Inaque Band
Satu lagi grup band indie lahir dari Kota Malang, Inaque Band. Meski namanya masih cukup asing di telinga arek Malang, tapi grup yang beranggotakan delapan orang ini tekadnya sudah bulat. Ingin menggedor belantika musik tanah air !
Delapan personel Inaque yang masih eksis tersebut antara lain Jaya (drum), Sony (guitar), Reza (guitar), Sandy (Bass) dan Prasetyo (Keybord). Posisi vokalis diisi tiga orang yakni Mike, Yeshinta dan Vania. Awalnya Inaque memilih genre musik Pop Rock.
Drummer Inaque, Jaya mengatakan, grup band-nya tidak membidik pada salah satu aliran atau genre musik. Dalam beberapa kesempatan perform, ia dan rekan-rekannya bisa membawakan beberapa aliran musik, seperti punk, pop, jazz dan harazaku.
Namun bukan berarti semua aliran itu digabungkan. Jika didengar tidak cocok, mereka pun kembali meracik nada lagu-lagu pilihannya. “Kita tidak memaksa, jika memang tidak enak didengar, ya langsung mencari nada lain,” jelasnya.
Inilah yang menjadi salah satu faktor terbentuknya kekompakkan personelnya. Setiap nada atau pun lirik lagunya dipertimbangkan serius dan mendapat respon semua personelnya. “Tidak jarang kami beda pendapat saat membuat arasemen lagu. Namun, pada akhirnya kami tahu bahwa debat itu demi penampilan kami yang terbaik,” tambahnya.
Terkait dengan penampilan band-nya, para personel Inaque mengaku jauh dari kata puas. Memang jika didengar setiap lagunya, Inaque berbeda dengan band-band lainnya. Setiap lagu, kaya nada dan kolaborasi, sehingga membuat nyaman para pendengarnya.
Sama seperti mimpi-mimpi sebagian besar band indie lainnya, Inaque pun bercita-cita memiliki album sendiri dan bisa go international. Namun sayang, karena status mereka masih pelajar sehingga gerak langkah pun harus ditahan.
Namun demikian hal itu tidak menyurutkan semangat dan langkah personel Inaque untuk terus berkiprah. Salah satunya dengan terus melakukan latihan. “Tidak ada hari tanpa latihan, itu prinsip kami. Dengan berlatih ini, kami bisa meningkatkan skill,” tambah Jaya.
Sementara Vania, vokalis Inaque Band, mengaku memiliki angan-angan tinggi di bandnya. Itu sebabnya, gadis berambut panjang ini berjanji untuk all out, setiap penampilannya. “Mereka (para personil Inaque Band) adalah orang-orang hebat, meskipun masih SMA, namun memiliki tanggung jawab yang tinggi, dan saya sangat senang bekerja sama dengan mereka,’’ tandas Vania.(ira/eno)
Harus Balance
Memilih karir bermusik bukan berarti para personel Inaque band terlena dan melupakan studinya. Mereka tetap memilih pendidikan menjadi prioritas nomor satu. Menurut gitaris Inaque, Sony, ia dan rekan-rekannya bisa bersatu akibat ‘campur tangan’ pihak sekolah yaitu SMAK Santa Maria Malang.
“Saat ini banyak musisi yang memilih berkarir daripada sekolah, tapi kami tidak. Kami tetap memilih pendidikan baru karier. Bagi kami untuk bisa menjadi artis top, bukan hanya diperlihatkan hasil karyanya saja, namun otaknya juga harus diisi,” ujar Sony mantap.
Sony juga menjelaskan jika Inaque Band ini sebetulnya baru terbentuk enam bulan lalu. Itu setelah pihak sekolah membuka audisi untuk kegiatan ekskul. Para pecinta musik ini pun mendaftar. “Tadinya tidak saling mengenal, dan kami memiliki kelas yang berbeda-beda. Namun kami bangga, karena meski berbeda-beda, kenyataannya kami disatukan lewat nada,” tambahnya.
Kalau dihitung, sambungnya, enam bulan memang waktu yang masih sebentar. Namun, mereka sudah bisa menghasilkan aransemen lagu yang berbeda dan unik. Menurut Sonny, sebelum Inaque Band terbentuk, para pensonelnya sudah bergabung dengan band-band lain.
