Malang Post

Komunitas

Direkat Semangat Peduli Ngalam

Share
ANGGOTANYA beragama tanpa memandang suku, agama dan ras (SARA). Tak pernah ada perbedaan karena usia dan pekerjaan. Kendati beragam, semangat kepedulian untuk Malang menjadi perekatnya. Itulah Komunitas Peduli Malang (Asli Malang).
Secara usia, Asli Malang memang baru setahun lebih. Namun kiprahnya tak diragukan. Kini debut aktivitas Asli Malang mulai mewarnai dengan berbagai kepedulian yang diwujudkan secara nyata.
Secara dejure, Asli Malang dibentuk 15 Juni 2014. Namun secara defacto, komunitas ini sudah dibentuk sejak tahun lalu. Mengingat aktivitasnya sudah dimulai sejak tahun lalu.
“Asli Malang memiliki visi, misi, AD dan ART. Komunitas ini merupakan organisasi non profit,” jelas penasehat Asli Malang, JA Bayu Wijaya.
Tujuan Asli Malang yakni berperan aktif menggali aspirasi serta mendorong partisipasi aktif masyarakat demi kemajuan Kota Malang  dan Malang Raya pada umumnya. Selain itu, ikut serta memberdayakan potensi sumber daya yang ada di masyarakat yang kemudian secara kreatif dan profesional dapat membantu mengatasi beberapa permasalahan yang dihadapi masyarakat maupun pemerintah daerah.
”Tujuan lainnya yakni mempererat persatuan, semangat gotong royong dan kebersamaan anggota dan masyarakat Malang,” kata Bayu.
Dengan semboyan ‘Ngalam Bagian Dari Peduli ku’, Asli Malang menunjukan komitmen kepeduliannya secara nyata. Komunitas ini bersinergi dengan berbagai elemen yang ada di Malang. Diantaranya Gerakan Nasional Anti Miras (Genam), Gerakan Rakyat Anti Korupsi, Komunitas Arek Kepanjen dan berbagai elemen lain.
“Kegiatan Asli Malang bersifat sosial, memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang sifatnya pemberdayaan masyarakat tanpa menggantungkan pada APBD. Disini pula pemerintah, swasta dan masyarakat bersinergi,” kata Bayu.
Wahyu Eko Setiawan yang juga penasehat Asli Malang menjelaskan, nama komunitas ini memiliki filosofi tersendiri. Artinya kata Wahyu, anggotanya tak hanya terbatas pada mereka yang lahir di Malang.
“Filosofinya orang-orang yang peduli Malang. Baik yang lahir di Malang, pernah kerja di Malang atau pun pernah kuliah di Malang. Yang penting, semangat dan jiwa Malang yang dimiliki,” kata Wahyu.
Ia kembali menegaskan bahwa Asli Malang merupakan komunitas yang bertujuan untuk membangkitan rasa kepedulian terhadap Malang. Semangat kepedulian sekaligus menjadi perekat komunitas.
Bukan sekadar komunitas, Asli Malang sangat memperhatikan mekanisme pengorganisasiannya. Salah satu buktinya, komunitas ini baru saja menggelar musyawarah anggota pada Minggu (16/11) lalu. Berbagai agenda dan gagasan penting dibahas tuntas dalam musyawarah anggota. (van/oci)



Anggota Tersebar Hingga Luar Negeri
KOMUNITAS Asli Malang memiliki anggota aktif dan anggota pasif. Jumlah anggota aktifnya sebanyak 100 orang. Sedangkan anggota pasif mencapai 3.225 orang. Mereka  tersebar di berbagai wilayah di Indonesia hingga luar negeri dan datang dari latar belakang yang beragam.
“Disebut anggota aktif karena terlibat aktif dalam kegiatan Asli Malang dan juga secara fisik pernah terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan,” jelas Ketua Asli Malang, Dodi Wahyu Ashari.
Sedangkan anggota pasif, kata Dodi merupakan mereka yang selalu memberikan dukungan, gagasan hingga dukungan material untuk aktifivitas komunitas.
Anggota Asli Malang tersebar di Malang, Surabaya, Jakarta, Denpasar, Makassar, Samarinda, Yogyakarta, Palembang dan Medan. Selain itu juga terdapat di luar negeri seperti di Mesir, Jepang, Australia, Malaysia, Arab Saudi, Hongkong dan berbagai kawasan lain.
Di Mesir contohnya, terdapat Amal Saber. Ia pernah kuliah di IKIP Budi Utomo. Setelah kembali ke negerinya, Amal Saber merindukan Malang. Ia selalu menjalin komunikasi dan memberi dukungan berupa gagasannya.
Selain itu terdapat TKW asal Kepanjen yang sangat konsen pada Asli Malang. Ia selalu memberi dukungannya.
“Anggota komunitas ini beragam. Mulai dari juru parkir, sopir, hingga akademisi, praktisi hukum, pebisnis, birokrat dan berbagai latar belakang. Disini juga terdapat guru besar dari beberapa perguruan tinggi,” tambah penasehat Asli Malang, Achmad Haryono.
Tak hanya itu saja, terdapat pula aktivis partai politik di Asli Malang. Namun sejak awal disepakati, embel-embel politik praktis tak boleh dibawa ke komunitas. Kendati berbeda pilihan politik, mereka menyatu di Asli Malang.
“Komunitas ini heterogen, tapi kami punya perekat. Ya peduli Malang itu yang menjadi perekat kami,” kata Wahyu.
Menarik lagi, ketika berada dibawah wadah Asli Malang, mereka bagai saudara yang memiliki komitmen yang sama. Hari-harinya diisi dengan urun rembug gagasan untuk Malang sebagai bentuk kepedulian. (van/oci)


