Malang Post | Kriminal - Malang Post

Kriminal



PROBOLINGGO - Ribuan santri masih memilih bertahan di tenda-tenda yang berdiri di sekitar Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, meski polisi sudah mengimbau agar mereka pulang ke rumahnya masing-masing.
Rupanya, beredar isu di kalangan para santri jika yang ditangkap polisi dan ditahan di Polda Jatim sosok ghaib atau bayangan Dimas Kanjeng. Sedangkan Dimas Kanjeng yang dianggap maha gurunya masih bebas di luar sana. Bahkan para santri juga tidak percaya jika Dimas Kanjeng melakukan pembunuhan.
Kepala Kemenag Kabupaten Probolinggo, Bustomi mengaku jika dua kloter haji di wilayahnya, tidak tercantum nama Taat Pribadi sebagai jamaah haji tahun 2016. "Kemarin Sabtu (24/9) kita cek namanya tidak terdaftar di Kemenag Kabupaten Probolinggo untuk jamaah haji tahun 2016. Yang mengatakan dia ada di Mekkah hanya isu belaka. Mungkin hanya orang-orang yang mempercayainya, tergantung keyakinan masing-masing," tambah Bustomi saat dihubungi, Minggu (25/9/2016).
Sementara seorang santri yang bertahan di padepokan, Tugino (52) asal Sragen-Jawa Tengah, tetap meyakini jika pria yang dianggap maha gurunya itu baik-baik saja di luar sana, bukan ditangkap polisi dan ditahan di Polda Jatim.
"Yang ditangkap itu bayangannya. Guru besar kami sedang menunaikan ibadah haji di Mekkah, beliau baik-baik saja di sana. Kami semua di sini menunggu kedatangan beliau sampai kembali memimpin padepokan," kata Tugino (52) kepada wartawan saat di tenda padepokan dengan pengawasan polisi.
Baik Tugino dan santri lainnya tidak percaya jika yang ditangkap Dimas Kanjeng. "Kami sangat yakin kalau guru kami sebelum ada peristiwa penangkapan itu, sudah berada di tanah suci Mekkah. Jadi tidak usah tanya masalah itu lagi mas," tandas Tugino.
Saat disinggung mahar yang dikeluarkan selama menjadi pengikut Dimas Kanjeng, Tugino membenarkan. Namun mahar yang secara ikhlas diberikan kepada Dimas Kanjeng. Sebab mahar itu untuk kepentingan dirinya sendiri sebagai seorang santri dan mengabdi di padepokan. "Memang ada mahar, tapi kan itu untuk santunan yatim piatu yang dilaksanakan setiap tahun oleh padepokan. Dan untuk pembangunan dan pengembangan padepokan. Kami ikhlas dan tidak mengharapkan yang lainnya," tambahnya.
Namun saat ditanya jumlah mahar yang dikeluarkan, Tugino bungkam. Dirinya mengaku ikhlas atas semua yang telah diberikan, meski makan setiap hari di padepokan harus mengeluarkan uang sendiri sekitar Rp 50 ribu. Tapi dia buru-buru menjelaskan jika gurunya bukan pengganda uang. "Guru kami bukan pengganda uang dan beliau tidak menjanjikan apa-apa, atau menjanjikan uang kami kembali berlipat-lipat," tegasnya.
Hingga kini polisi dari Polres Probolinggo dan satuan Brimob Polda Jatim, masih terus melakukan penjagaan secara ketat di area padepokan Dimas Kanjeng. (dtc/det/udi)

Halaman 1 dari 4119

loading...