Komunitas | Malang Post

Malang Post

Komunitas


Syal Arema Pengikat Mereka


Malang Scarves Collectors Famiglia

BERIDENTITAS syal Arema, mereka menjadi sebuah komunitas. Loyalitas kepada Arema merupakan perekatnya. Itulah Malang Scarves Collectors Famiglia. Anggota komunitas ini memiliki beragam syal dengan ceritanya masing-masing. Bahkan ada yang sudah puluhan tahun dan terdapat pula syal buatan luar negeri.
Malang Scarves Collectors Famiglia merupakan komunitas yang terbentuk dari loyalitas kepada Arema dan berindentitas syal. Awalnya bermula dari kebiasaan mengenakan syal sebagai pelengkap sekaligus identitas suporter. Komunitas ini terbentuk pada 19 April 2015.

 “Setiap pertandingan kita beli atau buat syal yang berbeda pula, akhirnya jadi banyak. Banyak Aremania mengalami hal yang sama, punya banyak syal,” kata Koordinator Komunitas Malang Scarves Collectors Famiglia, Beny Cristian.
Ratusan koleksi syal Arema itu pun didapat dari berbagai tempat. Ada yang dibeli dipinggir jalan, tapi ada pula yang  dibuat di luar negeri. “Ada dari Polandia dan Jerman. Aremania dengan syalnya begitu melekat seperti identitas,” tutur pria asli Malang ini.
Beny melanjutkan, rajutan klasik syal yang berasal dari jaman lawas terlihat berbeda dengan keluaran baru. Inilah yang menjadi daya tarik dalam mengoleksi syal Arema dari waktu ke waktu.
Anggota komunitas ini tidak hanya berasal dari Kota Malang saja. Terdapat Aremania yang berasal dari Gresik, Jakarta, Sidoarjo, Jember bahkan  Solo sampai Jogjakarta. Sudah terdapat kurang lebih 50 anggota yang bergabung dalam komunitas ini.
Malang Scarves Collectors Famiglia baru saja menggelar kegiatan menarik. Yakni menjemur ratusan syal Arema koleksi anggotanya  di Stadion Gajayana. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka  memperingati hari jadi yang pertama.
“Kita ‘jemur’ semua syal. Ini untuk menghormati loyalitas  seluruh supporter Arema dimanapun mereka berada. Hal ini juga sebagai bentuk simpati kami pada kejadian tidak mengenakan yang dilakukan oknum suporter saat konvoi beberapa waktu lalu,” ungkap Beny.
Ia menambahkan, mereka biasa saling bertukar pengalaman dengan Aremania lain. Hal itu pula yang menjadi salah satu faktor terbentuknya  komunitas ini. Tidak hanya mengumpulkan  berbagai koleksi syal Arema saja. Tapi  syal yang terkumpul kerap dilelang untuk disumbangkan dalam kegiatan sosial. (ica/van)

Merajut Kompak di Track Menantang


GENK Mancal Sepeda Community GMS (Community) menjadi salah satu alternatif mengatasi kejenuhan kerja. Di komunitas yang dibentuk tahun 2015 ini, para anggotanya merajut kekompakan, olahraga bersama  dan bermanfaat bagi sesama.
Komunitas yang beranggota sesama teman satu perusahaan ini berawal dari dua orang. Seiring waktu, anggotanya terus bertambah. Kini jumlah anggotanya sekitar 20 orang.  Sebulan sekali, mereka gowes bareng dengan jarak tempuh yang tak dekat. Tidak jarang pula mereka menantang dirinya sendiri untuk melewati berbagai medan yang sulit.

Gowes menuju Sumber Sirah, Sumber Maron, Kebun Teh Lawang dan Bendungan Karang Kates merupakan jalur yang pernah ditempuh. Selain itu Bedengan di kawasan Dieng yang tracknya paling offroad diantara track lain pernah dijajal.
"4 April kemarin kami baru saja menjelajah Coban Jahe. Tracknya sangat menantang dan menyenangkan,"  kata Ketua GMS Community, Ardya Permana kepada Malang Post, kemarin.
Aktivitas komunitas ini tak sekadar menyenangkan, tapi juga banyak manfaatnya. Selain untuk kesehatan juga sangat bagus untuk mempererat hubungan baik diantara mereka. Apalagi semua anggotanya berasal dari satu perusahaan yang sama. Sehingga mereka semakin kompak dalam segala hal. "Sepedanya juga bisa dipake buat berangkat juga kan, jadi multi fungsi," jelas dia.
Kini ada banyak kegiatan yang akan direalisasi oleh komunitas gowes ini. Diantaranya gowes sambil melakukan bakti sosial. Inisiatif ini muncul seiring dengan perbincangan dan juga pengalaman yang mereka dapat selama melewati beberapa track yang melewati banyak desa. Pertemuan dengan banyak masyarakat inilah yang akhirnya memantapkan mereka untuk menjadi komunitas yang lebih bermanfaat. Yakni dengan cara berbagi dengan sesama.
Sejak dibentuk hingga sekarang, GMS Community menyimpan banyak cerita lucu yang semakin mempererat relasi sesama anggota. Apalagi ketika menempuh medan yang tidak mudah dengan jarak sekitar 70 km sampai 83 km. Bagaimana tidak, karena sebagian besar dari mereka memang sama sekali tidak memiliki latar belakang sekitar gowes. Kekonyolan yang tidak sengaja dilakukan memang selalu mengundang gelak tawa disetiap track.
GMS Community tak menutup diri bagi masyarakat yang hendak bergabung. Jadi, selain dari kalangan teman satu tempat kerja, ia juga berharap bisa menarik banyak anggota baru dari kalangan yang berbeda. "Kedepannya sih saya harap anggota kami akan terus bertambah," katanya.
Kini ia dan anggotanya juga selalu belajar untuk berolahraga secara baik dan benar. Seperti melakukan pemanasan terlebih dahulu.  Selain itu mempelajari track yang hendak dilalui untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. (mg2/van).

Tambah Sahabat Baru


ELLA Wahyumurti merupakan satu-satunya cewek anggota GMS Community. Meskipun track yang dilalui sulit dan menantang, ia dapat menaklukannya dengan mudah. Menurut dia, banyak hal menarik yang selalu  didapat dalam setiap track yang dilalui. Contohnya bertemu dengan banyak komunitas gowes lain yang berasal dari berbagai tempat.

Jadi ada banyak teman baru yang didapat setiap kali melakukan perjalanan. Selain itu, keindahan alam di Malang Raya juga lebih dieksplor lagi.
"Nggak jarang juga teman-teman komunitas gowes lain mampir untuk sekadar ngopi. Jadi nambah deh saudaranya, seneng kan, gowesnya juga nggak kerasa jadinya" tambah Ella.
Department Head Marketing Giant Mall Olympic Garden ini memang terkenal sangat lincah. Karena itu tak heran  jika  ia memiliki ketertarikan besar untuk menjelajah sebuah daerah. Selain itu, kegemarannya melakukan hal-hal baru yang berbau positif sudah pasti menjadi hal utama bagi perempuan berhijab ini.
Menurut dia, berbagai model track yang dilalui selama ini selalu berhasil ditaklukkan. Tapi dibalik itu, Ella juga punya banyak cerita seru dan lucu yang dialami selama perjalanan. Diantaranya terjatuh di tempat yang berkubang. Dan hal ini selalu terjadi setiap kali ia bersama tim menjelajahi sebuah daerah dengan sepeda gunungnya itu.
"Nggak tahu deh kenapa saya kok selalu jatuh. Tapi untungnya temen-temen selalu sigap setiap kali srikandinya ini jatuh, hehehehe," ucapnya sembari diiringi tawa.
Disisi lain, Ardy, sang ketua komunitas menyebutkan bahwa kejadian yang menimpa satu-satunya anggota perempuan ini selalu mengundang tawa. Karena area tempatnya jatuh selalu ditempat yang menggelikan, seperti sawah dan kubangan lumpur. "Kurang tahu juga itu kenapa bu Ella sering banget jatuh," katanya sembari diiringi ketawa kecil. (mg2/van)

