Beraksi di 30 TKP, Spesialis Warnet dan Masjid

MALANG – Terungkapnya jaringan pelaku curanmor ini, berkat kerja keras Timsus Anti Curanmor Reskrim Polres Malang Kota. Polisi menyelidiki dan membuntuti tersangka Subari (SB), sejak beberapa minggu karena dicurigai terlibat jaringan curanmor.
Alhasil, Jumat (17/4) malam, Subari yang terus diintai berhasil ditangkap di rumah kontrakannya di Jalan Teluk Grajakan, Blimbing. Saat itu, Subari hendak membawa kabur sepeda motor curian ke wilayah Jabung.
“Ketika kami tangkap, ia berusaha akan kabur. Kemudian dari penggledahan di rumahnya, ada kunci T serta dua sepeda motor curian jenis Honda Supra dan Honda Beat,” terang Kompol Budi Santosa, yang dibenarkan Kasatreskrim AKP Adam Purbantoro.
Dari tertangkapnya Subari ini, ketika diinterogasi muncul dua nama tersangka, yaitu Mansur serta Andri Hariyanto alias Ari. Seketika polisi langsung memburu Mansur dan Ari ke wilayah Lumajang. Saat hendak ditangkap, kebetulan keduanya bersama berboncengan mengendarai Honda Vario.
Ari berhasil ditangkap, sedangkan Mansur sempat berusaha kabur. Petugas pun mengejar sembari mengeluarkan tembakan peringatan. Karena tidak digubris, terpaksa polisi melumpuhkan kakinya.
Begitu berhasil ditangkap, keduanya langsung dikeler dan dikembangkan ke pelaku lain. Hasilnya, enam pelaku lain berhasil ditangkap. Termasuk 15 unit motor hasil curian yang disimpan di dalam rumah tersangka Mokhamad Khusnul Arizal selaku koordinator, berhasil diamankan.
“Saat kami keler untuk menunjukkan barang bukti dan TKP pencurian itulah, tersangka Ari yang diketahui sebagai pelaku lama ini, sempat berusaha kabur. Dengan tangan terborgol, ia berontak kemudian memukul petugas lalu kabur. Karena kami peringatkan dengan tembakan tidak dihiraukan, terpaksa kami tembak tepat di dadanya,” jelas Adam.
Dalam pemeriksaan sementara, para pelaku ini mengaku sudah lebih dari 30 kali beraksi di Kota Malang, mulai pertengahan 2014 - 2015. Sasarannya adalah sepeda motor yang diparkir di warnet serta masjid. Modus operandinya dengan keliling mencari sasaran. Setelah menemukan sasaran, mereka mencuri menggunakan kunci T.
Hasil curian tidak langsung dijual. Tetapi dikumpulkan di rumah Mokhamad Khusnul Arizal. Setelah terkumpul delapan sampai sepuluh motor baru dibawa ke wilayah Lumajang, dengan dikendarai bersama-sama. Di Lumajang, motor curian tersebut dijual kepada penadah besar.
“Untuk penadah besar ini, masih kami selidiki. Karena sampai sekarang pelaku belum mau buka mulut soal penadah besarnya. Termasuk berapa harga jual per-unit motor kepada penadah, juga belum diakui,” tuturnya.
Sementara itu, tersangka Edo Rizqi Hananta mengaku dirinya cuma kurir. Ia hanya mengantarkan motor curian ke wilayah Lumajang. Setiap kali antar ia mendapatkan upah Rp 350 ribu. “Saya tidak ikut mencuri, hanya sebatas kurir saja,” katanya.(agp/han)