Malang Post

Komunitas


Satu Koin untuk Sebuah Kesempatan

BERAWAL dari inisiatif Anggia Bahana Putri yang membuat blog pada 18 Desember 2008, terbentuk sebuah komunitas pengumpul uang logam bernama Coin A Chance! (CaC). Komunitas ini merupakan sebuah gerakan sosial yang diawali di Jakarta, lalu mewabah ke berbagai daerah di Indonesia.
Di Malang, adalah Satrio Agung yang menyusul gerakan ini untuk menyebarluaskannya. Mahasiswa Fakultas Peternakan UB itu berinisiatif untuk melebarkan sayap CaC di Bhumi Arema. Ia mengajak teman-temannya untuk bergabung dan terbentuklah CaC Malang pada tahun 2011. Kini, CaC Malang diketuai oleh seorang wanita yang punya kepedulian tinggi, Amanah Alfian Muhammadiyah.
Menurut salah satu founder CaC Malang, Ahmad Zulva Andrian, melalui gerakan ini, pihaknya berusaha mengajak kawan-kawan, kerabat, keluarga, juga para netters (blogger, plurker, facebooker) untuk mengumpulkan ‘recehan’ atau uang logam yang bertumpuk dan jarang digunakan.
Lebih lanjut, Andrian, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa uang yang terkumpul akan ditukarkan dengan ’sebuah kesempatan’ bagi anak-anak yang kurang mampu agar mereka dapat melanjutkan sekolah lagi.
"Jika teman-teman dekat mempunyai setumpuk ‘recehan’ atau uang logam  atau koin, yang rasa-rasanya tak akan dipakai untuk berbelanja dan sudah tak muat lagi disimpan di dalam dompet, maka tukarkan  koin dengan kesempatan melanjutkan sekolah bagi anak-anak yang kurang mampu," kata Andrian kepada Malang Post
Ia memaparkan, alasan menggunakan koin untuk disumbangkan lantaran pihaknya sadar bahwa sering kali nilai uang logam  diremehkan. “Kebanyakan uang logam dibiarkan menumpuk di satu sudut ruangan, atau dalam satu wadah hingga berdebu,” tandasnya.
Padahal, menurutnya uang logam bisa memberikan nilai lebih dari itu. Karena hal tersebut, Andrian melalui CaC Malang ingin memberitahu kepada banyak pihak bahwa untuk berbuat baik dan menolong orang lain itu tidaklah sulit.
“Dengan simpanan uang logam yang kita punya, kita sudah dapat membantu membuat hidup seseorang lebih baik. Dalam hal ini, yang dibantu adalah masa depan seorang anak agar bisa bersekolah,” urainya.(rul/ary)


Peran Penting Coiners dan Droppers
Saat ini, anggota aktif CaC Malang berjumlah 20 orang yang terdiri dari Coiners dan Droppers. Coiners adalah sebutan bagi para pengumpul koin aktif yang mengurus operasional sehari-hari CaC. Mereka inilah yang terlibat dalam urusan administratif CaC. Sedangkan para penyumbang aktif yang tidak terlibat dalam kepengurusan CaC, namun aktif mengumpulkan koin, mengajak lebih banyak teman-teman untuk bergabung, dan hadir pada Coin Collecting Day (CCD) yang rutin diadakan, mereka menyebut sebagai coin droppers.
Coin A Chance! bukanlah satu wadah yang menuntut adanya keanggotaan dari kelompok. Karena bagi CaC, dengan menjadi seorang anggota, akan ada tanggung jawab yang harus dipenuhi. Lebih baik CaC menyebut orang-orang yang ingin bergabung dan mendukung gerakan kami, baik secara aktif maupun pasif, sebagai droppers & supporters. (rul/ary)

