Malang Post

Komunitas


Dunia Tanpa Batas, Tak Sama Wilayah Pemerintahan

Share
SEJAK berdiri tahun 2009 lalu, HPI Malang langsung menunjukan eksistensinya melalui berbagai peran nyata. Himpunan ini mewadahi para pramuwisata yang ada di Malang Raya. Aktifitasnya tak hanya untuk para pramuwisata saja, tapi kalangan lain yang ikut andil memajukan dunia pariwisata.
Ketua HPI Malang, Mokhamad Anshory mengatakan, anggota HPI Cabang Malang saat ini sebanyak 35 orang. Mereka tercatat sebagai pramuwisata yang masih aktif menjalankan tugasnya.
Secara organisasi, HPI memiliki berbagai fungsi. Diantaranya menyatukan visi dan misi para anggotanya. Hal ini penting karena pariwisata adalah dunia tanpa batas.  Artinya tidak sama dengan wilayah pemerintahan. Antara daerah yang satu dengan yang lain saling berhubungan erat. Begitu pula dengan ruang lingkup dimana pramuwisata harus melakukan kegiatan, tentu tidak dapat mengikuti sepenuhnya batas area pemerintahan.”Inilah yang  menjadi dasar organisasi kami meliputi Malang Raya,” ujar Anshory.  
Keberadaan HPI juga untuk memperjuangkan kepentingan anggotanya. Saat ini, HPI Cabang  Malang merupakan satu-satunya organisasi profesi pramuwisata yang memiliki jaminan kesehatan dan kecelakaan kerja serta jaminan hari tua melalui program BPJS Ketenagakerjaan.
“Selain itu HPI  membina kerukunan para anggotanya dan meningkatkan soliditas sehingga terhindar dari persaingan yang tidak sehat,” ujarnya.
Hal ini kata Anshory sangat penting karena keharmonisan hubungan diantara anggota perlu dijaga sebagai salah satu syarat untuk menjaga profesionalitas anggota. “Serta memberikan kemudahan bagi para pengguna jasa pramuwisata, baik biro perjalanan wisata maupun para wisatawan yang menggunakan jasa pramuwisata secara langsung,” sambungnya.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia  berupa pembinaan anggota untuk meningkatkan profesinalisme pramuwisata juga dilakukan HPI.
Tak hanya untuk kepentingan anggotanya, HPI Cabang Malang turut berkiprah secara nyata dalam mengembangkan kepariwisataan di Malang Raya dan wilayah regional Jawa Timur. Apalagi saat ini keinginan berwisata semakin berkembang dan banyak hal yang tidak dapat diikuti oleh penyedia layanan wisata, terutama ketersediaan paket wisata yang sesuai.
Kondisi tersebut merupakan tantangan bagi HPI Malang. Kini HPI Malang juga telah melakukan eksplorasi untuk merintis route dan obyek baru sebaagi pilihan wisatawan. (van/feb)
comments

Mahir Empat Bahasa Asing

Share
DALAM menjalankan tugasnya, pramuwisata dituntut memiliki kemampuan berbahasa asing. Sebab mereka harus melayani wisatawan asing yang berwisata ke wilayah Malang Raya dan sekitarnya. Anggota HPI di Malang memiliki kemampuan berbahasa asing yang sangat lengkap, mulai Inggris, Belanda, Perancis, Jerman, Jepang dan Arab.
Penguasaan bahasa asing bukan sekadar prioritas namun elemen dasar dan prinsip yang dimiliki anggota HPI Malang. Karena itu peningkatan kapasitas penguasaan bahasa asing terus dilakukan. Tak hanya itu saja, pemahaman yang luas tentang dunia kepariwisataan  juga terus di up date.
Memiliki kemampuan berbahasa asing yang mumpuni, HPI juga berbagi kemampuannya itu. Apalagi wadah para pramuwisata ini memiliki trainer maupun pengajar bagi pelajar dan mahasiswa yang magang.
“Tujuannya untuk mengatasi kebutuhan tenaga dan  dalam rangka regenerasi, HPI DPC Malang telah banyak melakukan langkah  yaitu memberikan dan membina bagi para pelajar dan mahasiswa yang ingin menjadi pramuwisata,” papar Ketua HPI Malang, Mokhamad Anshory.
HPI Malang juga melakukan pendampingan terhadap masyarakat dalam rangka pengembangan ecotourism, desa wisata dan lainnya. Kegiatan  pendampingan terhadap pengembangan ecotourism telah berjalan sejak 2011  bekerjasama dengan ILO.
Adapun program ini telah berlangsung diwilayah ecotourism kawasan Bromo.  Hasil dari pendampingan diantaranya terciptanya pemberdayaan masyarakat Bromo  sebagai bagian dari industri wisata, homestay, local guide, tourist information,agrowisata dan lainnya.
Penguasaan perencanaan perjalanan wisata juga dimiliki anggota HPI Malang. Hal ini merupakan upaya untuk  memenuhi kebutuhan wisatawan yang tidak menggunakan  jasa paket wisata dari biro perjalanan wisata. Karena itu, seorang pramuwisata harus mampu memberikan advis kepada para tamunya. “Untuk itulah para anggota HPI dituntut untuk mampu membuat suatu perencanaan perjalanan,” papar Anshory.
Saat ini, anggota HPI Malangjuga memiliki pengalaman memadu wisatawan diberbagai bidang dan wilayah regional. Seperti purbakala,  ecotourism,  Agrowisata, wisata religi  dan jenis wisata lainnya. (van/feb)
comments

