Malang Post

Komunitas


Alam Semeru Terjaga, Pendaki Aman

Share
SAHABAT  Volunteer Semeru (Saver) baru terbentuk setahun. Yakni 1 Maret 2014. Anggotanya terdiri dari  pendaki Gunung Semeru yang berasal dari Malang, Lumajang, Probolinggo dan Pasuruan. Kendati baru setahun, Saver telah memainkan peran demi pelestarian alam dan keamanan pendaki gunung tertinggi di pulau Jawa itu.
Kepedulian merupakan modal Saver. Bahkan dari kepedulianlah mereka terus bertahan  untuk  menjaga ekosistem dan pelestarian lingkungan Gunung Semeru. Komunitas ini merupakan komunitas mandiri, mereka tak dibayar. Namun mereka  memiliki komitmen dan peduli gunung Semeru.
Saver juga  memiliki jejaring yang kuat. Salah satunya  bekerjasama dengan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Komunitas ini pun telah melakukan banyak hal di sekitar gunung Semeru. Karena peran mereka,   kini setiap pendaki akan menemui tim relawan tersebut di kaki Gunung Semeru.
Sekretaris Umum  Saver, Han Sonny Firman Zakky mengatakan,  terdapat tiga peran  yang dijalankan untuk menjaga keselamatan pendaki dan  menjaga ekosistem di sekitar gunung Semeru.
“Pertama, pengecekan bekal calon pendaki. Kedua, memberikan pendidikan pendakian yang benar dan aman,” katanya. Sedangkan peran ketiga yakni melakukan pengecekan sampah agar lingkungan sekitar  Semeru tetap bersih.
Saat pertama kali menjalankan tugas, anggota Saver sempat merasa kesulitan walau mendapat amanat dari TNBTS.  Pasalnya mereka harus bersentuhan langsung dengan calon pendaki. Salah satu contohnya mereka harus memeriksa  satu persatu tas atau ransel calon pendaki.
“Lokasi pemeriksaan tas dan bekal calon pendaki di sekretariat kami di pos Ranu Pani,” paparnya.
Pemeriksaan tas pendaki memang sangat penting. Diantaranya untuk memastikan peralatan pendakian yang dibawa pendaki sudah memadai atau belum. Hal ini sangat penting karena demi keamanan pendaki.
“Sebelum mendaki  Semeru, tas atau ransel  yang pertama diperiksa. Apakah membawa sleeping bag atau tidak. Setiap pendaki harus membawa sleeping bag dan penghangat tubuh,” kata dia. Alasannya, untuk mengantisipasi cuaca esktrim di Semeru.
Apalagi ketika cuaca  sangat ekstrem bisa mencapai minus 8 derajat celcius. Selain sleeping bag, prosedur lain yang harus dibawa yaitu sepatu. Alas kaki ini  harus memakai standar pendakian. Jika sepatu sudah dikenakan, maka prosedur jaket dan logistik  atau makanan juga harus tersedia selama pendakian.
Seiring berjalannya waktu, tugas atau ‘amanat’ sebagai relawan Semeru mampu dijalankan tanpa banyak kendala. Bahkan dengan penuh kesadaran para  pendaki, beberapa aturan dan mekanisme untuk menjaga keselamatan sudah dipahami  dengan baik oleh para  pendaki.
Anggota Saver tak sebatas menjalankan tugas sebagai ‘penjaga’ pendaki. Tapi mereka juga mengemban tugas lain yang tak kalah pentingnya. Yakni memberi pendidikan lingkungan kepada para pendaki. Tujuannya agar semua pendaki ikut menjaga kebersihan dan pelestarian lingkungan di sekitar Gunung Semeru.
Informasi dan edukasi lingkungan dilakukan dengan cara yang sederhana tapi manfaatnya langsung dirasakan.  Contohnya mereka selalu memberitahu kepada pendaki agar sampah atau sisa makanan yang dibawa sebagai bekal harus dibawa pulang.  Jangan sampai berserakan di alam Semeru.
Tak hanya itu saja, mereka juga selalu mengingatkan tentang penerangan di tenda, lokasi mendirikan tenda hingga tempat buang air. Hal ini sangat diperhatikan di Ranu Kumbolo agar tak tercemar. (sit/van)


Punya Perpustakaan
SAVER tak hanya menjaga keselamatan pendaki dan pelestarian lingkungan di sekitar Gunung Semeru. Anggota Saver yang tak kurang dari 20 orang juga  punya aksi sosial secara nyata di dunia pendidikan.
Awalnya iseng mengisi waktu luang setelah mendata dan mengecek tas pendaki, anggota yang sedang baca-baca buku, tanpa sadar berinteraksi dengan warga di Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Lumajang. Dari interaksi itulah, ternyata warga mendambakan perpustakaan untuk anak-anak mereka.
“Tidak lama kami membentuk komunitas peduli keselamatan pendaki Semeru, 5 Mei 2014, kami mendirikan perpustakaan yang hingga kini belum diberi nama,” kata Sekretaris Umum Saver, Han Sonny Firman Zakky.
Taman baca itu  kini  memiliki anggota sekitar 20 sampai 25 siswa  SD. “Sementara koleksi bukunya, tentu sangat terbatas,”  sambung Han Sonny.
Agar antara amanat dari TNBTS dan  operasional perpustakaan saling melengkapi, anggota Saver memiliki  jadwal tugas. Beberapa anggota Saver bertugas menjaga perpustakaan dan mengajar  membaca ataupun menulis kepada siswa yang datang di perpustakaan. Sedangkan yang tak bertugas menjaga perpustakaan, kebagian tugas  memeriksa  tas pendaki di pos pemeriksaan.
 “Pembagian tugas sesuai jadwal sangat penting. Sehingga  tidak tumpang tindih. Selama ini untuk pengelolaan  perpustakaan bisa dilakukan setelah tugas sebagai relawan Semeru selesai,” tambahnya. (sit/van)

Solidaritas Pendaki  Jadi Perekat Mereka

PEDULI pendaki dan kelestarian alam Semeru menjadi salah satu alasan bergabung di  Saver. Bahkan hal itu menjadi perekat para  anggota Saver. Sekarang, sesibuk apapun setiap anggotanya selalu berusaha tak meninggalkan aktifitas Saver.
Mufidah, warga Dusun Jago, Tumpang memilih menjadi anggota Saver karena kepedulian dan solidaritas sesama pendaki. Kini ia terus bertahan di Saver melalui berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi sesama.
“Banyak alasan yang membuat saya bergabung dengan Saver. Ya itu karena kegiatan sosial dan  pelestarian alam untuk menjaga keindahan alam. Kalau bukan kita semua yang menjaga keindahan alam, lalu siapa yang peduli,” kata Mufidah.
 Mufidah merupakan personil pertama yang bergabung di Saver. Karena kesibukan lain, kini ia merasa aktifitasnya berbagai kegiatan Saver tak maksimal. Namun demikian ia tetap berusaha hadir di kegiatan Saver.
Kendati baru setahun, Mufidah punya kenangan tersendiri saat bergabung di Saver. Yakni disaat jumlah pendaki Gunung Semeru terus bertambah, disaat itu pula harus ekstra waspada dan meningkatkan kesiagaan.  
Kini ditengah kesibukannya, Mufidah berjanji akan tetap memberikan support untuk berbagai kegiatan Saver. Sehingga, tetap memberikan peran yang besar dalam menjaga keselamatan pendaki dan bersama-sama menjaga kondisi lingkungan di sekitar  Gunung Semeru. (sit/van)
comments

Komunitas Sejarah dan Budaya Malang Raya

Share
MEREKA  pelestari sejarah dan budaya. Mewadahi diri dan beraktifitas  dalam sebuah komunitas agar sejarah dan budaya tak dilupakan. Itulah Komunitas Sejarah dan Budaya (KSB) Malang Raya.  
Koordinator KSB Malang Raya Edi Sanjaya mengatakan, komunitas ini terbentuk pada awal tahun 2012 lalu. “Bermula dari tujuan yang sama yakni melestarikan sejarah dan budaya yang ada di Malang Raya. Lalu kami membentuk KSB,” kata Edi.
Saat ini terdapat puluhan anggota KSB Malang Raya. Anggotannya berasal dari latar belakang yang beragam. Mulai anak-anak, remaja, orang dewasa hingga orang tua. Mayoritas anggotanya remaja dan generasi muda. Selain itu terdapat juga anggota dari kalangan professional seperti pegawai swasta dan PNS.
Tergabung dalam sebuah komunitas yang sama akhirnya terungkap di Malang Raya terdapat banyak pencinta sejarah dan budaya. “Kami tentunya terkejut dan memberikan apresiasi kepada pencinta sejarah dan generasi muda yang mencintai sejarah,”  katanya.
Kegiatan KSB Malang Raya beragam. Diantaranya  membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan sejarah dan budaya. Tentu termasuk berbagai sejarah kerajaan yang pernah berjejak di Malang Raya.  
Mulai dari sejarah perjalanan Kerajaan Majapahit, Kerajaan Singosari dan sebagainya dipelajari.  Mempelajari sejarah di Malang Raya menyenangkan. Sebab banyak peninggalan sejarah berupa arca, stupa maupun candi yang masih tersisa.
“Seperti kita ketahui, keberadaan Malang Raya erat dengan berbagai perisitiwa sejarah dari kerajaan zaman dulu. Untuk itu, kami coba menggalinya lebih dalam,” terang pria berkacamata ini.
Malang Raya juga kaya akan budaya. Bahkan berbagai kegiatan pementasan untuk melestarikan budaya kerap dilakukan. Sebut saja pertunjukan wayang, tari topeng, jaranan, sakeraan, hingga pawai  budaya.
Pawai budaya sangat diminati anggota KSB Malang Raya. Apalagi pawai budaya sering digelar di berbagai  tempat. “Pawai budaya salah satu  bentuk pelestarian budaya. Tentu juga mengenalkan sejarah kepada masyarakat, terutama kepada generasi muda dan anak-anak,” terang Edi.
Melalui komunitas ini, Edi  berharap semakin banyak masyarakat yang mencintai sejarah dan kebudayaan. Tidak cukup sampai di situ, juga diimplementasikan melalui pelestarian sejarah, supaya keberlangsungannya tetap terjaga (big/van)
comments

Sebulan Sekali Kopi Darat

Share
SALAH satu kegiatan KSB Malang Raya yakni membahas sejarah dan budaya. Mereka melakukan hal itu  melalui berbagai cara. Salah satunya menggunakan media sosial seperti facebook, twitter, kaskus dan lainnya.
Selain melalui media sosial, anggota KSB Malang Raya juga kopi darat. Biasanya sebulan sekali mereka bertemu di tempat yang ditentukan bersama. Agendanya saling diskusi tentang sejarah dan budaya sekaligus menjalin keakraban diantara sesama anggota.
Komunitas ini merupakan komunitas yang terbuka. Siapa saja yang mencintai sejarah dan budaya bisa bergabung. “Kami membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin bergabung dengan komunitas ini,”  jelas Sekretaris KSB Malang Raya,  Jhick Jeny.
Menurut Jeny, semakin semakin banyak anggota, maka komunitas ini bisa berkembang dengan baik. Yang tidak kalah pentingnya,  kata dia, semakin banyak kebudayaan dan sejarah yang dikenal dan dilestarikan kepada semua generasi.
Membahas sejarah dan budaya menyenangkan. Bahkan tak ada  habisnya untuk dibahas. “Apalagi Indonesia mempunyai keberagaman sejarah dan budaya di masing-masing daerah,” katanya.
Dia lalu berpendapat, sejarah di Pulau Jawa saja mulai dari  masa Kerajaan Sunda di Jawa Barat, Kesultanan Yogyakarta di Yogyakarta dan sekitar  Jawa Tengah, Kerajaan Majapahit di Jawa Timur.
“Itu belum sejarah yang berada di luar Pulau Jawa seperti Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi, yang tiap-tiap daerah mempunyai cerita sejarah dan budaya  sendiri-sendiri,” papar Jeny.
Sejarah dan budaya disetiap daerah berbeda. Nah, ini semakin menantang untuk dipelajari.  Bahkan jika semakin didalami maka semakin memperkaya wawasan.
“Setiap daerah  mempunyai latar belakang sejarah sendiri-sendiri. Begitupula dengan kebudayaan. Keanekaragaman  sejarah dan budaya selalu  menarik untuk dibahas,” katanya.
Jeny  lantas mencontohkan dirinya yang berasal Kediri bisa membahasa Kerajaan Kediri dengan anggota komuniats yang berasal dari Surabaya. Begitupula dengan anggota lainnya, bercerita tentang kebudayaan dan sejarahnya masing-masing. “Dari situ interaksi dan pembahasannya menarik karena membawa cerita yang berbeda-beda,” pungkasnya. (big/van)

Menjelajah Situs dan Bakti Sosial
KEGIATAN KSB Malang Raya  tak hanya kumpul lalu diskusi. Mereka punya sederet kegiatan menarik dan bertindak nyata untuk melestarikan sejarah dan budaya. Bahkan mereka juga melakukan kegiatan sosial dengan  memberikan bantuan kepada sesama yang tak mampu.
Koordinator KSB Malang Raya, Edi Sanjaya mengatakan, salah satu kegiatan yang dilakukan yakni melakukan penjelajahan situs dan cagar budaya. “Seluruh situs maupun cagar budaya yang ada  di Malang Raya  telah kami kunjungi. Banyak pengetahuan yang kami ambil saat kunjungan itu,”  katanya.
Dijelaskannya  yang paling berkesan adalah saat kunjungan  ke Candi Singosari pada pertengahan tahun 2014 yang lalu. Saat itu, anggota KSB Malang Raya sangat antusias mengikutinya. Pasalanya   panitia penyelenggara memberikan banyak fasilitas saat kunjungan itu. Yakni pertunjukan kesenian, drama dan tari  hingga pemotretan.
“Terutama pemotretan, mereka sangat antusias. Karana ini merupakan kesempatan yang bagus, untuk menguji keahlian para fotografer,” terangnya.
Komunitasnya juga melakukan kampanye peduli terhadap pelestarian sejarah dan budaya. Seperti dilakukan di Car Free Day (CFD) di Jalan Ijen Kota Malang dan saat Pawai Budaya di Gondanglegi.
Menurutnya  kampanye pelestarian  sejarah dan budaya perlu digalakan. Supaya keberadaanya dari situs maupun cagar budaya tetap terjaga. “Selain itu menambah pengetahuan, kunjungan cagar budaya sekaligus berwisata,” katanya.
Selain mengunjungi beberapa tempat cagar budaya di Malang Raya, komunitas ini  juga mengunjungi cagar budaya yang berada di luar daerah. Salah satunya seperti cagar budaya Trowulan di Kabupaten Mojokerto. Termasuk beberapa cagar budaya lainnya yang berada di kota dan kabupaten lain  di Pulau Jawa.
Saat melakukan kunjungan maupun wisata budaya itu, KSB Malang Raya menggelar  bakti sosial. Diantaranya  membersihkan lingkungan sekitar cagar budaya. Mereka  juga memberi  bantuan kepada masyarakat yang kurang beruntung.  
“Dengan berbagai kegiatan itu,  keberadaan komunitas kami  bisa dirasakan manfaatnya,” pungkasnya. (big/van)
 
comments

Dunia Tanpa Batas, Tak Sama Wilayah Pemerintahan

Share
SEJAK berdiri tahun 2009 lalu, HPI Malang langsung menunjukan eksistensinya melalui berbagai peran nyata. Himpunan ini mewadahi para pramuwisata yang ada di Malang Raya. Aktifitasnya tak hanya untuk para pramuwisata saja, tapi kalangan lain yang ikut andil memajukan dunia pariwisata.
Ketua HPI Malang, Mokhamad Anshory mengatakan, anggota HPI Cabang Malang saat ini sebanyak 35 orang. Mereka tercatat sebagai pramuwisata yang masih aktif menjalankan tugasnya.
Secara organisasi, HPI memiliki berbagai fungsi. Diantaranya menyatukan visi dan misi para anggotanya. Hal ini penting karena pariwisata adalah dunia tanpa batas.  Artinya tidak sama dengan wilayah pemerintahan. Antara daerah yang satu dengan yang lain saling berhubungan erat. Begitu pula dengan ruang lingkup dimana pramuwisata harus melakukan kegiatan, tentu tidak dapat mengikuti sepenuhnya batas area pemerintahan.”Inilah yang  menjadi dasar organisasi kami meliputi Malang Raya,” ujar Anshory.  
Keberadaan HPI juga untuk memperjuangkan kepentingan anggotanya. Saat ini, HPI Cabang  Malang merupakan satu-satunya organisasi profesi pramuwisata yang memiliki jaminan kesehatan dan kecelakaan kerja serta jaminan hari tua melalui program BPJS Ketenagakerjaan.
“Selain itu HPI  membina kerukunan para anggotanya dan meningkatkan soliditas sehingga terhindar dari persaingan yang tidak sehat,” ujarnya.
Hal ini kata Anshory sangat penting karena keharmonisan hubungan diantara anggota perlu dijaga sebagai salah satu syarat untuk menjaga profesionalitas anggota. “Serta memberikan kemudahan bagi para pengguna jasa pramuwisata, baik biro perjalanan wisata maupun para wisatawan yang menggunakan jasa pramuwisata secara langsung,” sambungnya.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia  berupa pembinaan anggota untuk meningkatkan profesinalisme pramuwisata juga dilakukan HPI.
Tak hanya untuk kepentingan anggotanya, HPI Cabang Malang turut berkiprah secara nyata dalam mengembangkan kepariwisataan di Malang Raya dan wilayah regional Jawa Timur. Apalagi saat ini keinginan berwisata semakin berkembang dan banyak hal yang tidak dapat diikuti oleh penyedia layanan wisata, terutama ketersediaan paket wisata yang sesuai.
Kondisi tersebut merupakan tantangan bagi HPI Malang. Kini HPI Malang juga telah melakukan eksplorasi untuk merintis route dan obyek baru sebaagi pilihan wisatawan. (van/feb)
comments

Mahir Empat Bahasa Asing

Share
DALAM menjalankan tugasnya, pramuwisata dituntut memiliki kemampuan berbahasa asing. Sebab mereka harus melayani wisatawan asing yang berwisata ke wilayah Malang Raya dan sekitarnya. Anggota HPI di Malang memiliki kemampuan berbahasa asing yang sangat lengkap, mulai Inggris, Belanda, Perancis, Jerman, Jepang dan Arab.
Penguasaan bahasa asing bukan sekadar prioritas namun elemen dasar dan prinsip yang dimiliki anggota HPI Malang. Karena itu peningkatan kapasitas penguasaan bahasa asing terus dilakukan. Tak hanya itu saja, pemahaman yang luas tentang dunia kepariwisataan  juga terus di up date.
Memiliki kemampuan berbahasa asing yang mumpuni, HPI juga berbagi kemampuannya itu. Apalagi wadah para pramuwisata ini memiliki trainer maupun pengajar bagi pelajar dan mahasiswa yang magang.
“Tujuannya untuk mengatasi kebutuhan tenaga dan  dalam rangka regenerasi, HPI DPC Malang telah banyak melakukan langkah  yaitu memberikan dan membina bagi para pelajar dan mahasiswa yang ingin menjadi pramuwisata,” papar Ketua HPI Malang, Mokhamad Anshory.
HPI Malang juga melakukan pendampingan terhadap masyarakat dalam rangka pengembangan ecotourism, desa wisata dan lainnya. Kegiatan  pendampingan terhadap pengembangan ecotourism telah berjalan sejak 2011  bekerjasama dengan ILO.
Adapun program ini telah berlangsung diwilayah ecotourism kawasan Bromo.  Hasil dari pendampingan diantaranya terciptanya pemberdayaan masyarakat Bromo  sebagai bagian dari industri wisata, homestay, local guide, tourist information,agrowisata dan lainnya.
Penguasaan perencanaan perjalanan wisata juga dimiliki anggota HPI Malang. Hal ini merupakan upaya untuk  memenuhi kebutuhan wisatawan yang tidak menggunakan  jasa paket wisata dari biro perjalanan wisata. Karena itu, seorang pramuwisata harus mampu memberikan advis kepada para tamunya. “Untuk itulah para anggota HPI dituntut untuk mampu membuat suatu perencanaan perjalanan,” papar Anshory.
Saat ini, anggota HPI Malangjuga memiliki pengalaman memadu wisatawan diberbagai bidang dan wilayah regional. Seperti purbakala,  ecotourism,  Agrowisata, wisata religi  dan jenis wisata lainnya. (van/feb)
comments

Page 1 of 10

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »