BERBICARA tentang isu hak asasi manusia (HAM), yang terlintas di benak Muktiono, SH..M. Pil, Dosen Ilmu Hukum Universitas Brawijaya (UB) adalah Prof Sulistyowari Irianto. Guru besar Universitas Indonesia (UI) ini merupakan tokoh pembela HAM bagi kaum perempuan. Seorang feminis yang kritis membela hak-hak perempuan sesuai dengan aspek sosial, bukan dengan pasal-pasal.
"Ia adalah feminis sejati, membela mati-matian hak asasi kaum perempuan. Membela kaumnya dengan sepenuh hati," ungkap Muktiono.
Empatinya terhadap kasus yang menyangkut hak-hak asasi perempuan, menurut Muktiono menjadikannya sosok yang layak dikagumi.
"Dedikasinya sangat luar biasa, ia tidak hanya aktif melalui riset-riset akademisnya namun juga di dunia luar akademis,"puji dia.
Ia menambahkan, setiap kali bertemu dengan guru besar Hukum UI ini, ia selalu mencuri ilmu dari sosok Sulis yang selalu memandang sosial sebagai prinsip hidup, bukan melalui ilmu hukum.
"Seperti yang saya katakan, beliaulah oramg yang selalu mengedepankan jiwa sosial dibandingkan hukum,” kata dia.
Ketidakadilan HAM terutama untuk perempuan membuat Muktiono menganggap sosok Sulis adalah pembela HAM perempuan sejati. Belajar dari Sulis, iapun memandang aspek sosial jauh lebih penting dibandingkan pasal-pasal dalam membela HAM. (sin/oci)


Kampus UIN Maliki kini memiliki pusat studi bahasa China. (Foto dok/malang post)

MALANG – Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang telah resmi melaunching Pusat Studi Bahasa China, pada Rabu (7/12). Pusat Studi ini bernama CLCC (Chinesse Language and Culture Centre).
Rektor UIN Maliki Prof. H. Mudjia Rahardjo M.Si mengatakan jika pusat studi ini didirikan karena bahasa China tengah mendunia, dan memiliki eksistensi lebih dibandingkan dengan bahasa Inggris.
Menurutnya, China sekarang menjadi salah satu negara berpengaruh di dunia. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, mempelajari bahasa dan budaya China menjadi keharusan.
“Hari ini kita akan mulai mempelajari bahasa yang menjadi awal pusat peradaban dunia,” ujarnya.
China, India, dan Mesopotamia, lanjutnya merupakan pusat peradaban dunia.
“Nanti akan kita kembangkan bahasa dunia. Semua akan terpusat pada satu tempat di Kampus Ulul Albab,” imbuhnya.
Pusat Studi yang sudah membuka satu kelas ini sebagai embrio munculnya jurusan Bahasa Mandarin nantinya.
“Saya berharap nantinya bisa mengembangkan pusat studi ini untuk jadi jurusan, dalam kurun waktu empat hingga lima tahun ke depan,” ungkap Mudjia.
Mudjia menambahkan, harapannya untuk mahasiswa almamater UIN adalah agar memiliki keterampilan berbahasa China dengan baik dan benar. “Bahasa China yang saat ini masih mendunia ini diharapkan bisa menjadi eksistensi tersendiri bagi UIN,” ungkapnya.
Bahasa China bagi Mudjia adalah bahasa yang wajib dimiliki oleh setiap mahasiswa.
“Harapannya bagi  mahasiswa bisa mulai berkarya dengan bahasa China, bisa berkomunikasi dengan bahasa China dan bisa berkomunikasi dengan bahasa ini,” jelas dia,
Tidak hanya belajar bahasa, belajar budaya China pun menjadi daya tarik tersendiri. Menurut Mudjia, budaya China memberikan pembelajaran besar bagi setiap orang. Dengan kekayaan budaya, adat dan sejarahnya akan memberikan wawasan banyak bagi siswa yang belajar di pusat studi ini.
Dalam satu kelas saat ini, Mudjia menjelaskan sudah ada 25 siswa yang telah belajar di puat studi ini.
“Siswa bebas, selain mahasiswa UIN sendiri juga dibolehkan siswa lain belajar di pusat bahasa ini, sama seperti pusat studi pada umumnya,” tandasnya. (sin/oci)


Siswa-siswi SD Plus Al-Kautsar saat mempersiapkan taman mereka sebelum dinilai dewan juri. (IMAM WAHYUDI/MALANG POST)

