Malang Post

Komunitas


HUT Pertama,Gelar Kartinian

Share
MALANG - Suasana Kartinian masih terasa di penghujung April. Memeringati HUT yang pertama, Club Socialita Malang menggelar Kartinian di hotel Sahid Montana Dua, Soekarno-Hatta, Kota Malang, kemarin. Acara bertabur peragaan modeling itu berlangsung meriah dibalut tema, Modern Beauty Culture 2015. Peragaan tari tradisonal, modern dancing, vocal, dan peragaan busana tersebut dimotori oleh Star Modelling Production binaan Ana Rokhmatus Sa'dyah, SH, MH, serta Fifa Modelling, Space Modelling, dan Amour Modelling.
Ana, demikian ia disapa adalah Ketua club Socialita Malang. Dihubungi di sela-sela acara, perempuan yang juga mengajar di salah satu perguruan tinggi Malang itu mengungkapkan, peringatan HAri KArtini sengaja digelar sekaligus memeringati satu tahun berdirinya sebuah komunitas wanita, Club Socialita Malang. “Club Socialita Malang, meski masih berumur satu tahun, tidak menyurutkan langkah kami untuk terus mewarnai kegiatan-kegiatan sosial, terutama yang berkaitan dengan dunia wani8ta di Malang,” ujarnya.
Salah satu praktisi dunia model di Malang itu mengungkapkan, pihaknya mengungkapkan terima kasih kepada undangan dan pihak-pihak yang sudah mendukung terselnggaranya acara tersebut. “Tak lupa, kami mengucapkan terima kasih kepada Bupati Pasuruan, Ketua DPRD Pasuruan, serta beberapa pejabat dari Blitar. Selain itu, juga salam hangat untuk PHRI, IARMI, PAUB, Socialita Surabaya, Club Tadika Puri, AMM, serta seluruh undangan yang tidak dapat kami sebutkan,” kata Ana.
Sekadar diketahui, HUT Club Socialita Malang kemarin berlangsung special karena dihadiri oleh salah satu peserta yang masuk 12 besar X Factor Indonesia, Yohanna Febianty Hera. Joe, demikian putri Yohanes Geohera ini disebut menyanyikan beberapa lagu. Beberapa kali Joe mendapatkan aplaus dari pengunjung. Saat turun panggung pun Joe masih sibuk melayani foto bersama penggemarnya di area kolam hotel Sahid Montana Dua.
Selain penampilan dari bintang X Factor Indonesia, NAdira, Finalis Mamamia 2014 juga tak ketinggalan unjuk vocal. Tentu saja, rangkaian acara banyak diisi oleh peragaan busana. Di antaranya, dari Star Model, Fifa Model, Space Model, dan Amour Model. Selain itu, beberapa tarian tradisonal dan modern dance juga mewarnai acara. (sin/nug)     
comments

Punya Aksi Sosial

Share
NOSTOC punya beragam kegiatan bermanfaat. Tak sekadar nongkrong dan juga tak hanya lalu lalang di jalan. Mereka punya kegiatan sosial dan sejumah aksi nyata lain yang dirasakan sesamanya.
Tahun ini berencana  mengadakan bakti sosial dan juga kompetisi mobil di Malang. Rencananya kegiatan sosial dalam rangka ulang tahun ke 13  NOSTOC. Ulang tahun komunitas ini pada 13 Mei.
“Kita bisa jadi akan memberikan santunan kepada sesama  yang kurang mampu. Atau mungkin mengadakan bakti sosial dalam bentuk lainnya,” terang Rindang Danuarti, Tim Manajemen  NOSTOC.
Mereka juga sering touriong ke berbagai  daerah. “Kita juga pernah touring ke markas  TNI AL  dalam rangka silaturahmi,” katanya.
Saat ini NOSTOC mempunyai basecamp di Jalan soekarno Hatta, tepatnya di Dominic Café and Resto. “Kita sering ngumpul bersama teman-teman disana, tapi juga tak jarang ditempat lain,” kata Rindang.
Tempat lain untuk  berkumpul biasanya di Simpang Balapan, dan juga di salah satu kafe yang berada di Jalan Bandung. (mg11/van)
comments