Rajin Blusukan hingga “Todong” Teman Kantor

SALAH seorang anggota Coin A Chance! Malang (CaC) Malang yang terhitung aktif menggalang koin adalah Deddy Baroto Trunoyudho. Tak jarang ia blusukan ke kampus-kampus dengan membawa stoples. Deddy, sapaan akrabnya yang juga aktif di beberapa organisasi lain juga menyempatkan diri untuk meminta teman-temannya mengisi stoples yang ia bawa dengan uang logam.
"Setiap ada rapat di salah satu organisasi yang saya ikuti hampir selalu saya sempatkan minta uang receh ke teman-teman," kata Deddy kepada Malang Post.
Menurutnya, mengikuti banyak organisasi menjadi keuntungan tersendiri bagi Deddy untuk menjaring uang logam. Dalam satu kegiatan rapat organisasi, setidaknya alumnus SMA Trimurti Surabaya ini bisa mengumpulkan setengah stoples uang logam.
Ia senang melakukan aktifitasnya sebagai mengumpul uang logam untuk disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Pria kelahiran Surabaya, 23 Januari 1991 ini saat ini masih aktif sebagai anggota di bagian Humas Eksternal CaC Malang.
Tak hanya 'menodong' teman-temannya dengan uang logam, Deddy juga gencar mensosialisasikan keberadaan CaC Malang. Ia tak segan-segan mengajak berbagai pihak untuk bergabung dalam komunitas ini, meski beberapa kali sempat mengalami penolakan secara halus.
"Rata-rata teman-teman yang saya ajak bukan tidak mau berkontribusi. Mereka sibuk dengan urusannya, jadi kontribusinya ya sebatas memberi uang logam kepada kita untuk disalurkan," terang mantan Pemimpin Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Perspektif FISIP UB ini.
Saat ini, meski Deddy sedang sibuk bekerja, ia masih peduli dengan keberlangsungan CnC Malang. Kepada teman-teman kantornya ia beberapa kali menyodorkan stoples untuk diisi uang logam. Dari setiap uang logam yang dikumpulkan, lanjut Deddy, tak sekalipun ada paksaan saat meminta.
"Rata-rata teman-teman memberikan secara ikhlas. Baik teman kuliah maupun kerja, semuanya rela menyumbang karena memang yang disumbangkan hanya uang logam," pungkasnya.(rul/ary)


Kumpulkan Koin Setiap Bulan, Sekolahkan Dua Siswa
SECARA rutin, CaC Malang menggelar Coin Collecting Day (CCD) sebulan sekali. CCD ini merupakan sebutan bagi cara menyetorkan koin-koin yang sudah terkumpul. “Acara yang kami sebut dengan CCD ini mengambil tempat berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Karena kami ingin memberikan kesempatan bagi teman-teman untuk berkumpul dengan CaC sesuai dengan wilayah domisilinya masing-masing,” kata Ketua CaC Malang, Amanah Alfian Muhammadiyah kepada Malang Post.
Dalam sekali CCD, perolehan uang logam yang terkumpul tidak menentu jumlahnya. Amanah Alfian Muhammadiyah menyebut, pendapatan setiap bulan dari pengumpulan uang logam ini berkisar antara 500 ribu sampai 1 juta rupiah.
Uang logam itu didapat dari stoples-stoples yang dibawa perorangan maupun yang dititipkan di suatu tempat. Tempat dimana CaC dapat menitipkan stoples dan poster mereka sebut dengan Drop Zone.
“Saat ini CaC sedang giat melakukan pendekatan ke beberapa pihak untuk memproduksi materi sosialisasi seperti mugs, t-shirts, wristband, stickers maupun X-banner,” lanjut Ama, sapaan akrabnya.
Lebih lanjut, Ama menjelaskan bahwa pihaknya juga tengah mendekati beberapa sekolah, perguruan tinggi, dan tempat tongkrongan seperti restoran dan kafe agar mau bekerjasama dengan CaC sebagai lokasi drop zone.
Selain itu, CaC tetap secara aktif melanjutkan proses survei untuk penyaluran bantuan selanjutnya. Kini, dari hasil pengumpulan yang telah dilakukan selama ini, CnC Malang sudah memiliki dua anak asuh.
"Alhamdulillah kita sudah bisa menyekolahkan dua siswa. Erina kelas 6 SD dan Bahrudin kelas 2 SMK," pungkas Ama. (rul/ary)