Seperti Jaya, yang sejak di SMP sudah memiliki grup band Enjoy Band. Sehingga kemampuan Jaya menggebuk drum pun tidak diragukan. Begitu juga dengan Sony, yang pernah memiliki grup band sendiri. Sehingga tidak heran dia pun sangat hafal bunyi setiap betotan senar bass yang dibawanya.
“Dibilang ahli betul sich belum, kami masih banyak belajar juga. Tapi mungkin karena kami sudah lama bergumul dengan musik, sehingga sedikit hafal nada-nada setiap alat musik yang kami bawakan,’’ ungkap Sony.
Kembali pada masalah sekolah, para personel ini mengatakan tidak akan mengganggu jam pelajarannya untuk bermain musik. Prinsipnya, mereka akan berkarya pada jamnya, dan sekolah pada jamnya pula. “Kebetulah, kami memiliki pengatur jadwal yang sangat handal, sehingga keduanya tetap berjalan,’’ tambah Sony lagi.
Sony sendiri mengaku jika bandnya akan sering latihan jika ada event. Seperti Indomie Jingle Dare 2 kemarin, untuk bisa tampil sempurna, delapan personil band ini terus berlatih setiap hari. HAsilnya pun memuaskan, meskipun tidak meraih juara tiga, tapi mereka berhasil duduk di juara ke tiga, dan mengalahkan 17 grup band asal Jatim, Mataram, dan Bali tersebut. “Semuanya bisa kita raih, jika kita mau berjuang lebih keras lagi,’’ tandas Sony.(ira ravika)
Berjaya di Indomie Jingle Dare
Salah satu prestasi gemilang yang berhasil dibesut Inaque Band adalah berhasil menyingkirkan 17 grup band se –Indoenesia di ajang Indomie Jingle Dare. Meski tidak berhasil berdiri di posisi puncak, namun delapan personel pelajar ini cukup puas meski ada di urutan ketiga.
Selain di event nasional, band anak sekolahan ini pun juga sudah mengukir prestasi di tingkat daerah dan regional. Antara lain juara dua di ajang festival ramadan di Malang Olympic Garden (MOG). Dilanjutkan festival X Mild Noize yang juga diadakan di MOG, Inaque berhasil duduk di peringkat ke dua.
“Dari juara itu lah, kami akhirnya yakin dengan kemampuan kami bermusik,” kata Sandy, bassis Inaque. Puncaknya, kemenangan dalam festival Indomie Jingle Dare 2 di Lapangan Rampal, Malang beberapa waktu lalu. “Kalau puas, belum lah. Kan belum pernah juara satu. Tapi kami yakin, nantinya pasti bisa duduk di juara satu,” tambah Sandy.
Selain tiga event di atas, Inaque juga mengaku berusaha terus ikut event-event lainnya. Baik yang digelar di Malang maupun di luar Malang. Sementara untuk memantapkan skill para personil inipun sangat giat berlatih.
“Kami memiliki jadwal tetap, baik itu di sekolah, ataupun di studio, yang kebetulan milik orang tua Jaya. Sehingga saat mendapat lagu baru, kami pun langsung bisa tune in,’’ kata Sandy. Kalau lagi jenuh dengan lagu-lagu pop, atau bosan merubah arasemen lagu, para personil ini pun membawakan lagu dangdut.
Sedangan band atau penyanyi yang menjadi idola, delapan personel ini pun menjawab berbeda. Reza mengaku suka dengan Drive.
Selain lagunya enak didengar, irama musik Drive berbeda dengan band-band pendatang baru lainnya. Sandy mengidolakan grup band Dewa. Grup yang dimotori Ahmad Dani ini menurut penilaiannya sangat special, karena meski berganti-ganti personil, namun tetap eksis.
Sedangkan Sony, menunjuk J Rock, sebagai band pujaan, karena memiliki aliran musik harazuku, yang saat ini sedang popular. Dan J Rock yang berada di bawah bendara republic cinta ini diyakini bisa membawa perubahan di musik Indonesia.
Sementara Jaya, mengaku sangat mengidolakan grup band kerispatih. Sedangkan Yeshita mengaku suka denga The Changcuters, dan Agnes Monica sementara Vania, mengaku sangat suka dengan Celine Dion dan MArea Carey. “Dua penyanyi wanita itu top banget,’’ katanya sambil berharap suatu saat nanti bisa menjadi seperti idolanya itu.(ira ravika/eno) |