Alam Semeru Terjaga, Pendaki Aman

Share
SAHABAT  Volunteer Semeru (Saver) baru terbentuk setahun. Yakni 1 Maret 2014. Anggotanya terdiri dari  pendaki Gunung Semeru yang berasal dari Malang, Lumajang, Probolinggo dan Pasuruan. Kendati baru setahun, Saver telah memainkan peran demi pelestarian alam dan keamanan pendaki gunung tertinggi di pulau Jawa itu.
Kepedulian merupakan modal Saver. Bahkan dari kepedulianlah mereka terus bertahan  untuk  menjaga ekosistem dan pelestarian lingkungan Gunung Semeru. Komunitas ini merupakan komunitas mandiri, mereka tak dibayar. Namun mereka  memiliki komitmen dan peduli gunung Semeru.
Saver juga  memiliki jejaring yang kuat. Salah satunya  bekerjasama dengan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Komunitas ini pun telah melakukan banyak hal di sekitar gunung Semeru. Karena peran mereka,   kini setiap pendaki akan menemui tim relawan tersebut di kaki Gunung Semeru.
Sekretaris Umum  Saver, Han Sonny Firman Zakky mengatakan,  terdapat tiga peran  yang dijalankan untuk menjaga keselamatan pendaki dan  menjaga ekosistem di sekitar gunung Semeru.
“Pertama, pengecekan bekal calon pendaki. Kedua, memberikan pendidikan pendakian yang benar dan aman,” katanya. Sedangkan peran ketiga yakni melakukan pengecekan sampah agar lingkungan sekitar  Semeru tetap bersih.
Saat pertama kali menjalankan tugas, anggota Saver sempat merasa kesulitan walau mendapat amanat dari TNBTS.  Pasalnya mereka harus bersentuhan langsung dengan calon pendaki. Salah satu contohnya mereka harus memeriksa  satu persatu tas atau ransel calon pendaki.
“Lokasi pemeriksaan tas dan bekal calon pendaki di sekretariat kami di pos Ranu Pani,” paparnya.
Pemeriksaan tas pendaki memang sangat penting. Diantaranya untuk memastikan peralatan pendakian yang dibawa pendaki sudah memadai atau belum. Hal ini sangat penting karena demi keamanan pendaki.
“Sebelum mendaki  Semeru, tas atau ransel  yang pertama diperiksa. Apakah membawa sleeping bag atau tidak. Setiap pendaki harus membawa sleeping bag dan penghangat tubuh,” kata dia. Alasannya, untuk mengantisipasi cuaca esktrim di Semeru.
Apalagi ketika cuaca  sangat ekstrem bisa mencapai minus 8 derajat celcius. Selain sleeping bag, prosedur lain yang harus dibawa yaitu sepatu. Alas kaki ini  harus memakai standar pendakian. Jika sepatu sudah dikenakan, maka prosedur jaket dan logistik  atau makanan juga harus tersedia selama pendakian.
Seiring berjalannya waktu, tugas atau ‘amanat’ sebagai relawan Semeru mampu dijalankan tanpa banyak kendala. Bahkan dengan penuh kesadaran para  pendaki, beberapa aturan dan mekanisme untuk menjaga keselamatan sudah dipahami  dengan baik oleh para  pendaki.
Anggota Saver tak sebatas menjalankan tugas sebagai ‘penjaga’ pendaki. Tapi mereka juga mengemban tugas lain yang tak kalah pentingnya. Yakni memberi pendidikan lingkungan kepada para pendaki. Tujuannya agar semua pendaki ikut menjaga kebersihan dan pelestarian lingkungan di sekitar Gunung Semeru.
Informasi dan edukasi lingkungan dilakukan dengan cara yang sederhana tapi manfaatnya langsung dirasakan.  Contohnya mereka selalu memberitahu kepada pendaki agar sampah atau sisa makanan yang dibawa sebagai bekal harus dibawa pulang.  Jangan sampai berserakan di alam Semeru.
Tak hanya itu saja, mereka juga selalu mengingatkan tentang penerangan di tenda, lokasi mendirikan tenda hingga tempat buang air. Hal ini sangat diperhatikan di Ranu Kumbolo agar tak tercemar. (sit/van)