Awalnya Diusir, Kini Polisi pun Menggemari

Volkswagen Club Malang (VCM)
Menyebut komunitas Volkswagen Club Malang (VCM) maka tidak bisa lepas dengan Jalan Simpang Balapan. Tempat yang menjadi kongkow-kongkow setiap malam minggu itu menjadi saksi betapa VCM juga sempat diusir polisi karena dianggap melakukan hal negatif.
Sudah bukan rahasia, jika di lokasi di Jalan Simpang Balapan itu seolah menjadi bagian yang tak terlepaskan dari sejarah perkembangan VCM di Kota Malang. Yang menarik, hampir di hari yang sama (kecuali ada kegiatan perkumpulan), sejumlah pemilik VW atau anggota VCM melakukan kongkow-kongkow di lokasi itu.
Lokasinya yang nyaman, luas dan berada persis di sisi jalan raya, menjadikan lokasi itu sangat cocok untuk ajang silaturrahmi dan tukar pikiran. Bahkan tidak heran, kalau kemudian lokasi itu juga dimanfaatkan untuk lokasi menerima tamu.
“Ya di sini ini, kami biasa berkumpul. Tidak hanya sekadar bersilaturrahmi dan bertukar pikiran. Namun, lokasi ini juga kadang kita manfaatkan untuk menerima tamu dari luar kota. Pertimbangan kita, karena lokasinya yang bagus. Kadang kita gunakan pula untuk coaching clinic dan beberapa di antaranya menjual asesoris,” kata Penerus VCM , Iwan Hardianto saat ditemui Malang Post.
Diceritakan Iwan, kali pertama mendapatkan lokasi kongkow-kongkow itu tidak semudah yang dibayangkan. Awal-awal berdirinya, VCM dilarang menempati lokasi itu karena dikhawatirkan digunakan hal-hal yang negatif. Namun VCM terus maju dan meyakinkan petugas bahwa aktifitasnya murni untuk komunitas pecinta mobil VW. “Kali pertama dulu, kami pernah diusir saat berkumpul di sini. Namun kini, kami sudah diberikan kebebasan untuk nongkrong di tempat ini (Simpang Balapan),” imbuhnya.
Bahkan, seiring dengan rutinitas aktifitas VCM di lokasi kongkow-kongkow, petugas kepolisian pun kian akrab dengan keberadaan VW. Sampai-sampai, tidak sedikit petugas yang terkesan dengan keberadaan mobil klasik Malang. “Mereka biasanya tertarik untuk memiliki. Namun, karena masih khawatir dengan perawatan yang dilakukan, mereka masih enggan. Hal-hal yang seperti inilah, yang kemudian kami jelaskan. Masalahnya, keberadaan mobil klasik ini tidak berbeda dengan mobil-mobil lain. Selain perawatannya yang mudah, suku cadang kendaraannya juga mudah didapatkan,” tambahnya.
Iwan juga menjelaskan bahwa VCM tetap eksis sampai sekarang karena mereka tidak hanya disatukan kesamaan menjadi penggemar mobil klasik. Namun, karena VCM ingin menyatukan keberagaman etnik dan suku. Dengan kata lain, perkumpulan ini tidak mengenal adanya perbedaan suku atau golongan.
“Tujuan kami ingin menyatukan beragam suku dengan sarana mobil klasik. Bahkan, untuk tetap mengeksiskan VCM, terhadap klub-klub roda dua atau roda empat, kami tetap menjalin komunikasi dan tali silaturrahmi,” ungkapnya. (sit/lim)

Ada Mobil Mogok Wajib Membantu
Dari sisi usia, VCM tergolong komunitas yang usianya cukup dewasa. Betapa tidak, tepat 12 Januari 2014 lalu, VCM genap berusia 28 tahun. Usia yang lumayan solid bagi sebuah komunitas yang anggotanya beragam dengan kesibukan masing-masing. Sebab tidak mudah mempertahankan komunitas selama itu. Butuh kesolidan dan kesabaran yang luar biasa.
Dijelaskan Iwan, VCM kali pertama berdiri Tahun 1986 lalu. Kala itu, anggota klub mobil klasik jenis Volkswagenbanyak ini masih terbatas, masih didominasi pelajar dan mahasiswa. Bahkan, mahasiswa dari luar kota banyak mendominasi keanggotaan VCM.
Seiring perkembangan zaman, perubahan demi perubahan pun terus terjadi. Tidak hanya dari keanggotaannya yang semula 20 orang, kini membengkak menjadi ratusan. Namun mereka ada yang aktif dan ada juga yang tidak aktif. Setiap malam minggu sekitar 50 orang aktif selalu berkumpul bersama di Jalan Simpang Balapan itu.
Latar belakang anggota klub pun beraneka-ragam. Yang menarik, kalangan terpelajar yakni mahasiswa, menjadi bagian yang tak terlepaskan dari perkembangan VCM di Malang. “Untuk status anggota atau pengurus, bisa dikatakan kini berubah total. Seperti mahasiswa tetap ada di dalamnya. Sekarang sudah ada dosen, bahkan anggota TNI dan Polri pun ikut. Begitu juga dengan pengusaha, juga menjadi anggota di sini (VCM),” kata Penerus VCM, Iwan Hardianto.
Ditegaskan Iwan, yang membuat klub VCM ini berbeda dengan klub-klub lain, yakni keberadaan klub yang tidak pernah mengajak seseorang untuk bergabung. Sebaliknya, mereka dengan kesadaran sendiri dan sama-sama hobi mobil klasik, yang datang kemudian bergabung.
“Inilah yang membuat ikatan menjadi kian solid. Semua anggota dengan rasa sadar sebagai penyuka mobil klasik, bergabung dan bersama-sama menjaga hubungan sesama anggota VCM,” tandasnya.
Hal yang tidak kalah menarik, ungkap Iwan, anggota VCM memiliki aturan tidak tertulis yang seringkali dilakukan saat bersama-sama melintas di jalan raya. Yakni, akan berhenti dan membantu setiap ada kendaraan yang mengalami mogok. Aturan tidak tertulis itu, seolah menjadi bagian penting yang menjadikan anggota atau perkumpulan menjadi disegani sesama klub-klub yang ada.
“Membantu kendaraan mogok saat VCM melintas, sudah menjadi bagian yang harus dilakukan. Itulah mengapa, ikatan kami dengan klub lain tetap terjaga. Bahkan, sesekali juga melakukan diskusi bersama,” terangnya.(sit/lim)
 