Tiket Mulai Rp 20 Ribu, Ada Kelas BOB

Share
SEMANGAT: Salah satu peserta Latpres di Gantangan Aksi Singo Edan semangat menaikkan burungnya di atas gantangan

Latpres Aksi Singo Edan Hari ini
MALANG - Aksi Enterprise kembali menggelar lomba burung. Bertajuk latihan prestasi (Latpres), lomba digelar di Gantangan Aksi Singo Edan, Sabtu (21/2) siang ini. Ketua panitia Latpres, Margono menguraikan latpres kali ini berbeda dengan latpres pada umumnya. Selain memberikan hadiah uang pembinaan, dan sertifikat pemenang juga akan mendapatkan tropi. "Kami juga menyediakan doorprize untuk peserta. Bukan itu saja, Latpres kali ini panitia juga membuka kelas Best of The Best (BOB) untuk Love Bird,’’ katanya.
Menurutnya, kelas BOB ini boleh diikuti oleh siapa saja. Untuk kelas BOB, ada persediaan hadiah yang berlimpah, yaitu uang pembinaan, piagam, tropi, sangkar burung dan anakan Love Bird.
Banyaknya hadiah diberikan menjadi salah satu alasan panitia untuk membuat lomba semakin meriah dan marak. Lebih-lebih di kelas ini, panitia juga membuka dengan biaya pendaftaran sangat murah yaitu Rp 50 ribu.
"Ini menjadi kesempatan para Love Bird mania untuk untuk gigi," tambahnya.
Sementara Latpres dibuka untuk semua jenis burung, mulai Kenari, Cendet, Cucak hijau, Murai Batu, Anis Merah dan lainnya. Panitia juga membuka kelas tambahan untuk jenis burung Prenjak, Cucak Jenggot, Tledekan  dan Konin baik yang import maupun lokal. Biaya pendaftaran, panitia membuka mulai dari Rp 20 ribu, Rp 30 ribu dan Rp 50 ribu.
"Start lomba mulai pukul 13.30 WIB, akan dibuka dengan kelas Kenari," urainya.
Margono menjelaskan Latpres merupakan kegiatan rutin yang digelar Aksi Enterprise satu bulan sekali. Kegiatan ini digelar untuk mencari bibit-bibit baru burung berkicau.
"Di gantangan ini diutamakan kompetisi, secara sehat. Burung yang terbaik itulah yang menjadi pemenangnya," tambahnya.
Enam juri terbaik pun bertugas untuk melakukan penilaian. Mereka akan menilai dengan teliti burung yang 'bekerja' saat naik di gantangan. Tentu saja, ngoceh menjadi penilaian utama saat lomba. "Kalaupun ada burung bagus, tapi tidak 'bekerja' kita pun harus profesional. Karena penilaian dilakukan saat burung naik gantangan," urainya.
Dia juga menegaskan panitia mendukung sportivitas dalam lomba. Seluruh keputusan adalah hak panitia yang tidak bisa diganggu gugat. "Jangan kawatir burung pemula juga ada kelasnya. Jadi untuk kicau mania yang punya burung masih pemula, monggo merapat, kita ramaikan gantangan. Kita ada sebagai wadah pecinta burung. Bagi yang tidak punya burung boleh juga datang untuk meramaikan. Yang jelas, Latpres di Gantangan Aksi Singo Edan tidak sekedar lomba, tapi sekaligus menjadi ajang berkumpul para kicau mania untuk merekatkan tali silaturrahmi,"  tandasnya. (ira/feb)

Isi Liburan Imlek Dengan Latpres
MALANG - Libur tahun baru imlek 2566, Kamis (19/2)  dimanfaatkan panitia New Angkasa BC untuk menggelar lomba. Bertempat di area Lanud Abd Saleh, panitia menggelar Latihan Prestasi (Latpres). Alhasil tidak hanya membludak, lomba yang di adakan mulai pukul 10.30 WIB ini pun meriah.
Panitia yang sengaja menggelar Latpres saat hari libur ini banyak membagikan doorprize kepada para peserta. Andik salah satu panitia lomba menjelaskan, Latpres merupakan even yang ditunggu para kicau mania. Karena event ini peserta tidak sekedar datang untuk unjuk gigi, tapi juga reuni sesama pecinta burung.
"Latpres di New Angkasa BC ini seperti lomba besar. Jadi pesertanya tidak sekedar dari Malang Raya tapi juga banyak yang dari luar kota," katanya.
Bukan itu saja, Andik juga mengatakan New Angkasa BC selalu jadi jujugan para kicaumania. Bahkan bisa dikatakan gantangan ini menjadi barometer para kicaumania. "Kami menjadi barometer para kicaumania karena kami selalu menjunjung tinggi sportivitas. Dalam lomba selalu ada yang menang dan kalah, ini wajib dimengerti peserta," urai Andik yang mengatakan keputusan juri dalam lomba tidak bisa diubah.
"Pernah ada peserta yang protes. Protes boleh tapi tidak menggugurkan keputusan, alias protes tersebut hanya menjadi catatan saja," katanya.
Disinggung soal Latpres kemarin, Andik pun mengatakan dimulai pukul 10.30 WIB dibuka dengan kelas Love Bird. Kelas perdana itu cukup sukses. Terbukti peserta yang ikut kelas ini hampir memenuhi gantangan. Selama 15 menit Love Bird milik peserta berkicau di gantangan. Tim juri yang berjumlah enak orang inipun dengan teliti melakukan penilaian.
Setelah kelas Love Bird, panitia membuka kelas kenari. Seperti yang pertama, di kelas ini peserta juga hampir memenuhi gantangan.
"Selain Love Bird dan Kenari, ada kelas Kacamata, Anis Kemban dan Anis Merah," katanya.
latpres dibuka dengan biaya pendaftaran Rp 50 ribu,  Rp 30 ribu dan Rp 20 ribu. Panitia juga membuka kelas Best Of The Best untuk Love Bird. Kelas ini panita memberikan tropi untuk pemenang 1-3. "Khusus kelas Kaca Mata kami mrmberikan sangkar untuk pemenang. Intinya lomba yang kami gelar ini sangat luar biasa," tandas Andik.
Sementata salah satu peserta Latpres, Boby mengatakan jika Latpres di Gantangan New Angkasa BC berbeda dengan Lstpres pada umumnya. "Saya sengaja datang dari Pasuruan untuk ikut andil dalam lomba. Disini enak, selain gantangannya luas, area parkirnya juga representatif," tandas peserta dari Sidoarjo ini. (ira/feb)

