Helmi dan Salim adalah Teman

Rumah Tarbiyah dan Tahfidz Al-Quran Al Mukmin Malang, sejak beberapa hari terakhir dikabarkan memiliki keterkaitan erat dengan Islamic State Iraq and Syiria (ISIS). Penggeledahan yang dilakukan Datasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, membuat warga sekitar resah dengan keberadaan mereka.
Malang Post (M) secara ekslusif menemui Jefri Rahmawan (J), penghuni sekaligus pengajar di yayasan ini. Didampingi dengan pengajar lain, Ummu Bariroh (U), kemarin (28/3/15) untuk melihat pandangan mereka soal ISIS dan hubungan yayasan ini dengan Helmi M Alamuddin, tersangka ISIS yang ditangkap Densus 88 pada Rabu (25/3/15) lalu.
Sekilas tentang Rumah Tarbiyah dan Tahfidz Al-Quran Al Mukmin Malang. Yayasan ini memiliki sekitar 25-30 anak didik. Sebagian menetap, sebagian lagi punya rumah. Ada enam pengajar, terdiri dari lima perempuan dan satu laki-laki, termasuk Jefri dan Ummu. Sebelumnya, yayasan ini disinyalir menjadi tempat penampungan anak-anak yang orang tuanya sudah pergi ke Suriah. Berikut wawancara Malang Post dengan Jefri dan Ummu :
M: Sejak kapan yayasan ini berdiri?
J: Sejak pertengahan tahun lalu. Saya ingat, yayasan ini didirikan pada hari ke-10 Ramadan tahun kemarin. Yayasan ini tempat belajar anak-anak untuk membaca dan menghapal Alquran.
M: Apa hubungan yayasan ini dengan Helmi?
J: Pak Helmi merupakan pimpinan di yayasan ini. Dia sering ke sini untuk memantau keadaan yayasan. Dua sampai tiga hari sekali ke sini. Anak-anak kenal baik dengan dia.
M: Kapan dan dimana Anda mulai kenal dengan Helmi?
J: Saya bertemu dia sekitar pertengahan tahun lalu di sebuah pengajian dan sejak saat itu sering bertemu. Pada akhir tahun lalu, saya diajak menjadi pengajar di yayasan ini. Karena kurang percaya diri, akhirnya saya ajak Ummu juga, untuk ikut mengajar. Ummu salah satu alumni pondok pesantren di Kota Malang.
U : Iya, saya diajak dan saya terima.
M: Anda mengajar di sini, apakah mendapat upah?
J : Dalam Islam, untuk mengajarkan Alquran tidak perlu minta dikasih upah. Kalau ada diterima, kalau tidak ada tidak apa-apa.
M : Helmi sendiri, apa rutin memberi upah kepada Anda? Kalau boleh tahu, berapa nominalnya ?
J : Alhamdulillah, Pak Helmi memberikannya secara rutin. Untuk nominal relatif. Saya pikir tidak perlu disebutkan.
M: Oke. Apa yayasan ini memiliki sebuah jaringan atau link dengan lembaga lain?
J: Saya tidak banyak tahu. Tapi, yang saya tahu yayasan ini di bawah Lembaga Sosial Pendidikan Abu Bakar As-Sidiq. Lembaga ini milik Pak Helmi. Di sini, adalah unit pendidikan. Ada unit-unit lainnya.
M: Unitnya di Sekitar Malang saja? Apa saja?
J : Saya tidak tahu banyak. Saya hanya tahu di sini saja.
M: Kabarnya, yayasan ini menjadi penampungan orang-orang yang akan dikirim ke Suriah dan siswa di sini adalah anak-anak dari orang tua yang pergi ke Suriah. Apa benar?
J: Tidak benar. Di sini kami hanya mengajarkan anak-anak membaca dan menghapal Alquran. Anak-anak di sini adalah mereka yang memang ingin belajar ke sini. Ada yang tinggal di asrama, ada yang sekolah di luar tapi setiap sore ke sini.
M: Lalu, apa hubungan yayasan ini dengan Salim Attamimmi (panglima ISIS, red) alias Abu Jandal?
