Pete Jogging Club saat berkumpul untuk jogging. Mereka berasal dari berbagai kalangan dan profesi.

MALANG – Selama tiga tahun terakhir, Kota Malang kebanjiran para penghobi jogging. Tren kemunculan komunitas jogging pun bertambah. Misalnya saja, Pete Jogging Club yang lahir 2013, Running Goal Oriented (RGO) yang muncul Mei 2016, atau Beyond Running Club yang didirikan September 2016.
Tingginya peminat olahraga jogging yang punya kesan membosankan ini, tak lepas dari makin banyaknya event running yang tersebar di seluruh Indonesia. Imej olahraga monoton ini, seketika berubah dengan kemunculan komunitas-komunitas jogging. Anggota BRC Malang, Ardianto mengatakan event lari sekarang digelar tiap minggu. “Sekarang booming sekali, karena event lari yang digelar perusahaan-perusahaan digelar hampir tiap minggu,” kata Ardi, kepada Malang Post.
Selama beberapa waktu ini, event running bukan lagi sekadar olahraga lari yang monoton. Namun, unsur entertainment pun dimasukkan untuk menambah semangat para pelari. Perusahaan-perusahaan besar juga memakai olahraga running untuk gelar event, baik di dalam dan luar negeri. “Luar biasanya, event running ini menyedot animo ribuan peserta,” kata Ardi.
Dia menganggap, ledakan event running dan jogging punya dampak positif. Sebab, semakin banyak orang ikut event lari, semakin banyak juga yang sadar tentang pentingnya kesehatan dan menjaga pola hidup.
Senada dengan Ardi, Ketua RGO Malang, Lusiana Susanti Wahyudi menyebut kelahiran komunitas jogging, maupun event running, berdampak pada budaya dan kultur masyarakat. Lusi, sapaan akrabnya, dampak positif komunitas jogging, bakal mengubah cara pandang masyarakat terhadap olahraga pagi.
“Kalau makin banyak komunitas dan event running, ya bagus. Semakin banyak orang peduli kesehatan. Jika komunitasnya terus bertambah, maka bisa jadi budaya komunal,” jelas Lusi, sapaan akrabnya. Anggota Pete Jogging Club, Eko Sya menyebut, olahraga jogging sebenarnya bukan olahraga baru.
Namun, karena sekarang kemasan semakin menarik, makin banyak orang pula yang ingin ikut olahraga jogging. “Tapi, bagi yang sudah biasa jogging, yang penting adalah refreshing dan fun. Komunitas jogging bikin lari pagi tambah seru,” jelas Eko.(fin/lim)



Pete Jogging Club. Inilah nama yang dipilih oleh puluhan pengusaha dan profesional muda Kota Malang, ketika mendirikan sebuah komunitas sederhana. Kegiatan mereka simpel, yakni jogging bersama. Didirikan sekitar tahun 2013 lalu, namanya klub jogging ini berasal dari sebuah tumbuhan yang buahnya jadi pendamping lengkap para pecinta sambal.
“Ya awalnya  kami dirikan klub ini dari jualan pete. Dulu anggota hanya dua orang. Kami ingin jogging ke luar negeri. Akhirnya, ada ide jualan pete untuk kumpulkan uang. Dari sini namanya muncul. Makin banyak yang gabung kita, sekarang sekitar 40 orang,” kata Paulus Oliver Yoesoef, koordinator Pete Jogging Club.
Setelah anggota bertambah, dan sukses berjualan pete, klub ini bisa traveling ke luar negeri untuk jogging. Malaysia adalah persinggahan pertama Pete Jogging Club di luar negeri. Oliver mengatakan, para anggota klub, traveling ke Malaysia dengan style backpaker. Mereka menekan biaya dan membeli tiket murah dari promo.
“Kita jogging di Malaysia ala backpacker. Kita rencanakan perjalanan jauh-jauh hari, supaya bisa beli tiket promo murah. Lalu, kita pergi rame-rame,” kata pria yang juga notaris tersebut. Mantan alumnus SMAK St Albertus ini menambahkan, Pete Jogging Club menggelar olahraga barengnya tiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu.
Hampir semua anggota Pete Jogging Club, berada di bawah usia 50 tahun. Sebab, Pete Jogging Club ingin menyebar virus positif agar anak-anak muda rajin olahraga, bukan hanya kalangan tua saja. Apalagi, para anggota klub, adalah para profesional. Kesibukan tinggi eksekutif muda dan rasa stres yang menumpuk, harus dilepas lewat kegiatan positif.
Mereka semua terkoneksi WhatsApp. “Kami ingin generasi muda olahraga, tidak perlu olahraga profesional, cukup jogging saja sebagai hobi. Kami terkoneksi di grup WA. Ada satu aturan penting, jika ada anggota yang tidak aktif selama 1 bulan di kegiatan, akan di-kick dari grup,” jelas Oliver.
Tiap pertemuan, lokasi jogging berubah-ubah. Pete Jogging Club, juga sudah aktif ikut dalam berbagai maraton, misalnya fun run di Surabaya hingga Gresik. Selain berjogging ria, komunitas Pete Jogging Club juga menggelar bakti sosial. “Kita sudah bikin gerakan sosial ketika bantu warga kampung gepeng di Baran Kedungkandang, juga datangi panti asuhan dan panti jompo,” tutupnya.(fin/lim)


Beyond Running Club mengutamakan fun dan friendship untuk menyegarkan suasana jogging bareng.

MALANG – Beyond Running Club (BRC) mengusung semangat fun friendship saat jogging bareng. Dengan semangat fun friendship ini, jogging yang kesannya membosankan dan sulit dilaksanakan dengan rutin, diubah menjadi olahraga yang menyenangkan. Ketua BRC, Amelia Augustin menyebut bangun pagi untuk jogging sendirian sulit dilakukan.
“Kita ingin kegiatan ini tetap fun dan friendly. Istilahnya fun friendship sambil jogging,” kata Amel, kepada Malang Post. Dalam setiap kegiatan BRC, unsur menyenangkan harus diutamakan. Karena, olahraga jogging adalah hobi di luar rutinitas harian para anggota BRC. Dengan latar belakang yang berbeda-beda, BRC menjadikan jogging sebagai tempat refreshing.
Rutinitas di rumah, di tempat kerja hingga tempat usaha, seringkali menumpuk beban pikiran. Dengan bergabung di BRC, para anggota ingin lari menjadi wahana rekreasi dan bersenang-senang dengan sesama jogging. Apalagi, olahraganya digelar pagi hari saat udara masih segar dan belum banyak kendaraan lalu lalang.
Menurut Amel, BRC lahir pada 28 September 2016. Meskipun masih baru, jumlah anggota BRC saat ini mencapai 78 orang dan berkumpul di grup WhatsApp. Dengan jumlah anggota yang banyak, jadwal jogging bareng masih dibatasi. Amel mengatakan jadwal jogging BRC digelar seminggu sekali.
“Latar belakang kita beda-beda. Dokter, karyawan, pengusaha, profesional, ibu rumah tangga juga ada. Tiap hari Rabu, mulai pukul 5 pagi, kita sudah mulai lari. Tempat jogging beda-beda, tapi biasanya kumpul di Dieng,” kata Amel. Sekjen BRC, Evi Mariati menyebut keberadaan komunitas BRC bukan sekadar kumpul-kumpul jogging.
Olahraga pagi menjadi lebih mudah dilakukan. Sebab, kata Evi, kehadiran sesama pecinta jogging, bakal menghilangkan rasa malas bangun pagi dan malas olahraga. “Kalau ada teman di komunitas, kita tidak malas bangun pagi. Kalau sendirian, pasti sulit bangun pagi, apalagi harus olahraga. Dengan kumpul komunitas jogging, semangat olahraga bertambah,” terangnya.
Setelah berkumpul dan jogging bersama dalam kurun waktu kurang lebih tiga bulan, BRC telah menyusun agenda untuk bakti sosial, ke panti asuhan dan kegiatan sosial lainnya.(fin/lim)


Running Goal Oriented biasa menggelar jogging bersama hari Selasa dan Minggu pagi.

MALANG – Apa jadinya bila kalangan profesional, pengusaha, ibu rumah tangga hingga mahasiswa berkumpul untuk jogging bersama? Kumpulan ini, akhirnya bersatu menjadi Running Goal Oriented atau RGO, komunitas jogging yang lahir pada 5 Mei 2016. Berawal dari keinginan coba suasana baru dalam berolahraga, Lusiana Susanti Wahyudi, Ketua RGO Malang, mengajak teman olahraganya untuk jogging.
“Kami berdiri pada 5 Mei 2016. Awalnya saya mengajak dua teman saya, Elly dan Yulya Taufiq untuk jogging. Kami ingin coba suasana baru. Soalnya, sehari-hari kita olahraga indoor, yaitu nge-gym. Saya ada ide untuk olahraga, langsung nyoba jogging. Awalnya ya kita bertiga,” kata Lusi, sapaan akrabnya kepada Malang Post, kemarin. Lama kelamaan, Lusi merasa kerasan jogging bareng. Dengan suasana yang fresh tiap pagi, RGO menjelajah banyak spot jogging di Kota Malang. Dari mulut ke mulut, RGO dikenalkan kepada lebih banyak teman. Olahraga outdoor yang menyegarkan bersama banyak orang, membuat RGO ketambahan banyak anggota.
“Dari tiga orang, kita ajak teman-teman gabung, dan sekarang jadi lumayan banyak. Kalau jogging bareng kita bisa sampai 40 orang lebih. Sementara, long run biasanya 15 orang,” kata Lusi. Dia menyebut, latar belakang anggota RGO Malang cukup bervariasi. Mulai dari ibu rumah tangga, mahasiswa, profesional hingga pengusaha.
Dia menyebut, RGO Malang tidak membatasi status maupun strata bagi anggota yang ingin bergabung. Sebab, tujuan utama dari RGO Malang, adalah jogging bareng. Menurut Lusi, saat ini RGO biasa gelar jadwal jogging tiap hari Selasa dan Minggu. Namun, ada pula jadwal jogging insidentil yang tidak selalu diikuti semua anggota.
RGO berganti-ganti rute jogging. “Kita jogging di Jalan Merbabu, Araya dan tempat-tempat lain. Tergantung rute saja. Karena, kita gak mau bosan jogging di rute yang sama. Kita juga pilih rute berbeda, pilih tanjakan atau turunan. Kalau tanjakan, biasanya jogging di Tidar atau Dieng,” sambung Lusi.
Selain itu, tiap bulan sekali RGO Malang juga menggelar jogging ke tempat spesial seperti pegunungan atau perbukitan. RGO Malang memilih rute menantang sembari refreshing dan jogging. Kegiatan RGO Malang sendiri, biasa diposting di Instagram @rgo_malang dan Facebook RGO Malang.(fin/lim)


Anggota kelas RBL berfoto bersama usai kegiatan kelas

MALANG – Berawal dari ajang diskusi antar mahasiswa yang kesulitan skripsi dan tesis, Rumah Baca Aqil (RBA) kini makin memantapkan fungsi dan posisinya. Komunitas berbasis filantropis ini tidak lagi sekadar ajang sharing, tapi sudah menjadi program kelas untuk pembelajaran antar mahasiswa.  
“Awalnya pada tahun 2010 kami memang sekumpulan mahasiswa yang mengerjakan skripsi. Namun karena seringnya sharing dan berdiskusi, akhirnya kami bikinlah RBA. Jadi tujuan awalnya memang sebagai ajang diskusi bagi para mahasiswa dalam menyusun skirpsi ataupun tesis.,” ujar Pandu Wicaksono, salah satu anggota volunteer RBA kepada Malang Post. Diceritakan Pandu, bahkan sebelumnya, RBA awalnya adalah KRS + (Kelompok Riset Sahaja). Yang berarti sekumpulan mahasiswa dan pemuda dengan diskusi ilmiah yang berbasis riset. Kemudian berjalannya waktu berubah menjadi RBA. Yang berarti pandai/cerdas/berakal.  Ini dimaksudkan agar wadah ini dapat memfasilitasi pebelajar untuk belajar secara menyeluruh dan berfokus pada pemecahan masalah kehidupan.
‘’Banyak mahasiswa pendatang di Malang yang berkumpul dari berbagai penjuru Indonesia. KRS saat ini telah menjadi program kelas khusus dari RBA, telah menjadi program kelas untuk sarana berdiskusi antar mahasiswa.,’’ jelasnya.
Komunitas berbasis Filantropis adalah asas yang diterapkan oleh RBA. Sebagai komunitas yang awalnya peduli kepada para sesama yang masih bergelut dengan skripsi atau tesis, yang merasa kesulitan mencari teman berdiskusi dan berbagi pikiran. “Di sini kita bisa sama-sama sharing, sesama mahasiswa yang mungkin mengalami kesulitan skripsi dari berbagai disiplin ilmu kita bisa berbagi,” paparnya.
Banyaknya mahasiswa yang cenderung susah untuk mengerjakan skripsi, membuat RBA mempunyai agenda rutin setiap Senin-Sabtu untuk melakukan kegiatan diskusi ini. RBA yang awalnya dijadikan sebagai sarana diskusi ilmiah saat ini berkembang menjadi  sarana pembelajaran. ‘’Jadi para pemuda yang menjadi volunteer tidak hanya berperan bagi sesama tapi juga untuk adik-adik di bawah mereka. Saat ini RBA telah memiliki 35 anggota,’’ ungkapnya.
Banyak kegiatan RBA yang sudah berkembang untuk merambah kepeduliannya terhadap dunia pendidikan SD. Jika ada yang ingin berdonasi dapat menghubungi bendahara di nomor telepon 081380011348.(sin/lim)

Halaman 1 dari 37