Terlibat Curanmor hingga Penganiayaan

MALANG – Sepak terjang Zainul Arifin dalam dunia kejahatan, ternyata tidak hanya sebagai pelaku jambret. ‘Kelelawar’ ini (sebutan pelaku jambret) juga multi talent. Ia menjadi buronan Polsekta Kedungkandang, karena terlibat beberapa kasus kriminalitas lainnya.
Diantaranya adalah kasus pencurian kendaraan bermotor (Curanmor). Bersama seorang temannya berinisial SL yang kini masih buron, Zainul mencuri sepeda motor Kawasaki R nopol N 2458 CQ. Sepeda motor milik Andik Asmoro tersebut, dicuri saat di parkir di Jalan Raya Muharto Malang, pada 11 Maret lalu.
Zainul dengan mudah mencuri, karena kunci motor saat itu masih terpasang. Sepeda motor curian tersebut, tidak dijual. Melainkan dijadikan sarana beraksi menjambret, dengan merubah nomor polisi menjadi N 6420 AAM.
Selain itu juga menjadi buronan kasus penganiayaan kepada Musoli, di Jalan Raya Muharto Malang (depan warung simpang empat Cukam). Penganiayaan terjadi pada 8 Maret 2015 lalu. Zainul yang terlibat cek-ceok dengan korban, langsung memukul. Ia juga mengeluarkan senjata tajam untuk mengancam. “Permasalahan penganiayaan karena masalah parkir motor saja,” ujar Kapolsekta Kedungkandang, Kompol Putu Mataram.
Satu kasus lagi adalah pencurian di rumah Imam Zakaria, di Jalan Mayjen Wiyono, pada Jumat (20/3) pukul 10.00. Zainul berhasil masuk melalui pintu samping, ketika rumah dalam kondisi kosong. Imam Zakaria, saat itu tengah berada di rumah tetangganya.
Setelah berhasil masuk, Zainul lalu mengambil beberapa barang. Begitu berhasil, ia lantas keluar rumah. “Kalau tersangka Zainul tidak mengakui pencurian itu silahkan saja. Tetapi  yang pasti kami punya batang bukti rekaman CCTV yang terpasang di rumah korban,” tutur Putu Mataram.
Kapolres Malang Kota, AKBP Singgamata mengatakan akan memproses semua kasus yang dilakukan Zainul Arifin. Tidak hanya kasus jambret, tetapi semua kasus yang dilakukannya. Bahkan, setiap kasus perkara yang dilakukan Zainul ini, akan dijadikan satu berkas.
“Semua TKP kejahatan yang dilakukan Zainul, tidak kami jadikan satu. Tetapi kami minta satu perkara satu berkas. Karena tidak ada kata ampun untuk penjahat jalanan, karena mereka sudah meresahkan masyarakat. Ini juga untuk memberikan efek jera kepada pelaku,” tegas Singgamata.(agp/ary)