Gagas Ikon Wisata Baru
Sejumlah kegiatan sudah diwujudkan Asli Malang. Namun mereka masih punya sederet gagasan brilian. Berbagai cara dilakukan secara swadaya dan saling bersinergi untuk Malang.
Sederet kegiatan yang sudah dilakukan diantaranya penghijauan, aksi cabut paku pohon, dan santunan kepada anak yatim piatu. Selain itu menyumbang buku untuk perpustakaan dan memikirkan konsep pemberdayaan ekonomi serta peluang kerja.
Gagasan-gagasan brilian juga sudah dihasilkan oleh Asli Malang. Salah satunya cita-cita mewujudkan bumi perkemahan (buper) Hamid Rusdi di Wonokoyo, Kecamatan Kedungkandang.
“Cita-citanya yakni menjadikan bumi perkemahan Hamid Rusdi sebagai ikon pariwisata edukasi internasional. Desainnya sudah diserahkan ke Bapeda,” kata Wahyu Eko Setiawan.
Gagasan ini strategis. Sebab saat ini Kota Malang hanya sebagai tujuan transit wisatawan. Padahal seharusnya bisa dijadikan sebagai kota tujuan wisata. Salah satunya dengan bumi perkemahan Hamid Rusdi diwujudkan menjadi ikon pariwisata edukasi internasional.
Selain itu menyiapkan program sejuta biopori. Program ini sangat penting bagi Asli Malang. Sebab membantu masyarakat secara nyata mengatasi persoalan banjir yang sering terjadi di Malang.
Mereka juga memiliki gagasan kampung sablon. Gagasan ini untuk memberdayakan masyarakat, terutama  perekonomian usaha sablon. Disisi lain juga memudahkan masyarakat untuk urusan sablon.
Padat aktivitas dan gagasan, Asli Malang punya cara tersendiri untuk merealisasinya. Untuk urusan pendanaan, didukung oleh tokoh asal Malang yang bekerja di luar Malang. Mereka biasanya memberi tantangan kepada pengurus dan anggota Asli Malang. Lalu memberi dukungan pendanaan.
Selain itu mereka juga memiliki tradisi urunan. Istilah khas di Asli Malang yakni topi terbang. Setiap kali ada pertemuan, mereka mengedarkan topi lalu memberi sumbangan secara sukarela.
“Semua penggunaan uang di komunitas ini dilaporkan secara terbuka. Transparansi merupakan salah satu prinsip utama di Asli Malang,” katanya. (van/oci)
comments

Bahagiakan Orang Lain Lewat Multimedia Secara Sukarela

Share
MALANG – Multimedia tidak sekedar menjadi hiburan semata. Terkadang, dengan perkembangan teknologi seperti saat ini, multimedia bisa digunakan sebagai sarana penghibur orang lain. Seperti apa yang dilakukan sejumlah mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya (UB) yang tergabung dalam komunitas Reflub.
Komunitas yang menyatakan diri sebagai komunitas kreatif ini, giat melakukan kegiatan-kegiatan kreatif, memanfaatkan kemampuan seni multimedia mereka, untuk membantu seseorang membahagiakan orang terdekatnya. Menariknya, hal tersebut dilakukan dengan sukarela.
"Visi kami membahagiakan orang lain sesuai spesialisasi kami di bidang multimedia," ujar salah scriptwriter Reflub, Rizkia Nur Jannah. Wanita asal Lamongan ini mengatakan, membuat orang lain bahagia, membuat dirinya turut berbahagia.
Bentuk bantuan mereka beragam, biasanya dilakukan dengan hal-hal kecil, seperti ucapan selamat ulang tahun, anniversary, menyatakan perasaan cinta kepada lawan jenis dan sebagainya. Hal tersebut, mereka lakukan dengan mempersembahkan sesuatu berbentuk multimedia, seperti audio, foto, poster, video, dan lain-lain.
Sudah lebih dari 25 karya yang mereka berikan kepada orang lain di usia yang baru genap satu tahun itu. Karya tersebut, mereka sediakan untuk setiap orang yang meminta bantuan mereka sebagai persembahan kepada orang lain. Misinya satu, produk mereka benar-benar bisa membuat orang tersebut senang.
Dengan misi itu, otomatis mereka harus berpikir keras menciptakan sebuah ide baru yang belum pernah terpikirkan orang lain. Atau barangkali, perlu upaya lebih keras yang akhirnya membuat orang lain merasa dihargai. "Saat harus menciptakan sebuah konsep, kita biasanya kumpul dan diskusi, konsep apa yang akan kita buat," jelas Kiki, panggilan akrab Rizkia Nur Jannah.
Di saat berkumpul itulah tantangannya. Pendapat satu anggota dengan anggota lainnya tidak selalu sama. Tidak jarang perdebatan terjadi di antara mereka. Kenyataannya, komunitas ini berhasil memformulasikan perbedaan ini menjadi sebuah kreatifitas. (erz/feb)


Bermula dari Keinginan Membahagiakan Teman
MALANG – Komunitas Reflub ini terbentuk hanya dengan alasan yang simpel, yakni membahagiakan teman. Sekitar dua tahun lalu, seorang teman mereka berulang tahun. Saat itu, ada keinginan untuk membuat kado Ultah yang spesial untuknya. Tentu, dengan sesuatu yang berbeda daripada biasanya.
Terlintaslah ide agar seolah menghadirkan orang spesial dalam hidupnya, tapi berada di lokasi yang jauh. Untuk diketahui, temannya berada di Kota Malang, sementara orang spesial yang dimaksud berada di Solo. Di sini, butuh upaya keras melakukannya.
Meluncurlah para anggota komunitas ini ke Solo. Disana, satu per satu orang spesial yang dimaksud ditemui, diajak untuk mengucapkan selamat ulang tahun, kemudian suaranya direkam. Rekaman tersebut dikemas dengan menarik, kemudian diberikan ke teman yang berulang tahun.
Saat itu, mustahil sekali orang dekat yang dimaksud mengucapkan langsung selamat ultah kepada si teman. Orang spesial tersebut adalah nenek, guru SMA, dan adik perempuan. "Mereka sudah lama tidak bertemu dengan teman kami. Jadi, kami hadirkan dia di dekatnya dengan membawa rekaman ucapan selamat Ultah untuknya," jelas founder Reflub, Arry Eka Setiawan.
Arry, panggilan akrabnya, menyatakan saat itu temannya terlihat sangat bahagia. Mendengar suara orang-orang terdekat tersebut, merupakan keinginan besar bagi dia, apalagi di hari ulang tahunnya.
"Saat melihatnya bahagia, kami pun ikut terharu. Apalagi dengan proses panjang untuk membuat karya tersebut, ada sebuah kepuasan melihatnya," jelas Ary. Mahasiswa semester 7 ini berkata, kepuasan atas sebuah persembahan tersebut ingin mereka ulangi.
Disepakatilah sebuah komitmen untuk melanjutkan kesenangan tersebut. Saat komitmen dibentuk, jadilah Reflub, komunitas kreatif bervisi mulia.  
Lingkaran pertama, hanya di lingkungan teman-temannya. Seiring berjalannya waktu, lingkaran pun semakin luas. Keberadaan Reflub di tengah pemuda, mahasiswa umumnya, semakin terlihat. Sampai sekarang, ada saja yang meminta bantuan komunitas ini. "Kami terbuka untuk siapa saja, apapun permintaannya, kami akan terima," tegas tim scriptwriter Reflub, Rizika Nur Jannah. (erz/feb)

Mereka Dulunya Bukan Pujangga
Saat pertama kali berdiri, Reflub bernama Bukan Pujangga. Nama tersebut diambil karena kelompok awal mereka terdiri dari orang-orang yang biasa-biasa saja dan tidak ingin menjadi siapa-siapa. Bukan karena tidak punya cita-cita, melainkan karena mereka merasa diri mereka bukan pujangga. Tapi, mereka adalah mereka.
Bukan Pujangga, berdiri pada November 2012. Saat itulah mulai banyak orang-orang tertarik untuk masuk ke komunitas ini. Meski akhirnya, tidak semua bisa bertahan sampai sekarang. Di awal terbentuknya komunitas ini, mereka hanya bergerak di bidang audio saja.
Hari demi hari berlalu, mereka pun merasa ada kekurangan dengan produk audio saja. Di sinilah potensi-potensi anggota lainnya muncul. Dirabalah bidang-bidang spesifik seperti videografis, fotografi, film series, organizer, desainer, dan sebagainya. "Pada akhirnya semua memutuskan untuk berpindah haluan menjadi komunitas kreatif," jelas ketua komunitas, Rachmad Dhyas Septianto.
Seiring dengan perpindahan haluan, berbagai perbaikkan pun dilakukan. Komunitas yang dulunya tak memiliki struktur kepengurusan, sekarang dibagi menjadi empat divisi dan masing-masing memiliki tupoksi. Dulu kerjanya semrawut, sekarang jadi lebih terstruktur. Dulu tidak terkenal, sekarang tak ada yang tak mengenal.
"Perubahan-perubahan menuju lebih baik diperlukan. Perubahan tersebut, membawa kami  jadi lebih dewasa," jelas Dhyas, panggilan akrab Rachmad Dhyas Septianto. Perubahan paling terasa bagi mereka, adalah saat dirubahnya sistem kerja sesuai dengan tupoksi divisi. Mereka butuh adaptasi untuk itu.
Awalnya sulit, tegas Dhyas, tapi lama-lama bisa juga. Pria berkacamata ini berkata, sekarang dia dan teman-temannya sudah terbiasa dengan sistem kerja kelompoknya. "Tentunya, perubahan pasti masih menanti, tapi saya harap bisa membawa kami jadi lebih dewasa," pungkasnya. (erz/feb)

Jadi Terkenal dan Banyak Panggilan
MALANG – Terkejut pula mereka ketika pada akhirnya apa yang dilakukan selama ini secara sukarela membuahkan hasil melimpah. Reflub sempat beberapa kali dipanggil perusahaan, maupun instansi lain, untuk menjadi tim kreatif di dalam kegiatan milik instansi tersebut.
Misalnya saja, Perum Jasa Tirta I, tiba-tiba memilih Reflub dan meminta tolong mereka membuatkan company profile. "Saat itu sangat senang, karena biasanya kami bekerja sukarela dan tidak menyangka akan kejadian," jelas ketua ketua komunitas, Rachmad Dhyas Septianto.
Ditambahkan, tidak hanya Perum Jasa Tirta, pihaknya pernah dipilih menjadi tim desain acara besar oleh SMAN 8 Kota Malang, mengundang grub band nasional, Lyla. Dan sekarang, timnya sedang menggarap Lustrum Ilmu Komunikasi UB.
"Untuk proyek-proyek seperti ini, tentunya kami mendapat profit," tambah pria bertubuh tambut ini. Kendati demikian, bukan berarti mereka akan berhenti bekerja membahagiakan orang lain. Sampai sekarang pun, pihaknya masih terbuka bila ada seseorang yang butuh bantuan komunitas tersebut.
Senada, tim scriptwriter komunitas, Rizkia Nur Jannah, menyatakan kalau siapapun bisa meminta tolong kepada Reflub. "Kami akan berusaha sesuai dengan kapasitas kami, Tentunya, kami lakukan sukarela karena tujuan kami membahagiakan orang lain," tandasnya.
Dia berharap, ke depannya terus ada orang-orang baru masuk ke dalam komunitas tersebut agar suasana lebih hidup dan ide baru terus bermunculan. Di sisi lain, tidak dipungkiri kalau suatu hari dia dan teman-temannya akan menjadi dewasa. "Sangat bersyukur, pengalaman saya di komunitas ini pasti akan membantu masuk ke dunia professional," jelas wanita asal Lamongan itu. (erz/feb)
comments

Latber ASF diikuti 250 Pleci dan Love Bird

Share
MERIAH : Latber di Gantangan ASF selalu dipadati kicaumania dari berbagai daerah

MALANG - Latihan bersama (Latber) burung berkicau kembali digelar pihak Arema Single Fighter (ASF). Bertempat di gantangan Karanglo, latber diikuti oleh sedikitnya 250 burung jenis  Pleci dan Love Bird. Ya, seperti latber-latber sebelumnya pihak ASF hanys menggelar lomba kecil ini dengan dua jenis burung yakni Pleci dan Love Bird.
"Masing-masinh kami buka empat kelas, yakni kelas A-D," kata Sapril salah satu panitia Latber, Kamis (6/11) lalu. Kendati hanya membuka untuk dua jenis burung, tapi kenyataannya kegiatan rutin ini banyak diikuti. Ini terbukti, masing-masing kelas diikuti dengan gantangan hampir penuh. "Kecuali kategori Pleci kelas D yang diikuti oleh tujuh peserta, kelas lainnya cukup diminati, rata-rata memenuhi gantangan," tambahnya.
Latber dimuklmai pukul 15.00 tersebut ditandai dengan Pleci kelas A gantangan. Kelas perdana ini diikuti oleh 28 burung.  Seperti di gantangan lainnya, awal lomba inipun sangat riuh oleh para pemilik burung. Mereka tidak sekedar tepuk tangan, bersiul atau memanggil. Tapi juga berteriak-teriak. Konon katanya, teriakan tersebut adalah kode agar sang burung mau berkicau terus menerus dan panjang.
Usai Pleci Kelas A, lomba ke dua dilanjutkan dengan Love Bird Kelas A. Seperti yang bertama lomba dengan 43 peserta ini cukup semarak, lantaran pemilik yang  heboh memberikan semangat pada burungnya.
"Sekali naik gantangan waktunya 10-15 menit. Dengan begitu juri akan betul-betul melihat, burung yang ngoceh terus menerus mana burung yang pasif," urainya.
Sementara untuk juaranya, Pendi pun memberikan jempol pada Marshanda. Burung jenis Pleci milik Ryan, Sukun ini nyeri dua kali yakni kelas A dan Kelas B. "Suaranya bagus, ngerolnya panjanh-panjang," katanya. Namun begitu di kelas C dan D Marshanda justru KO. Burung ini seperti kehabisan suara. Ya wajar karena saat pertama dan kedua kicaunya betul-betul merdu dan panjang.
Semntara untuk Love Bird, tidak ada burung yang berhasil nyeri. Di kelas A burung yang berhasil menapaki juara satu adalah Agrobromo. Burung milik Arif Affandi warga Tegalgondo, Karang Ploso ini mampu ngekek panjang. Sedangkan kelas B tim juri
Memilih Ukasha sebagai juara pertama, sedangkan dimenangkan oleh burunh bernama Tongsis, dan krlas D dimenangkan oleh Annabelle. "Sementara ini kami masih menggelar rutib satu kali seminggu, yakni di hari Kamis. Tapi ke depan, kami akan menggelar dua kali seminggu, untuk harinya masih belum tahu," tandas Pendi, yang mengatakan latber ini bukan sekedar lomba, tapi sekaligus menjadi ajang silahturahmi.(vik/feb)


IRA RAVIKA/MALANG POST
BURUNG: Pemenang latber MRT Denpom BC bangga memamerkan burung serta piagam yang diperolehnya.
Gratis Untuk Cucak Hijau//judul
MALANG - Latber rutin kembali digelar di gantangan Denpom BC, Rabu (6/11) lalu. Latber yang dimulai pukul 13.00 ini cukup banyak diminati. Maklum selain menjadi ajang pertarungan bergengsi, di latber ini panitia kembali membuka kelas gratis. "Iya ada kelas gratis untuk beberapa jenis burung, diantarannya Cucak Hijau, Kacer, Punglor Merah dan Kacamata," kata panitia Latber MRT Denpom BC Iman Subangkit Jaya.
Dia menyebutkan, kelas gratis yang digelar  bukan sembarangan kelas. Pemenang tetap mendapatkan hadiah. Bahkan pria bertubuh tambun ini mengatakan, jika untuk kelas gratis hadiahnya sama dengan kelas lomba burung berbayar. "Seperti kelas jenis Punglor, ada tiga kelas gratis yang kami gelar. Ini untuk menyemarakkan saja, agar lebih meriah," katanya. Tidak terkecuali jenis Kenari, dikatakan Iman juga dibuka kelas gratis agar banyak pecinta burung Kenari terlibat. "Kenari pemula bisa ikut, tanpa syarat, tanpa biaya," tambahnya.
Sementara untuk jenis burung lainnya, pengusaha sangkar burung itu mengatakan tidaklah mahal. Pihaknya membuka lomba mulai dengan biaya pendaftaran Rp 10 - 30 ribu. " Selain mencari prestasi di gantangan ini kita lebih pada mencari teman atau saudara. Tapi bukan berarti kita tidak serius, soal lomba kita sangat profesional," urainya.
Iman sendiri mengatakan jika untuk latber yang digelar Rabu lalu diikuti lebih dari 400 peserta. Ada tujuh jenis burung berkicau dan 20 kategori burung yg dilombakan.(vik/feb)

