Komunitas

Malang Post

Komunitas


Berawal dari Obrolan, Kini Berkembang Pesat


MOTOR menjadi media banyak orang untuk saling kumpul. Tidak sekadar kongkow, atau nongkrong bareng. Tapi sarana motor ini mereka pecinta salah satu motor juga membuat kegiatan sosial. Adalah Mr MO, salah satunya. Mr MO ini adalah sebuah komunitas motor dengan jumlah anggotanya mencapai 80 orang saat ini.
Mr MO ini adalah kepanjangan dari Malang Raya Max Owner. Komunitas ini berdiri sejak 2015 lalu. Tepatnya 20 November. Diawali dari Putu Adrian Galih, warga Malang. Dia yang memiliki motor matic YAMAHA N Max ini bertemu dengan Yuyut Erawanto, warga Sawojajar, Malang yang juga memiliki motor N Max.
“Kami awalnya tanpa sengaja bertemu kemudian ngobrol tentang N Max ini dengan pak Yuyut yang sekarang menjadi pembina Mr MO. Dari obrolan itu kami memiliki banyak kesamaan,’’ kata Adrian yang saat ini menjabat sebagai Ketua Mr MO tersebut.
Tentu saja, dari obrolan yang tidak sengaja ini, Adrian pun memiliki keinginan untuk membuat sebuah kelompok. Keinginannya pun kian menggebu lantaran dia melihat perkembangan motor N Max di Malang Raya cukup pesat. Banyak orang tertarik, dan kemudian memilikinya.
Dari tekadnya yang bulat itu, Adrian dan Yuyut kemudian menseriusinya. Keduanya memulai pembentukan Mr MO ini dengan menyebarkan informasi melalui sosial media. Tidak hanya Facebook, tapi dia juga mencari pemilik N Max melalui Twitter.
Tidak disangka, responnya cukup bagus. Satu persatu pengguna N Max kemudian bergabung. Mereka mulai datang dan kemudian daftar menjadi anggota.
Dalam satu minggu, mengandalkan informasi melalui Media Sosial, terkumpul 15 orang. Mereka pun bertekat untuk masuk dalam komunitas dan menjadi anggota Mr MO. “Mereka yang datang umumnya memiliki visi dan misi yang sama, yaitu ingin merekatkan tali persaudaraan,’’ katanya.
Bukan itu saja, Adrian juga menguraikan berdirinya komunitas ini juga sekaligus untuk menjadi panutan para pengendara motor lain, sekaligus agar tidak dipandang sebagai geng motor yang kerap kali meresahkan.
“Disini selain persaudaraan, yang kami tekankan adalah Safety Reading. Kami ingin memberikan contoh kepada masyarakat untuk tertib berlalulintas. Mulai dari pemakaian helm SNI, memasang spion dan menghidupkan lampu disiang hari,’’ tambahnya.
Ya, Adrian mengaku jengah dengan anggapan masyarakat tentang berbagai komunitas motor yang endingnya mereka justru ugal-ugalan di jalan. “Kami tidak begitu. Selain berkumpul kami juga ingin memberikan edukasi kepada masyarakat terkait tertib berlalulintas,’’ urainya.
Adrian pun bersyukur, lantaran anggota Mr MO sendiri terus bertambah. Bahkan saat ini anggotanya mencapai 80 orang. Anggota Mr MO tidak hanya dari Kota Malang saja, tapi juga Kota Batu dan Kabupaten Malang.
Seperti komunitas pada umumnya, Mr MO yang baru berdiri selama tujuh bulan ini juga sudah memiliki sekretariat. Yaitu di Jalan Sugriwa 5A-19, Sawojajar. Di sekretariat inilah, anggota Mr MO kerap berkumpul sembari merencanakan program. (ira/feb)