Punya Perpustakaan
SAVER tak hanya menjaga keselamatan pendaki dan pelestarian lingkungan di sekitar Gunung Semeru. Anggota Saver yang tak kurang dari 20 orang juga  punya aksi sosial secara nyata di dunia pendidikan.
Awalnya iseng mengisi waktu luang setelah mendata dan mengecek tas pendaki, anggota yang sedang baca-baca buku, tanpa sadar berinteraksi dengan warga di Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Lumajang. Dari interaksi itulah, ternyata warga mendambakan perpustakaan untuk anak-anak mereka.
“Tidak lama kami membentuk komunitas peduli keselamatan pendaki Semeru, 5 Mei 2014, kami mendirikan perpustakaan yang hingga kini belum diberi nama,” kata Sekretaris Umum Saver, Han Sonny Firman Zakky.
Taman baca itu  kini  memiliki anggota sekitar 20 sampai 25 siswa  SD. “Sementara koleksi bukunya, tentu sangat terbatas,”  sambung Han Sonny.
Agar antara amanat dari TNBTS dan  operasional perpustakaan saling melengkapi, anggota Saver memiliki  jadwal tugas. Beberapa anggota Saver bertugas menjaga perpustakaan dan mengajar  membaca ataupun menulis kepada siswa yang datang di perpustakaan. Sedangkan yang tak bertugas menjaga perpustakaan, kebagian tugas  memeriksa  tas pendaki di pos pemeriksaan.
 “Pembagian tugas sesuai jadwal sangat penting. Sehingga  tidak tumpang tindih. Selama ini untuk pengelolaan  perpustakaan bisa dilakukan setelah tugas sebagai relawan Semeru selesai,” tambahnya. (sit/van)

Solidaritas Pendaki  Jadi Perekat Mereka

PEDULI pendaki dan kelestarian alam Semeru menjadi salah satu alasan bergabung di  Saver. Bahkan hal itu menjadi perekat para  anggota Saver. Sekarang, sesibuk apapun setiap anggotanya selalu berusaha tak meninggalkan aktifitas Saver.
Mufidah, warga Dusun Jago, Tumpang memilih menjadi anggota Saver karena kepedulian dan solidaritas sesama pendaki. Kini ia terus bertahan di Saver melalui berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi sesama.
“Banyak alasan yang membuat saya bergabung dengan Saver. Ya itu karena kegiatan sosial dan  pelestarian alam untuk menjaga keindahan alam. Kalau bukan kita semua yang menjaga keindahan alam, lalu siapa yang peduli,” kata Mufidah.
 Mufidah merupakan personil pertama yang bergabung di Saver. Karena kesibukan lain, kini ia merasa aktifitasnya berbagai kegiatan Saver tak maksimal. Namun demikian ia tetap berusaha hadir di kegiatan Saver.
Kendati baru setahun, Mufidah punya kenangan tersendiri saat bergabung di Saver. Yakni disaat jumlah pendaki Gunung Semeru terus bertambah, disaat itu pula harus ekstra waspada dan meningkatkan kesiagaan.  
Kini ditengah kesibukannya, Mufidah berjanji akan tetap memberikan support untuk berbagai kegiatan Saver. Sehingga, tetap memberikan peran yang besar dalam menjaga keselamatan pendaki dan bersama-sama menjaga kondisi lingkungan di sekitar  Gunung Semeru. (sit/van)
comments

Komunitas Sejarah dan Budaya Malang Raya

Share
MEREKA  pelestari sejarah dan budaya. Mewadahi diri dan beraktifitas  dalam sebuah komunitas agar sejarah dan budaya tak dilupakan. Itulah Komunitas Sejarah dan Budaya (KSB) Malang Raya.  
Koordinator KSB Malang Raya Edi Sanjaya mengatakan, komunitas ini terbentuk pada awal tahun 2012 lalu. “Bermula dari tujuan yang sama yakni melestarikan sejarah dan budaya yang ada di Malang Raya. Lalu kami membentuk KSB,” kata Edi.
Saat ini terdapat puluhan anggota KSB Malang Raya. Anggotannya berasal dari latar belakang yang beragam. Mulai anak-anak, remaja, orang dewasa hingga orang tua. Mayoritas anggotanya remaja dan generasi muda. Selain itu terdapat juga anggota dari kalangan professional seperti pegawai swasta dan PNS.
Tergabung dalam sebuah komunitas yang sama akhirnya terungkap di Malang Raya terdapat banyak pencinta sejarah dan budaya. “Kami tentunya terkejut dan memberikan apresiasi kepada pencinta sejarah dan generasi muda yang mencintai sejarah,”  katanya.
Kegiatan KSB Malang Raya beragam. Diantaranya  membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan sejarah dan budaya. Tentu termasuk berbagai sejarah kerajaan yang pernah berjejak di Malang Raya.  
Mulai dari sejarah perjalanan Kerajaan Majapahit, Kerajaan Singosari dan sebagainya dipelajari.  Mempelajari sejarah di Malang Raya menyenangkan. Sebab banyak peninggalan sejarah berupa arca, stupa maupun candi yang masih tersisa.
“Seperti kita ketahui, keberadaan Malang Raya erat dengan berbagai perisitiwa sejarah dari kerajaan zaman dulu. Untuk itu, kami coba menggalinya lebih dalam,” terang pria berkacamata ini.
Malang Raya juga kaya akan budaya. Bahkan berbagai kegiatan pementasan untuk melestarikan budaya kerap dilakukan. Sebut saja pertunjukan wayang, tari topeng, jaranan, sakeraan, hingga pawai  budaya.
Pawai budaya sangat diminati anggota KSB Malang Raya. Apalagi pawai budaya sering digelar di berbagai  tempat. “Pawai budaya salah satu  bentuk pelestarian budaya. Tentu juga mengenalkan sejarah kepada masyarakat, terutama kepada generasi muda dan anak-anak,” terang Edi.
Melalui komunitas ini, Edi  berharap semakin banyak masyarakat yang mencintai sejarah dan kebudayaan. Tidak cukup sampai di situ, juga diimplementasikan melalui pelestarian sejarah, supaya keberlangsungannya tetap terjaga (big/van)
comments