MALANG - Pemandangan berbeda terlihat di area taman SD Plus Al-Kautsar sejak Kamis, (8/12). Terlihat puluhan petak taman vertikal mengihiasi sepanjang jalan menuju gedung sekolah. Demikian juga tembok-tembok yang dulunya tanpa hiasan apapun, kini dipenuhi tanaman hias berupa bunga-bunga maupun tanaman berkhasiat. Lebih dari 1000 tanaman hias dengan aneka pot warna-warni bertengger di taman-taman mini tersebut.
Inilah taman mini vertikal hasil karya siswa dan orangtua yang diciptakan dalam rangka memperingati Hari Menanam di lingkungan SD Plus Al-Kautsar. Setiap petak berukuran 5 x 3 meter. Masing-masing kelas diberi satu petak untuk digarap menjadi satu taman. Karya ini dilombakan dan dinilai oleh pihak BLH dan DKP Kota Malang sebagai tim juri.
Seakan tak mau lepas dari perhatiannya terhadap lingkungan, SD Plus Al-Kautsar terus berinovasi untuk meningkatkan pendidikan peserta didiknya dengan wawasan lingkungan.
“Ide ini tercetus oleh kepala sekolah kami setelah beliau terpilih menjadi juara 1 Kepala Sekolah Berwawasan Lingkungan,” ujar Kabid Akademik SD Plus Al-Kautsar, Imam Syafi’e, S. Ag.
Mutu pendidikan SD Plus Al-Kautsar terus ditingkatkan. Di tangan Dhiah Saptorini, SE. M.Pd sekolah ini maju dan berkembang sebagai sekolah unggul dan berbudaya mutu. Utamanya di bidang lingkungan yang mengalami kemajuan pesat sehingga gelar Adiwiyata Mandiri berhasil dicapainya. Gelar itu pun diperkuat dengan keberhasilannya menjadi juara 1 dalam lomba Kepala Sekolah Berwawasan Lingkungan Tingkat SD se Kota Malang pekan lalu.
Kini, inovasi itu dilanjutkan dengan digelarnya lomba taman antar kelas. Guru, siswa dan orangtua dilibatkan untuk membuat taman-taman kecil yang ditanami aneka tanaman hias untuk menjadikan sekolah semakin terlihat indah dan asri.
Sebagai sekolah adiwiyata tentu lomba tidak dilakasankan dengan instan. Konsep 3R (Reuse, Reduce, Recycle) tetap diberlakukan sebagai cerminan sekolah yang berbudaya lingkungan. Pot-pot bunga yang digunakan merupakan hasil daur ulang alias dibuat dari barang bekas. Tujuannya tentu mengurangi limbah dengan memanfaatkan bahan habis pakai. Seperti botol air mineral, kaleng susu dan sebagainya. bahan-bahan ini dicat dan dibentuk sedemikian rupa sehingga tampak cantik.   
Tidak hanya menanam, para siswa juga diharuskan membuat deskripsi tentang tanaman meraka.  Muatannya antara lain nama ilmiah tumbuhan terkait, karakter hingga manfaatnya bagi manusia. Deskripsi tersebut ditempel di pot dan di sekitar taman masing-masing. “Harapannya tentu ada nilai lebih yang bisa dipelajari dari apa yang mereka buat,” tambah Imam.
Sementara itu, Sari Wahyu Ningsih selaku orangtua siswa merasa senang dengan adanya lomba taman tersebut. Meskipun juga dilibatkan dalam lomba dirinya tidak merasa direpotkan. Bahkan bangga dengan inovasi sekolah untuk menanamkan pengetahuan dengan cara yang unik bagi peserta didiknya.
“Kami setuju, apalagi ini sekolah adiwiyata yang mengajarkan pada anak bagaimana melestarikan lingkungan. Kami senang dengan lingkungan Al-Kautsar ini yang rindang dan sejuk,” ucap orangtua dari Cahaya Ayu ini.
Hal senada juga diungkapkan Agus Harijono sebagai wali siswa dari Achmad Rizwan. Persiapan yang dilakukannya bahkan beberapa hari sebelum lomba. Namun ia menjadi termotivasi untuk ikut serta menghijaukan sekolah. “Kami senang bisa mendampingi anak-anak. Banyak nilai edukasi yang bisa dipelajari. Kami menilai ini kegiatan yang sangat postif,” ungkapnya. (imm/sir/oci)


Dr Dadi H Maskar

MALANG – Seluruh mahasiswa gizi Universitas Brawijaya (UB) menggelar acara seminar tentang “Tempe, sebagai Makanan Tradisional Berkelas Internasional” kemarin. Acara ini diadakan untuk mengubah mindset mahasiswa calon ahli gizi tentang tempe, yang bukan saja sebagai makanan tradisional kaya akan gizi, namun juga sudah mulai mendunia.
Sekretaris umum The Indonesian Forum Tempe Dr. Dadi H. Maskar mengatakan, jika makanan tempe yang sudah mendunia saat ini telah menambah pemasukan para UKM pengusaha tempe tanah air. “Data kami menyebutkan semakin tahun peningkatan penghasilan pengusaha tempe tanah air semakin naik. Selain itu pengusaha tempe di Indonesia semakin meningkat,” ujarnya. “Kalau seandainya tempe ini terus dibudidayakan, maka masyarakat akan semakin kaya, selain kaya penghasilan juga kaya gizi melalui tempe,” tukasnya. Dadi menjelaskan, pihaknya akan membudidayakan tempe sebagai warisan budaya. Ia juga mengajak para ahli gizi dan calon ahli gizi yang hadir untuk tidak memandang tempe dari segi nilai gizi saja.
“Mungkin sebagai ahli gizi yang bergerak dalam bidang keahliannya hanya menilai tempe dari gizi nya saja, namun pada kenyataannya, tempe sebagai makanan tradisional memang layak dikenal di dunia internasional.
Ia berpendapat, dengan adanya kerja sama antara para akademisi, praktisi dan ahli tempe yang merupakan salah satu wujud kebudayaan bangsa menurutnya ini, bisa membuat makanan ini lebih dihargai.
“Kebanyakan banyak masyarakat yang belum bisa menghargai makanan ini, dianggapnya makanan tradisional makanan yang kuno atau desa istilahnya,” papar dia. Ia ingin bersama-sama memajukan makanan tempe ini sebagai makanan berkelas di Indonesia.
Ia memberikan pengertian kepada mahasiswa untuk bisa secara kreatif dan inovatif mengelola tanaman tempe ini. “Olahan tempe sudah banyak juga, ada keripik tempe, bolu tempe dan macam-macam. Tempe mentah pun juga harus bisa berkelas atau bermerk seperti jenis olahan lainnya,” bebernya. (sin/oci)



BLITAR - Hasil laboratorium sampel es goreo yang menyebabkan 29 siswa SD Semen 01 Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar, keracunan Rabu (16/11) lalu menyatakan ada kandungan bakteri.
"Setelah dilakukan pemeriksaan ditemukan bakteri Bacillus Cereus di dalam kandungan bahan makanan. Jadi untuk tes kimianya tidak ditemukan unsur kimia seperti Insektisida, Sianida maupun jenis karbon lainnya. Tetapi dari pemeriksaan biologis yang ditemukan malah bakteri bacillus cereus," kata Kepala Bidang Penanganan Penyakit dan Masalah Kesehatan (P2MK) Dinkes Kabupaten Blitar, dr Christine Indrawati di kantornya Jalan Semeru, Jumat (9/12/2016).
Bakteri bacillus cereus, jelas dia, sejenis bakteri yang menyerang daya tahan kekebalan tubuh seseorang melalui sistem saluran pencernaan. Saat terjangkit bakteri, dalam waktu sekitar 6-12 jam, penderita mulai merasakan dampak keracunan bakteri. "Makanya anak-anak kemarin keluhannya ada yang muntah-muntah serta diare. Itu merupakan dampak dari kuman bacillus cereus yang terkandung dalam jajanan itu," imbuhnya.
Faktor pengolahan makanan yang kurang higienis serta tidak memenuhi standart prosedur menjadi penyebab utama bakteri itu mudah berkembang. Sumber air yang digunakan saat pengolahan makanan, juga menjadi faktor utama bakteri itu tidak bisa mati saat dilakukan proses pengolahan makanan. "Seharusnya bakteri itu tidak terkandung dalam makanan. Yang paling dominan adalah terkontaminasi bahan air yang dia pakai saat pengolahan jajan yang menyebabkan keracunan itu. Selain itu proses pemasakan yang kurang matang juga menjadi masalah utama bakteri tidak dapat mati saat pengolahan. Semisal air yang direbus seharusnya panas yang dihasilkan mencapai 100 derajat celcius, mungkin itu hanya sekedar panas saja. Jadi bakteri itu tidak mati," jelasnya.
Pihaknya akan mengedukasi tata cara pengolahan makanan yang benar dan memberikan materi tentang bakteri yang tidak bisa mati saat proses pengolahan ke produsen makanan di Kabupaten Blitar. Hal ini dilakukan agar kasus serupa tidak terulang.
Sementara Kapolsek Gandusari AKP Purwadi mengatakan, akan terus melakukan pengejaran pelaku yang sudah meresahkan masyarakat Kabupaten Blitar, khususnya kalangan orang tua di sekolah. Purwadi menyebut saat ini pelaku sudah tidak berada di wilayah Kab Blitar.
"Kita telah melakukan penyelidikan diberbagai sekolah dasar di Kabupaten Blitar, namun pelaku belum ditemukan. Bahkan dari berbagai keterangan yang diperoleh mayoritas penjual jajanan yang beroperasi di sekolah di Kabupaten Blitar ini merupakan pendatang dari wilayah Jawa Tengah," ungkapnya.
29 siswa SDN 01 Semen Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar keracunan. Mereka mengalami mual dan muntah setelah mengkonsumsi es, Rabu (16/11). Mereka terdiri dari 16 perempuan dan 13 laki-laki. Mereka mengaku mengkonsumsi es Goreo saat jam istirahat sekolah. (dtc/ss/udi)

Halaman 1 dari 1266