Lutfiana : Suami Saya Itu Petani

MALANG – Kematian Sukarno, cukup membuat keluarganya kaget. Termasuk Lutfiana, 28 tahun, istrinya. Mereka tidak menduga, orang yang disayangi telah meninggalkannya untuk selamanya. Sukarno meregang nyawa setelah ditembak mati polisi.
“Kami (keluarga, red) mendapat kabar sekitar pukul 10.00. Itupun tidak langsung dari polisi. Kabar kami terima dari Pak Pur (Kamituwo Dusun Sumber Perkul, Desa Gedangan, red), katanya dihubungi polisi kalau Sukarno ditembak mati,” terang Suwarni, kakak kandung Sukarno.
Suwarni menambahkan, keluarga sangat kaget dengan kabar kematian Sukarno. Keluarga juga menyesalkan tindakan polisi yang menembak mati Sukarno. Sebab, diakui pihak keluarga bahwa Sukarno sebelumnya sama sekali tidak pernah terlibat kasus pencurian.
“Seharusnya kan ada peringatan dulu, tidak langsung menembak mati. Kami sangat menyesalkan tindakan polisi. Sebab selama ini, Sukarno bekerja sebagai petani. Kalau masalah kasus pencurian yang dilakukannya, keluarga sama sekali tidak tahu,” tutur Suwarni.
Untuk firasat, Suwarni mengatakan malam sebelumnya, ia bermimpi kalau rumah ibunya, sedang ramai didatangi tetangga karena ada kegiatan selamatan. “Apakah itu firasat, saya tidak tahu. Perasaan saya tadi pagi (kemarin, red) juga merasa aneh. Karena setiap pagi, Sukarno ini selalu minta makan. Tetapi tadi pagi (kemarin, red) tidak kelihatan sama sekali,” jelasnya.
Sukarno ini, pergi selamanya meninggalkan istri serta seorang anak berusia 4 tahun. Sebelum ditembak mati polisi pagi kemarin, Lutfiana mengatakan kalau ia terakhir bertemu dengan suaminya, Selasa malam. Namun diakui, sama sekali tidak membicarakan apa-apa.
“Saya keluarnya pun juga tidak tahu, karena tidak berpamitan. Ia pergi sama siapa, dijemput oleh siapa tidak tahu,” ujar Lutfiana.
Soal kasus curanmor yang dilakukan Sukarno, ibu satu anak itu sama sekali tidak tahu. Selama ini yang diketahuinya, bahwa suaminya bekerja sebagai petani. “Saya tidak ada firasat. Kalau soal mencuri, mungkin saja diajak oleh Haryanto temannya,” katanya sembari menahan tangis.(agp/ary)