Pelarian Tersangka Korupsi PBB Berakhir

Tersangka Agung Aji Permana saat diperiksa Kasat Reskrim Polres Malang kemarin

Enam Bulan Jadi Buron
KEPANJEN- Jangan bergerak !!! Teriak petugas kepolisian yang membawa pistol, saat mengrebek salah satu rumah yang terletak di Jalan A Yani RT 03 RW 01 Kecamatan Ngajum, Senin pagi kemarin. Teriakan itu membuat Agung Aji Permana tidak berkutik. Honorer UPTD Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Malang itu memilih menyerah.
Penggrebekan itu, mengakhiri pelarian Agung Aji Permana,  selama enam bulan terhenti. Pria berusia 31 tahun ini, menjadi tersangka kasus korupsi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) senilai lebih dari Rp 500 Juta. Setelah ditangkap, dia digelandang ke Mapolres Malang untuk dijebloskan ke dalam sel tahanan. Kasat Reskrim Polres Malang AKP Wahyu Hidayat SIK mengatakan, tersangka dilaporkan korupsi pada bulan Agustus 2014 lalu.
“Sebenarnya, kasus ini sudah lama. Namun, kami baru berhasil menangkap pelakunya pada hari ini (kemarin,red),” ujar Wahyu kepada Malang Post kemarin.
 Dijelaskannya, saat hendak dimintai keterangan pada akhir bulan Agustus tahun 2014 lalu, tersangka melarikan diri. Dalam pelariannya, tersangka berpindah-pindah daerah, seperti ke Surabaya dan Gresik.
Keberadaan tersangka ini sulit dideteksi. Namun, kata dia, begitu mendapat kabar tersangka pulang ke rumahnya, petugas tidak menyiakan kesempatan itu. Yakni dengan bergegas melakukan penangkapan. Saat ditangkap itu, tersangka hanya bisa pasrah ketika digelandang ke Mapolres Malang.
“Mulanya, kami duga kerugian negara senilai lebih dari Rp 1 miliar.  Namun, setelah diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) kerugian negara Rp 500 juta lebih,” terang Perwira Pertama (Pama) dengan tiga balok di pundaknya ini.
Modus yang dilakukan kata dia, memalsukan bukti setoran slip ke Bank Jatim. Sebelumnya, tersangka mengumpulkan uang PBB dari wajib pajak, ke desa-desa langsung kepada masyarakat dan juga kepada pemerintah desa.
“Setelah terkumpulkan, sebagian ada yang disetorkan, sebagian besar lagi tidak disetorkan. Uang yang tidak disetorkan, seolah-olah disetorkan dengan memalsukan slip setoran,” katanya.
Peristiwa ini terungkap, saat salah seorang masyarakat yang sudah merasa menitipkan setoran PBB kepada tersangka, tapi tetap ditagih untuk membayar pajak. Usut punya usut, uang titipan pembayaran PBB itu tidak disetorkan.
“Korbannya ada sekitar puluhan orang yang sudah melapor kepada kani,” terang mantan Kasat Reskrim Polres Tuban ini.
Di hadapan penyidik yang memeriksanya, tersangka berkilah melakukan dugaan korupsi tersebut. “Uang yang saya setorkan itu banyak, otomatis slipnya banyak pula. Saat saya meyerahkan slip setoran tersebut ke atasan, eh malah dinyatakan tidak valid dan paslu,” kilah tersangka.
Sekali setor kata dia, minimal Rp 20 juta dan maksimal Rp 100 juta. Terkait beberapa bukti transfer dan slip setoran palsu, dia mengaku tidak tahu.
“Saya bekerja di bidang PBB yang tugasnya menarik dan mengecek setoran. Terdapat tiga orang di bidang itu dan termasuk saya koordinatornya. Mungkin karena saya koordinatornya, sehingga disalahkan. Bisa jadi ada petugas lain yang melakukan itu,” ujar tersangka bersikeras (big/aim)