Punya PA Binaan, Aktif Bakti Sosial
Sebagai penghobi VW tak mengurangi kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitar. Buktinya, di usianya yang cukup matang ini, VCM juga sudah mempunyai panti asuhan binaan di wilayah Kecamatan Pakis. Ini bukti bahwa kekayaan para anggotanya tak dihabiskan untuk kesenangan pribadi saja, tapi juga untuk sosial.
Yang menarik, hampir setiap tahun atau usai merayakan ultah VCM, panti asuhan itu selalu menjadi jujugan. Kegiatan yang dilakukan pun sangat beragam. Mulai dari pemberian santunan, sampai pembangunan fisik yang dilakukan dengan melibatkan seluruh anggota dan pengurus.
“Setiap kali merayakan Ultah, pasti kami bersama-sama ke Panti Asuhan binaan. Di sana, kami akan berinteraksi dengan penghuni panti asuhan. Intinya, memberikan hal yang sangat bermanfaatkan untuk panti dan penghuninya,” kata Ketua VCM, Putu Ivan kepada Malang Post.
Selain melakukan kegiatan di panti asuhan binaan, beberapa lokasi lain yang dianggap layak mendapatkan perhatian serupa, juga akan dikunjungi.“Biasanya pada bulan Ramadan, kami juga melakukan bakti sosial. Bahkan, rutin selama setahun, agenda tetap yang dimiliki oleh VCM yakni mengunjungi panti asuhan dan bakti sosial ramadan,” terangnya.
Bukan itu saja, VCM juga peduli dengan bencana alam. Setiap kali ada bencana, VCM selalu melakukan bakti sosial. Utamanya yang berada di wilayah Malang Raya. “Tahun 2005/2006 lalu, banjir bandang yang berlangsung di Jember, menjadi perhatian utama kami. Dengan menggunakan mobil, kami bersama-sama menyumbangkan bantuan untuk korban bencana di sana,” terangnya.
Agenda rutin tahunan yang dilakukan VCM, selain kegiatan sosial juga mengikuti jambore nasional. Khusus yang satu ini, setiap tahun dilakukan hingga dua kali. Adapun lokasinya, selalu berpindah-pindah.
“Khusus Jatim, itu ada istilah Jambore regional. Meski bersifat regional, tamu yang datang biasanya dari seluruh penjuru Indonesia. Malang sendiri sudah pernah menggelar kegiatan itu dan mendapat sambutan positif dari tamu yang datang ke Malang,” paparnya.(sit/lim)
    
TENTANG VCM
Nama : Volkswagen Club Malang (VCM)
Berdiri : 12 Januari 1986
Markas: Perum Permata Hijau Blok F
Anggota : 150 orang
Motto :  Kebersamaan, Kekompakan dan Sosial

Membentuk Mental Kaya Lalu Memberi

Komunitas Tangan Di Atas Malang Raya (TDA Ngalam)
Pesatnya perkembangan teknologi dan berkembangnya zaman lengkap dengan kemegahan duniawi yang menggiurkan seringkali membuat manusia lupa. Sampai soal moral dan etika pun diabaikan. Budaya malu seolah hilang seiring dengan tuntutan hidup yang kian mendesak. Banyak orang mengambil jalan pintas dan membuang malu dengan cara meminta-minta. Padahal secara materi, dia berkecukupan, bahkan kaya raya.
Problem inilah yang ingin diperangi oleh Komunitas Tangan Di Atas Malang Raya (TDA Ngalam). Menurut TDA, agar tidak terjadi kondisi di atas, mental kaya harus dibentuk dalam diri masing-masing. Berbisnis adalah salah satu jalan untuk menuju mental kaya. Hal inilah yang diyakini sepenuhnya oleh komunitas Tangan Di Atas Malang Raya (TDA Ngalam).
Seperti namanya, komunitas ini adalah tempat berkumpulnya para pengusaha yang punya semangat untuk berbagi, dan berkontribusi positif bagi peradaban. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Ketua TDA Ngalam, Nizar Luthfiansyah, bahwa TDA Ngalam adalah komunitas pebisnis, pengusaha, wirausahawan, bahkan yang masih berniat untuk buka usaha. Syarat keanggotaannya adalah senang berbagi dan punya kemauan kuat untuk terus belajar.
“Ini adalah komunitas para actioner-actioner bisnis Malang yang memiliki konsep untuk membentuk karakter enterpreneur yang selalu mengedepankan interaksi, silaturrahmi, berintegritas, berpikiran terbuka, berorientasi tindakan, dan selalu menjaga keseimbangan hidup,” terang Nizar kepada Malang Post.
Di usianya yang baru menginjak 6 tahun, komunitas yang bermarkas di Jalan Watugong No 18  ini memiliki sekitar 200 anggota resmi dari seluruh Malang Raya. Setiap anggota aktif  dan giat mengikuti kegiatan dan acara komunitas. “Kami adalah keluarga besar ‘pengusaha’ solid yang mengutamakan silaturrahmi daripada sekadar bermilis ria,” imbuh Nizar.
Seperti yang dilakukan belum lama ini, TDA Ngalam baru saja melaksanakan acara akbar Pesta Wirausaha 2013 di Hall Hotel Pelangi Kota Malang. Pada kesempatan itu, anggota TDA Ngalam melakukan sharing dengan Presiden Komunitas TDA Fauzi Rachmanto, yang merupakan Owner PT. SDGI (IT Consultant).
Tak hanya pertemuan terkait bisnis yang fokus pada strategi menumbuhkembangkan bisnis, TDA Ngalam juga berkegiatan yang bertema spiritual. Misalnya kegiatan amal bersama anak yatim dan tausiyah bersama tokoh agama. Semua dilakukan untuk memperkaya diri dan hati, yang akhirnya memberi peluang kepada anggota untuk memberi.
“Mindset masyarakat saat ini masih seperti lokomotif kereta api. Seluruh gerbong hanya bertumpu pada mesin pada bagian depan kereta api (lokomotif). Mindset masyarakat yang hanya melimpahkan kemajuan bangsa pada pemerintah.  Itu yang harus kita ubah. Begitu kira-kira penjelasan bapak Fauzi Rachmanto secara umum,” ujar Nizar.
Jika pada kereta model lama penggeraknya hanya pada bagian depan (lokomotif), maka pada kereta api modern penggeraknya ada pada setiap gerbong. Semua gerbong memiliki kontribusi untuk menambah tenaga yang pada akhirnya menambah percepatan laju kereta api. Begitu pula dalam suatu negara, ditentukan oleh seberapa besar kontribusi warganya untuk saling guyub dan menyumbangkan kemajuan sesuai porsi masing-masing.
“Setiap orang memiliki kekuatan ekonomi sendiri. Tinggal bagaimana menata kebutuhan sesuai kemampuan, lalu menentukan gaya hidup yang sepadan, maka semua orang bisa kaya tanpa harus meminta,” terang pria ramah ini. (ily/lim)

Bentuk KMB, Jarin Pebisnis Handal
Satu di antara peran TDA Ngalam ialah memberi peluang kepada pebisnis untuk belajar menjadi orang kaya dan menempatkan diri sebagai orang kaya. Salah satunya ialah dengan membentuk Kelompok Mentoring Bisnis (KMB) yang merupakan program inti komunitas TDA Ngalam. Di KMB, TDA Ngalam mengumpulkan 5-10 pebisnis yang antusias untuk melejitkan bisnisnya. Pembukaan dan peresmian anggota KMB dilakukan oleh Direktorat Pengembangan Kapasitas Anggota (Dir. PKA) komunitas TDA Ngalam yang diamanahi untuk mengelola penyelenggaraan KMB.
“Peresmian KMB TDA Ngalam angkatan kedua baru dilaksanakan 21 September lalu di Resto Big Burger. Kegiatan itu dilaksanakan bersamaan dengan sharing session bersama Donnie K Puriyono, salah satu pentolan TDA Ngalam,” ujar Nizar.
Nizar menjelaskan, untuk menjadi anggota KMB syaratnya harus memiliki dan mengelola usaha yang telah berjalan minimal dua tahun dengan omzet usaha tersebut minimal satu miliar per tahun dan staf minimal lima orang atau dua divisi. Anggota KMB juga harus mempunyai saham mayoritas di usaha tersebut atau ada surat kuasa dari pemegang saham mayoritas untuk mengimplementasikan action hasil mentoring. Rumitnya prosedur untuk menjadi anggota sepadan dengan kompensasi yang didapatkan anggota, yaitu pendampingan dari seorang mentor pebisnis yang lebih berpengalaman.
“KMB tidak membatasi wilayah. Prinsipnya, mentee yang harus mendekati mentor. Semakin jauh mentee menuntut ilmu, makin beragam pula wawasan bisnis yang didapat” jelas pria murah senyum tersebut. (ily/lim)

Ikuti IBM Trade Kuala Lumpur
Dengan peran yang menonjol dalam bisnis, tak heran jika beberapa waktu lalu TDA Ngalam berkesempatan menghadiri Incoming Buying Mission (IBM) Trade Kuala Lumpur. Even tahunan skala internasional ini diselenggarakan oleh pemerintah Malaysia untuk mencari buyer bagi perusahaan-perusahaan Malaysia.
Dari sekitar 20-an perusahaan dari Indonesia, salah satu di antaranya adalah milik Donny Kris Puriyono, salah satu anggota TDA Ngalam. Even tersebut diikuti oleh sekitar 700-an perusahaan dari 60-an negara. Dari Malang, anggota TDA Ngalam berangkat bersama-sama melalui bandara Soekarno-Hatta Jakarta pada tanggal 12 November tepat pukul 07.30 WIB.
“Di sana, semua peserta yang hadir termasuk kami "disuguhi" pameran barang-barang produksi perusahaan Malaysia. Ada banyak perusahaan Malaysia yang mengikuti pameran tersebut. Mulai dari perusahaan bidang handycraft, kontraktor hingga perusahaan IT. Semuanya ditata sangat rapi dan profesional,” tutur Donnie.
Awalnya, menurut penuturan Donnie, anggota TDA Ngalam dan perusahaan Malaysia saling memperkenalkan perusahaan masing-masing. Kemudian setelah menjelaskan detil produk, mereka saling mencari "celah" dimana letak bidang yang bisa dikerjakan bersama. Namun, karena saat itu peserta datang sebagai buyer mereka maka mereka tidak diperbolehkan menjual barang kepada pengusaha Malaysia. Yang boleh dilakukan hanyalah membeli produk Malaysia.
“Yah, inilah tujuan utama terselenggaranya IBM Trade Malaysia ini. Bahkan dalam form pendaftaran, jelas tertulis bahwa panitia dari MATRADE berhak membatalkan undangan kita jika kita ketahuan menjual barang ke Malaysia,” ujar motivator bisnis ini.
“Meski kami dilarang menjual produk di Malaysia dalam IBM Trade ini, tapi tetap saja kami bersikeras untuk saling bekerjasama ‘tidak sepihak’. Artinya kami tidak hanya membeli produk mereka, tapi harus bisa menjual produk-produk kami. Bahkan kalau bisa nilai penjualan kami melebihi nilai pembelian barang ke mereka. Yah, pinter-pinteran melobi saja,” terang Donny seraya tertawa kecil. (ily/lim)

Tangan di Atas, Tingkatkan Passive Income Ukhrawi
MALANG – Tak hanya fokus pada pencapaian passive income duniawi, TDA Ngalam juga intensif mengadakan kegiatan-kegiatan amal. Dalam hal ini, Nizar mengibaratkannya sebagai pencarian passive income ukhrawi plus bonus duniawi yang tak terduga dan jauh lebih dahsyat.
“Tabungan sedekah mempunyai kekuatan di luar batas kemampuan akal manusia. Memang sulit untuk merasionalkan dengan nalar akal, namun semua mengakui bahwa sudah banyak yang telah membuktikannya,” ungkap Nizar.
Nizar mengatakan, banyak pebisnis sukses adalah mereka yang memulainya dari bawah. Hal inilah yang terjadi pada sebagian besar anggota TDA Ngalam. Berawal dari usaha kecil yang ditekuni dengan kesungguhan luar biasa, berkembang menjadi sebuah usaha raksasa yang melejit di Kota Malang, bahkan di level nasional.
Dengan kuatnya persaudaraan TDA Ngalam, Nizar berharap capaian bisnis mereka tidak berhenti sampai di sini. “Masih banyak hal yang harus kami lakukan, seperti penanaman jiwa wirausaha pada anak muda, dan tentunya passive income ukhrawi yang lebih tinggi sesuai dengan komitmen kami untuk selalu memberi,” terang Nizar. (ily/lim)
Last Updated on Tuesday, 19 November 2013 11:31

Tak Eksklusif, Tak Menggurui, Siapa Saja Boleh Belajar

Komunitas Sunday School Photography yang bisa diikuti siapa saja dari latar belakang yang berbeda-beda. Intinya mau belajar dan berdiskusi soal fotografi, tanpa dipungut biaya apa-apa alias gratis

Sunday School Photography
Dunia fotografi semakin berkembang pesat seiring dengan perkembangan peralatan fotografi masa kini. Komunitas dan pecinta fotografi pun semakin menjamur di Kota Malang. Berbagai kalangan, mulai dari profesional, hobbies hingga amatir pun membuat komunitas sendiri-sendiri. Namun, tak banyak fotografer profesional mau mengajari para “amatir” dalam fotografi secara gratis.

Sunday School Photography adalah satu dari sedikit komunitas pecinta fotografi yang rela dan ikhlas berbagi ilmu fotografi profesional secara gratis alias cuma-cuma. Hal ini diungkapkan sendiri oleh salah satu pendiri komunitas Sunday School Photography, Ari Bowo Sucipto.
“Ya memang kita sasarannya jadi komunitas. Namanya saja yang seperti sekolah. Tapi, kita lebih seperti kumpulan orang-orang yang gemar foto, saling diskusi dan bagi ilmu soal fotografi, yang ikut tidak dibatasi, boleh dari semua kalangan,” terang Bowo, sapaan akrabnya kepada Malang Post.
Tapi, perlu diketahui, sebagian besar anggota komunitas Sunday School Photography ternyata berasal dari kalangan jurnalis dan jurnalis fotografer Malang. Tak heran, sebab komunitas ini lahir dari kumpulan informal para jurnalis fotografer Malang yang diwadahi oleh grup informal Pewarta Foto Malang.
”Benar, anggota kita juga ada fotografer jurnalis dan jurnalis tulis, tapi perlu dipahami kalau kita tidak eksklusif. Kita sangat terbuka untuk semua yang ingin belajar bersama-sama. Pelajar pun boleh gabung, kita tak menggurui, kita diskusi agar ilmu tersalurkan,” terang Bowo.
Dengan anggota dari kalangan pecinta fotografi, komunitas ini konsisten menggelar diskusi dan dialog dua arah. Biasanya, Sunday School Photography menggelar diskusinya di D’Kampoeng Cafe yang letaknya bersebelahan dengan kantor Malang Post Jalan Sriwijaya 1-9.
Sesuai namanya, komunitas ini berkumpul tiap hari Minggu dan berdiskusi tentang berbagai seluk beluk dunia fotografi. Bowo menjelaskan, fotografi yang dibahas tak hanya soal foto jurnalistik semata. ”Sebagian besar fotografer profesional yang ikut di sini memang basicnya jurnalistik, tapi kita juga bahas banyak hal, seperti foto model dan lanskap,” tuturnya.
Minggu, 3 November lalu, Bowo bersama anggota Sunday School Photography menggelar pemotretan atau hunting di Candi Badut Tidar. Mengusung tema dancer, anggota komunitas Sunday School melaksanakan sesi pemotretan terhadap beberapa penari tradisional berpakaian lengkap.
“Tiap selesai diskusi beberapa kali, kita selalu ada hunting tematik. Kebetulan minggu ini temanya profesi dancer. Kita menghormati konsistensi para pekerja seni, yang walaupun tak bisa hidup dari seni, tapi mau menghidupi seni itu, kita abadikan mereka lewat foto,” tutup Bowo.(fin/lim)

Baru Setahun, Sudah Tiga Angkatan
DANCER: Salah satu penari yang menjadi bidikan komunitas Sunday School Photography dalam hunting

MALANG – Sunday School Photography baru berusia satu tahun. Tetapi, komunitas fotografi ini cukup konsisten dalam kegiatan-kegiatan rutin yang berhubungan dengan materi fotografi jurnalistik. Rupanya, komunitas ini memiliki sejarah yang dekat dengan para fotografer jurnalis di Malang, yang tergabung dalam grup Pewarta Foto Malang.
“Sunday School itu lahir dari komunitas Pewarta Foto Malang. Ini kumpulan fotografer yang berprofesi di dunia media. Sunday Terlahir dari pembicaraan di Pewarta Foto Malang. Terbentuknya tepat satu tahun lalu, bulan November 2012,” tandas pendiri Sunday School Photography Ari Bowo Sucipto.
Bowo, sapaan akrabnya, menyebut bahwa komunitas ini terbentuk karena kegelisahan para fotografer media di Malang. Selama ini, para fotografer jurnalis mencari tempat untuk menjaga ketajaman ilmu dan naluri fotografinya di luar pekerjaan rutin dalam berburu foto berita.
”Sebelum Sunday terbentuk, kita Pewarta Foto Malang sudah sering diskusi, lalu dari diskusi tersebut kita ada ide bikin pameran lensa Arema. Dari pameran tersebut, kita akhirnya terinspirasi bikin wadah yang bisa jadi ajang bagi ilmu dan sharing,” ungkap fotografer kantor berita Antara itu.
Bersama para fotografer jurnalis Malang, termasuk redaktur foto Malang Post, Guest Gesang, Sunday School akhirnya dibentuk pada November 2012. Karena sifatnya yang gratis dan tidak memaksa, anggota komunitasnya pun tak terikat. Anggota komunitas yang hadir adalah orang-orang yang memang ingin belajar foto bareng Sunday School Photography.
”Niatnya sih kita bikin sekolah foto. Tapi, itu masih jauh. Kita bikin komunitas dulu, kita bikin pure gratis dan tak ada paksaan atau ikatan untuk harus ikut. Kebetulan, angkatan pertama komunitas banyak wartawannya, tapi ada juga dari pelajar dan hobbies,” tegasnya.
Dalam satu tahun ini, Sunday School Photography sudah memiliki tiga angkatan yang berbeda. Jumlah anggotanya sudah mencapai puluhan orang. ”Tiap angkatan pasti ditandai dengan sesi hunting dan pameran, kebetulan sekarang sudah angkatan ketiga,” tutup Bowo.(fin)

Lahirkan Fotografer Hebat dari Malang
AKTIF: Komunitas Sunday School Photography saat mengabadikan dancer dalam karya foto mereka yang kemudian dilanjut dengan diskusi