J: Tidak ada hubungannya. Ustadz Salim dulu juga membuka yayasan di sini sebelum kami. Ini rumah kontrakan. Setelah kontrakan beliau habis, Pak Helmi yang menempati yayasan ini. Kami diajak untuk mengajar.
M: Lalu hubungan Helmi dengan Salim?
J: Setahu saya mereka memang teman. Tapi kami tidak pernah tahu apa yang mereka bicarakan.
U: Saat kami kenal Pak Helmi, Ustadz Salim sudah tidak di sini.
M: Sebelumnya apa ada kejadian aneh sebelum penangkapan Helmi?
U: Kami malah kaget. Tahu-tahu diberi tahu keluarga, Pak Helmi ditangkap. Sebelumnya tidak ada yang mencurigakan. Memang ada sedikit keanehan, saat itu beliau keluar tidak pamit. Padahal biasanya pamit.
J: Waktu itu juga ada Pak Mul (pemilik rumah, red). Mereka berdua habis berbincang-bincang.
M: Pak Mul itu siapa? Apa dia warga Malang?
J : Dia pemilik rumah ini. Kami menyewa ke dia. Dia warga Malang, tapi saya lupa rumahnya di mana.
M: Tapi apa Anda pernah bertemu dengan ustadz Salim
J: Saya pernah ikut pengajiannya di Masjid Al-Ghifari (Soekarno Hatta). Saat itu, Ustadz Salim menjadi pembicara bersama ulama lain dari luar negeri.
M: Apa dia sering menjadi pembicara di sana?
J: Ustadz Salim jadi penceramah kalau ada tabligh akbar saja. Saya lupa kapan. Saya hanya sekali bertemu dengan beliau.
M: Apa yang dia sampaikan dalam ceramah?
J: Dia saat itu ceramah paling terakhir. Jadi dia mengatakan, apa yang ingin disampaikan sudah dijelaskan oleh penceramah sebelumnya. Intinya, semua ajaran itu harus kembali ke Alquran.
U: Dia berpesan kepada penceramah lain dalam menyampaikan jangan menyembunyikan  kebenaran. Sampaikan Alquran, melihat keadaan sebelum bertindak. Agar amanah menyampaikan risalah dengan tidak menyembunyikan kebenaran.
M: Oh iya, kabarnya Pak Helmi pernah pergi ke Suriah. Apa Anda pernah mendengar hal ini?
U: Kami tidak tahu kabar itu. Sejak yayasan ini berdiri pada pertengahan tahun lalu. Pak Helmi selalu ada di yayasan ini.
J : Jangan selalu kait-kaitkan dengan ISIS. Sekalipun misalnya beliau ke sana, bisa saja untuk memberi bantuan kepada anak-anak. Pak Helmi baik dengan anak-anak. Jangan tiba-tiba dikaitkan dengan ISIS.
M: Mungkin ini pertanyaan yang agak sensitif. Pandangan Anda mengenai ISIS sendiri seperti apa?
J : Pandangan saya terhadap ISIS. Saya kembali ke surat Al-Hujurat ayat 6 (Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu, red). Kita juga harus teliti, kami belum pernah ke sana. Bisa jadi iya, bisa jadi enggak. Saya belum melihat sendiri.
U: Saya ingin menambahkan. Pandangan saya terhadap ISIS, kembali ke  Al Baqarah ayat 256 (Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang (teguh) kepada buhul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui, red). Tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam.
M: Warga di sini menilai yayasan ini cukup tertutup. Kenapa ?
J : Saya pikir itu karena full kegiatan. Kalau Jumat waktu mepet. Ya, di sini kita full kegiatan.
U :Tapi kita satu minggu sekali keluar kampung sambil mengaji Alquran. Di sini juga rumah-rumah besar dan jarang keluar.
M: Jika seandainya Anda diberi kesempatan untuk ke Suriah, apa Anda mau ?
J : (Sambil tertawa). Kesempatan apa, saya rasa tidak mungkin ada kesempatan.
M: Oh, oke kalau begitu. Terima kasih.
J dan U : Iya, sama-sama.