Malang Post - Malang Post


SIAPA bilang jiwa mendidik hanya ada pada seorang guru? Buktinya, berbagai macam profesi seperti banker, pengusaha, karyawan swasta, dosen hingga ibu rumah tangga yang tergabung dalam komunitas Kelas Inspirasi ini rela menabung sebagian gaji mereka untuk berbagi ke pelosok negeri.
Bukan uang yang mereka berikan. Melainkan jasa dan pengalaman sebagai seorang profesional di pekerjaan yang mereka geluti. “Lebih tepatnya menginspirasi!” tukas salah satu anggota komunitas Kelas Inspirasi, Priyo Ranaga.
Pria konsultan bisnis mencoba menjelaskan konsep yang diterapkan Kelas Inspirasi kepada Malang Post. Anggota Kelas Inspirasi di dominasi pekerja dan mahasiswa, bahkan ibu rumah tangga. Setiap satu tahun sekali, mereka yang berminat menginspirasi ke pelosok negeri, akan berkunjung ke wilayah yang pendidikannya kurang mendapat perhatian dari pemerintah.
Di sana mereka mendidik, namun dengan cara yang unik. Seperti Julieta Sari Milan Dewi, wanita yang berprofesi sebagai seorang bankers itu menjelaskan seluk beluk tentang pekerjaan yang ia geluti. Setelah itu, ia mengajarkan cara menabung kepada para siswa. Sedangkan Priyo, pernah mengajarkan tentang bisnis dengan kreativitasnya sendiri.
Mengapa menginspirasi? Priyo menjawab karena di wilayah pelosok penjuru negeri ini, banyak anak yang memiliki cita-cita tinggi, namun terbatas pada konsep pemikiran orang tua yang cenderung konservatif. Sebagian besar mereka menganggap, tak perlu sekolah tinggi karena penghasilan dari pekerjaan yang mereka geluti sudah dirasa cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari
Rata-rata, di wilayah pesisir, anak-anak lebih banyak diajarkan oleh orang tua mereka tentang teknik nelayan. “Orang tua lebih suka anak mereka menjadi nelayan, karena dari segi penghasilan sudah sangat mencukupi dari melaut,” kenangnya.
Adalah sebuah kepuasan tersendiri, apabila ada seorang anak yang akhirnya terinspirasi oleh pengalaman mereka dan akhirnya membulatkan tekad untuk sekolah lebih tinggi lagi. Priyo menyebutkan, relawan Kelas Inspirasi harus seseorang yang profesional. “Minimal sudah kerja dua tahun,” terangnya.
Meski demikian, sebagai seorang karyawan, keinginan mereka berbagi inspirasi kerap kali terkendala cuti. Mewakili teman-temannya, Milan, sapaan akrab Julieta Sari Milan Dewi, mengatakan izin cuti menjadi salah satu hal mendebarkan jelang keberangkatan.
“Tiba-tiba atasan ada rapat mendadak dan meminta kehadiran kita, itu kan tidak bisa dihindari,” ceritanya. Jika sudah demikian, maka ia terpaksa mengubah lokasi tujuan yang dapat ditempuh sembari bekerja atau memang terpaksa membatalkan keberangkatan.
Milan mengungkapkan, dana yang digunakan untuk berbagi inspirasi berasal dari kantong pribadi. Ia merasa tak sayang menggunakan tabungannya untuk berbagi kepada pelajar di seluruh Indonesia. Kembali lagi, ada kepuasan tersendiri ketika mereka terinspirasi untuk memiliki profesi, sehingga memutuskan untuk sekolah lebih tinggi.
Tak hanya itu, disana para relawan Kelas Inspirasi juga memberi solusi kepada mereka yang ingin sekolah tinggi, namun terkendala biaya. “Banyak yang pingin jadi dokter, tapi nggak ada biaya, akhirnya kita kasih tahu kalau ada beasiswa, nah untuk meraih beasiswa itu harus belajar rajin,” ujarnya.
Para orang tua juga ditekankan untuk mengembangkan bakat dan minat anak-anak mereka. “Ada yang manut, akhirnya mau mengembangkan potensi anaknya. Tidak hanya anak, orang tua juga perlu diubah, selagi anaknya punya tekad harus kasih wawasan luas tentang beasiswa,” katanya. (nia/feb)

Please publish modules in offcanvas position.