Malang Post

Komunitas


Wadah Berkumpulnya Komunitas Seni dan Budaya

Share
MALANG - Berlimpahnya Komunitas Seni dan Budaya di Malang menjadikan motivasi sekelompok pencinta seni untuk memberi wadah kepada para komunitas seni dan budaya. Pasalnya, selama ini mereka sulit untuk berkumpul dan berkomunikasi, selain di tempat-tempat insidentil. Dari semangat inilah, muncul Semeru Art Gallery, tempat para komunitas seni di Malang untuk berekspresi dan bertukar pikiran.
Keempat orang itu adalah Indra Setyawan, Hendra Suhaimi, Pugud Haidi Hagusdila, serta pembina mereka, Dandung Prasetyo. Mereka berempat membentu Semeru Art Gallery pada 13 Januari 2015 silam. Empat teman ini, memang memiliki fokus di bidang seni yang berbeda, tapi dalam satu wadah mereka mampu menghimpun para komunitas seni di Malang.
"Banyak hal yang bisa dilakukan berbagai komunitas seni di Malang. Selama ini, mereka sulit untuk mencari ruang berekspresi. Mau buat pameran atau pertunjukan di ruang publik, birokrasi dan permohonan izin dipersulit. Makanya kami buat ini," kata Indra Setyawan, anggota Semeru Art Gallery, kepada Malang Post kemarin.
Pria yang fokus menggeluti bidang seni rupa ini menyatakan, sebenarnya banyak komunitas seni dan budaya di Kota Malang. Namun, karena banyak faktor, mereka sulit bergerak. Semeru Art Gallery, sebagai ini, menyediakan ruang untuk itu. Mulai dari seni rupa, lukisan, sastra, musik sampai komunitas-komunitas fotografi, dibebaskan untuk menggelar pameran karya seninya di tempat tersebut.
Pameran fotografi, seni rupa, launching buku, pembacaan puisi, launching album musik, pernah dilakukan di tempat yang berada di Jl Semeru itu. Mereka berkumpul secara komunal, untuk menunjukan kesatuan dari berbagai komunitas Seni di Malang. Dengan berkumpul, lanjut Indra, masyarakat juga bisa merasakan manfaat dari seni itu sendiri.
"Banyak yang dapat dipelajari masyarakat dari seni, baik itu tradisional, maupun modern. Mereka bebas mengekspresikan karyanya di sini. Karena kami punya misi, mempersatukan komunitas seni di Malang dalam satu wadah, sehingga masyarakat bisa melirik seni di Malang," tambah Indra.
Nah, Semeru Art Gallery sendiri memiliki tiga lantai yang masing-masing punya fungsi dan ciri sendiri. Lantai satu, merupakan gallery lukisan dan tempat pameran, lantai dua merupakan tempat berkumpul dan bertukar pikiran, sedangkan tiga stage yang berfungsi untuk pertunjukan-pertunjukan, salah satunya pertunjukan musik.
"Seni itu tidak bisa digolongkan satu persatu. Seni ya seni, tidak bisa dibeda-bedakan. Kami berempat juga memiliki bidang seni yang berbeda, tapi kami bisa berhimpun di sini," pungkas Indra.(erz/jon)
comments

Kembalikan Atmosfer Seni di Malang

Share
MALANG POST - Tak hanya Yogyakarta yang bisa menjadi daerah dengan atmosfer seni yang kental, Malang juga bisa. Inilah yang menjadi optimisme Indra Setyawan, Hendra Suhaimi, Pugud Haidi Hagusdila, Dandung Prasetyo, pendiri Semeru Art Gallery. Mereka percaya, kalau pada waktunya atmosfer seni di Malang bakal kembali tinggi.
Dulu, atmosfer seni di Malang menurutnya cukup kental. Meski begitu, makin kesini makin surut. Termasuk saat ini, dimana lingkungan, masyarakat dan pemerintah sama-sama kurang mendukung berkembangnya seni di Malang.
"Kami ingin kembali meninggikan atmosfer seni di Malang. Seni di Yogyakarta bisa hidup karena memang lingkungan mendukung untuk itu. Apalagi Malang, sekarang atmosfer seninya kurang terasa, tapi buktinya para senimannya masih bisa survive dan hidup," kata Indra Setyawan, anggota Semeru Art Gallery, kemarin.
Ia beranggapan, saat ini berbagai faktor eksternal di Malang yang tidak bisa mendorong kemajuan seni di Malang. Faktor utamanya, adalah ruang. Karena itu, Semeru Art Gallery ini dibuat untuk memberi ruang kepada komunitas seni di Malang. Sehingga, dengan bersatu perlahan atmosfer seni di Malang kembali tinggi.
Bila sudah begitu, seni di Malang akan terus hidup dan berkembang. Ini bisa menjadi nafas segar bagi kehidupan seni di Malang. Para senimannya hidup, karyanya bisa dikenal masyarakat luas dan nama Malang sendiri akan membaik. "Mungkin zaman dulu memang tinggi, tapi sekarang sudah surut. Ini kami mau tingkatkan lagi," jelas Indra.
Buktinya, selama delapan bulan berjalan, Semeru Art Gallery mengundang antusiasme yang tinggi dari para anggota komunitas seni dan budaya di Malang. Mereka berdatangan dan berkumpul untuk saling mengobrol ringan, sampai bertukar pikiran dan karya. Sesekali, mereka merencanakan pertunjukan dan pameran di sana. Hingga akhirnya, sampai sekarang hampir setiap bulan Semeru Art Gallery menggelar kegiatan berbau seni budaya.
Belum lama ini, terdapat pameran seni rupa dari salah satu komunitas Seni Rupa di Malang. Sebelumnya, juga diadakan pembacaan puisi dari komunitas Puisi Malang. Bedah buku sastra dan launching buku, juga sering diadakan di Semeru Art Gallery. "Meski begitu, kami tidak bisa memberi tolak ukur untuk membandingkan yang lalu dengan sekarang. Semua ada zamannya dan kami percaya dengan sendirinya seni di Malang akan terus berkembang bila terdapat ruang untuk mereka berekspresi," pungkasnya. (erz/jon)
comments