Awalnya Iseng, Lalu Jatuh Cinta
MALANG - Hobi memelihara burung dimulai Melodik sejak usianya belasan tahun. Awalnya dia hanya ingin mencari kesibukan di tengah-tengah menempuh pendidikan. Namun begitu, yang semula merawat burung hanya sekedar iseng keterusan menjadi jatuh cinta.
"Suara burung saat pagi hari membuat saya lebih damai," kata Melodik dengan tersenyum. Alhasil,  warga Jalan Bareng Tenes Gg IV inipun tidak ingin setengah-setengah, dengan tekad dan modal seadanya, Melodik pun terjun menjadi peternak burung.
Live Bird menjadi pilihannya beternak burung. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, selain mudah merawat, bentuk burung jenis Love Bird ini lucu dan unik. "Merawatnya lebih mudah, jadi tidak kuatir jika kemudian ditinggal," kata pria yang mengaku juga hobi traveling ini.
Dengan sangat ulet, Melodik merawat satu persatu burung peliharaannya. Hasilnya burung-burung kecil ini jadi burung yang mampu berkicau panjang. Tentu saja Melodik sangat senang. Karena jerih payahnya membuahkan hasil.
"Tadinya saya tidak ingin berjualan, dan ingin merawat sendiri burunh-burung ini. Tapi kan burung ini terus berkembang, dan jumlahnya tambah banyak, sehingga mau tidak mau ya dijual juga," katanya.
Tapi begitu tidak semua burung itu dijual, beberapa dipelihara sendiri oleh Melodik. Salah satunya adalah Ezmeralda. Burung dengan bulu mayoritas berwarna hijau ini dirawat Melodik sejak bayi. "Saya sendiri yang memberi makan, dan merawat sejak bayi. Jadi ya bisa dikatakan saya sangat sayang dengannya," urainya.
Hingga enam bulan kemudian, saat Ezmeralda mulai menunjukkan keahlian ngocehnya, Melodik pun membawanya ke gantangan. Naik gantangan menurut Melodik salah satunya untuk melatih mental. Tapi tidak disangka di lomba pertama yang diikuti, Ezmeralda justru menunjukkan prestasi yang menakjubkan. "Tentu saja saya bahagia, karena hasil kerja keras saya tidak sia-sia selama ini," katanya.
Prestasi Ezmeralda pun kian melambung. Hampir setiap kelas baik Latber maupun Latpres yang diikuti, burung kecilnya ini menunjukkan prestasi.
"Sekarang harga Love Bird stabil, antara Rp 150 -Rp 300 rb. Usaha ini menjadi sampingan saya. Lumayan hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," katanya. Lalu bagaiamana dengan Ezmeralda?
Melodik langsung menggelengkan kepala. Khusus burung satu itu, Melodik enggan menyebutkan harganya. Alasannya jelas, dia tidak ingin menjual burung kesayangannya itu. "Belum lah, saya masih ingin merawatnya," tandasnya. (ira/feb)
comments

Anggota Wajib Pintar Utak-atik Motor

Share
MALANG – Verza Motor Club (VMC) resmi berdiri pada 5 Oktober 2013. Hal itu ditandai dengan deklarasi yang dilakukan oleh anggota, dan berlanjut pada kegiatan bersama seperti kumpul akhir pekan, kunjungan hingga touring.

Sejatinya, beberapa anggota VMC sudah berkumpul jauh sebelum 5 Oktober 2013. Menurut pengakuan Taufik, Humas VMC, pertemuan kecil diawali pada Juni 2013 lalu.
“Awalnya yang bergabung baru 10 anggota saja. Kami bertemu karena memiliki wilayah yang sama, yakni di Malang Raya,” ujarnya.

Menurut dia, awalnya 10 anggota pertama itu bertemu di Facebook. Tepatnya di Fanpage VMC se Indonesia. “Lalu ada yang memposting mengenai asalnya di Malang, dan berlanjut ke komen dari anggota lain, akhirnya kami berkumpul,” beber dia kepada Malang Post.

Setelah deklarasi di bulan Oktober, anggota terus bertambah. Update terbaru di akhir 2014 lalu, anggota resmi sudah mencapai 32 orang. Bila ditambah dengan yang tidak resmi, bisa lebih dari itu karena masih ada beberapa yang belum mempunya Kartu Tanda Anggota (KTA).

“Yang resmi sudah memiliki KTA. Ada beberapa anggota baru yang masih belajar untuk bergabung dengan VMC ini,” urai dia.

Menurut dia, VMC tidak dengan mudah menerima anggota baru. Tidak sekadar mereka yang memiliki tunggangan Verza saja, namun harus melalui beberapa tahapan tes yang sudah ditentukan.

Namun, jangan keburu berpikir bila tes yang dilakukan memberatkan calon anggota. Tidak ada tes tulis dan juga perpeloncoan. “Tetapi anggota baru harus didiklat. Metodenya fun kok, kalau dia anak motor pasti gampang,” imbuh Taufik.

Menurut pria ramah ini, ketika diklat calon anggota akan diberikan tes mengutak-atik motor. Tujuannya, sang anggota bisa mandiri ketika sudah menjadi anggota. “Selain games seru, tes utamanya servis motornya. Setelah kami protoli, harus dikembalikan lagi. Itu saja paling yang susah,” jelasnya.

Dia berharap anggota dari VMC bisa pintar, bagi dirinya sendiri dan orang lain. Sehingga, ketika menemukan pengendara motor sport lain pun, mereka bisa saling tolong menolong bila ada permasalahan motor di jalan. (ley/oci)


Touring ke Pantai hingga Pegunungan
Beberapa destinasi touring sudah dijalani oleh anggota VMC. Tujuan perjalanan meliputi aneka pantai di Malang Selatan, hingga tempat pegunungan seperti di Bromo. Selain itu, bisa juga hingga luar Kota Malang seperti ke Bali.