Matic Taklukkan Gunung


SEBAGAI komunitas motor tidak afdol jika tidak menjelajah. Mr MO pun demikian. Hampir setiap bulan, komunitas yang digawangi oleh Putu Adrian Galih ini juga melakukan touring. Seperti beberapa waktu lalu, para pecinta motor N Max ini melakukan touring ke Gunung Bromo.
Mulanya banyak anggota yang sedikit kawatir saat melakukan touring ke Gunung Bromo. Itu karena medan yang dijelajahi bukanlah medan biasa. Selain menanjak, jalan yang dilewati pun banyak yang tidak beraspal. Karena keinginan touring yang sangat kuat, anggota Mr Mo pun akhirnya setuju.
”Kami berngkat bersama-sama dari Malang, melalui jalur Pasuruan,’’ kata Yuyut Erawanto.
Seperti visi dan misi Mr MO yaitu mengutakaman keselamatan serta safety reading, selama touring anggota komunitas ini juga harus tertib. Kecepatan motor tidak lebih dari 80 kilometer per jam. Selain itu juga selalu memberikan prioritas kendaraan lain.
Hasilnya, ketertiban berkendara yang dilakukan ini membuat rombongan Mr MO ini tepat waktu sampai tujuan. ”Saat touring kami juga sempat beristirahat. Kami tidak mau memaksakan diri, karena visi kami adalah mengutamakan keselamatan dalam berkendara,’’ tambahnya.
Di Bromo, anggota Mr MO pun banyak yang merasa heran. Itu karena motor matic dengan model sporty ini mampu mengalahkan berbagai tanjangan dan rintangan. Bahkan sampai di lautan pasir,  motor dengan CC 155 tersebut mampu berjalan mulus tanpa rintangan sedikitpun.
Layaknya komunitas pada umumnya, sebagai eksistensi perjalanan mereka tanpa rintangan, anggota Mr MO pun berfoto ria, dengan andalan background  Gunung Bromo. Suka cita berhasil menaklukkan gunung tersebut pun muncul. Tawa gembira, dan mereka merasa sangat puas.
“Sebetulnya bukan hanya touring misi kami ke Bromo kala itu. Dari Malang kami membawa misi khusus, yaitu membuat taman bacaan. Alhamdulillah, rencana kami itu terwujud. Di daerah Tengger kami mendirikan sebuah taman bacaan,’’ tandas Yuyut.(ira/feb)

Santunan Anak Panti Asuhan


AKTIVITAS Mr MO tidak sekadar berkumpul dan nongkrong saja. Tapi mereka juga melakukan aktifitas sosial. Salah satunya, dengan mengajak anak Panti Asuhan Al Ma’wa di Dusun Sebaluh, Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, buka bersama minggu (19/6) lalu. Ya, kegiatan ini sudah direncanakan jauh hari sebelumnya.
“Seperti yang kami katakan sebelumnya. Komunitas ini berdiri untuk agar bermanfaat bagi orang lain,’’ kata Ketua Mr MO, Putu Adrian Galih.
Rombongan Mr MO yang berjumlah lebih dari 50 orang berangkat dari  Jalan Bandung tepat jam 15.00, langsung meluncur ke arah Kecamatan Pujon.
Sampai di Pujon pukul 16.10, mereka istirahat sejenak di patung sapi Dusun Sebaluh Desa Pandesari Kecamatan Pujon sambil berfoto bareng. Pukul 17.00, mereka langsung masuk panti asuhan yatim piatu Al Ma’wa. Di gerbang pondok, sudah berjajar pengajar bersama santri anak yatim piatu menyalami anggota omunitas motor matic Yamaha N Max. Sambutan hangat diberikan pengasuh hingga santri.
Perwakilan komunitas Yamaha N Max,Yuyud Erawanto pembina komunitas motor ini langsung memperkenalkan diri dan komunitasnya. Dia menyampaikan syukur bisa berbagi dengan anak-anak yatim piatu di Pondok Al Ma’wa. Dia memberi motivasi anak-anak ini supaya terus giat belajar, pantang menyerah sampai berhasil kelak.
Saat berbuka puasa, komunitas motor sudah menyiapkan nasi lengkap dan lauknya. Anggota komunitas akhirnya berbuka bersama anak-anak yatim piatu. Anggota komunitas pun menyerahkan sembako, pakaian, dan uang tunai langsung kepada anak-anak.
Wajah-wajah ceria terlihat dari anggota komunitas, sedangkan anak-anak yatim piatu ikut merasa senang. Mereka pun menyalami rombongan komunitas motor Yamaha N Max sebelum meninggalkan lokasi. (yun/ira/feb) 