Membangun Kesatuan, Hadapi Tantangan

Share
MALANG POST - Upaya Semeru Art Gallery untuk memberi wadah kepada berbagai komunitas seni dan budaya di Malang, tentu tak akan berjalan mulus. Ya, banyak tantangan untuk memajukan seni dan budaya di Malang. Hal ini pun disadari para anggota Semeru Art Gallery, Indra Setyawan, Hendra Suhaimi, Pugud Haidi Hagusdila, Dandung Prasetyo.
Saat ini saja, tantangan tersebut sudah mereka rasakan sangat kuat. Ya, seperti para seniman lain rasakan, menjalani hidup di dunia seni sulit. Apalagi, saat ini banyak orang memandang remeh seni, apresiasi masyarakat untuk seni sangat minim. "Itu juga kami rasakan, karenanya kami butuh ruang publik untuk memperkenalkan karya seni ini ke masyarakat," kata Indra Setyawan.
Semeru Art Gallery sendiri, bila dilihat sebagai wadah untuk komunitas seni beraktualisasi, sebenarnya tak begitu bisa terbaca masyarakat. Ya, lokasinya yang kurang strategis meski di tengah kota, serta ruang yang tidak terlalu terbuka, membuat masyarakat awam seni sulit untuk mengakses karya-karya seni yang dipamerkan di sini.
"Kalau disini, masyarakat awam sulit mengaksesnya. Ada sih, meski tidak banyak. Tapi tidak apa-apa, kami berharap lama-lama masyarakat yang melirik kegiatan-kegiatan disini semakin banyak, sehingga yang memahami seni bisa lebih banyak," kata Indra.
Menurutnya, lokasi paling ideal untuk menggelar pameran sebenarnya berada di ruang publik, seperti taman, depan stasiun dan tempat-tempat seperti itu lainnya. Tapi, sekarang izin dipersulit pemerintah. "Ini juga jadi kendala bagi kami untuk memajukan seni di Malang," tandasnya.
Ia percaya, sebenarnya seni bisa hidup dan berkembang di Malang. Namun, karena atmosfer yang kurang mendukung, para seniman sulit untuk melakukannya. "Bisa, tapi sulit. Makanya, siapa tahu dengan adanya wadah untuk mereka (komunitas seni dan budaya), melakukannya akan lebih mudah," pungkas Indra. (erz/jon)
comments

Autonomic Chapter Malang

Share
MALANG – Autonomic chapter Malang punya misi untuk membangun persaudaraan dengan para penggemar otomotif. Komunitas yang berdiri tahun 2005 tersebut terbuka untuk anggota yang ingin bergabung, dan menjauhkan diri dari kesan eksklusif.
Bagus Leksono Wibowo, Ketua Autonomic chapter Malang, menyebut bahwa Autonomic kini memiliki sekitar 40 anggota tetap. “Kita punya anggota tetap sekitar 40 orang. Anggotanya berasal dari berbagai macam latar belakang,” kata Bagus kepada Malang Post.
Mahasiswa berusia 23 tahun ini menyebut, Autonomic chapter Malang terbuka bahkan untuk penggemar mobil yang bukan asli Malang. Bagus menyebut, setidaknya ada penggemar mobil dari Tuban, Blitar, Nganjuk, Kediri bahkan Surabaya yang masuk dalam Autonomic Malang.
“Itu karena mereka kebanyakan mahasiswa dari luar kota, lalu berkuliah di Malang. Memang ada Autonomic yang asli Malang seperti saya. Tapi, kita tidak melihat itu. Kita sesama penggemar otomotif, dan itu yang paling penting,” sambung Bagus.
Autonomic, nyatanya, tak hanya berisi anak-anak muda bermobil. Bahkan, Autonomic chapter Malang pun memiliki anggota yang menggunakan sepeda motor. Menurut Bagus, prinsip ini juga diterapkan di semua chapter Autonomic, baik Surabaya, Malang dan Yogyakarta.
Dengan prinsip ini, Autonomic mampu mempertahankan jumlah anggotanya agar tetap banyak. Pria yang tinggal di Permata Jingga ini menambahkan, Autonomic chapter Malang tetap terbuka untuk anak-anak muda penggemar otomotif yang ingin kumpul bareng.
“Kita sangat terbuka. Asalkan punya visi yang sama, untuk mencari saudara dan tambah teman, tentu kita sangat mau menerima anggota baru. Tinggal datang saja ke tempat nongkrong kita di Malang,” tutupnya. (fin/feb)
comments