Destinasi pantai seakan menjadi primadona bagi anggota. Hal ini bisa dibuktikan dengan area touring yang sebagian besar merupakan pantai di kawasan Malang Selatan. “Mulai dari Ngliyep, Kondang Merak, Ngantep, Banyu Anjlok hingga Tambak Asri,” ujar Humas VMC Malang, Taufik Hidayat.

Menurut dia, area pantai di Malang Selatan memang menggoda untuk dijelajahi. Hal itu ditunjang pula dengan banyaknya lokasi yang bisa dipilih. “Pantainya seperti tidak habis-habis. Pantas pula bila disebut sebagai kabupaten dengan 1000 pantai,” urainya.

Pria yang mendapat sebutan Topik ini mengakui, touring dijadwalkan paling cepat satu bulan sekali. Apalagi, bila rute perjalanan jauh, persiapan telah dilakukan sejak tiga bulan sebelumnya. “Biar anggota siap amunisi. Mulai dari fisik sampai dana,” jelas Topik.

Dia menjelaskan, destinasi touring selanjutnya yakni Gunung Bromo. Ketika touring ke Bromo, diakui oleh Taufik ternyata berbarengan dengan anak Vespa. “Bosan dengan pantai, kami refresh ke gunung,” tambah dia.

Selain itu, beberapa anggota VMC sudah pernah pergi ke Bali untuk mengikuti acara nasional dari AVIC (Asosiasi Verza Independen Club).

Sementara itu, dia mengakui, bila selain touring VMC juga tidak melupakan kunjungan ke rumah anggota. Apalagi, bila anggota yang dituju sedang ada acara atau terkena musibah. Hal ini dilakukan agar jalinan komunitas ini bisa makin erat layaknya keluarga. (ley/oci)

 
comments

Jalin Keakraban Tiap Akhir Pekan di Jalan Ijen

Share
MALANG – Di Malang Raya, komunitas otomotif, baik dari otomotif roda dua maupun roda empat sangat marak. Salah satunya adalah club pecinta motor Verza yang tergabung dalam Verza Motor Club (VMC). Anggotanya berasal dari Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu yang merupakan para pecinta motor sport merk Verza. VMC merupakan sekumpulan anak muda yang memiliki hobi sama, yakni tertarik dengan motor sport Honda Verza.
“Honda memiliki beragam tipe motor sport. Ada CBR, CB150 R dan Verza,” ujar Humas VMC, Taufik Hidayat.
Dia menjelaskan, hobi yang sama ini disebabkan pula karena tunggangan mereka yang sama pula. Tak pelak, antara satu anggota dengan anggota lain pun memiliki keseragaman kegemaran untuk jenis motor dan ketika mereka berkumpul, seperti keluarga sendiri.
“Kami akrab antar satu dengan yang lainnya dan sudah seperti keluarga. Sebagai bukti kami memiliki sapaan akrab untuk anggota,” beber dia kepada Malang Post.
Untuk lebih mengakrabkan anggota, VMC memiliki sebutan akrab. Ada anggota yang dipanggil Sukri, Pakde hingga Ebor. Nama panggilan itu disesuaikan dengan kebiasaan, cara termudah memanggil hingga hobi dari anggota.
Kegiatan rutin yang dilakukan oleh VMC selain membicarakan motor Verza, juga kumpul bareng setiap akhir pekan, touring hingga kunjungan ke anggota. Menurut Taufik, mereka memiliki tempat berkumpul utama di seputaran Jalan Ijen.
“Kami biasa berkumpul di sisi selatan kawasan Jalan Ijen, tepatnya di depan rumah No. 5,” tegas dia.
Menurutnya, berkumpul bersama teman seminggu sekali ini sekaligus dimanfaatkan untuk santai bersama setelah aktivitas pekerjaan dari masing-masing anggota. Sehingga, begitu berkumpul dengan anggota VMC, mereka bisa merasa fresh dengan obrolan santai yang baru maupun obrolan ringan mengenai hobi.
“Tetapi juga terkadang obrolan serius, seperti persiapan touring atau kunjungan ke rumah anggota. Kami bicarakan saat kumpul, dan kadang berlanjut via WhatsApp,” imbuh Taufik. (ley/oci)
comments

Page 1 of 10

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »