Buru Penjahat, Polisi Belajar Ilmu “Gendam“

MALANG – Munculnya penjahat jalanan berilmu kebal seperti Zainul Arifin, memaksa Polres Malang Kota berguru ilmu "gendam". Ya, demi memberantas kejahatan di Kota Malang, penyidik Polres bakal dibekali ilmu "gendam", atau dikenal sebagai hipnosis. Cara ini diyakini bisa mencegah, penjahat yang berbelit-belit dalam memberikan keterangan.
"Ini akan mempermudah penyidik dalam menggali informasi," ujar Kapolres Malang Kota AKBP Singgamata SIK MH kepada Malang Post, saat dihubungi kemarin (24/3/15). Ditambahkan, dengan kemampuan ini para penyidik juga bisa mengetahui apakah saksi dan pelaku yang diperiksa, berkata jujur atau tidak.
Penggunaan ilmu hipnosis di bidang penyidikan memang ada. Di barat, lebih dikenal istilah forensik hipnosis. Dengan kemampuan ini, para penyidik bisa mengungkap memori di alam bawah sadar milik saksi atau pelaku. Sehingga, dengan kemampuan ini saksi atau pelaku yang mulanya sulit mengingat sebuah kejadian, jadi bisa melakukan hal tersebut.
Saksi atau pelaku jadi lebih mudah dalam mendeskripsikan kejadian yang berkaitan dengan penyelidikan. Sehingga, informasi dari saksi atau pelaku yang mulanya sulit didapat, akan lebih mudah didapat.
Kemampuan ini bakal sangat berguna. Apalagi, sekarang masih banyak pelaku kejahatan berkeliaran di Kota Malang. Mulai dari pelaku begal, Curanmor, perampokan minimarket, sampai jambret.
Pelaku perampokan Indomaret spesialis alat kejut listrik di Jl Bendungan Sutami dan Jl Trunojoyo, belum tertangkap. Komplotan jambret dan Curanmor Zainul C juga masih dalam pengejaran. Belum lagi pelaku kejahatan lain.
" Kita kirimkan ahli dari Jakarta," ujar mantan Kapolres Lumajang ini.
Ia mengklaim, pembekalan hipnosis terhadap para penyidik di Polres Lumajang saat dia menjabat disana, terbukti ampun membantu polisi mengungkap kasus.
Kemampuan hipnosis ini, lanjut Singgamata, akan berguna bagi para penyidik saat di dalam ruangan, maupun di lapangan. Kendati demikian, kemampuan ini tidak bisa sampai memengaruhi orang lain. Apalagi membuat seseorang mengakui kalau mereka pelakunya.
"Kita nanti dilatih untuk mengetahui bahasa tubuh, gerakkan mata, dan sebagainya. Tidak bisa sampai memengaruhi pelaku," tuturnya.
Di sisi lain, untuk menindaklanjuti komplotan Zainul Cs,  Polres Malang Kota tak kenal ampun. Singgamata mengatakan, dirinya telah mengintruksikan kepada seluruh Polsek di jajaran Polres Malang Kota, untuk melakukan penanganan atas kasus tersebut.
"Terus kami lakukan pengejaran. Alamat juga sudah kami ketahui. Seluruh Polsek jajaran juga kami kerahkan untuk menangani kasus ini," kata Kapolres Malang Kota, AKBP Singgamata SIK MH kepada Malang Post kemarin.
Pasalnya, sampai sekarang beberapa pelaku komplotan Zainul Cs masih buron. Mereka adalah teman Zainul saat beraksi melakukan kejahatan.
Keduanya adalah SL dan HS. SL membantu Zainul dalam melakukan aksi Curanmor di kawasan Muharto. Sedangkan, HS, merupakan rekannya dalam menjambret Maria Ulfa di Jl Parseh Jaya, Kedungkandang.
"Kami masih belum tahu, apakah keduanya saling kenal. Tapi, kita akan terus mengejar buronan lainnyu," pungkas Singgamata.
Terkait hipnosis sendiri, dosen psikologi forensik di Universitas Brawijaya (UB), Ika Herani, S.Psi, Msi.,Psikolog memberikan pendapat. Menurutnya, dengan mempelajarinya, para penyidik hanya akan menjadi lebih peka dalam memroses informasi. "Hanya dibuat lebih peka saja. Sebenarnya mereka sudah punya, cuma kemampuannya diasah" ujarnya.
Dikatakan lebih lanjut, memelajari hipnosis untuk kepentingan forensik, tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam memelajarinya. Bisa lebih sebentar atau lebih lama.
"Polisi juga harus hati-hati. Sebab, ada kode etik dalam menggunakan ilmu ini. Sehingga, tidak sembarangan orang bisa menggunakannya," pungkas wanita yang juga menjabat sebagai Kepala Lab Psikologi UB ini.(erz/ary)