Sebulan Sekali Kopi Darat

Share
SALAH satu kegiatan KSB Malang Raya yakni membahas sejarah dan budaya. Mereka melakukan hal itu  melalui berbagai cara. Salah satunya menggunakan media sosial seperti facebook, twitter, kaskus dan lainnya.
Selain melalui media sosial, anggota KSB Malang Raya juga kopi darat. Biasanya sebulan sekali mereka bertemu di tempat yang ditentukan bersama. Agendanya saling diskusi tentang sejarah dan budaya sekaligus menjalin keakraban diantara sesama anggota.
Komunitas ini merupakan komunitas yang terbuka. Siapa saja yang mencintai sejarah dan budaya bisa bergabung. “Kami membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin bergabung dengan komunitas ini,”  jelas Sekretaris KSB Malang Raya,  Jhick Jeny.
Menurut Jeny, semakin semakin banyak anggota, maka komunitas ini bisa berkembang dengan baik. Yang tidak kalah pentingnya,  kata dia, semakin banyak kebudayaan dan sejarah yang dikenal dan dilestarikan kepada semua generasi.
Membahas sejarah dan budaya menyenangkan. Bahkan tak ada  habisnya untuk dibahas. “Apalagi Indonesia mempunyai keberagaman sejarah dan budaya di masing-masing daerah,” katanya.
Dia lalu berpendapat, sejarah di Pulau Jawa saja mulai dari  masa Kerajaan Sunda di Jawa Barat, Kesultanan Yogyakarta di Yogyakarta dan sekitar  Jawa Tengah, Kerajaan Majapahit di Jawa Timur.
“Itu belum sejarah yang berada di luar Pulau Jawa seperti Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi, yang tiap-tiap daerah mempunyai cerita sejarah dan budaya  sendiri-sendiri,” papar Jeny.
Sejarah dan budaya disetiap daerah berbeda. Nah, ini semakin menantang untuk dipelajari.  Bahkan jika semakin didalami maka semakin memperkaya wawasan.
“Setiap daerah  mempunyai latar belakang sejarah sendiri-sendiri. Begitupula dengan kebudayaan. Keanekaragaman  sejarah dan budaya selalu  menarik untuk dibahas,” katanya.
Jeny  lantas mencontohkan dirinya yang berasal Kediri bisa membahasa Kerajaan Kediri dengan anggota komuniats yang berasal dari Surabaya. Begitupula dengan anggota lainnya, bercerita tentang kebudayaan dan sejarahnya masing-masing. “Dari situ interaksi dan pembahasannya menarik karena membawa cerita yang berbeda-beda,” pungkasnya. (big/van)

Menjelajah Situs dan Bakti Sosial
KEGIATAN KSB Malang Raya  tak hanya kumpul lalu diskusi. Mereka punya sederet kegiatan menarik dan bertindak nyata untuk melestarikan sejarah dan budaya. Bahkan mereka juga melakukan kegiatan sosial dengan  memberikan bantuan kepada sesama yang tak mampu.
Koordinator KSB Malang Raya, Edi Sanjaya mengatakan, salah satu kegiatan yang dilakukan yakni melakukan penjelajahan situs dan cagar budaya. “Seluruh situs maupun cagar budaya yang ada  di Malang Raya  telah kami kunjungi. Banyak pengetahuan yang kami ambil saat kunjungan itu,”  katanya.
Dijelaskannya  yang paling berkesan adalah saat kunjungan  ke Candi Singosari pada pertengahan tahun 2014 yang lalu. Saat itu, anggota KSB Malang Raya sangat antusias mengikutinya. Pasalanya   panitia penyelenggara memberikan banyak fasilitas saat kunjungan itu. Yakni pertunjukan kesenian, drama dan tari  hingga pemotretan.
“Terutama pemotretan, mereka sangat antusias. Karana ini merupakan kesempatan yang bagus, untuk menguji keahlian para fotografer,” terangnya.
Komunitasnya juga melakukan kampanye peduli terhadap pelestarian sejarah dan budaya. Seperti dilakukan di Car Free Day (CFD) di Jalan Ijen Kota Malang dan saat Pawai Budaya di Gondanglegi.
Menurutnya  kampanye pelestarian  sejarah dan budaya perlu digalakan. Supaya keberadaanya dari situs maupun cagar budaya tetap terjaga. “Selain itu menambah pengetahuan, kunjungan cagar budaya sekaligus berwisata,” katanya.
Selain mengunjungi beberapa tempat cagar budaya di Malang Raya, komunitas ini  juga mengunjungi cagar budaya yang berada di luar daerah. Salah satunya seperti cagar budaya Trowulan di Kabupaten Mojokerto. Termasuk beberapa cagar budaya lainnya yang berada di kota dan kabupaten lain  di Pulau Jawa.
Saat melakukan kunjungan maupun wisata budaya itu, KSB Malang Raya menggelar  bakti sosial. Diantaranya  membersihkan lingkungan sekitar cagar budaya. Mereka  juga memberi  bantuan kepada masyarakat yang kurang beruntung.  
“Dengan berbagai kegiatan itu,  keberadaan komunitas kami  bisa dirasakan manfaatnya,” pungkasnya. (big/van)
 
comments

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL