Malang Post

Komunitas


Latber Aksi Singo Edan

Share
MALANG – Tidak semua lomba burung yang digelar bertiket mahal. Di gantangan Aksi Singo Edan salah satunya. Latihan Bersama yang digelar hari ini panitia membuka dengan harga tiket murah meriah, yakni Rp 5000 dan Rp 10 ribu.
“Ini merupakan latber ceria, harga tiketnya pun membuat ceria untuk kicaumania,’’ kata Ipan salah satu panitia.
Ipan mengatakan, latber Sabtu ini memang fokus untuk burung-burung junior. Lantaran itu, dia pun mengajak seluruh kicau mania yang memiliki burung dan belum pernah ikut lomba bisa berpartisipasi besok. Dia pun megatakan peserta tidak perlu takut kalah. Selain tiketnya memang murah, lomba burung tersebut digelar dengan sportifitas tinggi.
“Rp 5000 dan Rp 10.000 tidaklah mahal, untuk mengetahui kualitas burung. Kalau menang  tatahnya pun  langsung naik,’’ katanya.
Ipan juga mengatakan, sekalipun tiketnya murah, panitia juga akan memberikan hadiah. Tidak main-main, hadiah untuk pemenang diberikan berkali lipat dari uang pendaftaran. “Untuk pendaftaran Rp 5000 juara pertama mendapatkan Rp 100 ribu. Sedangkan untuk biaya pendaftaran Rp 10.000 pemenang pertama mendapat hadiah uang Rp 200 ribu,’’ katanya.
Sementara kicau mania yang memiliki gacoan senior, panitia latber pun membuka  untuk kelas senior. Tapi begitu, sekalipun kelas senior tiket yang ditawarkan tidaklah mahal, yakni hanya Rp 20 ribu, dan 30 ribu.
Ipan mengatakan, lomba burung yang digelar tidak sekedar lomba untuk mengetahui prestasi burung. Tapi lomba yang digelar ini sebagai ajang silahturahmi para kicau mania. Dia juga menyebutkan, dengan lomba burung ini, tali persaudaraan para kicau mania semakin kental,’’ tambahnya.
Untuk jenis burung yang dilombakan, Ipan pun menyebutkan semua  jenis burung.  Diantarannya adalah Love Bird, Kenari, Cendet, Ponglor, Anis Merah, Cucak Hijau dan lainnya. Lomba burung ini digelar mulai pukul 13.00 WIB. “Latber ini bisa sebagai pemanasan, karena Minggu besok ada lomba besar di Malang Raya. Monggo para kicau mania, rame-rame untuk ikut latber,’’ ajak Ipan penuh semangat.(vik/feb)


Kenari Mulai Terjun Bebas
MALANG – Lomba burung yang sering digelar ternyata tidak seimbang dengan harga burung  Kenari. Setelah cukup eksis dengan harga sangat mahal, harga burung Kenari saat ini terjun bebas. Tidak main-main, di pasaran harga burung Kenari rata-rata hanya Rp 60 ribu per ekor.  Kondisi tersebut memang sangat memilukan bagi peternak. Sehingga tidak sedikit dari peternak Kenari memilih untuk gulung tikar.
Saripan salah satunya, mengatakan usaha ternak burung Kenari yang dibangunnya terancam hancur, seiring dengan harga burung yang juga jatuh.  “Saya beternak burung kenari sejak lima tahun lalu,’’katanya.
Pria asli Bululawang ini pun mengatakan, usaha ternak burung Kenari ini dibangun bermula dari hobi. Awalnya, Saripan hanya memelihara saja. Selanjutnya, dari ajakan temannya, Saripan pun mengembangkan hobinya itu untuk menjadi peternak.
Dimulai dengan lima indukan Kenari lokal, Saripan pun mengawali usahanya. Dengan sangat sabar, telaten dan ulet, Saripan memelihara burung ternaknya. Hingga akhirnya, dari lima indukan kenari tersebut berkembang. Tentu saja, hal ini membuat bapak dua anak ini senang.  Terlebih saat itu harga Kenari juga lumayan mahal. Usahanya yang kian pesat pun terus kembangkan olehnya. Itu terbukti, Saripan tidak sekedar beternak, dia juga mulai melakukan jual beli burung kenari.  
“Saya juga mencari serta membeli jika ada burung bagus. Harganya pun menyesuaikan,’’ katanya yang mengaku sempat membeli Kenari Rp 7.5 juta.
Namun begitu, tidak selamanya harga burung mungil ini berada di atas. Dua bulan terakhir, harga Kenari terus merosot. Untuk usia tiga bulan kenari lokal dibanderol dengan harga Rp 350 ribu – Rp 400 ribu. Tapi kemudian turun, dan sekarang kian anjlok, harganya di pasaran Rp 60 ribu.
“Sekarang belum beranik kulakan dulu. Harganya belum stabil, anjlok,’’ katanya.
Ungkapan yang sama dilontarkan Yoyon. Peternak burung asal Singosari ini mengakui jika harga Kenari jatuh. “Hancur sekarang harganya. Kita merugi, karena harganya tidak sebanding dengan  biatya operasional,’’ katanya.
Lalu apa yang menjadi penyebab burung Kenari ini anjlok di Pasaran? Baik Saripan maupun Yoyon mengaku sama-sama tidak tahu. Namun begitu, secara umum keduanya mengatakan harga  kenari anjlok karena jumlahg breader yang banyak. “Kalau di luar Jawa harganya masih bisa Rp 200-300 ribu. Tapi begitu, untuk mengirimnya ribet. Jadi ya kita memilih menunggu saja, semoga harganya kembali stabil seperti dulu,’’ tandasnya.(vik/feb)
comments