Dari Postingan Berkembang Jadi Penyalur Sodaqoh

BERBAGi: Tim sedekah berbagi Ke mbah ngatimah berprofesi sebagai guru ngaji dan pemulung.


Sedekah Habit Malang, Memotivasi Kerja Lewat Bantuan Modal

Mutiara Priza Dinanti, benar-benar tak mengira bila kegiatan rutin berkumpul bersama sahabat-sahabatnya bisa makin berlanjut. Kumpulan ini tak sekedar senang-senang ataupun bernostalgia, melainkan mereka menyisihkan fulus untuk disumbangkan kepada yang membutuhkan bantuan.
Penerima sumbangan dari komunitas inipun, bukan diarahkan pada pengemis jalanan. Sebaliknya, difokuskan pada orang-orang yang bekerja keras tetapi kehidupan masih terbelenggu oleh kerasnya kehidupan.
Kebiasaan bersedekah bersama sejak Juli tahun lalu inilah, yang menjadi awal dari berdirinya komunitas Sedekah Habit Malang (SHM). “Awalnya dari arisan sedekah, lalu banyak teman-teman yang nitip dana kepada kami untuk disumbangkan. Semula kami pun nggak berniat bikin komunitas, cuman semakin hari kok kian banyak sehingga akhirnya terbentuklah komunitas ini,” urai Tiara.
Wanita asli Surabaya, yang telah menyelesaikan kuliahnya di Universitas Negeri Malang (UM) itu menambahkan, awal terbentuknya komunitas tersebut justru dari Kota Malang. Dari postingan bantuan kegiatan di instagram, akhirnya teman-temannya makin banyak berkontribusi membantu warga kota pendidikan ini melalui komunitas yang dia dirikan.
Saking banyaknya penyumbang, Tiara tidak dapat menghitung jumlah pasti per harinya. “Yang jelas data pasti kami nggak tahu, karena banyak banget. Cuman kegiatan pembagian biasanya setiap hari Minggu,” tuturnya.
Selain bantuan yang disalurkan berupa uang dan sarana prasarana, seperti sembako dan modal usaha, bantuan yang diberikan komunitas ini bisa berupa pembagian 100 nasi kotak, setiap hari Minggu.
Dari sumbangsih komunitas Sedekah Habit Malang, seluruh relawan dan tim berhasil memberikan bantuan kepada lebih dari 100 dhuafa semenjak awal berdiri hingga saat ini. Meski bergerak di bidang sosial, Tiara selalu menegaskan selektif terhadap calon penerima bantuan. Prosesnya pun berlangsung cukup lama, mengingat anggota SHM harus mengetahui detil tentang data orang, yang akan diberi bantuan.
“Jangan sampai bantuan salah alamat. Selain itu juga kami jarang memberi bantuan kepada pengemis,” ujarnya.
Tiara mengungkapkan, proses seleksi tersebut diawali mendatangi calon penerima dengan cara tidak langsung, tetapi berpura-pura sebagai pembeli. Kemudian, anggota SHM akan menanyakan detail terkait kehidupan calon penerima.
“ Ya.. mulai dari menanyakan alamat lengkap. Kalau sudah begitu, biasanya kami datangi, silaturahmi ke rumah dilihat apa benar dia tidak mampu. Kami juga ngobrol dengan RT dan RW setempat, tentang bagaimana kehidupan warganya itu,” urainya.
Kesemua pola itu dilakukan, karena dulu  tim SHM pernah kecolongan membantu warga, padahal dari segi perekonomian sangat mampu. “Waktu itu sudah di depan rumah, kami pun sudah membawa barang-barang ya..akhirnya dikasih saja. Padahal rumahnya bagus, dan kondisi ekonominya menurut ketua RT dan RW setempat, tidak buruk-buruk amat,” kenang Tiara. (nia/lyo)

Calon Penerima Disurvey, Sasaran Warga Tak Mampu

shm : Tim sedekah habit selain memberikan fresh money, sumbangan bisa berupa sembako dan pakaian yang masih layak pakai


Komunitas SHM membuka kesempatan luas, bagi para donator yang ingin menyisihkan sebagian rejekinya untuk berbagi. Prosedurnya pun tak rumit, donator bisa langsung transfer melalui nomer rekening yang tercantum dalam media sosial instagram sedekah.habit.malang.
“Tanpa perlu konfirmasi, karena setiap hari kami selalu memposting berapa donasi yang masuk baik itu menyangkut jumlahnya berapa dan dari siapa. Dan setiap hari kami cek mutasi, untuk transparansi dana ke publik,” ungkapnya.
Tiara mengisahkan, dalam kurun waktu sehari jumlah donasi yang masuk ke rekening SHM bisa mencapai Rp 10 juta. Bahkan, dalam sehari SHM pernah mendapat bantuan donasi sebesar Rp 85 juta ketika menggalang dana untuk membantu Mbah Min, warga Gondanglegi yang menderita kanker kulit stadium akhir. Setelah tiga hari, dana yang terkumpul untuk Mbah Min pun mencapai nominal Rp 120 juta.
“Itu cuman kami lakukan via media sosial, seperti instagram. Kami berusaha mengurangi aktivitas turun ke jalan,” paparnya.
Hingga sekarang, jumlah anggota SHM sebanyak 400 orang. Dari jumlah itu, dari relawan umum mencapai 300 orang, pengurus sebanyak 100 orang yang datang dari berbagai macam profesi seperti mahasiswa, pelajar, karyawan, maupun ibu rumah tangga.
“Setiap hari kami mempunyai target, untuk mencari calon penerima warga Malang yang kurang mampu tetapi mau bekerja keras. Artinya bukan mengemis yang menerima bantuan dari kami,” tukasnya.
Namun Ramadan kali ini, target secara personal sedikit lebih berkurang. Pasalnya, 25 Juni 2016 SHM memiliki project besar berupa berbuka bersama dengan keluarga pemulung di Kota Malang. Setelah itu, dilanjutkan dengan berbuka bersama panti asuhan.
“Pada 26 Juni nanti, Insya Allah kolaborasi dengan Arema. Fokusnya nggak ke yatim piatu saja, melainkan pada lansia juga,” beber wanita berusia 24 tahun ini.
Oleh karena itu, saat ini anggota SHM sedang giat menerjunkan tim survey untuk meminta data ke RT dan RW di setiap kelurahan, guna mendata dan menarget pihak-pihak mana yang berhak dibantu.
“Nanti mereka akan dikumpulkan di lokasi even, dijemput dan ada juga cek kesehatan gratis dari relawan kami yang memiliki bidang kesehatan,” urainya.
Tak hanya berupa uang, sumbangan yang diberikan bisa berbentuk pakaian, sembako bahkan modal kerja. “Kalau uang tunai pasti kami beri, cuman kalau ada bapak-bapak yang gerobak jualannya sudah tidak layak, biasanya juga kami bantu memperbaiki,” ungkap lulusan Akuntansi UM ini.
Apabila dalam proses verifikasi tim SHM menemukan seorang tua renta membawa barang dagangan dengan dibopong, kawan-kawan SHM juga akan membantu kelayakan proses pencarian nafkah, kepada yang bersangkutan dengan memberi sepeda ataupun gerobak dorong. “Jadi biar nggak capek lagi, jualan juga lebih praktis,” pungkas Tiara. (nia/lyo)

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL