Pendeta Yulianti Dilakban, Dipukul, Dibekap Sampai Tewas

LAWANG - Pembunuhan sadis yang menimpa pendeta Yulianti Dwiastuti Liemanto, 56 tahun warga Perum Istana Bedali Agung Blok A/1a Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Sabtu kemarin, di rekonstruksi. Tersangka Abednego Rudyanto alias Ego, 29 tahun, memperagakan sekitar 56 adegan dari yang semula hanya 30 adegan.
Kesadisan Abednego terungkap dalam rekonstruksi, saat korban selesai di lakban dan dipukul pelaku dengan batu. Tersangka yang menduga korban sudah tidak berdaya, ternyata bergerak. Pelaku kembali menghampiri korban untuk dibekap sampai tewas.
“Setelah korban dipukul, pelaku masih melakukan pembekapan terhadap korban. Hal itu dilakukan, karena korban masih hidup,” terang Kapolsek Lawang, Kompol  Arifaini kepada Malang Post, kemarin.
 Setelah dipastikan tewas, pelaku keluar rumah serta membawa kabur mobil yang sempat disaksikan tetangga rumah korban.
“Reka ulang ini dimaksudkan untuk mencocokkan hasil pemeriksaan tersangka dengan realita di lapangan. Makanya, pelaksanaan rekonstruksi dilakukan langsung di lokasi kejadian,” ungkapnya.
Disinggung mengenai adegan yang sampai memperagakan 56, Kapolsek menjelaskan, semua mengacu pada uraian kejadian. Semakin banyak adegan yang diperagakan, maka bagaimana aksi pelaku selama membunuh korban bisa terurai dengan jelas.
“Awalnya memang 30-an adegan, tapi karena banyak sisi yang perlu diperagakan, maka berkembang hingga 56,” ujarnya.
Selama proses rekonstruksi berlangsung, tidak ada caci maki yang diteriakan warga atau keluarga korban terhadap pelaku. Sebaliknya, semua berjalan dengan lancar. Pelaku sendiri, nampak tidak terbebani dengan aksi nekadnya yang dijerat penyidik dengan pasal pembunuhan berencana yaitu Pasal 340 jo 338.
Dalam kejadian pada  6 Maret lalu, Andrie Rudijanto Liemanto, kakak korban yang hadir dalam rekonstruksi itu,  berharap agar pelaku dihukum seberat-beratnya. Karena, dengan hukuman itulah, yang bisa membuat tersangka menjadi jera dengan perbuatannya.
“Saya hanya minta hukuman seberat-beratnya. Mengenai lain-lain, tidak ada. Termasuk, mengenai rumah korban nantinya bagaimana, masih belum terpikirkan,” papar Andrie singkat.
Seperti diberitakan sebelumnya, 6 Maret lalu, warga di kawasan Perumahan Bedali Agung, digegerkan dengan bau busuk yang keluar dari rumah pendeta Yulianti.  Kondisi muka Yulianti di lakban dan mobil Datsun N 1858 GX, amblas dari rumahnya. (sit/aim)