasi nasional,'' tandasnya. (vik/feb)

Olahraga Lari Malam Hari, Siapa Takut!

Run Malang Run (RMR) merupakan komunitas pecinta olahraga lari. Berdiri sejak Maret 2013, komunitas ini cukup eksis hingga sekarang. Menariknya kegiatan lari yang dilakukan kelompok ini tidak hanya di waktu pagi, atau sore hari. Komunitas yang saat ini memiliki anggota lebih dari 60 orang ini juga memiliki agenda rutin olahraga malam hari.  
“Rutin setiap Kamis malam. Start dan finis di area Alun-Alun Kota Malang (depan Ramayanan),’’ kata Ryan Markus Tobias, pendiri komunitas RMR.
Ryan sengaja memilih Alun-alun sebagai tempat start dan finis, lantaran  Alun-alun merupakan tempat berkumpulnya banyak orang.
“Kami ingin mengenalkan lebih luas komunitas ini kepada masyarakat. Sebetulnya bukan komunitasnya yang ditonjolkan tapi kegiatan larinya. Kami ingin, masyarakat menjadikan  lari sebagai olah raga favorit, yang sangat menyehatkan,’’ katanya sembari tersenyum.
Mengajak orang untuk ikut lari saat malam hari memang tidak mudah. Bahkan, sebaliknya kegiatan lari malam ini kerap di pandang aneh oleh banyak orang. Tidak sedikit orang mengatakan apa yang dilakukannya bersama teman-temannya seperti orang kurang kerjaan. Perkataan itu sama sekali tidak membuat Ryan pesimis, sebaliknya dia sangat optimis jika akan banyak orang ikut dalam kegiatannya.
“Banyak orang mengatakan lari malam itu tidak sehat, karena udara yang kita hirup memiliki kandungan oksigen yang sedikit. Tapi bagi kami, kapan pun olah raga dilakukan, pasti menyehatkan,’’ urainya.
Ia mengatakan, banyak orang tidak sempat olah raga pagi dan sore, karena sibuk beraktifitas. Sehingga waktu longgar yang dimiliki untuk berolah raga adalah malam hari.
Rasa optimis itu berbuah manis. Itu karena banyak orang yang melirik, kemudian tertarik, dan ikut bergabung. Alhasil, saat ini RMR pun memiliki anggota lebih dari 60 orang.
“Kalau yang ikut lari setiap Kamis jumlahnya lebih dari 60, hanya saja 60 anggota yang kami sebutkan ini selalu hadir. Bukan hanya saat kegiatan lari tapi juga kegiatan-kegiatan lain, yang digelar oleh RMR,’’ tambahnya.
Meskipun diikuti oleh banyak orang, namun Ryan mengaku kegiatan lari malam hari ini sama sekali tidak mengganggu arus lalu lintas. Alasannya, karena mereka menggunakan trotoar untuk lari. Kalaupun harus turun ke jalan raya, pihaknya memilih jalan yang sepi.
“Kami tidak ingin kegiatan kami mengganggu pengguna jalan, sehingga memilih jalan-jalan yang sepi kendaraan,’’ tandasnya. (vik/oci)