Ajang Mencari Bakat

Share
BATU – Kegiatan latihan bersama (latber) di Kota Batu terus mendapatkan perhatian kicaumania dari berbagai daerah. Mereka tidak hanya membawa burung kesayangan untuk ikut latber, tetapi banyak kicaumania yang tidak membawa burung kesayangan. Itu karena mereka datang ke Kota Batu untuk memantai ‘gacoan’ baru untuk dibawa ke kota asalnya.
‘’Mereka datang ke Kota Batu karena sedang berburu aneka burung yang sedang mengikuti latber. Jadi saat ini sudah banyak transaksi di sela-sela latber,’’ ungkap Machfud, salah satu panitia KWB BC kepada Malang Post, kemarin.
Menurutnya, burung yang barus dinobatkan sebagai pemenang banyak dilirik kicaumania luar kota. Hal itu terlihat banyak kicaumania yang langsung mendekati pemilik dan tawar menawar. Jika deal, burung pasti langsung berpindah tangan.
‘’Kalau soal harga, kami tidak tahu. Itu sudah hak masing-masing pembeli dan pemilik burung. Jadi KWB ini saat ini juga menjadi ajang mencari bakat’’ tegas Ifud, sapaan akrabnya.
Dia menjelaskan, mereka datang dari berbagai kota seperti Pasuruan, Surabaya, Blitar, Kediri, Jombang, Nganjuk dan kota sekitarnya. Mereka sangat senang Latber bisa dilakukan setiap Sabtu atau weekend. Saat pelaksanaan latber, mereka sedang libur sehingga bisa datang ke Kota Batu sembari rekreasi.
‘’Mereka bisa saja datang Jumat malam dan Sabtu pagi rekreasi karena latber biasa dilakukan sore hari. Jika tidak begitu, mereka datang Sabtu kemudian pulang pada Minggu. Sisa waktu ada digunakan kicaumania dari berbagai daerah ini rekreasi ke ibjek wisata, Jadi tidak salah jika mereka datang ke Kota Batu bersama keluarga,’’ tegas warga Kelurahan Sisir Kecamatan Batu ini.
Pihaknya selalu memberikan hal terbaik untuk kicaumania. Selain memberikan harga tiket sangat terjangkau, hadiah berupa sangkar burung biasa diberikan panitia kepada pemenang. (feb)


