Pengelola Rumah Abu Jandal Dilepas Densus

MALANG – Dua terduga ISIS yakni Jefri Rahmawan  dan Tonari yang diciduk Densus 88 Kamis (26/3) lalu sudah dipulangkan. Keduanya menjalani pemeriksaan selama lima sampai enam jam. Jefri juga dilepas Densus, meskipun mengakui pernah mengikuti pengajian Panglima ISIS Abu Jandal.
Bahkan, sesuai pengakuan Jefri kepada Malang Post, bangunan yang kini menjadi Rumah Tarbiyah dan Tahfidz Al-Quran Al Mukmin Malang, adalah milik Salim Mubarok Attamimi alias Abu Jandal. Rumah ini beralamat di Jl Mega Mendung 30, RT 5, RW 6, Pisang Candi, Sukun, Kota Malang. Jefri juga merupakan pengelola yayasan ini.
Hubungan dengan Abu Jandal sudah berlangsung lama. Jefri mengaku beberapa kali mengikuti pengajian Abu Jandal, meski begitu, dia tidak pernah mengobrol dengannya.  Salah satu topik yang diajarkannya adalah mengenai konspirasi Amerika.
"Sekadar tanya jawab antara murid dan guru. Ustadz Salim (panggilan Abu Jandal, red) itu sosok yang keras dan tegas. Saat dia berbicara, terlihat kalau dia memang orang yang tegas," ungkap Jefri terkagum-kagum.
Ditanyai soal hubungan Helmi dengan Salim, Jefri mengaku tidak mengetahuinya. Dalam pemberitaan Malang Post sebelumnya, Rumah Tarbiyah dan Tahfidz Al-Quran Al Mukmin Malang disinyalir menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang dikumpulkan sebelum berangkat ke Suriah.
Sedangkan para murid di sana, merupakan anak-anak dari para anggota yang sudah diberangkatkan ke Suriah. Hampir semua murid-murid di yayasan ini berwajah Arab. Kabar mengenai ini juga dibantah oleh Jefri. "Tidak mungkin. Selama ini yayasan tersebut hanya digunakan untuk anak-anak belajar mengaji Al-quran," katanya.
"Selama saya berada di sini (sejak akhir 2014), yayasan ini hanya digunakan untuk mengaji. Sebelumnya, saya tidak tahu. Tapi memang benar, dulu sebelum dijadikan yayasan, rumah tersebut milik Ustadz Salim. Saya tidak tahu digunakan untuk apa," lanjut Jefri.
Di yayasan tersebut, Jefri yang mengaku masih lajang ini tinggal dengan lima pengajar wanita di yayasan tersebut. Belasan muridnya, juga tinggal di sana. Sebagian, ada yang merupakan anak dari pengajar. Jefri pulang ke rumahnya di Turen dua hari sekali. Sedangkan ada pula murid dari luar yang datang untuk belajar di sana. Hingga, bila ditotal jumlah muridnya sekitar 25-30 anak.
Ditanyai apakah anak-anak tersebut merupakan anak-anak yang orang tuanya tinggal di Suriah, Jefri menjawab bukan. "Bukan, ini dari Malang saja," tegasnya.
Soal dirinya yang diciduk Densus, Jefri mengaku dicecar 17 pertanyaan oleh polisi. Dia diinterogasi selama kurang lebih lima jam. Kemudian, dia langsung dipulangkan ke yayasan tersebut pada Kamis sore harinya.
"Saya di bawa ke ruang pidana (penyidik, red) khusus. Di sana saya ditanyai 17 pertanyaan," aku Jefri yang mengaku warga Jl Stadion no. 27, Turen, Kabupaten Malang ini. Jefri menyebut, pertanyaan yang dilontarkan polisi mengenai keterkaitannya dengan ISIS, serta tersangka Helmi M Alamuddin.
Misalnya, apa hubungan dia dengan Helmi. Apakah benar yayasan tersebut dijadikan penampungan orang-orang yang akan pergi ke Suriah. Siapakah anak-anak di yayasan tersebut, dan sebagainya.
Jefri membantah kalau dirinya memiliki keterkaitan dengan ISIS. Pria berambut pendek ini mengaku kalau tidak menahu soal keterlibatan Helmi pada ISIS. Hubungan dia dengan Helmi ialah pengajar dan pemilik di yayasan.
Jefri mengakui kalau yayasan tersebut merupakan milik Helmi. Dia bertemu Helmi pada awal 2014 silam di sebuah pengajian. Saat itu hubungan dengan Helmi terus dia jalin sebagai teman satu jamaah.
Pada akhir 2014, Helmi mengajak Jefri untuk menjadi pengajar di yayasan tersebut. Tawaran dari Helmi langsung dia terima. Sejak saat itu, dia tinggal di yayasan tersebut. "Ustadz Helmi orang yang baik. Saya juga baru tahu waktu penangkapan itu. Tidak mungkin dia seperti itu (ISIS)," tandasnya.

Tonori Masih Shock
Senasib dengan Jefri Rahmawan, Tonori juga akhirnya dilepas oleh Densus 88/AT Polri. Penjual bakso berusia 33 tahun itu dipulangkan setelah menjalani pemeriksaan hampir enam jam di Polres Malang Kota. Ia dipulangkan Kamis (26/3) sore.
Seperti diberitakan sebelumnya, Tonori diciduk Densus 88/AT Polri di depan rumahnya  di Jalan Terong, RT 06, RW 03, Kelurahan Bumiayu, Kedungkandang.  Selama diperiksa, Tonori ditanyai  seputar pertemanannya dengan Achmad Junaedi, juragan bakso yang ditangkap Rabu (25/3) malam di Bumiayu.
“Saya tidak tahu aktifitasnya selain juragan bakso. Saya tahunya dia juragan bakso,” terang Tonori, kemarin sore. Relasinya dengan Junaedi pun hanya sebatas juragan dan pekerja.
Tonori sempat bingung saat ditangkap petugas. Sebab ia tak tahu persoalan apa yang membelitnya sehingga ditangkap Polisi.  Dia baru paham ketika ditanyai tentang aktifitas Junaedi.
Kini perasaannya bercampur jadi satu. Antara bahagia lantaran kembali berkumpul dengan keluarganya  sekaligus masih dibayangi trauma. “Selama ini saya ini tidak perna berurusan dengan Polisi. Baru sekali ini, jadi   masih shock,” keluhnya.
Mertua Tonori, Muhamad Satar juga mengaku kaget saat menantunya itu dikait-kaitkan dengan ISIS. “Sampai sekarang saya tidak tahu persoalannya apa. Yang jelas, menantu saya ini bukan anggota jaringan ISIS,” tandas Satar.
Ketua RT 06, RW 03, Kelurahan Bumiayu, M Sahid yang dihubungi terpisah membenarkan warganya, Tonori sudah dipulangkan. Pasca kepulangan Tonori, situasi di wilayahnya tetap normal seperti hari-hari biasa.
“Saya belum sempat bertemu. Tapi tadi diinformasikan warga bahwa Tonori sudah di rumahnya,” kata Sahid. (erz/van/ary)