MALANG – Sunday School Photography memiliki misi penting dalam perkembangan dunia fotografi Malang. Sebagai satu dari sedikit komunitas yang dihuni fotografer jurnalis, Sunday School memiliki mimpi untuk menciptakan fotografer-fotografer yang dikenal di kancah nasional dan internasional.
Menurut pendiri Sunday School Photography, Ari Bowo Sucipto, para fotografer jurnalis Malang mengaku iri dengan gairah kota lain dalam pengembangan fotografi. ”Jujur saja, kami iri dengan Yogyakarta dan Jakarta. Iklim seninya begitu kental menjajah fotografi, kami ingin Malang juga seperti itu,” ungkap Bowo, sapaan akrabnya.
Karena itu, gairah para fotografer jurnalis Malang tersebut disalurkan lewat Sunday School Photography. Dalam berbagi ilmu dan saling mengasah naluri fotografi, anggota komunitas tak hanya mengedepankan ilmu foto jurnalistik semata. Menurut Bowo, eksplorasi foto seni juga diperhitungkan sebagai bahan diskusi menarik.
”Kita tak ngomongin jurnalistik semata. Kita juga ingin belajar bareng soal foto seni yang punya estetika tinggi. Sebab, misi kita adalah menghasilkan fotografer yang lengkap dan bisa punya nama di kancah nasional dan internasional tanpa harus tinggalkan Malang,” ujar Bowo.
Selama ini, stereotip ”harus ke Jakarta untuk sukses”, berkembang di kalangan fotografer daerah seperti Malang. Stereotip ini menyebut, seorang fotografer dianggap sukses jika sudah bisa tembus Jakarta. Padahal, untuk sukses di dunia fotografi tak harus melenggang di ibukota.
”Fotografi itu kan soal karya, bukan soal domisili atau tempat berkarya. Kita misinya punya fotografer kaliber nasional tanpa harus meninggalkan Malang. Kita besarkan Malang dan menjadikannya salah satu penghasil fotografer hebat di Indonesia,” tutur pria ramah tersebut.
Menurutnya, dunia fotografi Malang sangat berpotensi sebagai penghasil fotografer handal. Sebab, Malang sendiri dikenal sebagai kotanya pelajar dan mahasiswa. ”Pelajar itu tertarik dengan dunia seperti fotografi, mereka bakal belajar serius bila ada wadah komunitas yang tepat. Saya yakin, Malang bisa melahirkan fotografer-fotografer hebat yang tak perlu ke Jakarta untuk sukses,” tutup Bowo.(fin/lim)

PROFIL
Kikis Stereotip Fotografer Maskulin
Suci Rahayu

SUCI Rahayu adalah salah satu fotografer yang ikut andil dalam mendirikan Sunday School Photography. Komunitas diskusi fotografi yang dibangun oleh para fotografer jurnalis itu tak lepas dari kegigihan Uci, sapaan akrabnya dalam menjaga konsistensi. Uci sendiri mengaku sangat excited saat Sunday School Photography dibuka tahun lalu.
”Saya adalah orang yang pertama kali merasa senang dengan adanya Sunday School. Karena, wadah ini wadah yang baik, masih pure dan non komersil. Tidak ada biaya sama sekali. Tidak perlu bayar tapi dapat ilmu yang banyak dari fotografer-fotografer pro,” tutur Uci kepada Malang Post.
Uci sendiri adalah seorang fotografer jurnalis. Dia menjadi pemilik dari majalah musik Malang, Common Ground yang sudah menasional. Tak hanya itu, gadis bergigi ginsul itu juga menjadi editor foto dalam Indonesian Press Photo atau biasa disingkat IPPHO. Dengan basis fotografi yang kental, Uci senang bisa menjaga ketajaman naluri fotonya lewat Sunday School Photography.
”Komunitas fotografi ini tempat kita berkembang. Selain bisa dapat ilmu, kita juga nambah jaringan. Karena, bukan cuma fotografer jurnalis saja yang ikut di Sunday School. Wartawan tulis, hobbies hingga mahasiswa juga terlibat, bisa tambah koneksi,” tegas wanita bertubuh mungil itu.
Kehadiran komunitas Sunday School Photography membuat Uci semakin bersemangat menjalani profesinya sebagai fotografer jurnalis. Sebab, komunitas ini menghilangkan semacam batasan tak tertulis di dunia fotografi jurnalis. Bahwa, fotografer jurnalis itu selalu identik dengan pria.
”Memang, fotografer jurnalis itu harus tahan banting dan bisa memotret dalam kondisi apapun, tidak peduli banjir, kebakaran dan bencana alam. Maskulinitas juga tertempel pada profesi fotografer jurnalis. Tapi, lewat komunitas ini, stereotip itu bisa dikikis,” tutup Uci.(fin) 

Page 1 of 5

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  Next 
  •  End 
  • »