Dua Remaja Ngantang Hilang di Pantai

NGANTANG - Liburan Nyepi menjadi tragedi bagi pasangan remaja dari Kecamatan Ngantang. Syaiful Fatkurohman, 19 tahun warga Dusun Celaket, Desa Pagersari. Serta Henik Setyowati, 17 tahun warga Dusun Laju, Desa Banjarejo, Kecamatan Ngantang. Keduanya hilang ditelan ombak Pantai Jolosutro di Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar Sabtu (21/3) lalu.
Korban yang liburan bersama empat rekannya itu, hingga Minggu sore kemarin belum ditemukan. Polsek Wates bersama relawan serta warga, terus melakukan upaya pencarian dengan menyusuri bibir pantai. Bahkan, perangkat desa dari dua wilayah tersebut, harus bergantian mendatangi lokasi untuk ikut mengawasi upaya pencarian bersama orang tua korban.
“Sampai Minggu sore ini masih belum ditemukan. Sejak kemarin (Sabtu, red), saya yang berada di lokasi bersama pihak keluarga korban,” kata Kades Banjarejo, Jamari kepada Malang Post.
Jamari menjelaskan, kedua korban berangkat ke pantai dalam rangka liburan. Selain keduanya, ada empat teman korban yang berlibur ke pantai dengan menggunakan dua sepeda motor atau berboncengan. Empat teman korban tersebut, masing-masing Risky Candra Gunawan, 21 tahun warga Dusun/Desa Pagersari, Bima Hendika Miransyah, 23 tahun warga Dusun Celaket Desa Pagersari, Dita, 18 tahun warga Desa Ngantru Kecamatan Ngantang dan Miftahul Hidayati, 18 tahun warga Dusun Celaket Desa Pagersari.
“Berangkat ke Jolosutro berbarengan memakai tiga sepeda motor. Rombongan tersebut, berangkat dari Ngantang sekitar pukul 10.00 dan tiba di lokasi sekitar pukul 12.30,” tambahnya.
Berselang 30 menit, enam remaja Ngantang itu, kemudian langsung mandi di bibir pantai. Tiba-tiba ombak pasang meninggi. Selanjutnya, langsung membawa tubuh Syaiful dan Henik, sampai sekarang.
Kades Banjarejo, Johan Supriyadi, dikonfirmasi terpisah membenarkan bahwa satu warganya terbawa ombak Jolosutro. Terkait kejadian itu, dirinya juga akan membantu upaya pencarian di lokasi.
“Kebetulan hari ini (Minggu) waktunya saya menggantikan Kades Pagersari. Jadi, sejak kejadian itu, kami berdua harus gantian di lokasi kejadian, untuk membantu proses evakuasi korban, kalau nantinya berhasil ditemukan,” ujarnya kepada Malang Post.
Korban Henik sendiri merupakan pelajar SMK Negeri 1 Pujon kelas XII. Dia berangkat ke Jolosutro, dibonceng oleh korban Syaiful. “Doanya saja, mudah-mudahan keduanya bisa cepat ditemukan,” imbuhnya.
Camat Ngantang, Ichwanul Muslimin, dikonfirmasi terpisah mengaku sudah memberikan izin kepada dua kadesnya untuk membantu upaya pencarian. Caranya, dengan bergantian standby di lokasi pencarian. Sehingga, begitu ketemu bisa langsung menginformasikan kepada pihak keluarga atau langkah-langkah penanganan.
“Iya, mereka sudah izin dan saya berikan. Agar pelayanan di masing-masing desa tetap jalan, mereka harus gantian berjaga,” ujarnya.

