LP Lowokwaru Miliki Sembilan Narapidana Terorisme

MALANG – Kejaksaan memindahkan teroris internasional ke Malang dengan pesawat komersil Sriwijaya Air, kemarin. Hebatnya, tak ada satu pun penumpang tahu bahwa mereka satu pesawat dengan teroris. Salah satu penumpang yang dibikin shock adalah Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara.
Made sapaan akrabnya sama sekali tidak menyangka jika kemarin dia berada satu pesawat dengan Khairul Ikhwan alias Heru alias Koko alias Agus Wae. Teroris yang terlibat dalam rencana peledakan Kedutaan Besar (Kedubes) Myanmar, gereja di Solo dan Markas Polres Cirebon.
Made yang kemarin baru saja datang usai melakukan tugas dinas di Jakarta. Dia ini baru tahu jika satu pesawat dengan teroris, setelah pesawat Sriwijaya Air yang ditumpanginya landing di Bandara Abdul Rahman Saleh.
“Saya kaget juga saat di terminal bandara Abd saleh (pintu keluar) banyak polisi dan wartawan. Setelah saya tanya sama teman wartawan ternyata ada tersangka teroris yang datang,’’ katanya.
Menurut Made, selama perjalanan dalam pesawat sama sekali tidak ada yang mencurigakan. Bahkan, orang-orang di dalam pesawat  juga tampak normal. “Tidak ada orang yang diborgol seperti tersangka, tidak ada yang berpakaian polisi. Semuanya tampak seperti penumpang biasa saja,’’ tambahnya, yang mengatakan penerbangannya dari Jakarta-Malang sangat normal, dan tidak delay. “ Take off dari Bandara Sukarno Hatta pukul 06.15 landing tadi pukul 08.00 WIB,’’ tandasnya.
Narapidana terorisme tersebut kemudian dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IA Lowokwaru, Kota Malang. Petugas langsung membawanya ke LP Lowokwaru dengan mobil tahanan milik Kejaksaan Negeri (Kejari) Malang.
Khairul tiba di LP Lowokwaru sekitar pukul 08.30 WIB dan turun dari mobil tahanan tanpa pengawalan dari Datasemen Khusus (Densus) 88. Hanya ada beberapa orang dari kepolisian dan kejaksaan yang turut mendampinginya. Khairul, datang menggunakan baju koko warna putih berpeci hijau.
Khairul, merupakan pindahan dari Rutan Mabes Brimob Kelapa Dua, Depok, Dia divonis lima tahun penjara lantaran terbukti melanggar Pasal 15juncto Pasal 9 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003. "Dia sudah menjalani hukuman sekitar satu tahun," kata Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Malang Mohamad Iryan Muhidin Saleh kemarin.
Iryan membenarkan bahwa Khairul terlibat dalam rencana pengeboman Kedubes Myanmar.  Dia ditangkap pada akhir 2013 lalu bersama sejumlah anggota kelompoknya di Bekasi. "Dia dipisahkan dengan kelompoknya. Berbahaya jika tetap bersama," katanya.
Sementara Kepala LP (Kalapas) Lowokwaru, Tholib yang dihubungi terpisah menyebut, pengawasan terhadap narapidana terorisme di LP Lowokwaru tidak akan berbeda dengan narapidana lain. Namun, lanjut Tholib, Khairul harus menjalani penilaian dini untuk mengetahui kepribadian, latar belakang, kelakukan, dan kasusnya.
Treatment tersebut, akan dilakukan paling lama 15 hari. Setelah profil diketahui, baru narapidana tersebut ditempatkan di ruang tahanan. "Kita akan melakukan pendekatan keagamaan sebagai pembinaan," jelas Tholib.
Dengan masuknya Khairul, teroris di LP Lowokwaru ini bertambah menjadi sembilan orang. Sebelum Khairul, teroris jaringan Abu Roban, William Maksum yang dipindahkan pada 12 Januari 2015. William kini bersama dengan empat anggota kelompoknya, yaitu Budi Utomo, Wagiono, Agung Fauzi  dan Sutrisno. Mereka dikirim ke Lowokwaru pada 7 Juli 2014.
Sedangkan tiga lainnya, adalah Agung, yang terlibat kasus terorisme di Makassar, serta Fadli Sadama dan Tamrin yang terlibat perampokan Bank CIMB Niaga Medan.(erz/ira/ary)