15 Kelas di Gantangan Arcom
MALANG - Latihan Bersama (Latber) kembali digelar di gantangan Arcom. Selasa (19/1) ) lalu, lalu diikuti oleh lebih dari 300 burung terlibat sebagai peserta dalam kegiatan yang diadakan di area pasar comboran ini. Panitia mengklaim Latber tersebut cukup meriah. Selain pesertanya lebih banyak, kategori dan kelas lombanya juga lebih beragam.
"Latber kali ini kami buka 15 kelas sekaligus, dari 9 jenis burung yang dilombakan. Biasanya paling banyak kami gelar 5-7 jenis burung saja, dengan jumlah kelas paling banyak 15," kata Hanan salah satu panitia.
Hanan mengatakan, banyak pemilik sangat antusias. Itu karena lomba ini pemilik sekaligus test drive untuk burung-burungnya, karena minggu ini.
"Disini tes drive dulu. Kan Minggu besok, ada lomba besar,’’ kata Hanan yang mengatakan, burung-burung jebolan dari Arcom bisa menyaingi semua burung yang ikut lomba nanti. Dia juga mengatakan jika latber ini, digelar dengan harga tiket normal, yakni Rp 30 ribu, Rp 20 ribu dan Rp 10 ribu.
Sementara untuk lomba sendiri panitia membuka dengan Love Bird. Pembukaan lomba ini cukup menakjubkan. Karena gantangan yang memiliki hingga 64 nomoir ini hampir penuh. Beberapa burung senior seperti Aleksandra, Messi, Robin Hood  langsung iikut sertakan pemilnya. Kicau burung yang terkenal sangat setia dengan satu pasangan inipun merangsang pemilik burung lainnya untuk ikut terlibat dalam lomba.
Itu trerbukti, diputaran kedua Love Bird, peserta pun membludak. “Love Bird memang favorif. Hampir setiap seri yang digelar pesertanya hampir full gantangan,’’ urainya.
Tidak hanya Love Bird, Kenari pun juga sama. Para pemilik burung langsung menggantangkan burungnya, usai panitia memberikan aba-aba. Bahkan, ada beberapa peserta yang provokatif, menyuruh rekannya pulang jika tidak segera menggantangkan burungnya.  “Lek wedi kalah muleh ae bro, ayo wes diganggantang,’’ kata peserta.
Ya begitulah suasana di gantangan Arcom. Sekalipun kondisi cuaca mendung, tapi peserta tetap semangat mengikuti lomba. (vik/feb)
comments

Bersatunya UKM Fotografi Mahasiswa Antar Perguruan Tinggi

Share
FORUM Komunikasi Fotografi Mahasiswa Malang (FORKOM FM) adalah wadah berhimpunnya para pecinta fotografi di Kota Malang. Lahir tahun 2001, FORKOM FM merupakan wadah yang menaungi unit-unit kegiatan mahasiswa peminat fotografi yang berdiri di PTN/PTS Malang. Dalam forum atau komunitas ini, FORKOM tidak sekadar ada. Tapi juga hidup. Itu terbukti, dari tahun ke tahun, anggota yang masuk dalam komunitas ini sangat banyak.
“FORKOM FM memiliki fungsi sangat luas, tidak hanya sebagai tempat berkumpul, tapi juga sebagai media sharing dan komunikasi antar unit kegiatan mahasiswa (UKM) dalam pembahasan perkembangan fotografi,’’ kata penasihat FORKOM FM Arya Putra Ananta.
Kepada Malang Post, Arya mengatakan jika awalnya FORKOM FM ini hanya diikuti oleh beberapa UKM di beberapa universitas. Tapi seiring waktu, anggota yang bergabung semakin banyak. Pria dengan rambut cepak ini pun menyebutkan satu persatu UKM yang terdaftar dalam FORKOM FM. Yakni BIDIK(Universitas Merdeka) , Bengkel Foto (Universitas Brawijaya), Blidz (Universitas Brawijaya) , FOCUS-UMM (Universitas Muhammadyah Malang) , FOMATIK (Politeknik Kesehatan Malang) , FORMAT (Institut Teknologi Nasional ), G-PHOC (Universitas Gajayana), HIMAFO (Universitas Negeri Malang) , HMJF (Universitas Kanjuruhan), JHEPRET CLUB (UIN Maliki Malang) , JUFOC (Universitas Muhammadiyah Malang), KOMPENI (STIKI Malang), OBSCURA (Universitas Muhammadiyah Malang), PANORAMA (Universitas Islam Malang), RICARO (Universitas Brawijaya), THEATERISIC WATSEPA (Politeknik Negeri Malang), X-FLASH (Universitas Tribhuwana Tunggadewi).
Melalui wadah inilah, UKM di tiap kampus menyatu. Banyak kegiatan kreatif yang lahir dari forum ini. Tentunya kegiatan tersebut sangat berkaitan erat dengan dunia fotografi. Yang paling penting melalui forum ini masing-masing anggota bisa belajar untuk mengasah bakat dan minatnya sehingga lebih baik lagi. FORKOM FM merupakan pemrakarsa lahirnya Forum Fotografi Indonesia Lintas Mahasiswa (FILM). Yaitu wadah komunitas fotografi mahasiswa yang menghubungkan seluruh daerah di Indonesia. Dua agenda nasional menjadi kegiatan rutin forum ini, yakni Jambore Nasional dan Pameran Nasional.
“Anggotanya ya menyesuaikan dari anggota UKM tersebut. Kalau jumlahnnya tidak terhitung, sangat banyak,’’ katanya. (vik/oci)





Biasa Adu Argumen, Kebersamaan Tetap Nomor Satu
FORKOM FM ini merupakan komunitas yang sudah turun temurun. Anggotanya pun berganti sepanjang tahun, setiap kali ada mahasiswa baru artinya ada anggota baru yang datang. Namun rupanya hal itu tak membuat komunitas ini sepi dari kegiatan. Berbagai karya dan event pun telah digelar. Salah satu event yang sukses adalah pameran foto yang digelar di salah satu café di Kota Malang. Pameran foto yang digelar bulan September lalu mendapatkan apresiasi dari banyak kalangan.
Salah satu anggota FORKOM FM Bambang Sugeng Susanto mengungkapkan, setiap pameran yang digelar selalu memiliki konsep. Konsep inilah yang kemudian menguatkan jati diri FORKOM FM.
“Karena pameran menjadi anggenda rutin, maka persiapannya pun cukup matang, karena dilakukan jauh hari sebelum hari H,’’ katanya.
Dalam pematangan konsep, semua anggota FORKOM pun tidak diam. Semuanya urun rembuk. Ya sekalipun tidak mudah, tapi urun  rembug yang disampaikan anggota inilah, yang membuat konsep pameran betul-betul Matang.
“Disini tidak ada leader, semuanya anak buah, dan bisa menyuarakan isi hati,’’ katanya.
Memang awalnya tidak mudah, karena anggota yang sangat banyak. Tapi saat itu diterapkan betul, setiap anggota boleh bersuara, komunitas ini lebih hidup.
“Eyel-eyelan sering, adu suara saat membahas konsep juga sering terjadi. Tapi yang pasti, eyel-eyelan itu dasarnya adalah agar event yang kita kerjakan berjalan sukses. Itu saja yang kita pegang,’’ katanya.
Event yang digelar memang tidak hanya pameran foto. Tidak jarang, komunitas ini mengadakan event hunting foto bersama. Sudah pasti kegiatan ini akan sangat meriah, karena pesertanya sangat banyak.
“Kalau hunting foto bersama yang kami tekankan adalah kebersamaan. Kita boleh hunting dan mencari angel foto yang baik serta menarik, tapi kita tidak boleh meninggalkan teman. Disinilah seninya,’’ tambah pria berambut gondrong ini. Kebersamaan yang ditekankan itulah kemudian membuat anggota FORKOM ini menjadi saudara bagi satu sama yang lain.
Kebersamaan itu tidak hanya ditunjukkan anggota senior, tapi juga anggota junior. Bahkan untuk merekatkan tali persaudaraan antar senior dan yunior, FORKOM FM menggelar Makrab (Malang Keakraban). Dalam kegiatan ini tidak ada kesenjangan antara senior dan yunior. Alias semuanya sama.  
“Makrab biasanya digelar setelah mahasiswa baru masuk. Kan anggota FORKOM FM adalah mahasiswa, jadi ya setelah perkuliahan masuk,’’ tandasnya. (vik/oci)

Eksplorasi Budaya Daerah di JFMI

Salah satu kegiatan yang diikuti secara aktif komunitas ini adalah mengikuti kegiatan Jambore Fotografi Mahasiswa se Indonesia (JFMI). JFMI sangat penting, karena bisa menjadi kesempatan menggali ilmu terbaru dan perkembangan fotografi.
Arya menjelaskan, JFMI (Jambore Fotografi Mahasiswa Indonesia) adalah sebuah acara tahunan yang melibatkan FORKOM (Forum Komunikasi) Mahasiswa Fotografi se-Indonesia. Kegiatan yang di lakukan tidak lain adalah membahas perkembangan fotografi yang ada di kota masing-masing.
Dengan adanya jambore, pengetahuan fotografi di Indonesia menjadi lebih berkembang khususnya pada kalangan mahasiswa yang terdaftar di FORKOM masing-masing kota. Selain itu JFMI juga turut membantu memperkenalkan Budaya Indonesia yang terdapat di kota tempat terlaksananya JFMI. JFMI telah berlangsung selama 7 tahun di kota yang berbeda-beda. Kota yang pernah menjadi tuan rumah JFMI antara lain : Yogyakarta (2008), Bandung (2009), Malang(2010), Surabaya (2011), Lombok (2012), Lampung (2013).
“Tahun 2014 JFMI dilaksanakan di Kota Makassar,’’ kata Arya.
Saat ikut JFMI peserta pun lebih mengenal satu dan lainnya. Ini pun memberikan peluang untuk mempererat tali silaturahmi dengan anggota FORKOM di seluruh Indonesia. “Karena Jambore ini digelar sendiri, maka yang ikut pun menggunakan biaya pribadi. Disitulah kendalanya, tidak bisa semua anggota FORKOM FM ikut,’’ katanya.
Tapi bukan berarti yang tidak ikut dalam JFMI tidak mengetahui perkembangan fotografi. Mereka yang tidak ikut tetap tahu perkembangan, lantaran peserta yang ikut JFMI wajib  melakukan presentasi saat mereka pulang.
“Inilah yang membuat kita beda dengan komunitas lainnya. Ilmu yang kami peroleh dari jambore wajib ditularkan kepada peserta yang tidak ikut. Dengan begitu, kita pun akan berkembang secara bersama-sama,’’ tandas Arya. (vik/oci)

