Sindikat Pemalsu Paspor dan Buku Nikah Dibongkar

KEPANJEN - Sindikat pemalsuan paspor buku nikah, berhasil dibongkar jajaran Satreskrim Polres Malang. Polisi juga menciduk pelaku pemalsu dua dokumen penting itu, dini hari (16/3) kemarin. Tersangkanya Arsawi, 50 tahun, warga Desa Sidorejo Kecamatan Ampelgading, mengaku memiliki jaringan di kantor Imigrasi dan Kantor Urusan Agama (KUA).
Saat ditangkap, tersangka juga membawa sabu satu poket di saku celananya. Mulanya, petugas menangkap tersangka terkait kasus penggelapan mobil. “Saat kami geledah di rumah tersangka, terdapat ratusan paspor dan buku nikah palsu ini,” ungkap Kasat Reskrim Polres Malang AKP Wahyu Hidayat SIK kepada Malang Post kemarin.
Dijelaskannya, terkait kasus pemalsuan buku nikah dan paspor ini, diduga tersangka memiliki sindikat maupun jaringan. Saat ini, pihaknya tengah mendalami jaringan yang diikuti oleh tersangka ini. Hasilnya, melalui pemeriksaan yang dilakukan, pelaku mendapatkan paspor ini dari salah seorang temannya yang berada di Surabaya.
“Identitasnya sudah kami kantongi, saat ini kami tengah buru pelakunya. Diduga, terdapat lebih dari satu pelaku, terkait pemalsuan buku nikah dan paspor ini,” terang Perwira Pertama (Pama) dengan tiga balok di pundaknya.
Sedangkan keberhasilan penangkapan tersangka ini kata dia, atas informasi dari masyarakat. Saat itu, terdapat informasi tersangka yang terkait kasus penggelapan mobil ini, pulang ke rumahnya setelah dari Batam.
“Sebenarnya, kami menangkap tersangka ini berkaitan kasus pennggelapan. Saat kami geledah, ternyata ditemukan satu paket sabu-sabu dan ratusan buku nikah serta paspor palsu ini,” kata Mantan Kasat Reskrim Polres Tuban ini.
Sehingga kata dia, tersangka bakal dijerat dengan pasal berlapis, yakni kedapatan membawa sabu-sabu, penggelapan mobil dan pemalsuan dokumen penting. Sementara itu, tersangka mengatakan, membeli dua dokumen palsu itu dari rekannya di Surabaya. Pengakuannya, dia juga pernah membuat dua dokumen palsu tersebut.
“Saya terimanya buku nikah dan paspor ini dalam keadaan kosongan. Kemudian, saya isi datanya tersebut, sesuai dengan permintaan dari para pemesan,” terangnya.
Dia mengaku selama satu tahun ini, sudah menjalankan bisnis terlarang tersebut. Tersangka berkilah, menjalankan usaha tersebut untuk mempermudah masyarakat.
“Kalau mengurus secara resmi, itu lama, terutama untuk paspor. Sedangkan pemesannya, banyak dari masyarakat yang identitasnya tidak sesuai. Sehingga biar mudah, maka dibuat dua dokumen ini dan diisi sendiri,” kilah bapak dua anak ini.
Tersangka mengaku juga memiliki koneksi di Kantor Imigrasian dan Kantor Urusan Agama (KUA), untuk mempermudah pembuatan dua dokumen palsu itu. “Khusus untuk buku nikah, saya jual ke para TKI yang berada di Malaysia. Satu buah buku, seharga 50 Ringgit Malaysia dan pembayarannya transfer lewat bank,” tuturnya.
Sedangkan untuk paspor palsu kata dia, biasanya banyak dipesan oleh orang yang bermasalah pada identitas yang tidak sama. Seperti antara KK dan KTP, penulisan namanya, tidak sama. Sehingga bila mengurus paspor, harus dibenahi dulu dua dokumen itu, yakni dengan mengurusnya ulang, supaya identitasnya sama.
“Cara seperti itu kan ribet. Makanya, saya memfasilitasi lewat pembuatan paspor palsu ini. Tujuannya juga supaya mempermudahkan pengurusan,” tandasnya.(big/ary)