Anggota Tak Harus Bermobil

Share
MALANG – Komunitas mobil Malang tak ada habisnya. Peningkatan lifestyle dan gaya hidup anak-anak muda serta mahasiswa, makin membuat komunitas mobil menjamur. Namun, ada satu komunitas mobil yang bertahan selama lebih dari 10 tahun, yakni Autonomic.
Ketua Autonomic Chapter Malang, Bagus Leksono Wibowo menyebut, Autonomic adalah komunitas mobil yang terbentuk tahun 2005 di Surabaya. “Awalnya, komunitas ini berasal dari Fakultas Ekonomi Unair, membuat komunitas mobil. Nama Autonomic, berasal dari singkatan automotif economic,” kata Bagus kepada Malang Post.
Autonomic, awalnya adalah kumpulan mahasiswa Fakultas Ekonomi Unair yang gemar nongkrong bareng. Mereka berasal dari berbagai pengguna mobil, tanpa membeda-bedakan merek. Karena diterima dengan baik  oleh para mahasiswa, Autonomic mulai dikenal di Jawa Timur.
Beberapa mahasiswa asal Malang, bersentuhan dengan komunitas Autonomic dalam suatu kesempatan nongkrong. “Setelah itu, akhirnya Autonomic buka chapter di Malang. Saat ini, ada dua chapter, Malang dan Yogyakarta,” kata Bagus, yang juga mahasiswa FT UB ini.
Menurut Bagus, Autonomic Malang pun berumur sama dengan Autonomic Surabaya. Sebab, tak lama setelah Autonomic Surabaya terbentuk, chapter Malang ikut berdiri. Praktis, usia Autonomic Malang saat ini pun sudah masuk 10 tahun, pada 8 Juli 2015 lalu.
Menurut Bagus, Autonomic bukanlah komunitas yang ingin eksklusif. Sebab, Autonomic tak mengharuskan anggotanya bermobil. “Kita bukan komunitas seperti itu. Kita punya prinsip utama, Autonomic adalah komunitas penambah saudara,” tutur mahasiswa asli Malang ini.
Dengan begitu, kata Bagus, Autonomic bisa menghilangkan stigma buruk yang menempel pada klub mobil. “Misi kita mencari saudara sebanyak mungkin. Kita tak pernah membeda-bedakan, selama mau gabung dengan Autonomic, tentu kita terima,” tutupnya. (fin/feb)

Member Cewekpun Banyak
Autonomic chapter Malang punya tempat nongkrong khusus di Kota Malang. Menurut Ketua Autonomic chapter Malang, Bagus Leksono Wibowo, anggota Autonomic Malang seringkali kumpul di Jalan Simpang Balapan, tiap Sabtu malam.
“Jadwal kumpul kita adalah hari Sabtu malam, mulai pukul 10 malam di Jalan Simpang Balapan. Kegiatan kita ya nongkrong bareng sambil bicara soal otomotif. Member kita gak hanya cowok aja, yang cewek pun banyak,” kata Bagus kepada Malang Post.
Acara kumpul tiap Sabtu malam sering jadi ajang sekadar sharing soal berbagai macam hal. Mulai dari urusan kuliah, pekerjaan, percintaan atau bahkan soal modifikasi mobil. Dengan keterbukaan Autonomic sesama member, Bagus menyebut bahwa komunitas ini jadi tempat berbagi.
“Biasanya banyak hal yang kita bicarakan. Seringkali pasti sharing tentang semua hal. Tapi, bukan sekadar nongkrong bareng. Kadang kita sempatkan datang ke tempat ngopi biar suasana kumpul dan akrabnya lebih terasa,” sambung Bagus.
Selain Simpang Balapan, Autonomic juga punya tempat nongkrong alternatif, yakni di seberang Dapur Kota, Jalan Sukarno Hatta. Selain nongkrong bareng, Autonomic juga tak pernah meluputkan kontes mobil yang digelar di Malang dari waktu ke waktu.
“Selain nongkrong, kita juga seringkali ikut kontes modifikasi mobil. Kalau lagi kontes mobil, semua mobil yang bisa ikut kontes ya pasti turun. Ada banyak mobil yang gabung di Autonomic Malang dan beberapa kali jadi juara,” papar Bagus.
“Ada mobil Swift, Honda Jazz putih, Estillo hitam, Sirion, Yaris  jadi andalan untuk ikut kontes. Biasanya, kita selalu kumpul di belakang Taman Krida untuk persiapan sebelum ikut kontes mobil,” tutupnya.(fin/feb)
 
comments

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL