Malang Post

Komunitas


Ekstrem Tapi Menyenangkan

Share
Ini hobi menantang. Meluncur di trek, melompat lalu jumpalitan kemudian mendarat dengan sukses. Itulah skateboard, hobi ekstrem yang menuntut ketrampilan dan latihan. Jika terlatih, permainan ini sangat menyenangkan.
Lebih dari 500 orang di Malang  jatuh hati pada skateboard. Mereka tergabung dalam komunitas maupun seorang diri. Saat ini setidaknya tercatat enam komunitas skateboard. Ada yang rutin latihan dan bermain. Namun terdapat juga yang sekadar bermain untuk mengisi waktu senggang dan tak terjadwal. Tujuannya merekat  persahabatan.
Rahmat Abdullah, seorang pemain skateboard di Malang merasakan beragam manfaat dari hobi yang ditekuninya ini. Selain menyenangkan diri, Rahmat belajar tentang banyak hal dari skateboard. “Dengan main skateboard bisa belajar tentang keseimbangan, konsentrasi dan displin,” ujar Rahmat.
Sebelum memilih skateboard, Rahmat menekuni sepak bola dan voli. Namun   ia merasa monoton. “Awalnya aku melihat olahraga ini menarik sekali. Dengan permainan papan bisa sampai meluncur tinggi,” ungkapnya kepada Malang Post.

Skateboard bukan sekadar permainan, tapi juga olahraga yang dapat dimainkan kapanpun dan dimanapun. Hanya saja, seorang skater, pemain skateboard  harus memahami dengan baik tekniknya agar tak membahayakan diri sendiri. Permainan ini membutuhkan perlengkapan lengkap dengan pengaman. Diantaranya pelindung kepala, siku dan lutut.
Saat ini skateboard sudah menjadi gaya hidup. Skater pun  biasanya memiliki gaya sendiri-sendiri sesuai kepribadiannya. Diantaranya  bisa bergaya semisal  hip hop atau casual, yang penting nyaman dan menyenangkan.
Selain oahraga ini dibilang olahraga ekstreme, juga cukup mahal. Karena untuk memiliki peralatannya harus merogoh kocek yang cukup dalam.
Permainannya merujuk pada peralatan yang dipakai. Yakni sebuah papan dengan empat roda yang digunakan untuk meluncur. Tidak hanya roda saja yang dibutuhkan di papan luncur, perangkat-perangkat yang disusun untuk merangkai roda juga menjadi kebutuhan.
Mungkin banyak orang mengira membeli peralatan  skateboard sama seperti membeli alat-alat permainan  pada umumnya. Bagi skater yang menguasai dan memahami tentang papan seluncurnya akan memahami bagaimana memoles dan merakit papan skateboard  sesuai yang diinginkan.
Apabila membeli papan luncur dalam keadaan utuh satu set, skater merogoh kocek sekitar Rp  450.000. Dengan biaya sebanyak itu  akan mendapatkan papan luncur yang biasa-biasa saja.
Mereka yang menginginkan papan seluncurnya mendarat dengan mulus dan kualitas  terjamin maka harus merakitnya sendiri. Dijamin  akan lebih puas saat  menggunakannya.
Terdapat peralatan skateboard yang harganya memang lumayan tinggi namun kualitasnya dijamin bagus. Untuk produk lokal,  harganya berkisar sekitar Rp  1,9 juta. Sedangkan harga perlatan buatan  luar negeri seharga Rp 2,1 juta hingga Rp 2,3 juta.
Tak hanya papan luncur saja, sepatu juga menjadi kelengkapan pribadi yang sangat penting. Sepatu skater umumnya setinggi mata kaki dengan ketebalan yang cukup. Tujuannya untuk melindungi pergelangan kaki lantaran olahraga ini membutuhkan kelincahan kaki.
Para skater biasanya mengganti papan skateboard pada lima bulan sekali. Begitu juga dengan sepatu yang dikenakan. Jika tak diganti, papan seluncur bagian depan dan belakang cepat menipis. Penyebabnya  karena selalu  digunakan untuk rem setiap digunakan saat melakukan  trik-trik skateboard.
Trik tik-tak, pushing dan olie dapat mempercepat usia atau masa pakai papan skateboard. Trik tersebut adalah trik dasar yang selalu digunakan untuk memunculkan trik-trik yang baru dengan cara mengkombinasi dari setiap trik-trik tersebut. (mg13/van)
comments

Selain Parade, Harus Rajin Berlatih

Share
Para skater selalu merayakan hari Skateboard Dunia pada setiap 21 Juni. Di Malang pun merayakan hari tersebut. Persis pada 21 Juni lalu, para skater Malang Raya dan sekitarnya menggelar selebrasi hari skateboard. Acara ini dihadiri 550 orang skater. Usianya dari  12 tahun sampai 35 tahun. Mereka datang dari berbagai penjuru Malang Raya seperti Kota Malang, Kepanjen, Turen, Dampit dan Batu. Saat itu para skater Malang berkumpul di Alun-alun Malang. Telah menjadi sebuah tradisi menggelar parade skateboard di Malang pada setiap 21 Juni. Start  dari Alun-alun Malang menuju balai kota lanjut melewati Jalan Arjuno. Setelah itu kembali lagi ke Alun-alun Malang.
Selain merayakan hari Skateboard, para skater ingin menunjukan kepada masyarakat bahwa skateboard punya nilai positif.  Nah sebelum ikut merayakan hari skateboard, tentu harus berlatih agar lincah di jalan saat parade.
Ketua komunitas Malang Skateboard Scene, Rahmat Abdullah  mengatakan, olahraga ekstreme skateboard  menjadi  gaya hidup   remaja sekarang.  Sehingga membuat para remaja berlomba-lomba untuk bisa menguasai trik dan permainannya.
“Perlu latihan yang tekun dan niat yang kuat untuk bisa menguasai setiap trik-trik permainan skateboard. Karena apabila tidak niat akan malas untuk belajar lebih dalam lagi, bermain skateboard tidak segampang yang dilihat,” jelas Mimit sapaan akrabnya.
Selain niat, untuk menunjang seseorang agar  dapat belajar dan menguasai trik dasar bermain skateboard dibutuhkan peralatan yang memadai pula. Seperti halnya perlengkapan yang harus diperlukan dan diperhatikan adalah papan skateboard.
“Tidak berpengaruh produksi lokal ataupun luar negri. Asalkan skater bisa menguasi papan skateboardnya sendiri. Dan apabila jatuh dapat mengerti posisi seperti apa yang harus dia ambil,” jelasnya.
Skateboard memang olahraga ekstreme karena tak jarang skater akan mengalami patah tulang saat bermain papan seluncur. Di Amerika dan negara besar lainnya,  para skater melakukan permainan di bigramp diwajibkan menggunakan body protection dari helm pelindung kepala hingga pelindung lutut.
 “Agar tidak sampai terjadi kecelakaan parah, kami harus menguasai cara jatuh yang tepat agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. (mg13/van)  
comments

Redam Kebencian di Lapangan Bola Lewat Sebuah Syal

Share
SYAL suporter jadi bagian tak terpisahkan dari pertandingan sepakbola. Malang punya komunitas khusus para kolektor syal suporter ini. Sebutannya adalah Indonesia Football Scarves Collectors Ngalam. Berawal dari kumpulan Aremania, kolektor syal sekarang juga beranggotakan suporter klub lain, seperti Persija Jakarta dan Gresik United.
Alux, anggota Indonesia Football Scarves Collectors Ngalam, menyebut bahwa koleksi syal awalnya adalah hobi.
“Tiap musim, kita selalu memberi atribut baru untuk mendukung tim kebanggaan, termasuk scarft. Kita gak pernah terpikir sebelumnya untuk jadi komunitas,” kata Alux kepada Malang Post, saat ditemui di Tugu Kota Malang.
Tepatnya, April 2015, belasan suporter Arema yang sering nonton bareng ke stadion, merasa perlu membentuk komunitas kolektor syal. Setelah berembug, terbentuklah Indonesia Football Scarves Collectors Chapter Malang. Alux menyebut, komunitas ini mengoleksi semua scarf tim lain, tak terkecuali tim rival, seperti Persebaya dan Persib Bandung.
“Rivalitas dalam sepakbola itu sangat penting. Sepakbola tanpa rivalitas itu hambar dan tak ada serunya. Namun, perlu disadari juga, rivalitas itu cuma 90 menit di atas lapangan. Lewat koleksi scarf, kita kesampingkan fanatisme buta,” tutur Alux.
Saat ini, Indonesia Football Scarves Collectors mengoleksi berbagai jenis syal dari tim-tim Indonesia. Persija, Gresik United, Persela, Persebaya, Persib hingga Persipura pun dikoleksi. Komunitas ini tak mau ikut dalam lingkaran setan kebencian yang seharusnya dihapus dari sepakbola.
“Lewat scarf kita bisa meredam kebencian di luar lapangan. Silaturahmi dengan suporter lain pun terjaga. Kita bisa saling menghargai. Pada intinya kita ini kan satu bendera nasional. Semoga lewat kita, kerusuhan fanatik sempit berkurang,” tambahnya.
Saat ini, Indonesia Football Scarf Collectors beranggotakan Alux , Yudianto, Beny Christian, Arul Zulkarnaen, Renti, Randy, M Ecky, Dendi Indra, Khoiron, Dista, Galih Eka Perkasa, Fadil, Angga Armedianto, Edy Pras Nyoto, Noofal, Dodig, Arif Dimas, Phephe, Nita, Khrisna AL dan Okky Septian. (fin/oci)
comments

Agendakan Aksi Sosial di Bulan Ramadan

Share
MALANG – Indonesia Football Scarves Collectors Chapter Malang telah menjadwal kegiatan selama ramadan. Meski baru seumur jagung, komunitas kolektor syal sepakbola ini sedang bersemangat untuk memberi aksi buat lingkungan sekitar.
Benny Kristian, anggota Indonesia Football Scarves Collectors menyebut, setidaknya, perkumpulan kolektor syal tak hanya kopdar saja. “Kita memang sering kopi darat, kumpul dan nongkrong bareng. Tapi, bertepatan dengan ramadan, kita rencanakan kegiatan sosial,” kata Benny kepada Malang Post.
Indonesia Football Scarves Collectors Malang, berencana menggelar kegiatan bagi-bagi takjil gratis untuk pengguna jalan. Dalam waktu dekat, Benny menyebut bahwa kegiatan ini bakal digelar. Menurutnya, kegiatan sosial ini akan jadi bukti nyata keseriusan chapter Malang sebagai bagian dari Indonesia Football Scarves Collectors.
“Kita ingin bagi-bagi takjil untuk pengguna jalan yang terpaksa berbuka puasa di jalanan. Selain itu, kita juga menyiapkan bagi-bagi syal secara gratis, supaya kegiatan kita makin bermakna buat lingkungan sekitar di Kota Malang,” kata Benny.
Menurutnya, kegiatan ini bisa menjadi penyemangat bagi anggota komunitas agar tak terhalang batasan asal suporter. Sebab, komunitas kolektor syal bola ini beranggotakan banyak suporter dari berbagai klub. Selain Aremania, ada pula The Jakmania, Jak Angel hingga Ultras Gresik.
“Lewat komunitas kolektor syal ini, kita bisa bersama-sama memberi sesuatu buat lingkungan sosial kita, tanpa melihat asal suporter mana. Misi kita adalah perdamaian antar suporter, bukan lagi memuja rivalitas buta di sepakbola,” tutup Benny.(fin)
comments

Terbentuk Karena Utang

Share
BAND Akustik di Kota Malang makin menggeliat dengan banyaknya jumlah kafe. Salah satunya yang rajin manggung adalah Friendcoustic. Mereka sering dapat job karena aransemen akustik yang populer bagi pengunjung tempat nongkrong. Namun, band yang lahir tahun 1 Juni 2014 lalu tersebut, punya sejarah pembentu‎kan yang unik. Mereka nge-band awalnya demi bayar hutang.
Band yang beranggotakan Agustinus Saputra, Helena Yahvita, Mustika Ayu, Andhi Prayoga dan Efod Suwono tersebut awalnya hanya teman kumpul.
"Kita pernah ada event. Lalu, dana penyelenggaraan event tersebut kurang 6 juta. Demi menutup utang event itu, kita putuskan nge-band bareng, nyoba main di kafe, untuk tutupi kekurangan dana," kata Mustika, vokalis Friendcoustic, kepada Malang Post, kemarin.
Saat Friendcoustic terbentuk, mereka adalah anak SMA dan mahasiswa yang belum berpenghasilan. Setelah berunding, akhirnya band ini memutuskan untuk bikin ciri khas dengan aransemen akustik. Sebab, band-band akustik mulai laris di kafe-kafe Malang. Secara teknis, masing-masing individu telah memiliki skill dalam bermusik. Dua vokalis wanitanya, adalah guru vokal. Sedangkan, pemegang aransemen seperti bass dan gitar adalah guru alat musik. Menurut Tika, sapaan akrab Mustika, tidak ada masalah dari sisi kekompakan dan pemahaman musik.
"Dengan modal doa, berani dan kompak, kita yang terbeban untuk lunasi utang event itu, inisiatif bikin proposal ke kafe-kafe. Awalnya, kita hanya dapat kesempatan untuk nge-jam saja. Namun, pemilik salah satu kafe suka dengan musik kita, dan akhirnya mengontrak Friendcoustic untuk main reguler. Setelah beberapa kali main, kita bisa menutupi utang kekurangan dana dari event," sambung mahasiswi FISIP UB tersebut.
Setelah itu, Friendcoustic tidak hanya nge-band untuk melunasi utang saja. Dengan semangat menggairahkan penggemar musik aransemen akustik, band yang bermarkas di Sawojajar tersebut mulai laris di kafe-kafe. Tawaran manggung pun masuk dan membuat band ini tetap bertahan sampai sekarang. Tika menyebut, Friendcoustic mengusung multi-genre dalam setiap penampilannya.
‎"Kita biasa main musik pop, jazz, blues, latin, reggae hingga keroncong," tutup Tika.(fin/oci)


Rileks dengan Akustik
CAPEK dan letih karena rutinitas kerja? Butuh hiburan untuk melepas lelah?Well, relaksasi lewat musik akustik bisa jadi solusi. Aransemen yang ringan dan santai, tentu bisa menurunkan ketegangan saat jam kerja Anda.
Seperti Sherryl Elizabeth Ilao, pekerja salah satu bank swasta. Ia menyebut gemar mendengar musik akustik.
Wanita asal Sukun tersebut mengakui, akustik bisa dinikmati di hampir semua suasana. Tak terkecuali, saat sedang duduk tenang dan bekerja di depan komputer. "Musik aransemen akustik, seperti Enda n Resa misalnya, lebih easy listening dan gak berisik. Kita bisa menikmati musik yang buat suasana hati jadi bagus," kata Sherryl kepada Malang Post, kemarin.
Menurut alumnus Universitas Negeri Malang ini, musik akustik punya penggemar dari kalangan dewasa muda. Jika musik genre cadas biasanya digemari anak muda yang berjiwa rebel dan ekspresif, maka Sherryl lebih suka disebut sebagai penyuka musik yang lembut dan tenang. Lewat musik aransemen akustik, wanita berkulit langsat tersebut mendapat eargasm.
Sherryl menerangkan, musik aransemen akustik bisa dimainkan di banyak genre. Namun, ia punya favorit genre untuk musik beraransemen akustik. "Kayaknya pop sama jazz itu enak banget kalau dimainkan lewat aransemen akustik. Feel dari musik jazz, terutama yang soft, gak fals kalo didengar lewat aransemen akustik. Saya pun kenal jazz dari band yang eksplorasi aransemen akustik," papar penghobi traveling ini.
Sherryl tidak menyangka, popularitas musik beraransemen akustik terus merangkak naik di Malang. Pasalnya, musik-musik aransemen akustik tidak populer. Setidaknya, kata Sherryl, musik industri yang dikuasai pop dan dangdut, membuat band-band akustik tidak terlalu ngetren. Biasanya, band akustik hanya tampil di kafe maupun event khusus. Tidak banyak juga,sorotan untuk band atau musisi aransemen akustik.
"Dulu saya menganggap musik aransemen akustik kurang popular,” ujarnya.
Meski easy listening, masyarakat hanya disuguhi musik industri yang dikuasai aliran pop mainstream. Namun, sekarang itu bergeser di Malang. Musik akustik mulai populer, band yang mengandalkan aransemen akustik juga menjamur.
“Temen-temen saya sekarang pun mulai hobi dengar akustik," tutup Sherryl. (fin/oci)

Kenali Oakley Branded dan KW
KACAMATA menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya dan gengsi. Satu di antara sekian banyak merek, yakni Oakley masuk dalam jajaran brand kacamata gengsi. Namun, jangan tertipu friends. Tidak semua Oakley yang dijual di pasaran itu asli. Ada yang kw super, kw atau bahkan aspal alias asli tapi palsu.
Salah satu pengguna Oakley, Alan Haviludin menyebut, harga kacamata Oakley asli bisa mencapai jutaan. “Saya beli harga yang sekitar Rp 2,5 juta, di outlet asli di Bali. Hati-hati, karena apa yang dijual di pasaran belum tentu ori. Kalau ingin gaya tanpa malu-maluin, tentu harus beli yang asli,” kata Alan.
Banyak cara untuk tahu keaslian dari kacamata Oakley. Namun, setidaknya ada tiga panduan dasar agar tak mudah tertipu barang pajangan di outlet-outlet. Pertama, Oakley asli selalu menyematkan inisial Oakley pada bagian lensanya. Kalau diperhatikan secara seksama, akan terlihat merek Oakley yang terukir di bagian lensa.
Biasanya, produk Oakley palsu hanya bisa mencetak merek. Cetakan tersebut seringkali mudah terkikis. Well, penggemar sejati Oakley, tidak mau salah beli merek aspal. Karena itu, hati-hati dalam melihat ukiran merek di lensa Oakley yang Anda beli.
Kedua, Oakley punya ikatan di antara lensa yang berkualitas. Oakley asli, punya ikatan lensa yang lembut. Jika dipakai, maka tak akan terasa janggal di area hidung. Sebaliknya, Oakley palsu diikat dengan produk yang kasar dan keras. Terakhir, Oakley palsu sering mencantumkan stiker tulisan “Authentic Oakley” atau 100 % Oakley.
“Saya jamin, yang seperti itu pasti palsu,” sambungnya. Merek asli, sama sekali tidak pernah mencantumkan stiker-stiker seperti itu. Bahkan, sejatinya semua merek asli selain Oakley, juga tidak memasang stiker untuk menunjukkan keasliannya.
Hal lain yang bisa diamati adalah huruf O yang jadi brand Oakley. Produk orisinil, membedakan cetakan huruf O dari huruf-huruf lainnya. Materialnya pun berbeda dan agak timbul, dibandingkan huruf lain.(fin/oci) 
comments

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL