Perginya Siswa Pertukaran Pelajar di Thailand

MALANG - Kepala SMK Negeri 13 Malang, Husnul Chotimah yang ditemui di kamar jenazah, mengatakan bahwa Reza sempat tidak diizinkan oleh orangtuanya. Namun Reza memaksa, dengan mengatakan ingin merayakan ulang tahun dengan teman-temannya.
“Reza ini izin kepada mamanya sejak Sabtu pukul 04.00. Mamanya tidak mengizinkan karena sudah menyiapkan perayaan ulang tahun dengan kue tart pukul 14.00. Tetapi Reza tetap ngotot ingin pergi ke Coban Baung. Sekitar pukul 12.00, Reza kembali dihubungi oleh mamanya, dan mengatakan sudah di Purwodadi. Kemudian pukul 15.00, Reza di SMS sama mamanya karena di telpon dan sms tidak dijawab,” terang Husnul Chotimah.
Dengan peristiwa yang dialami oleh dua pelajar, pihak sekolah mengatakan terus mendoakan. Pagi kemarin menjelang pelajar, siswa diajak berdoa dan membaca surat yasin. Termasuk siang sebelum pulang.  “Kami juga akan mengadakan kegiatan yasinan sampai peringatan tujuh harinya,” ujarnya.
Husnul meluruskan, tujuh orang yang berangkat ke Coban Baung tidak semuanya siswa dari SMK Negeri 13 Malang. Hanya tiga siswa dari SMK Negeri 13 Malang, yaitu selain kedua korban juga Fian. Lainnya tiga siswa dari SMK Tulungagung serta satu siswa dari SMK 1 Purwosari.
“Mereka berangkat bersama-sama karena satu tempat PKL di Balai Besar Pelatihan Pertanian Desa Ketindan Lawang. Kedua korban ini adalah sahabat akrab. Mereka adalah anak baik sopan terhadap guru. Bahkan Reza pada Januari 2014 lalu, pernah ikut pertukaran pelajar ke Thailand,” paparnya.

Sebelum Meninggal Sempat Meminta Maaf
Reza Ardyansyah sempat menulis status Blackberry Messenger (BBM) yang diupdate oleh Sabtu (28/3/15) pagi sebelum kematiannya. Kebetulan saat itu, Reza sedang berulang tahun. Beberapa saudara mengirimkan voice note untuk memberikan selamat kepada Reza.
Saat itu, sekitar pukul 6.18, Reza menuliskan status yang berbunyi ”Maaf yo rek lek aku punya banyak salah nang awakmu kabeh”. Dan ternyata, itu adalah status terakhir yang ditinggalkan oleh kontak BBM bernama Rezz Ardiansyah tersebut.
Hadi Widya, paman Reza mengatakan, saat itu, Reza memang sedang menjalankan Praktek Kerja Industri (Prakerin) yang berada di Balai Penelitian Pertanian yang ada di Lawang, Kabupaten Malang. Untuk itu, Reza memang memilih untuk tinggal di kos dekat balai tersebut.
Hadi pun menambahkan, pihak keluarga justru mengetahui kabar hilangnya Reza dari pihak sekolah. ”Sabtu sore itu kami ditelepon pihak sekolah bahwa Reza hilang di Coban Baung. Mendengar itu, kami langsung ke lokasi untuk memantau. Saat itu, disana sudah ada tim SAR,” papar Hadi.
Paman korban lainnya, Ivan Kalmer, 47 tahun, yang kemarin terlihat di rumah duka mengatakan sama sekali tidak menyangka Reza bisa tenggelam. Dia mengatakan, sekalipun tidak jago, Reza bisa berenang.
Gelagat aneh sebetulnya telah ditunjukkan Reza. Beberapa hari sebelum tenggelam dia telah mengirimkan pesan berisi minta maaf. Hampir seluruh keluarganya, dikirimi pesan yang berisi permintaan maaf. “Saya dan Ghifarry anak saya mendapat SMS pesan melalui BBM isinya permintaan maaf,’’ katanya.
Reza dan Syarif adalah sahabat yang amat dekat. Kedekatan itu rupanya terbawa hingga ajal menjemput mereka. Menurut Hadi, saat Reza tercebur ke muara Coban Baung, Syarif lah orang yang berjuang menarik Reza. Namun naas, Syarif pun harus ikut terpelanting ke dalam muara. Saat itu, ada pula Vian, salah seorang teman yang juga turut membantu menyelamatkan keduanya. Namun, sayang, takdir berkata lain. Syarif dan Reza tak bisa diselamatkan.
Salah satu teman Reza, Adini Sabila mengaku, Reza adalah sosok yang ramah, humoris, dan suka bergaul. Adini pun mengaku, dirinya sangat sedih dan merasa kehilangan.
”Tadi malam (29/3) saya mimpi ke rumah sakit bersama teman-teman. Tapi pas kita ke sana, mas Reza udah nggak ada,” tandas Adini sedikit berkaca-kaca.
Sementara itu, Ariyani, Wali kelas Reza mengaku, Reza dan teman-temannya telah melakukan Prakerin sejak bulan Januari. Biasanya, prakerin dilakukan selama tiga bulan.
”Seharusnya minggu ini adalah minggu terakhir mereka melaksanakan prakerin,” ungkapnya sembari berlalu.

Doa Bersama Para Siswa SMKN 13 Malang Menangis
Kabar ditemukannya Reza Ardiansyah dan Syarif Hidayatullah, siswa kelas XI SMK Negeri 13 Malang mengejutkan pihak sekolah. Senin (30/3) siang kemarin, guru dan siswa yang beragama Islam menggelar salat gaib dan pembacaan tahlil bersama di Aula SMKN 13 Malang.
Prapto Deprianto, SPd., Wakil Kepala Sekolah urusan Sarana dan Prasarana yang saat itu berada di lokasi mengatakan, shalat gaib dilaksanakan setelah datang waktu shalat dhuhur. Sebelumnya, pihak sekolah berencana untuk mengadakannya saat istirahat kedua yakni sekitar pukul 12.45.
”Namun karena tadi kami mendapatkan kabar bahwa Reza sudah ditemukan, maka salat gaibnya dipercepat karena para siswa berencana untuk berkunjung ke rumah Reza yang berada di Villa Sengkaling Blok K no. 99 dilanjut ke pemakaman yang ada di Samaan,” ungkap Prapto saat ditemui Malang Post, kemarin (30/3).
Beberapa guru pun juga tampak bergegas menuju rumah Reza. Sedangkan beberapa yang lain menurut Prapto harus tinggal sementara di sekolah untuk mengurusi persiapan ujian nasional Computer Based Test (CBT) karena sebentar lagi akan diadakan try out nasional.
Di rumah Reza yang bercat biru dan putih, puluhan siswa berseragam SMA tampak memenuhi halaman samping rumah. Sedangkan beberapa lainnya tampak warga sekitar yang menunggu kedatangan jenazah Reza. Suasana saat itu cukup hening. Beberapa saat kemudian datang mobil jenazah yang memicu suara tangisan.
Beberapa siswi tampak menangis tersedu sambil berpelukan dengan teman lainnya. Kesedihan mendalam di wajah mereka. Secara bergilir, siswa masuk ke rumah untuk menengok jenazah Reza. Beberapa saudara juga terlihat terisak di depan pintu.
Jenazah kemudian dibawa ke pemakaman yang berada di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Samaan, Klojen. Sesaat setelah mobil melaju, tampak Ari Susanti, ibunda Reza yang keluar dari rumah sembari membawa mukena. Wajahnya tampak pucat dan sedikit berkaca-kaca. Meski begitu, ia masih tersenyum menyapa beberapa tamu yang berada di luar rumah.
Joko, salah satu warga menyebutkan jika Reza merupakan sosok pemuda yang cerdas. Beberapa prestasi diraih anak tunggal pasangan Dody Widya Afiat dan Ari Susanti ini. “Beberapa bulan lalu, dia ikut pertukaran pelajar di Thailand,’’ kata Joko yang rumahnya berada di belakang rumah orang tua Reza. (agp/sit/mg6/ira/ary)