Latber dibuka Lebih Awal
Latihan bersama (Latber) kembali digelar di gantangan Arcom, Selasa (28/10). Sedikitnya, 200 pecinta burung berkicau hadir dalam kegiatan rutin setiap hari selasa tersebut. seperti lomba burung pada umumnya, latber ini lebih banyak diikuti oleh burung jenis Love Bird dan Kenari. Bahkan, dari jumlah peserta tersebut, jenis ini mencapai 40 persen.  
Yanto, salah satu panitia mengatakan  meskipun hanya sekelas latber yang jelas peserta sangat antusias. Bahkan banyak peserta yang datang beberapa jam sebelum gelaran latber dimulai. “Sekarang latber atau latpres banyak yang dimulai siang hari, jadi agar tidak kehabisan tiket kami memilih datang lebih awal,’’ kata Yanto.
Namun begitu, karena latber belum dimulai, pria asal Tajinan inipun memilih untuk bersosialisasi dengan peserta lain. “Karena kita datang tujuannya tidak sekedar lomba, even ini juga kami manfaatkan untuk silaturahmi, itung-itung tambah persaudaraan,’’ tambanya.
Ucapan yang sama juga dikatakan Imam. Pria asal Lawang ini mengaku datang lebih awal karena tidak mau ketinggalan satu pun gelaran lomba. Sekalipun hanya sebatas Latber namun, even ini sangat berarti. “Saya bawa dua burung, satu jenis Love Bird dan satu lagi Kenari,’’ katanya.
Dia mengatakan, jika kedua burungnya ini siap untuk ikut lomba. “Untuk latihan sekaligus melatih mental saja, tapi juga berharap menang,’’ kata Imam dengan tertawa.
Latber Arcom BC sendiri digelar mului pukul 15.00. Dibuka dengan jenis Love Bird Executive. Para pemilik Love Bird pun langsung berbondong-bondong membeli tiket, agar burung kesayangannya bisa naik di gantangan. Tidak terkecuali Pitono. Mantan pemain Persema ini juga membeli tiket untuk Ronaldo dan Messi miliknya. “Hiburan mbak, sekaligus melatih mental burung,’’ kata Pitono bangga.
Setelah Love Bird, lomba disusul dengan jenis Kenari. Pemandangan yang sama pun terlihat, bengitu pendaftaran di buka oleh panitia. Pemilik burung kenari langsung menuju ke meja panitia untuk membeli nomor atau tiket gantangan.
Sementara itu Yanto salah satu panitia lomba mengatakan, jika gelaran Latber ini diikuti oleh 200-an peserta. Mereka yang datang tidak hanya dari Kota Malang tapi juga luar Malang. Menariknya, meskipun tiket yang dijual Rp 30 ribu dan Rp 20 ribu, burung yang ikut lomba bukanlah burung-burung pemula. Tapi banyak juga burung-burung berkelas. “Latber ini untuk mewadahi para pecinta burung. Selain terlibat dalam lomba juga untuk mempererat tali silahturahmi. Disini, semua orang bisa melihat dan menilai burung mana yang ngoceh aktif dan yang tidak,’’ tandas Yanto.(vik/feb)
comments

“Green Community” Kepanjen Ijo

Share
GREEN Community Kepanjen Ijo sudah menunjukkan kiprahnya di usia ke 3 tahun. Komunitas ini cukup aktif menciptakan kondisi Kepanjen menjadi asri dan bersih. Berkat keuletan dan ketelatenan komunitas yang kini bersentuhan langsung dengan masyarakat, cibiran dan omongan yang awalnya memandang sebelah mata, justru kini berbalik arah 180 derajat. Bahkan, dengan bergandengan bersama aparat kecamatan, komunitas ini terus menyelaraskan gerak membentuk Kepanjen bersih dan asri.
Awalnya, komunitas ini berdiri karena keprihatinan terhadap kondisi Kecamatan Kepanjen yang semakin panas. Banyak pohon yang ditebang untuk pembangunan, jumlah penduduk terus bertambah yang berpengaruh terhadap tingginya dampak sampah. Sama-sama memiliki kepedulian dalam menjaga kebersihan dan menjaga kondisi tetap asri dan bersih, menjadi modal bersama yang diusung komunitas yang dipandegani oleh Ahmad Shodiq.
Kali pertama berdiri sekitar Agustus 2011 lalu, anggota yang tergabung Green Community hanya berjumlah tujuh orang. Itu pun, awalnya hanya ibu-ibu PKK yang ada di tujuh desa dari total 18 desa atau kelurahan di Kecamatan Kepanjen.
Mengawali kiprahnya yang hanya bermodalkan swadaya sendiri, banyak tantangan yang harus dihadapi. Mereka dianggap cari kerjaan karena hanya mengambil sampah yang dibuang sembarangan, atau hanya mengawasi setiap pohon agar tidak ditebang secara sembarangan.
“Dulu kami dianggap cari-cari kerjaan karena sampah yang sudah dibuang, kami ambil dan dibuang ke tempat sampah. Padahal, hampir semua orang membuang sampah secara sembarangan,” ujar bapak tiga anak itu.
Dari ketelatenan dan panggilan jiwa itu, siapa sangka kemudian mendapatkan respon positif dari Kecamatan Kepanjen, Badan Lingkungan Hidup serta Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Malang. Hingga akhirnya, anggota pun terus bertambah dan kini menjadi sekitar 50 orang. Yang menarik, tidak hanya PKK desa atau kelurahan yang menjadi anggota yang berkantor di Jalan Trunojoyo Kav 6 Lantai II Block Office Kepanjen. Kini, karang taruna pun turut terlibat menjadi anggota Green Community.
“Karena untuk membiasakan hidup bersih itu perlu tempat yang mewadahi, langkah awal yang kami lakukan adalah meminta tempat sampah. Sementara untuk pohon, kami memakai sistem ganti rugi kepada penebang. Yakni, satu pohon harus diganti dengan 10 pohon baru sebagai pengganti tanaman yang ditebang,” ujar pria lulusan SMA itu. (sit/sir/oci)
 
Ajak Masyarakat Wujudkan Kampung Hijau
SUKSES dengan langkah awal penyediaan tempat sampah, inovasi dan terobosan baru mulai dimunculkan seiring dengan kebutuhan dalam menciptakan Kepanjen asri dan bersih. Komunitas Kepanjen Ijo mulai berfikir untuk pendampingan bank-bank sampah dengan pemusatan di tiap desa atau kelurahan.
Sejak itulah, kemudian muncul upaya pengolahan sampah. Sehingga, sampah organic dan non organic bisa dipilah dan dikembangkan sesuai fungsi dan manfaatnya. Dengan begitu, sampah dari masyarakat tidak hanya terkumpul di satu lokasi. Namun, mampu diolah menjadi hal yang lebih berguna untuk masyarakat.
“Melalui pengolahan sampah yang mulai berhasil dilakukan di tiap-tiap desa atau kelurahan di Kepanjen, akhirnya komunitas kami mengembangkannya ke pola yang lebih berguna langsung untuk masyarakat. Yakni, membuat kampung hijau yang fungsi dan tujuannya semua untuk kepentingan masyarakat,” ujar Koordinator Green Community Kepanjen Ijo, Ahmad Shodiq.
Sistem kampung hijau yang diterapkan, tambah Shodiq, yakni menambah ruang terbuka hijau untuk masyarakat. Caranya, dengan memanfaatkan halaman atau pekarangan rumah yang ada. Untuk sistem tanamnya, dengan menggunakan polibag.
“Desa Curungrejo menjadi pilihan untuk pengembangan kampung hijau. Ada sekitar 50 sampai 60 kepala keluarga (KK) yang menyiapkan ruang terbuka hijau. Jadi melalui media polibag, warga menanam sayuran hingga cabe menggunakan pupuk yang dihasilkan dari sampah organic,” tambahnya.
Dari hasil tanam atau pemanfaatan itu, terangnya, semua dimanfaatkan secara utuh oleh warga. Sementara komunitas, tidak mengambil keuntungan apa pun dari sistem pengembangan itu.
“Target dari sistem tanam ini, kami terus berupaya merangsang desa atau kelurahan di Kecamatan Kepanjen, untuk bisa melakukan pola sama. Sehingga, ketika butuh cabe atau sayuran, bisa mengambil sendiri dari tanaman sendiri,” paparnya. (sit/oci)  

 
comments

Honda Tanam Answer Back System di Scoopy Terbaru

Share
MALANG - PT Astra Honda Motor (AHM) terus berinovasi pada semua koleksi otomotif roda duanya. Pada varian Scoopy, Honda menambahkan varian warna yaitu urban blue dan uptown blue. Pada generasi terbaru, pabrikan otomotif tersebut juga menambah teknologi pengaman berupa answer back system.
Answer back system merupakan fitur alarm yang diterapkan Honda pada Scoopy. Cara kerja fitur ini layaknya alarm pada mobil dimana kendaraan akan mengeluarkan suara ketika pemilik menekan tombol alarm yang terintegrasi dengan kunci motor.
"Fitur Answer Back System sebelumnya ada di Honda Vario FI 110 cc. Melalui fitur ini, pemilik motor akan dimudahkan dalam mencari motornya ketika berada di keramaian atau di parkiran," ujar Supervisor Promosi MPM Malang-Blitar, Johnsen.
Fitur yang menarik lain untuk Honda Scoopy FI terbaru ini ialah lampu depan yang menggunakan teknologi modern, yakni headlamp projector. Dengan teknologi lampu modern tersebut, mampu membuat Honda Scoopy FI terbaru ini memiliki pencahayaan yang lebih jauh dan merata.
Menurut Johnsen, pembaruan tersebut membuat konsep retro dan klasik berbalut dengan modernitas. "Kesannya sangat erat dengan motor jadul namun berbalut keindahan dan desain trendi dan modern," beber dia kepada Malang Post.
Scoopy FI terbaru juga memberikan bagasi lebih luas dari seri terdahulu. Sehingga, dengan ukuran yang lebih besar tersebut, Honda Scoopy mampu menampung helm yang memiliki ukuran standart.
Untuk spesifikasinya,  Scoopy FI tetap menggunakan mesin berkapasitas 108 cc dengan tipe mesin 4 langkah. Selain itu, teknologi FI atau full injection juga telah diterapkan untuk seri yang dikenalkan pada pertengahan tahun ini.
Melalui teknologi injeksi itu, Scoopy FI sangat irit dan mesinnya mampu menghasilkan daya maksimum 6.27 kW (8,52 PS)/ 8.000 rpm dan torsi maksimum 8.68 N.m (0,89 kgf.m) / 6.500 rpm. (ley/fia)


Diperkaya Warna Baru
MALANG - Belakangan ini Scoopy sedang menjadi incaran banyak orang. Terbukti, untuk mendapatkan sepeda motor keluaran Honda tersebut, penggemar otomotif sampai harus menunggu atau menginden terlebih dulu.
"Unitnya sangat terbatas. Apalagi, sejak seri terbaru yang sudah makin canggih peminatnya makin banyak," ujar Supervisor Promotion MPM Malang Blitar, Johnsen.
Akibat besarnya minat masyarakat terhadap motor matic berkonsep retro ini, customer pun harus pesan terlebih dulu. Jangka waktu yang dijanjikan antara 2-4 minggu. Malahan, untuk beberapa warna bisa lebih lama lagi. Pilihan warnanya antara lain capital cream, metro black, estate red, chic cream, fancy black dan voque red.
"Tiga warna utama dibagi dalam dua penampilan. Sporty dan stylish," beber dia kepada Malang Post.
Bahkan, di bulan ini Scoopy F1 hadir dengan warna baru. Yakni biru yang terbagi dalam varian up town blue untuk seri stylish, dan urban blue yang tampil sporty. "Pekan ini rencananya sudah hadir di Malang. Sudah banyak yang inden juga," imbuhnya.
Menurut dia, sales dari Scoopy memang di bawah Beat dan Vario. Akan tetapi, dengan penampilan yang unik, peminatnya pun kalangan pecinta artistik.
Untuk berbagai tipe sepeda motor Scoopy FI di Indonesia hampir semuanya di jual dengan harga yang tidak jauh beda. Sepeda motor Scoopy FI ini di jual di kisaran harga Rp 15,8 juta.
Untuk penjualan Honda Scoopy secara nasional,  dari awal 2014 hingga Agustus lalu tercatat penjualan mencapai 207.753 unit. (ley/fia)


Bagasi Lebar Tunjang Pekerjaan
MALANG - Honda Scoopy tidak hanya menggoda kaum pria yang berpenampilan retro. Berbagai segmen pasar lain, termasuk untuk anak muda dan kaum hawa pun tergoda memilikinya.
Seperti pengakuan Wulandari Apriliani, gadis berusia 20 tahun yang memiliki Scoopy FI seri Sporty. Dia memilih warna merah dalam varian Estate Red sebagai kendaraan yang ditungganginya.
"Saya suka warna merah dan jatuh hati dengan Scoopy yang retro tetapi tetap sporty ini," ujarnya.
Menurut dia, Scoopy FI yang kini dimilikinya menggoda karena fitur terbarunya. Seperti answer back system, yang diunggulkan oleh pabrikan Honda. "Selain tampilan fisik, fitur alarm ini menjadi daya tarik," terang dia.
Di samping itu, dia sangat tertolong dengan bagasi lebar yang diberikan oleh Scoopy. Ukurannya lebih luas, dan membuat helm pun bisa masuk di dalamnya. Sehingga, barang-barang penunjang pekerjaannya pun, dengan aman bisa masuk ke dalam bagasi. "Sepatu, make up dan pakaian ganti, aman karena masuk di dalam bagasi," tukasnya. (ley)
comments

Page 1 of 6

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  Next 
  •  End 
  • »