Bawa Semangat Berlari ke Malang
BERAWAL dari hobi yang sama, komunitas Run Malang Run (RMR) berdiri. Menurut Ryan, komunitas ini berawal dari ide tiga sahabatnya, yakni Wastu, Rizky dan Yanuar. Ketiga pemuda ini memiliki hobi sama dengan dirinya, yaitu lari. Bahkan, Ryan yang memiliki hobi lari sejak kecil ini kerap berlari bersama tiga temannya itu.
“Di Jakarta ada komunitas Indorunners.  Kami kerap ikut kegiatan disana. Kemudian, kami pengusulkan, komunitas ini dikembangkan ke regional-regional, agar lebih meluas,’’ kata Ryan.
Keinginan itu direspon positif oleh pihak Indorunners Jakarta. Sehingga Ryan dan teman-temannya pun mendirikan komunitas Indorunners Regional Malang dengan nama Run Malang Run.
Tidak ada arti dibalik nama tersebut. Kepada Malang Post, Ryan mengatakan nama Run Malang Run dipilih spontan, dan sesuai dengan kegiatan yang dilakukan, yaitu lari.
Meskipun berada dalam naungan Indorunners Jakarta, namun Ryan dan teman-temannya bebas untuk membuat kegiatan sendiri, alias tidak ada batasan kegiatan. Sepanjang tidak menyalahi aturan, dan memiliki tujuan positif, pihak Indorunners Jakarta tidak akan meralarang kegiatan Run Malang Run.
Dari situlah, kemudian Ryan dan teman-temannya ini mulai mencari ide untuk membuat kegiatan yang berbeda dengan Indorunners Jakarta. Yakni salah satunya adalah lari malam hari.
“Kalau lari pagi, atau sore kan sering dilakukan. Lari malam hari kan jarang, RMR ini yang mengawali,’’ katanya.  Dia mengatakan prinsipnya lari yang dilakukan adalah Happy Life Style.
Seperti komunitas Indorunners Jakarta, komunitas Run Malang Run tidak pernah membatasi jumlah peserta. Siapapun bisa ikut dalam komunitas ini. Terlebih pihak RMR juga tidak memberikan syarat apapun sehingga peserta pun sangat bebas.
“Tidak ada syarat apapun. Bahkan, kami juga tidak menyediakan formulir untuk pendaftaran. Kalaupun sekarang ada anggota, itu sifatnya tidak tetap,’’ katanya. Meskipun tidak ada formulir, Ryan memastikan satu persatu anggota ini saling mengenal.
Karena tidak ada pendaftaran, komunitas ini pun nihil iuran. Anggota sama sekali tidak dibebani biaya apapun. Namun begitu, bukan berarti komunitas ini tidak memiliki uang. Kepada Malang Post, Ryan mengatakan, pihaknya kerap membuat kaos, untuk dijual kepada anggota. Keuntungan dari kaos inilah, dikumpulkan untuk dimasukkan dalam kas.  Upaya tersebut membuahkan hasil. Bahkan dari uang kas yang terkumpul, Ryan dan teman-temannya mampu membuat kegiatan lain.(vik/oci)

MESKI komunitas Run Malang Run adalah para pecinta olah raga lari, namun begitu, tidak semua kegiatan yang digelar berkaitan dengan lari saja. Tapi mereka juga pernah menggelar kegiatan sosial. Menurut Yanuar, kegiatan sosial  yang dilakukan memang belum banyak, namun kegiatan ini sangat berkesan bagi dirinya dan teman-temannya.
Yanuar mengatakan, kegiatan sosial yang dilakukan yaitu memberikan bantuan ke salah satu Panti Asuhan di  Kota Malang.
“Kegiatan sosial ini kami gelar sebagai wujud keperdulian kami kepada orang-orang yang membutuhkan. Memang belum banyak yang kami berikan, tapi setidaknya kegiatan sosial yang kami lakukan beberapa waktu lalu menjadi awal yang baik untuk kegiatan-kegiatan sosial lainnya, yang akan kami gelar,’’ tambah pemuda ini.
Dia juga menguraikan, dana untuk kegiatan sosial yang digelar saat puasa lalu diperoleh dari dana patungan. Dana tersebut dikumpulkan dari para anggota.  Dia mengatakan, jauh hari sebelumnya pihaknya sudah mengeshare akan mengadakan kegiatan sosial, dan itu direspon oleh anggota yang lain. Sehingga saat pertemuan, anggota pun mengumpulkan dana.
“Kami tidak membatasi jumlah uang yang disumbangkan. Yang pasti mereka ikhlas, itu saja,’’ urainya.
Lantaran sukses membuat kegiatan sosial ini, Yanur pun berkeinginan kedepannya aka nada kegiatan sosial lain yang digelar oleh Run Malang Run.
“Kami tidak berhenti disini. Kami berharap, kedepannya akan ada kegiatan sosial lain yang bisa kami gelar,’’ tandas Yanuar.(vik/oci)

Tak Kuat Lari, Boleh Jalan Kaki
Meskipun lari dilakukan pada malam hari, setiap peserta tidak perlu khawatir kesasar atau ditinggal. Bahkan, peserta yang kelelahan pun tidak akan ditinggal oleh kelompok ini. Rizky  menjelaskan, dalam komunitas ini kebersamaan merupakan hal paling mendasar. Tidak terkecuali saat lari.
“Saat lari ada tim yang memimpin. Mereka terdiri dari tiga orang, bertugas sebagai leader, kedua sebaga Swipper, dan ketiga sebagai marshal,’’ katanya.
Tiga orang ini memiliki tugas, Leader sebagai pencari jalan di depan. Dia berada di paling depan, dan tidak ada orang atau peserta yang mendului. Sedangkan swipper bertugas sebagai tukang sapu bersih.  Swipper berada di barisan paling belakang. Tidak ada anggota yang paling belakang. Sedangkan Marshal sebagai pengatur barisan.
“Kalau ada anggota yang tidak kuat, dan duduk, pasti akan ditunggu. Termasuk ada peserta lari yang memilih jalan kaki, tetap ditunggu, dan Swiiper tetap ada di belakang,’’ urainya.  
Posisi penting sebetulnya ada pada Marshal. Dia wajib mengatur barisan.
Bukan itu saja, yang membuat komunitas ini kian diminati saat ini adalah keaktifan anggota dan media sosial. Mereka tidak pernah absen memposting foto-foto kegiatan RMR ke Instagram, Path atau Facebook. Postingan foto ini mendapat banyak respon. Tidak hanya sesama anggota tapi juga dari lainnya.
Selain lari malam, pada anggota RMR ini juga gandrung lari ekstrim.  Yatu menjelajah pegunungan. Seperti beberapa waktu lalu, anggora RMR mendaki gunung banyak dengan cara berlari.
“Kami juga pernah mendaki gunung semeru dengan berlari,’’ kanyanya, lari di gunung memberikan sensasi tersendiri. Meskipun jalannya menanjak, tapi dirinya juga dapat melihat pemandangan yang sangat indah,’’ tandasnya. (vik/oci)


Last Updated on Tuesday, 05 August 2014 12:31

Latber KWB Kembali Buka

BATU – KWB Bird Club tidak pernah berhenti melakukan latber, latpres, maupun lomba burung berkicau. Setelah menggelar lomba burung berkicau bertitel Ramadan Cup, Akhir Juli lalu, panitia sudah menyiapkan latber di halaman Dispora atau komplek Stadion Brantas Batu, Sabtu (2/8) hari ini.
‘’Rasanya tidak ada istirahat. Kami tetap konsisten melakukan latber, latpres atau Cip setiap Sabtu. Besok (hari ini), latber kembali digelar sehingga para penggemar burung berkicau sudah bisa membawa burungnya adu prestasi di sini,’’ ungkap Machfud, salah satu panitia KWB BC kepada Malang Post.
Menurutnya, KWB BC sukses besar saat menggelar Ramadan Cup, akhir Juli lalu. Saat itu target 700 peserta dari wilayah Malang Raya dan kota-kota di Jatim bisa tercapai. Hal itu artinya, para penggemar burung berbagai wilayah mengakui eksistensi KWB BC.
Saat itu, peserta luar kota antara lain Asia, SF-Warung Jayeng Nganjuk dengan jago andalanya Muray Batu Kenziro yang menjadi juara. BBL Blitar yang sedang persiapan untuk Bupati Cup Kediri memiliki andalan Cucak Ijo bernama Septi. Sedangkan KLK dari lereng Kelud Kediri milik Mr Agus Pia/Simon mengirimkan gacoan Cujak Ijo Killer dan Abiyoso, Punglor Merah Snowden dan Kacer Rondo Kuning. Sedangkan Muray Batu bernama Kenziro Blorok dan Kenari bernama Ferari dikirim mengikuti lomba.   
‘’Lomba atau Cup sudah berlangsung dan kami konsentrasi untuk latber dan latpres. Setelah latber dan latpres, nanti pasti akan ada Cup lagi,’’ jelasnya. (feb)