Pemuda Kepanjen Tewas di Sungai Barek
Sementara itu, Ahmad Imaman Wicaksono, 18 tahun, bersenang-senang dengan mandi di sungai Barek, Desa Srigonco, Kecamatan Bantur bersama teman-temannya berakhir duka. Warga Jalan Sidodadi RT79 RW02, Desa Desa Panggungrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang ini ditemukan tewas, setelah terbawa arus sungai. Jenazah korban yang ditemukan 200 meter dari tempat pertama hanyut, oleh keluarganya langsung dibawa pulang.
“Kami sempat membawa jenazah korban ke Puskesmas Bantur, selanjutnya oleh keluarganya dibawa pulang. Mereka menerima kematian korban, namun keberatan saat jenazah akan dibawa ke kamar jenazah RSSA Malang,’’ terang Kapolsek Bantur AKP Karmidi.
Kapolsek juga menjelaskan peristiwa naas tersebut terjadi, Sabtu (21/3)  pukul 15.00 WIB lalu. Awalnya, korban dan dua temannya yakni Mohammad Nugroho ,17 tahun warga Jalan Sidorahayu,  Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang dan Rohmad Prima H,18 tahun, warga Dusun Gombangan RT 35 RW05,  Desa Tupakrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang mandi di Sungai Barek. Tidak jelas siapa yang mengajak korban mandi di sungai tersebut. Tapi yang jelas, saat ketiganya berada di sungai dengan kedalaman satu meter tersebut, korban tiba-tiba menghilang.
Warga dan petugas langsung melakukan penyisiran. Upaya pencarian ini membuahkan hasil. Tubuh korban ditemukan, terbawa arus sungai  yang saat itu cukup deras.  “Tidak ada bekas-bekas yang mencurigakan ditemukan di tubuh korban.  Ada dugaan korban hanyut karena tidak bisa berenang,’’ urainya.
Sementara dari keterangan dua saksi, dikatakan Karmidi bahwa ketiganya baru saja dari Pantai Nganteb.  Tapi ketiganya memilih berpisah dari rombongan, untuk kemudian mandi di Sungai Barek. “Kalau menurut keterangan saksi ada beberapa orang yang ke Pantai Nganteb. Tapi saat yang lain pulang, korban dan dua saksi lainnya memilih berpisah. Selanjutnya mandi di Sungai Barek,’’ tandas Karmidi.

Bocah TK Tewas di Pantai Kondang Buntung
Liburan Nyepi di Pantai Kondang Buntung Desa Srigonco Kecamatan Bantur, juga jadi duka Sabtu (21/3) lalu. Setelah seorang bocah TK bernama Adios Karitias Sine, lima tahun, ditemukan tewas di pinggir pantai. Saat bermain di pinggir pantai, bocah tersebut lepas dari pengawasan kedua orang tuanya.
Informasi yang berhasil dihimpun, bocah tersebut bersama keluarganya dari Sidoarjo datang ke Pantai Kondang Buntung, berniat untuk liburan. Mereka datang ke tempat wisata itu, sekitar pukul 10.00 WIB. Kemudian, bermain di pantai itu. Sekitar pukul 10.30 WIB, keberadaan dari  Aidos Karatias Sirine tak diketahui.
“Saat ombak datang menggulung, bocah ini terseret ke tengah dan langsung lenyap,” ujar salah seorang anggota PMI Kabupaten Malang, Wiyono kepada Malang Post kemarin.
Warga sekitar lalu bergegas melakukan pencarian. Dibantu PMI Kabupaten Malang dan Warga dari Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wonodadi serta anggota SAR.
Pencarian dilakukan selama dua jam lebih, membuahkan hasil. Mayat bocah malang itu, ditemukan terkubur di pasir pantai tersebut. Jenazahnya lantas dibawa ke Puskesmas Bantur untuk dilakukan pemeriksaan.
Pasca diperiksa, jenazah dibawa pulang ke rumah duka di Perumahan Citra Harmoni, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo. “Saat ditemukan, kondisi pakaian dari korban masih lengkap. Namun, perutnya menggelembung. Lantaran kebanyakan kemasukan air,” terang Wiyono.(sit/ira/big/ary)