Sebulan Sekali Makan Bersama Anak Jalanan
Meskipun berkecimpung dalam kegiatan fotografi, bukan berarti komunitas ini selalu berkutat di dunia tersebut. Beberapa kali, komunitas ini juga menggelar kegiatan sosial. Salah satunya adalah dengan menggalang dana untuk korban erupsi gunung kelud beberapa waktu lalu.
Untuk melakukan galang dana, anggota FORKOM FM tidak kenal malu. Itu karena tidak jarang mereka menggelar galang dana di tepi jalan, dan memanfaatkan pengguna jalan untuk menyumbangkan uangnya.
“Pertama galang dana dilakukan kepada anggota, selanjutnya galang dana di jalan. Berapapun hasilnya, itu yang kami bawa untuk kemudian disumbangkan kepada para korban,’’ kata Bambang yang mengatakan bantuan yang diberikan menjadi salah satu bentuk kepedulian anggota FORKOM FM kepada sesama.
Bukan hanya erupsi kelud, peristiwa banjir bandang yang menimpa terjadi di  bagian selatan Kabupaten Malang juga menjadi perhatian anak-anak FORKOM. Menggunakan kendaraan pribadi, anak-anak komunitas foto ini datang ke lokasi. Mereka tidak mencari moment foto, tapi kedatangan mereka murni untuk menjadi sukarelawan, dan membantu sesama.
Selain itu tidak jarang pula anggota komunitas ini kumpul dan makan bersama anak-anak jalanan. Sekalipun kegiatan ini tidak rutin, namun para anggota FORKOM ini mengaku senang. “Kalau makan bersama anak jalanan biasanya dilakukan sebulan atau dua bulan sekali. Dananya dari kantong pribadi,’’ kata Bambang. Bukan itu saja, Bambang juga mengatakan anak-anak FORKOM FM sangat membuka kepada anak-anak yang ingin belajar fotografi.(vik/oci)
comments

Suguhkan Drama Percintaan Berlatar Zombie

Share
MALANG – Malang memiliki kelompok anak muda yang gemar dengan dunia perfilman. Mereka tergabung dalam Societo Sineklub. Meski merupakan Lembaga Semi Otonom (LSO) di FISIP UB, namun komunitas ini cukup eksis di luar kampus. Yang terbaru, Socieot Sineklub memproduksi film Zombie.
Meski terkesan horor, namun komunitas sinematografi ini mampu menyuguhkan tampilan yang berbeda. Mereka menggunakan latar zombie yang mewabah sebagai bumbu menegangkan dalam film drama terbaru yang berjudul PARKA.
Ide membuat film ini muncul ketika ada proyek untuk membuat film bersama. Societo menilai produksi dengan tema yang belum terlalu umum masih menarik. Misalnya, membuat film drama percintaan tapi berlatar belakang dunia yang sedang chaos.
“Kemudian terpikir untuk memasukkan unsur zombie karena jarang diangkat di Indonesia yang memang tidak terlalu akrab mengenal zombie sebagai salah satu mitos yang ada,” jelas Etto Boulala, sutradara film PARKA, kepada Malang Post.
Pria yang akrab disapa Etto ini menerangkan, tak mudah memilih pemeran dan membentuk karakter yang sesuai dengan film PARKA tersebut. Ia mengaku jika butuh belasan calon pemain saat casting untuk benar-benar mendapatkan sosok yang akhirnya ia ‘pinang’ sebagai main character.
“Para calon pemain sangat antusias saat casting. Mereka sangat luar biasa saat berusaha menghayati peran Kimmi dan Vico. Pada akhirnya saya menetapkan pilihan kepada Maya Syahfitri sebagai Kimmi, Wekka Allamah Abdur Rohman sebagai Vico, serta Dwi Rendra Graha sebagai Andre yakni teman Vico,” lanjutnya.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi ini  menjelaskan perlu waktu yang cukup lama untuk membentuk karakter yang sesuai dengan harapannya. Selama kurang lebih dua bulan, Etto bersama teman-teman yang berada di departemen penyutradaraan melakukan rehearsal untuk menghadirkan sosok Kimmi, Vico, dan Andre di film PARKA.
“Proses rehearsal kemarin sangat menyenangkan. Kita sama-sama belajar untuk mendalami dunia acting sekaligus mengeksplor kemamuan diri kita dalam acting dan directing lebih jauh lagi,” imbuhnya.
Proses produksi dilakukan selama lima hari di berbagai tempat berbeda di Kota Malang. Kru maupun talent yang terlibat rela berpindah-pindah lokasi dengan jarak yang cukup jauh tersebut. Produksi pertama dilakukan selama tiga hari, yakni selama 22 hingga 24 November kemarin. Namun ternyata masih ada beberapa adegan yang kurang.
“Akhirnya kami melakukan pengambilan gambar di lain hari, yakni pada 20 dan 21 Desember lalu. Alhamdulillah, semua berjalan lancar,” tegas Kurniatul Hidayah, Produser film PARKA. Wanita yang biasa dipanggil Aya ini menuturkan jika film yang bertajuk Masterpiece of Societo 2009 ini tidak hanya melibatkan Societo Sineklub 2009.
Banyak pihak yang terlibat, baik itu berasal dari internal maupun eksternal Societo Sineklub. Menurutnya, PARKA adalah film besar Societo. Berbeda dari produksi yang pernah ada, Societo membutuhkan banyak kru dan juga pemeran pendukung. Mulai dari saudara-saudara Societo Sineklub yang berada di angkatan berbeda, Homeband FISIP UB, SMKN 3 Malang sebagai kru make up, SD dan SMP BSS sebagai pemeran pendukung, teman-teman di FISIP, serta masyarakat umum yang ikut dalam open casting sebagai pemeran zombie.
“Ada juga talent termuda kami bernama Kianna Azalea yang memerankan tokoh Diva di film PARKA,” tutup Aya. (fin/oci)

Siap Dilaunching Maret
MALANG – Mundur dari jadwal awal launching, tidak membuat para kru Film PARKA patah semangat. Mereka justru berusaha mematangkan konsep untuk mempersembahkan kelahiran maha karya mereka di hadapan umum. Pemutaran perdana ini rencananya dihadiri oleh para undangan dan masyarakat umum.
“Semula kami akan mengadakan launching akhir tahun 2014. Namun karena berbagai pertimbangan, kami ubah jadwal pemutaran, Insya Allah pada awal Maret. Kami ingin menampilkan karya yang berkualitas dan membuat penonton puas. Jadi harap bersabar ya,” terang Kurniatul Hidayah, Produser Film PARKA.
Alief Marvirano, Produser Pelaksana menjelaskan tentang konsep launching yang akan diusung untuk film PARKA. Launching PARKA tidak hanya menyajikan film kepada calon penonton saja. Tapi, ia bakal membuat tumpeng dan menggelar syukuran atas selesainya film ini.
“Bukan hanya pemutaran saja, tapi launching yang akan datang ini sekaligus syukuran terselesaikannya proyek film besar kita. Jadi nanti akan ada pemotongan tumpeng sebagai ucapan syukur kita atas film PARKA,” beber pria yang disapa Nano ini.
Selain syukuran, tema yang digunakan saat launching adalah black and white. Nano menjelaskan jika tema ini dipilih karena sesuai dengan film PARKA yang akan ditayangkan. Warna hitam dan putih sangat pas dengan suasana dalam film yang nantinya juga memberi kesan kelabu dan suram.
“Baik kru maupun penonton nantinya diwajibkan memakai dresscode hitam atau putih. Bisa juga kombinasi keduanya. Asalkan ada unsur hitam dan putih. Itu adalah warna yang paling simple, diharapkan nanti penonton kompak dengan dresscode yang kami sepakati tersebut,” ungkapnya.
Penonton yang akan menghadiri launching film PARKA ini berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari kru, undangan, dan masyarakat umum. Menurutnya, film ini telah mendapat banyak dukungan dari sponsor.
“Ini persembahan kami untuk para sponsor yang sudah mempercayakan kepada kita untuk tetap berkarya dengan memberikan bantuan dana dan produk. Kami juga mengundang perwakilan dari kampus, organisasi film, pecinta film, dan tentunya para kru dan talent yang terlibat dalam produksi ini untuk menikmati hasil jadi film kita bersama,” lanjut pria berkacamata ini.
Nantinya ini akan jadi pemutaran pertama untuk film PARKA. Selanjutnya film PARKA bisa disaksikan kembali pada pertengahan tahun 2015. “Pemutaran perdana kami konsepnya simple da nada juga acara hiburan sebagai intermezzo. Pemutaran selanjutnya akan dilakukan bersama-sama dengan proyek film Societo Sineklub angkatan lainnya. Mereka adalah 2007, 2008, 2010, 2011, dan 2012,” pungkas Nano.
Pria yang merupakan aremania ini menambahkan jika informasi terbaru tentang perkembangan dan rencana launching film PARKA bisa dipantau melalui twitter, yakni @PARKAmovie. (fin/oci)

Parka, Cerita Zombie Yang Punya Hati
KIMMI, seorang survivor yang sudah kehilangan semangat hidup di antara para manusia yang perlahan berubah menjadi zombie. Sebelum benar-benar menyerah dengan keadaan, Kimmi ingin melakukan hal yang belum pernah ia lakukan selama hidupnya. Kimmi mengambil rokok di sakunya dan mulai menyalakan korek. Belum sampai rokok menyala, di sebuah rumah yang ia gunakan untuk berlindung dari serangan zombie, Kimmi mendengar suara tangisan bayi. Seorang bayi selamat dari wabah zombie yang juga menjangkiti sang baby sitter yang terikat di sudut ruangan. Ada sebuah pesan di balik foto yang tergeletak tak jauh dari tempat babby sitter tersebut: ‘DIVA. TOLONG BERIKAN DIA KEHIDUPAN.’ Kimmi terenyuh. Ia tersentuh mengetahui ada seseorang yang sekalipun di penghujung hidupnya masih sempat memikirkan keselamatan orang lain. Kimmi kembali bergairah untuk tetap hidup dan berjuang menyelamatkan Diva. Kimmi tahu benar ke mana ia harus pergi kali ini. Dia berlari menuju sebuah rumah, rumah Vico, kekasihnya. Perjuangannya untuk bisa sampai di rumah Vico tidak mudah. Para zombie mengikuti, mengancam keselamatannya dan juga Diva. Ketika Vico membuka pintu rumahnya, ia melihat seorang bayi tergeletak di teras. Sebuah parka menjadi alas tidur bayi tersebut. Tak lama bagi Vico menyadari siapa orang yang mengantarkan bayi tersebut ke rumahnya. Vico berlari dan mencari Kimmi. Tampak Kimmi berjalan terseok-seok. Perut Kimmi membuncit, kulitnya pucat dan memuntahkan darah. Vico terkejut melihat kondisi Kimmi, terlebih melihat perutnya yang membesar, mengandung anak mereka. Vico mengusap perut Kimmi dengan penuh sayang, Vico menyematkan cincin di jari manis Kimmi. Akankah Kimmi dan Vico berhasil mempersatukan cinta mereka? (fin/oci)
comments

Sebar Lewat Facebook, 1500 Kicaumania Datang

Share
MALANG - Gantangan Denpom betul-betul menjadi barometer bagi kicau mania di Malang Raya dan kota lain. Terbukti saat lomba burung berkicau Anniversary 11th, Denpom Cup, pekan lalu, kegiatan tersebut diikuti oleh lebih dari 1500 peserta. Mereka datang tidak hanya dari Kota Malang tapi juga dari luar kota. Bahkan peserta dari luar kota mencapai  60 persen.
"Kami menyebarkan informasi melalui media sosial baik Facebook, Twitter, ataupun BBM. Alhamdulillah, info yang kami sebarkan mendapat respon, hari ini pesertanya membludak," kata Ketua panitia lomba burung berkicau Iman Subangkit Jaya. 
Pria ini menyebutkan lomba yang digelar tingkat nasional ini pihaknya membuka untuk semua kategori burung berkicau. Mulai dari Love Bird, Kenari, Cendet, Murai Batu, Punglor Merah, Trocokan, dan lainnya. Khusus untuk Love Bird, Iman mengatakan pihaknya membuka kelas Best of The Best (BOB). "Kelas BOB khusus untuk Love Bird, burung lomba lima kali juara terbanyak dinobatkan dalam BOB," katanya sembari menguraikan kelas BOB pihaknya tidak hanya menyediakan tropi dan piagam penghargaan, tapi juga memberikan hadiah uang tunai.
Bukan itu saja, selain kelas BOB kelas lain yang ditunggu peserta adalah kelas campuran. Di kelas ini semua jenis burung naik gantangan, dan dinilai oleh juri. "Kelas campuran ini jarang ada, itu sebabnya saat diadakan pesertanya pun membludak, full gantangan," urainya. Dia juga nengatakan sekalupun kelas campuran yang terlibat sebagai peserta merupakan burung-burung berkelas, dan berbakat sebagai jawara.
Sementara lomba burung berkicau sendiri, dimulai pukul 11.30 WIB. Dimulai dengan kategori Love Bird. Lomba pertama langsung diserbu peserta. Gantangan dengan jumlah 64 ini full. Peserta yang membawa burung Love Bird tidak ingin ketinggalan mereka langsung masuk gantangan, saat operator memberikan info masuk.
Saat panitia memutuskan mengurangi nilai peserta yang sengaja lambat saat menggantung burung, hal itu membuat peserta takut dan langsung menggantang burungnya setelah ada panggilan. "Kami ingin beda, tidak ada peserta masuk di gantangan saat lomba, tidak ada teriakan, dan peserta langsung menggantang saat dipanggil," urainya.
Dia mengatakan memberikan peraturan ketat tersebut untuk menertibkan peserta. "Gantangan Denpom berbeda dengan gantangan lainnya. Disini semuanya harus tertib," tambahnya. Dia juga mengatakan untuk lomba tingkat nasional ini penilaian dilakukan oleh 6 juri dengan dua korlap.
Sementara peserta mengaku puas dengan gelaran lomba yang diadakan oleh MRT Denpom BC ini. Lomba tingkat nasional ini betul-betul menjadi wadah yang tepat untuk para komunitas burung. "Selain menjadi ajang prestasi, lomba ini juga menjadi pertemuan para komunitas, sehingga kian merekatkan tali silahturahmi," kata Yanto. Dia juga menambahkan, karena menjunjung tinggi Fair Play, dirinya pun tidak hanya membawa satu burung. Bahkan, dia juga membawa burung yang belum pernah diikutkan dalam lomba. "Apa salahnya dicoba, setidaknya untuk melatih mental," tandasnya. (vik/feb)

 Peserta antusias saat menaikkan burung ke atas gantangan
Bulan Desember menjadi bulan surga bagi para pecinta burung. Itu karena di bulan penghujung tahun ini banyak lomba yang digelar. Baik itu lomba setingkat regional maupun lomba tingkat nasional. Bertempat di Gantangan Aksi Singo Edan BC, akan segera digelar Lomba dan Pameran Burung Berkicau Aksi Cup I.
Ketua panitia Margono menjelaskan kegiatan yang digelar di gantangan Aksi Jalan Raya Terusan Sulfat Utara ini berbeda dengan lomba pada umumnya. Itu karena pihaknya juga menggelar pameran burung. "Banyak burung yang dipamerkan saat lomba nanti. Jadi peserta selain bisa mengikuti lomba juga bisa melihat berbagai jenis dan keindahan burung," katanya.
Untuk lombanya sendiri Margono mengatakan ada empat kelas yang dilombakan. Yakni kelas Aksi, Kelas Sejati, Kelas Kembang dan Kelas Ceria.
Masing-masing kelas dibedakan pada biaya pendaftaran. Kelas Aksi pihaknys membuka biaya pendaftaran Rp 100 ribu, dengan jenis burung Punglor Merah, Cucak Hijau, Love Bird, Murai Batu, Kenari Bebas, Cendet dan Kacer. Sedangkan kelas Sejati pihaknya membuka dengan biaya pendaftaran Rp 70 ribu.
"Di kelas sejati burung yang dilombakan Punglor Merah, Cucak Hijau, Love Bird, Kenari Bebas, Murai Batu Cendet, Kacer dan Punglor Kembang," katanya. Sedangkan kelas Kembang harga tiket Rp 50 ribu dengan Punglor Merah, Cucak Hijau, Love Bird, Kenari Bebas, Cendet dan Punglor Kembang dan Pleci. Sedangkan kelas Ceria harga tiket Rp 30 ribu. Burung yang diikutksn lomba diantaranya Love Bird, Kenari Lokal, Punglor Kembang dan Kacamata A-B.
"Lomba nanti juga ada kelas Best Of The Best (BOB) untuk jenis Love Bird dan Kenari. Kelas BOB ini ada tropi 1-5," katanya.
Yang membuat lomba ini lebih dahsyat menurut Margono gelaran lomba ini pihaknya juga membuka kelas gratis untuk Punglor Merah. "Lomba ini menjadi lomba paling spektakuler yang digelar saat penghujung tahun. Hafiahnys banyak. Bagi pecinta burung, lomba ini tidak boleh dilewatkan. Lomba dimulai pukul 10.00," tandasnya. (vik/feb)
comments

Page 1 of 9

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  Next 
  •  End 
  • »