Ketua UPK Aggrek Jadi Tersangka

KEPANJEN- Kejaksaan Negeri (Kejari) Kepanjen akhirnya menetapkan Ketua UPK Anggrek Desa Tlogorejo, Kecamatan Pagak, berinisial E  menjadi tersangka. Dia  diduga melakukan tindak pidana korupsi, menggelapkan dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MPd) sebesar Rp 160 juta.
Kasi Pidsus Kejari Kepanjen Yunianto Tri Wahono SH mengatakan, meski ditetapkan sebagai tersangka, E tidak ditahan.
 “Tersangka E ini masih kooperatif, sehingga Jaksa Penyelidik menganggap tidak perlu dilakukan penahanan. Apalagi, tersangka sering sakit-sakitan,” ujar Yunianto kepada Malang Post kemarin.
Dijelaskannya, Kejaksaan sudah berulang kali memeriksa tersangka E, terkait kasus ini. Terakhir, E diperiksa kemarin siang. Pemeriksaan tersebut, berkutat pada modus yang dilakukan tersangka dalam menggelapkan dana itu. Termasuk mendalami keterlibatan orang lain yang masuk dalam struktur organisasi UPK.
“Masalah ini, sebenarnya sepele. Tersangka E menggelapkan uang anggotanya. Modusnya, tersangka tidak menyerahkan uang anggotanya dengan dalih belum ditransfer. Namun, oleh tersangka dipakai untuk kepentingan sendiri,” paparnya.
Smentara ini, tersangka E bekerja sendiri dalam kasus tersebut. Namun, tidak menutup kemungkinan terdapat tersangka lain, yang juga ikut kecipratan uang yang dikorupsi E ini. “Masih kami dalami, bisa juga sekretaris maupun bendahara UPK juga ikut terlibat,” kata mantan Kasi Pidsus Bojonegoro ini.
Jaksa penyelidik akan melakukan melengkapi berkas tersangka. Setelah berkas dinyatakan lengkap, kejaksaan akan mendaftarkan sidang ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor)  di Surabaya. “Paling cepat, dalam jangka waktu satu bulan mendatang, tersangka ini sudah bisa disidangkan,” imbuhnya.
Selain itu, dia menyiratkan alokasi dana PNPM, bansos, maupun semacamnya, rawan diselewengkan. Sehingga, dia meminta instansi terkait dalam hal ini kepolisian dan masyarakat, untuk turut serta dalam mengawasi, aliran dana beralokasi dari PNPM dan bansos. (big/aim)