Pekan Depan Pembuktian Azis Versus Mudjia

MALANG - Sidang gugatan Abdul Azis MPd terhadap Prof Dr H Mudjia Rahardjo kembali digelar di PN Malang kemarin.  Kali ini, rektor UIN Malang itu tak hadir di sidang lantaran sudah menyerahkan ke kuasa hukumnya.
Kuasa hukum Abdul Azis, Gunadi Handoko, SH  meminta majelis hakim yang diketuai Eko Wiyono, SH melanjutkan persidangan pada pekan depan dengan agenda pembuktian.
 “Ini sudah kedua kalinya, tergugat tidak datang dalam panggilan sidang. Jelas kami kecewa, karena yang seharusnya sudang bisa langsung digelar tapi molor, karena tergugat selalu mangkir,’’ kata Gunadi.
Namun begitu, permintaan Gunadi sempat ditolak oleh Eko Wiyono SH  sebagai ketua majelis hakim. “Kalau  pembuktian berupa surat boleh, tapi kalau membawa saksi jangan dulu. Karena kita tidak tahu apakah Mudjia sebagai tergugat datang atau tidak. Jika tergugat datang, kan kasihan jika para saksi sudah didatangkan,’’ jawab Eko terhadap permintaan Gunadi.
Eko memastikan pihaknya akan melanjutkan perkara ini  setelah panggilan ketiga nanti. “Kalau sesuai tahapan, saat ini menghadirkan tergugat. Setelah keduanya bertemui tahapan selanjutnya adalah mediasi, baru masuk pada isi pokok perkara,’’ tandas Eko.
Untuk diketahui, Abdul Aziz melalui kuasa hukumnya Gunadi Handoko  menggugat Mudjia atas perkara wanprestasi. Yaitu pemutusan hubungan kerja sepihak. Sebelumnya, antara tergugat dan penggugat membuat perjanjian kontrak kerja.  Dalam surat perjanjian nomor Un.03/KP.014/1884/2013 tanggal 30 Desember 2013 lalu tertulis tergugat dikontrak kerja selama empat tahun.
Namun pada  Januari 2015 lalu, melalui surat nomor UN.3/Kp .00.3/264/2015 Mudjia justru memutus kontrak sepihak. Pemutusan kontrak kerja sepihak inilah yang kemudian diperkarakan Abdul Azis.  Tak main-main,  dalam berkas perkata gugatan nomor 43/Pdt.G/2015/PN.MLG tanggal 25 Maret 2015, Abdul Azis menuntut  Mudjia membayar ganti rugi imateril sebanyak Rp 1 miliar.  
Mudjia Rahardjo yang dikonfirmasi tadi malam mengatakan, sudah menyerahkan perkara tersebut kepada kuasa hukumnya. “Saya masih di Jakarta. Untuk perkaranya sudah saya serahkan kepada kuasa hukum,’’ kata  Mudjia sembari menyebut nama Mudji sebagai kuasa hukumnya.
Disinggung tentang kebenaran gugatan, Mudjia memastikan tidak benar. Dia menegaskan semua yang dilakukannya sudah sesuai kebijakan kampus. “Kalau diceritakan akan panjang. Tapi yang pasti, sebelum ada pemutusan hubungan kerja, sudah ada peringatan berulang kali,’’ katanya.
Apakah Senin (20/4) mendatang akan menghadiri undangan majelis hakim untuk sidang lanjutan? Mudjia kembali menegaskan sudah menyerahkan kasus ini kepada kuasa hukumnya. (ira/van)