Pengetahuan Luas Hasilkan Foto Berkualitas


‘’Ngopi’’ Bareng Pewarta Foto Indonesia

SIAPAPUN memang bisa mengambil foto dan  siapapun bisa menjadi fotografer. Tetapi tidak semua yang masyarakat ketahui tentang seni menangkap cahaya yang ada dalam teori benar adanya ketika dipraktekan ke situasi sebenarnya. Terlebih dalam fotografi bernilai jurnalistik.

Hal tersebut disampaikan  fotografer senior Tjandra Moh. Amin  saat iskusi fotografi “Ngopi” bareng Pewarta Foto Indonesia (PFI) Malang yang diselenggarakan Minggu (27/3) di Café MUG Kota Malang.
 Dalam “Ngopi” bareng tersebut, Tjandra berbagi ilmu dan pengalaman menarik saat menjadi pewarta foto khususnya di bidang olahraga.“Kota Malang dengan Aremanya tentu saja menjadikan setiap momen fotografi di bidang olah raga menjadi sangat menarik, bahkan penting,” tutur pria yang pernah berkarier  di Tabloid Bola sejak tahun 1993 tersebut.
Ia kemudian menegaskan, ilmu teknis mengenai bagaimana mengambil momen yang pas, mengatur shutter speed, pengaturan sensitivitas cahaya (ISO/ASA) dan pengaturan diafragma dalam mengambil foto adalah hal-hal yang secara teori dapat dipelajari dan diterapkan tetapi tidak akan membawa seseorang pada sebuah kepuasaan berfotografi.
Penulis buku “The Colour of Sport” ini menjelaskan kunci utama menghasilkan sebuah foto yang berkualitas adalah dari pengetahuan yang luas dan kreativitas si pemegang kamera.
“Saya mulai mengetahui setelah sekian lama menjadi fotografer, segala teori dan teknis hanyalah pendukung saja. Yang utama adalah pengetahuan fotografer itu sendiri, sejauh mana ia mengetahui objek yang akan dia foto,” paparnya.
Ia kemudian mencontohkan salah satu koleksi hasil jepretan kameranya yang menunjukkan kompetisi Rally Sport Bike. Tjandra menerangkan seorang fotografer ketika dirinya memiliki pengetahuan tentang rally sepeda seperti teknik apa yang dipakai pengemudi sepeda saat kontur tanah landai ataupun tinggi, ia tidak akan mengetahui momen tepat si pesepeda mengambil loncatan yang indah untuk difoto.
Ataupun, ketika fotografer ingin mengambil momen petinju ketika melaku satu demi satu teknik pukulan. Jika fotografer  malas mempelajari objek fotonya (petinju,red), dirinya tidak akan tahu momen yang mana si petinju akan menghempaskan jurus pamungkas sehingga dapat menjadi momen foto yang sempurna.
“Yang terpenting adalah pengetahuan serta kreativitas. Pengetahuan yang luas akan menciptakan kreativitas yang dapat memberikan petunjuk di pengambil foto untuk menentukan di angle mana, momen apa ataupun situasi apa fotografer harus membidik momen,” pungkasnya.
Ketua PFI Malang, Hayu Yudha Prabowo, menjelaskan, kegiatan ini rutin dilakukan semata-mata sebagai wujud kepedulian pihaknya untuk meningkatkan perkembangan fotografi di Kota Malang.
“Kali ini memang kebetulan bang Tjandra mampir ke Malang sehingga jadi momen pas sekali untuk berbagi pengalaman dan ilmu mengenai fotografi sport. Menngingat Kota Malang memiliki perhatian khusus di bidang sepak bola maka sangat pas bagi fotografer di Kota Malang,” tandasnya. (sisca angelina/nug)

Pastikan Aman, Pelapak Wajib Miliki KTA


ROB, Komunitas Jualan Online

Di Kota Malang ada rombengan malam yang terkenal dengan sebutan Roma. Di Kota Batu punya Rombengan Online Batu (ROB). Kalau Roma di Malang ada di Jalan Gatot Subroto, tapi kalau ROB ada di dunia maya, khususnya di media sosial.
ROB  merupakan komunitas jual beli online yang dikelola arek-arek Batu. Sampai saat ini telah memiliki anggota lebih dari 42 ribu orang. Komunitas ini cukup eksis di dunia maya. Seperti situs online pada umumnya, para anggota ini menawarkan berbagai produk, mulai dari elektronik, gadget, peralatan rumah tangga, produk sport maupun makanan dan minuman. Karena berjualan di dunia maya, pembeli produk dari komunitas ini pun tidak hanya dari Malang Raya, tapi juga dari luar kota maupun luar negeri.
ROB berdiri sejak 13 Januari 2014 lalu. Ide mendirikan ROB ini sendiri dimulai dari Ghandi Aryo Kusumo. Awalnya Ghandi yang memiliki dagangan perlatan rumah tangga lebih dulu menjadi anggota komunitas Rombengan Online Malang (ROM). Setiap hari dia melihat perkembangan komunitas yang menaunginya itu. Mulai dari pedagang yang masuk dan menjual produknya, jenis produk yang diperjual belikan, hingga anggotanya.
Saat itulah Ghandi melihat, jika anggota dari ROM banyak arek Batu.
“Saat itulah tercetus ide untuk membuat komunitas ROB ini,’’ kata Ghandi.
Tidak sulit bagi Ghandi untuk membuat ROB. Dia hanya membutuhkan media Facebook sebagai sarana untuk bergabungya para anggota. Setelah akun Facebook ROB dibuat, dia mulai mencari anggota. Melalui akun Facebook pribadinya dia menawarkan kepada teman-temanya sesama pedagang untuk bergabung.  Hasilnya dalam waktu singkat, jumlah anggota yang masuk dalam komunitas ROB pun membludak. Banyak pedagang online bergabung dan menawarkan produknya di akun tersebut.
”Awalnya tidak ada kontrol sama sekali. Pedagang bisa menawarkan produk apa saja,’’ katanya.
Seiring waktu, dan banyaknya penipuan terjadi pada penjualan online, Ghandi pun mulai berpikir. Melalui akunnya, dia tidak ingin ada pembeli yang dirugikan. ”Karena tidak ada rekening bersama, potensi penipuan dalam jual beli online sangat besar. Dan kami tidak ingin penipuan itu terjadi di komunitas kita,’’ katanya.
Cukup lama Ghandi memikirkan hal ini. Hingga akhirnya, muncul ide untuk membuat Kartu Tanda Anggota (KTA). Ide tersebut kemudian ditawarkan. Sekalipun tidak semuanya kemudian mendaftarkan diri, dan memiliki KTA, tapi sebagian besar anggota dari komunitas ini memiliki KTA. Syarat membuat KTA pun mudah sebetulnya, anggota hanya mengirimkan fotokopi KTP dan foto saja.
”Kalau dia anggota dengan KTA, maka datanya ada sama kami, sehingga saat penjual ini melakukan penipuan, pengusutannya pun mudah’’ urainya.
Bukan itu saja, mengantisipasi ada penipuan oleh pedagang, dia juga ke akun Facebooknya, agar pembeli selali berhati-hati. Dan saat COD an, disarankan dilakukan di rumah penjual. .
”Membeli produk secara online saat ini menjadi trend. Banyak orang memanfaatkan internet untuk mendapatkan produk yang diinginkan. Melalui komunitas ini kami ingin memberikan kemudahan kepada pembeli untuk mendapatkan barang yang diinginkan,’’ katanya.(ira/aim)

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL