Hamili Siswi SMA, Warga Turen Dibekuk Polisi

Kasubag Humas Polres Malang Kota AKP Nunung Anggraeni menunjukkan barang bukti dan tersangka HA, kemarin.

MALANG – Hendrik Agustino (HA), warga Desa Talangsuko, Turen, Kabupaten Malang, mendapat buah perbuatannya sendiri. Pekerja serabutan yang satu ini, terancam dipenjara maksimal 15 tahun karena menggauli Matahari (bukan nama sebenarnya), warga kecamatan Blimbing, Kota Malang yang saat itu masih berusia 16 tahun.
Sekarang, pemuda berusia 20 tahun ini menjadi tahanan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Malang Kota. Dia ditangkap polisi pada 18 Maret 2015 silam, saat akan menemui Matahari di rumahnya. Saat datang ke rumahnya, polisi membekuk Hendrik.
"Penangkapan berdasarkan laporan keluarga korban pada 13 Maret 2015 lalu," ujar Kasubag Humas Polres Malang Kota, AKP Nunung Anggraeni, kemarin (9/4/15). Ditambahkan, saat ini Matahari sedang hamil 8 bulan.
Kasus ini berawal dari pertemuan Hendrik dan Matahari satu tahun silam. Semenjak pertemuan itu, hubungan Hendrik dengan Matahari semakin serius. Mereka menjalin komunikasi melalui SMS dan Blackberry. Hingga pada Juli 2014, Hendrik resmi berpacaran dengan Matahari.
Baru satu bulan pacaran, Hendrik sudah berani mengajak Matahari melakukan persetubuhan. Entah apa yang ada di benak Matahari, ajakan Hendrik diterima. Pada Agustus 2014, keduanya melakukan hubungan suami-istri. Perbuatan haram itu tidak hanya dilakukan satu kali pada September 2014 Hendrik dan Matahari kembali bersetubuh.
Kedua kejadian ini, dilakukan di rumah Matahari , waktu kondisi rumah sedang  kosong. Matahari sendiri hamil setelah dia melakukan persetubuhan untuk kedua kalinya.
Kehamilan tersebut tidak bisa disembunyikan Matahari dari keluarganya. Matahari mengaku kepada orang tua, kalau dia pernah melakukan persetubuhan dengan sang kekasih. Pihak keluarga tidak terima dan melaporkan Hendrik ke Polres Malang Kota pada 13 Maret 2015.
"Tersangka sendiri baru tahu kalau korban hamil pada Februari 2015 lalu. Namun, dia mengaku akan bertanggung jawab. Tersangka dan korban masih melakukan komunikasi. Keduanya melakukan perbuatan tersebut dengan dasar suka sama suka, tapi tetap saja korban masih di bawah umur," jelas Nunung.
Kepada polisi, Hendrik mengaku mau bertanggung jawab terhadap Matahari. Ini dibuktikan, dengan keberanian Hendrik di hari penangkapannya pada 18 Maret 2015 lalu. Saat itu, Hendrik diminta keluarga Matahari untuk datang ke rumah. Meski pada akhirnya, dia jadi sasaran polisi.
Perbuatan Hendrik melanggar Pasal 81 Undang-Undang RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Dia terancam kurungan penjara 3 sampai 15 tahun. Dari kasus ini, polisi menahan barang bukti berupa baju serta pakaian dalam milik tersangka dan korban saat melakukan persetubuhan. (erz/nug)