Densus 88 Tangkap Tiga Terduga Pengikut ISIS

MALANG – Malang berstatus darurat kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Dalam sehari, Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri menangkap tiga orang terduga pengikut ISIS di Kota Malang, kemarin. Sebelumnya, nama Panglima ISIS asal Malang yakni Salim Mubarok Attamimi sudah terlebih dahulu muncul.
Ketiga terduga ini adalah Abdul Hakim Munabari (45 tahun), warga Jalan Ade Irma Suryani Gg 3 A, Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen. Kemudian Helmi M Alamuddin, warga Jalan Soputan II, RT01 RW01, Kelurahan Karang Besuki, Malang. Dan Ahmad Junaidi Jalan Kyai Parseh Jaya No 2, RT 1, RW 4 Bumiayu.
Abdul Hakim Munabari (AHM) ditangkap di pinggir Jalan Arif Margono Malang. Saat ditangkap ia sedang duduk di sebelah Cafe Net. Tiba-tiba datang mobil warna gelap jenis Avanza. Lokasi penangkapannya berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya. AHM diduga baru pulang dari perang di Syria.
“Tiga orang berpakaian hitam dengan membawa senjata turun dari mobil. Mereka langsung menangkap (AHM, red) yang kemudian dinaikkan mobil dan pergi,“ terang Sampan, seorang tukang becak yang mengetahui penangkapan.
Sedangkan Helmi M Alamuddin (HMA) ditangkap di Taman Agung (taman bermain anak) tak jauh dari rumahnya. Jaraknya sekitar 150 meter. Saat ditangkap oleh Tim Densus 88 Polri, terduga HMA sedang membeli es jus. Pria ini diduga sebagai penyandang dana jejaring ISIS di Malang.
Sementara itu sekitar jam 18.45 WIB tadi malam,  Densus 88 Mabes Polri kembali menangkap seorang warga Kota Malang diduga terkait ISIS di Jalan Kyai Parseh Jaya No 2, Bumiayu, Kedungkandang. Warga yang ditangkap itu bernama Achmad Junaidi, 34 tahun.
“Yang bersangkutan sehari-harinya kontrak di Jalan Labu. Sedangkan aslinya dari Sumbertangkil, Tirtoyudo,” jelas Lurah Bumiayu, Siswanto Heru Suparnadi.   
Junaidi dikenal sebagai juragan bakso.  Namun menurut Heru, berdasarkan informasi yang dikumpulkan tadi malam, Junaidi memang pernah menjadi penjual bakso. Belakangan tak diketahui lagi pekerjaannya. “Informasi yang kami dapat, orangnya tertutup,” katanya.
Ketiga terduga jaringan ISIS ini, langsung dibawa pergi. Dari sumber Malang Post, ada yang menyebut mereka dibawa ke Polda Jawa Timur. Ada juga yang mengatakan bahwa para terduga dibawa ke Mako Brimob Ampeldento Pakis, untuk dilakukan pemeriksaan.
Tertangkapnya AHM dan HMA sebagai terduga jaringan ISIS, membuat warga sekitarnya gempar. Ketua RT07 RW11, Jalan Ade Irma Suryani Gg 3 A, Feriyal mengatakan bahwa Abdul Hakim dulu memang sering mengadakan pengajian di rumahnya pada tengah malam. Jamaahnya bukan warga sekitar, melainkan pendatang dari luar.
Selama ini, Abdul Hakim juga dikenal warga sebagai pendiam. Orangnya tertutup tidak pernah berbaur dengan warga sekitar. Bahkan, kegiatan sosial kampung pun, Abdul Hakim tidak pernah ikut.
Bahkan, sebelum ditangkap Tim Densus 88 Polri kemarin, sekitar enam bulan lalu Abdul Hakim sudah pernah dicari-cari oleh petugas Polda Jatim. Beberapa petugas mendatangi rumah Ketua RT. Dan sumber dari beberapa warga lain, Abdul Hakim sekitar enam bulan lalu pernah pergi ke wilayah Timur Tengah.
“Mereka menanyakan rumah Abdul Hakim. Namun karena saat didatangi yang bersangkutan tidak ada, mereka (petugas, red) langsung kami antarkan ke Ketua RW,” terang Feriyal.
Sementara, ditangkapnya Abdul Hakim ini, membuat keluarganya kaget. Belgis (42 tahun) adik ketiga serta Nur Kamelia adik bungsunya mengaku tidak percaya kalau kakaknya tergabung dalam jaringan ISIS. Sebab selama ini, dikatakannya Abdul hakim tidak pernah pergi jauh.
“Kami jelas kaget. Karena tadi pulang-pulang, diberitahu Ibu RT kalau banyak wartawan datang. Kami sama sekali tidak percaya kalau kakak saya terlibat ISIS,” ujar Belgis.
Ia mengatakan, selama ini Abdul Hakim tinggal di Jalan Ade Irma Suryani Gg 3 A, bersama dengan istrinya Iklima Thalib, serta kedua anaknya yang masih TK serta kelas 2 SD. Namun sejak beberapa bulan lalu, Belgis ikut tinggal di rumah Abdul Hakim. Sebelumnya ia tinggal di Banyuwangi.
Begitu juga dengan Nur Kamelia adik bungsunya, yang juga ikut tinggal di rumah tersebut, setelah suaminya meninggal dunia. Selama tinggal serumah, Belgis mengatakan kalau Abdul Hakim tidak pernah bercerita apa-apa.
“Abdul Hakim itu anak pertama dari dua bersaudara. Kakak saya yang nomor dua tinggal di Situbondo. Selama ini tidak pernah cerita apa-apa, karena pendiam dan tertutup. Kalau malam memang ada satu sampai dua orang temannya yang datang untuk sekedar ngobrol,” terang Belgis.
Selama ini, keseharian Abdul Hakim hanya berjualan bubuk kopi jahe rempah cap Maroko serta madu. Bubuk kopi jahe itu buatannya sendiri. Kalau ada orang memesan, dia kemudian mengantarkannya. “Saat ini istrinya sedang tidak ada di rumah. Ia tidak tahu kalau suaminya ditangkap polisi. Sebab sedang berwisata ke Selecta Batu bersama dengan anggota arisan warga,” jelasnya.
Belgis menambahkan, kakaknya Abdul Hakim sebelumnya tidak pernah pergi jauh. Ia pernah pergi ke Malaysia, ketika masih lajang. Setelah itu diakui sama sekali tidak pernah. Riwayat pendidikannya, adalah di SD Taroki, kemudian MTs Hadijah dan SMA Muhammadiyah Malang. “Kalau salatnya memang tekun. Setiap mendengar adzan langsung pulang dan mengajak istrinya salat berjamaah,” tambahnya.
Muslih ketua keamanan wilayah setempat, membenarkan bahwa Abdul Hakim memang jarang bersosialisasi dengan warga. Ia sama sekali tidak pernah ikut kegiatan kampung. “Orangnya memang tertutup. Dan selama ini kami memang curiga dengan gerak-geriknya,” kata Muslih.
Sementara itu, pihak keluarga Helmi M Alamuddin, masih belum bisa dimintai keterangan. Rumahnya masih tertutup. Namun warga sekitar membenarkan bahwa Helmi ditangkap oleh petugas dengan pakaian serba hitam.

Strategi Penangkapan Disusun Mabes Polri

Kapolda Jatim Irjen Pol Anas Yusuf membenarkan telah dilakukan penangkapan terduga pengikut Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Malang, Jatim.
"Benar, memang ada kegiatan yang tengah dilakukan oleh personel Densus 88 dari Mabes Polri, TKP nya di Malang, Jatim. Dan, terkait itu Polda Jatim membantu, soal strategi mengikuti Mabes Polri," ujar Anas Yusuf usai membuka acara Rapat Pimpinan Polda Jawa Timur Tahun 2015 di Gedung Mahameru, di Mapolda Jawa Timur, Rabu 25 Maret 2015.
Anas menambahkan, terkait itu (ISIS) Polda Jatim juga melakukan upaya-upaya pengembangan dengan melibatkan komponen lain. "Diantaranya para ulama dan stakeholder di Jatim terkait indikasi keterlibatan dengan jaringan ISIS," tambahnya.‎
Anas ‎menyebut, semua wilayah di Jatim juga dipetakan, tidak hanya Malang. "Soal perkembangannya nanti akan kita infokan kembali," katanya.
Disebutkan, keberadaan dan perkembangan ‎ISIS di Jatim sangat tertutup. Termasuk soal 16 orang yang 10 diantaranya diduga warga Surabaya yang berencana berangkat ke Syiria, dan baru diketahui setelah berada di Turki.
"Hasil penelusuran yang kita lakukan, termasuk soal cara beribadahnya wajar-wajar saja. Memang agak sulit untuk memantaunya," urai Anas Yusuf.(agp/has/van/ary)