Si Kecil Menapak Prestasi Besar
MALANG - Setelah berhasil moncer pada beberapa gantangan, giliran Arema BC (Denpom) yang ditaklukkan si Kecil. Burung jenis Love Bird milik Wakman ini mampu ngekek, dengan suara sangat panjang saat menjadi peserta di kelas Bintang A Latihan Bersama (Latber) yang digelar di lingkungan Denpom V/3 Brawijaya tersebut, kahir Juli lalu.
Wakman mengatakan, keberhasilan  ini melengkapi prestasi yang diperoleh si Kecil sejak dua bulan terakhir. "Si Kecil adalah hasil ternak kami, dia mulai naik gantangan sejam berusia 5 bulan. Selama dua bulan ini sudah banyak prestasi yang telah di raih," katanya.
Dia juga mengaku si Kecil juga menjadi buah bibir saat naik gantangan di KWB maupun di gantangan Singo BC (Sawojajar).
Di usianya yang masih muda ini, Wakman yakin Si Kecil masih mampu berprestasi di tingkat lebih tinggi. "Pastilah, dia mampu. Yang jelas, nanti akan saya naikkan di tingkat Latber, Latpres atau Cup. Tunggu tanggal mainnya," katanya sembari mengatakan untuk sementara ini belum tertarik menjual, sebaliknya masih ingin bersama si Kecil lebih lama lagi. (vik/feb)

Latpres Perdana Bertajuk Halal Bi Halal
MALANG – Arema Bird Club (Denpom) kembali menggelar latpres burung berkicau Rabu (6/8) nanti. Latpres ini bertajuk halal bi halal karena masih dalam nuansa lebaran. Para penggemar burung yang biasa memadati gantangan Arema BC ini tidak sekedar diajak berkompetisi, tetapi juga saling memaafkan.
Dalam laga pembuka setelah libur lebaran ini, Arema BC menyediakan total hadiah jutaan rupiah. “Dalam laga pembuka judulnya adalah Latpres Halal Bi Halal dan digelar Rabu (6/8) mendatang. Total hadiahnya jutaan rupiah,’’ kata Ketua Panitia Iman Bangkit Jaya.
Namun begitu, pihaknya belum memastikan apakah latpres akan datang digelar secara gratis atau berbayar. Seperti latpres sebelumnya, pihaknya menargetkan sekitar 700 penggemar burung berkicau yang datang. Hal itu juga sama latpress yang digelar Rabu (23/7).
Saat itu latpres memiliki suasana lain dari sebelumnya. Itu karena, pihak panitia menggelar latpres dengan gratis untuk kelas Anis Merah dan Kacer. Tidak adanya biaya pendaftaran untuk kategori Anis Merah dan Punglor bertujuan untuk meramaikan kembali dua burung kedua jenis ini di arena lomba.
“Selama ini lomba hanya diwarnai dengan jenis burung Kenari, Cucak Hijau, Cendet dan Love Bird. Dengan gelar latpres ini, kami ingin menghidupkan kembali untuk kategori burung jenis Anis Merah dan Kacer, yang tahun 2010 lalu pernah Berjaya di gantangan,’’ katanya.
Pria bertubuh tambun ini juga mengatakan, meskipun digelar secara gratis, pihaknya tetap memberikan hadiah layaknya latpres berbayar. Bahkan Iman menyebutkan, masing-masing kelas terdapat hadiah total ratusan ribu rupiah. “Hadiah ini menjadi support tersendiri bagi pemilik burung jenis anis merah dan kacer. Itu terbukti dengan gantangan yang terus penuh untuk dua kategori ini,’’ kata Iman sembari menyebutkan latpres itu menjadi laga pamungkas lomba selama Ramadan. Bukan itu saja, Iman juga memberikan paket makanan burung untuk para juara latpres kemarin.
Sementara pada laga pamungkas kemarin, Iman mengatakan Ronaldo  menjadi bintang untuk burung kelas Love Bird, disusul dengan Kenji. Burung milik Uut Tamijaya ini koncer dan mendapat juara dua kategori Love Bird kelas Exsecutive. Sedangkan di Kategori Cendet, kelas exsecutive pihak panitia memilih N9 sebagai juara 1 dan Sroem milik H Wiwid HD sebagai juara 2. Sedangkan di kategori punglor merah panitia memilih Gajah Mada sebagai juaranya. Itu karena burung milik H Aan ini berhasil menyabet tiga juara sekaligus. (vik/feb)
 
Warior Ingin Jadi Raja Gantangan
MALANG – Setelah cukup lama absen, Warior kembali eksis dengan tiga prestasi berturut-turut dalam latpres di Gantangan Arema BC (Denpom BC) akhir Juli lalu. Burung jenis Kacer milik Nadi, warga Kota Malang  ini berhasil juara di kelas executive, THR dan kelas bintang.
Menurut tim juri yang melakukan penilaian, kicau warior betul-betul tidak habis-habis saat dia mulai naik di gantangan. “Stamina warior sangat bagus, dia tidak berhenti berkicau, saat dinaikkan di atas gantangan,’’ kata Imam, salah satu juri sembari menambahkan, kicau Warior sangat panjang sehingga hampir semua juri memberikan nilai tinggi.
Prestasi warior ini sontak membuat Nadi tersenyum puas. Dia pun yakin, jika warior mampu mencetak persatasi lebih tinggi lagi. “Pasti saya akan ikut saat gelaran latpres atau lomba yang lebih besar lagi. Dengan kemampuan warior dalam berkicau tadi, saya yakin dia pasti mendapat juara,’’ urainya. Dia juga mengaku sangat bangga, lantaran baru kali pertama turun gantangan warior sudah bisa mencetak tiga juara sekaligus.
“Dulu saya beli dari teman. Sudah pernah ikut lomba tapi tidak menang. Kemudian berhenti cukup lama, dan baru naik gantangan lagi sekarang, Alhamdulillah juara,’’ katanya. 
Meskipun sudah memiliki prestasi yang membanggakan, Nadi mengaku belum berniat  menjual burung kesayangannya itu, sebaliknya masih ingin menjadikan warior sebagai raja di berbagai gantangan. (vik/feb)

Ayo peduli Malang

Berawal tidak memiliki kegiatan yang rutin dan hanya menjadi mahasiswa kupu-kupu alias kuliah-pulang, muncullah ide untuk mendirikan komunitas peduli sesama. Muhammad  dibantu lima temannya, Anton, Debby, Bella, Febby dan Ucup, berinisiatif untuk membuat komunitas yang bernama Ayopeduli Malang. Komunitas ini didirikan pada tanggal 1 Desember 2013. Saat itu hanya memiliki anggota 10 orang. Namun seiring perkembangannya komunitas ini cukup menarik perhatian anak muda.
Terbukti sekarang, anggotanya mencapai 68 orang. Berdirinya Ayopeduli Malang ini ditandai dengan aksi pertama yaitu Gerakan Ambil Sampah di Car Free Day Ijen Malang. Pada umumnya, komunitas ini tidak hanya bergerak di bidang sosial, tapi juga kesehatan dan lingkungan.
Maka itu, pada aksi pertama tersebut, mereka berudaha untuk mengajak masyarakat untuk membantu mengambil sampah yang ada di depan mereka dengan tujuan supaya masyarakat sadar akan pentingnya kebersihan. “Tidak hanya mengajak masyarakat begitu saja, tapi kami juga memberikan reward untuk pengunjung yang mau membantu berupa merchandise Ayopeduli Malang,” jelas Muhammad.
Muhammad pun mengakui, aksi sederhana yang baru kali pertama dilakukan ini mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat. Itu terbukti, dalam aksi ini tidak hanya orang dewasa saja yang terlibat, tapi juga banyak anak-anak. Tanpa ada paksaan, masyarakat langsung memungut sampah di dekatnya kemudian memasukkannya ke dalam kantong sampah yang disediakan.
“Secara umum masyarakat sadar akan keindahan. Itu sebabnya, masyarakat pun langsung turun tangan saat diajak untuk melakukan bersih-bersih dengan memungut sampah. Karena notabene, kebersihan ini menjadi kunci pokok sebuah lingkungan atau kota terlihat indah,’’ kata Muhammad, yang mengaku sangat puas, lantaran aksi pertamanya ini sedikit banyak memberikan dampak kesadaran kepada masyarakat pentingnya membuang sampah di tempatnya.
Sejak kali pertama didirikan, aksi peduli sampah ini sudah dimasukkan dalam agenda AyoPeduli Malang. Lantaran itulah, setelah melakukan bersih-bersih sampah di area Car Free Day, kegiatan bersih-bersih sampah ini pun berlanjut di beberapa poros jalan.  Ajakannya pun sama, menggugah masyarakat untuk memungut sampah paling tidak yang ada di sekitar tempatnya berdiri.  
“Sudah beberapa kali dilakukan dan Alhamdulillah, aksi peduli sampah ini cukup berhasil. Kita ingin menciptakan lingkungan yang bersih,’’ tandasnya.
Ayopeduli Malang, tidak hanya ada di Malang, namun juga ada di enam kota lainnya di Indonesia. Jakarta, Bekasi, Medan, Bandung, Purwakarta dan Semarang.
Malang merupakan kota ketujuh yang bergabung dalam Ayopeduli. Induk dari komunitas ini adalah Ayopeduli.com, yang di launching pada 14 Februari 2012. Ayopeduli.com merupakan website collaboration, yang mana setiap orang bisa memasukkan aksi sosial apapun dan menggalang dana melalui website tersebut. Ada 3 kategori aksi sosial yang ada di ayoeduli.com, yaitu kesehatan, lingkungan dan pendidikan.
Meskipun induknya hanya sebuah web, namun antusiasme dari setiap regional yang tergabung dalam ayopeduli.com sangat tinggi. Saat ini, tingkat keaktifan tertinggi komunitas Ayopeduli, adalah regional Malang. “Diantara tujuh kota yang ada, Malang jadi kota yang paling aktif. Pengelola web yang merupakan founder ayopeduli.com dan pengurusnya, Jaenal Gufron sangat menyambut setiap aksi positif dari kami. Ayopeduli.com, sebelumnya di bawah naungan yayasan solidaritas anak terlantar, sekarag sudah membangun sendiri bernama yayasan ayopeduli nusantara,” ungkap Muhammad,founder ayopeduli.com
Visi secara umum ayopeduli adalah memberikan solusi sebagai sosial collaboration media dalam penggalangan dana yang kredibel dan transparan. Sedangkan AyoPeduli Malang bertujuan mengajak masyarakat untuk peduli dengan lingkungan sekitarnya yang lebih dekat terlebih dahulu, memfokuskan aksi khusus untuk kota Malang. Maka dari itu, dibentuknya Ayopeduli di setiap kota, supaya tujuan dari ayopeduli.com bisa terwujud.(ira ravika/ary)

Page 1 of 9

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  Next 
  •  End 
  • »