Dua Jasad Pelajar SMKN 13 Malang Ditemukan

MALANG POST - Hari ketiga pencarian dua pelajar SMKN 13 Kota Malang yang tenggelam di Coban Baung Kebun Raya Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, membuahkan hasil, Senin (30/3) kemarin. Jasad dua pelajar M Reza Ardiansyah (17 tahun), warga Perum Villa Sengkaling Blok K no. 99 Malang dan Syarif Hidayat (16 tahun), asal Wonogiri Jawa Tengah ditemukan terpisah tiga kilometer.
Kali pertama yang berhasil diangkat ke permukaan, yakni jasad Syarif di lokasi air terjun Coban Baung. Tubuh korban yang sejak Sabtu (28/3) siang lalu jatuh, tiba-tiba naik ke permukaan pada hari Minggu (29/3) sekitar pukul 23.00. Gabungan tim SAR yang siaga sejak Sabtu, kontan langsung mengevakuasi tubuh korban ke tepian.
Koordinator Tim SAR Gabung, Sugeng Hariadi mengatakan, memasuki hari ketiga, Senin (30/3) kemarin, tim relawan dengan dibantu warga dan tokoh masyarakat disebar. Mereka menyusuri aliran air terjun Baung. Alhasil, sekitar pukul 09.40, tim relawan yang terbagi dalam empat titik, berhasil menemukan jasad yang tersangkut di bebatuan di Sungai Dusun Gunungsari, Desa Kertosari, Kecamatan Purwosari atau sekitar 3 kilometer dari penemuan jasad pertama. Relawan yang tidak ingin gegabah, akhirnya menyusul keluarga korban agar mengenali jasad.
“Setelah ditepikan dari aliran sungai, akhirnya dipastikan bahwa tubuh tersebut jasad Reza. Makanya, langsung dievakuasi dan dibawa ke RSSA Malang,” papar Sugeng.
“Keduanya ditemukan tanpa pakaian. Makanya, saat ditemukan kali pertama, petugas baru bisa memastikannya sekitar pukul 10.00,” terangnya.
Selama proses pencarian kemarin, Basarnas Surabaya, pun turut membantu proses pencarian. Dengan menurunkan beberapa perahu karet, relawan melakukan standby di bawah air terjun hingga menyusuri sungai layaknya rafting. Rencananya, jika pada siang itu jenazah Reza masih tidak ditemukan, maka proses pencarian melalui jangkar dan jala, akan dilakukan Basarnas.

Ibunda Syarif Pingsan di Kamar Jenazah RSSA
Suasana kamar jenazah RSSA Malang, kemarin siang penuh isak tangis. Duka mendalam menyelimuti keluarga kedua korban tenggelam di Coban Baung, Purwodadi, Pasuruan. Terutama orangtua para korban. Mereka tak menduga anaknya pergi meninggalkan untuk selamanya.
Murni, ibu Syarif Hidayat, salah satu korban tenggelam ini sampai pingsan saat masuk kamar jenazah RSSA Malang. Wanita berusia 48 tahun ini, tak kuasa menahan kesedihan. Ia masih belum bisa menerima kepergian Syarif, anak bungsu dari tiga bersaudaranya.
Keluarga yang menemani harus membopong dan berusaha menenangkan. Murni memang sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa anaknya. Pasalnya ia sudah lama tidak bertemu dengan anaknya. Komunikasi selama ini terjalin melalui telepon seluler.
Sebab, Murni bersama keluarga lain tinggal di Wonogiri, Jawa Tengah. Sedangkan Syarif, selama ini tinggal di asrama sekolah. “Terakhir bertemu saat liburan lebaran lalu. Setelah itu tidak bertemu lagi, hanya komunikasi lewat telepon,” ujar Sutrisno, paman Syarif Hidayat.
Sutrisno yang mengaku sudah seperti ayahnya ini mengatakan, kalau Syarif sejak kecil sudah tidak berkumpul dengan ayahnya. Ketika masih berusia satu tahun, orangtuanya bercerai. Pasca perceraian, Syarif ikut ibuya. Segala kebutuhan sehari-hari, selain ibunya juga dicukupi oleh Sutrisno.
“Kami mendapat kabar musibah ini, Sabtu malam sekitar pukul 20.30. Kami dihubungi oleh Kepala SMK Negeri 13 Malang, yang memberitahukan kalau Syarif mengalami musibah,” tutur Sutrisno.
Sehari sebelum tenggelam di Coban Baung (Jumat malam, red), Syarif sempat menghubungi Sutrisno serta ibunya. Ia meminta dibelikan kaos serta celana masing-masing 10 potong. Karena kaos serta celananya di asrama hilang selama ditinggal PKL di Desa Ketindan, Lawang.
“Firasat lainnya, sejak Kamis saya sudah merasakan perasaan yang tidak enak. Ketika mau kerja teringat wajah Syarif. Bahkan, Jumat malam saya bermimpi kalau semua ayam peliharaan saya mati semuanya,” terangnya, sembari mengatakan jenazah Syarif dibawa ke Jawa Tengah dan akan langsung dimakamkan.

Reza Disiapkan Kue Ulang Tahun
Sementara Doddy Widya, korban M Reza Ardiansyah, terlihat lebih tegar. Namun demikian, rasa sedih dan merasa kehilangan terlihat dari wajahnya. Apalagi sebelumnya ia mengaku sama sekali tidak mendapat firasat apapun. Anaknya tenggelam tepat pada hari ulang tahun yakni 28 Maret.
“Saya kaget saja dengan kejadian ini. Kematian anak saya sama sekali tidak ada tanda-tanda. Dia (Reza, red) meninggal seperti sedang bermain saja,” kata Doddy.
Doddy mengatakan, Reza adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Sabtu pagi sebelum kejadian, sekitar pukul 04.36 Doddy sempat berkirim pesan kepada anaknya Reza. Ia memberi ucapan selamat ulang tahun kepada Reza.
“Assalamualaikum wr wb Mas Reza…selamat ulang tahun ya nak smg menjadi anak yg taat dan senantiasa takut kpd Allah SWT dg menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya, sukses dlm hidup dan diberi sehat…amin,” pesan yang dikirim Doddy kepada Reza.
Reza sendiri, baru menjawab pukul 06.14. “Waalaikum salam pa, makasih doa dan ucapannya pa, aamin pa makasih banyak pa,” jawab pesan Reza, kepada ayahnya.
Bahkan sebelum berangkat ke Coban Baung, Reza sempat menghubungi ayahnya serta mamanya (Ari Susanti). Dalam pembicaraan lewat telepon, Reza mengatakan kalau bermain bersama teman-temannya ke Coban Baung.
“Kami sama sekali tidak ada firasat apapun. Peristiwa ini baru dikabarkan pada kami Sabtu malam sekitar pukul 19.00. Reza berangkat ke Coban Baung, dari tempat PKL di Lawang. Karena sejak sekitar dua bulan lalu, Reza tugas PKL di Balai Besar Pelatihan Pertanian Desa Ketindan, Lawang,” jelas Doddy, sembari mengatakan kalau jenazah dimakamkan di TPU Samaan, karena selain tinggal di Sengkaling Dau, juga tinggal di Jalan Papa Biru Malang.
Fian, teman kedua korban sekaligus saksi mata kejadian mengatakan, kalau kedua korban ke Coban Baung bersama lima orang teman. Selain Fian, ada Galih, Liana, Novia serta Rosi. “Kami berangkat ke Coban Baung naik motor ke rumah Galih. Setelah itu, berjalan kaki menuju Coban Baung,” ujar Fian. Namun saat ditanya lebih jauh, Fian masih belum bisa menceritakannya.
Sementara itu warga lain menyebutkan, Reza meninggal tepat di hari kelahirannya. “Dia lahir hari Sabtu, 28 Maret 1998. Meninggal juga di hari Sabtu 28 Maret,’’ katanya. Sebelumnya menurut orang tuanya sempat menyiapkan kue ulang tahun. Bahkan, malam harinya, keluarga ini juga bersiap untuk makan di luar.
“Sabtu lalu, Reza sempat pamit kepada orang tuanya, pulang terlambat. Dia mengatakan bersama teman-temannya ke Coban Baung karena ada rekannya yang berulang tahun.(agp/sit/mg6/ira/ary)