Kades Asal Poncokusumo Turut Jadi Korban

Para Kades korban keracunan masih memakai plester penutup luka jarum infus, mereka terpaksa tak mengikuti agenda visitasi, kemarin.

Keracunan Masal Kades se Jatim
MALANG–Dari 44 kepala desa yang keracunan, satu diantaranya adalah Imam Kepala Desa Jambesari, Kecamatan Poncokusumo. Pria ini Rabu (22/4) malam lalu ikut dilarikan ke RS, karena mengalami mual dan muntah, serta pusing-pusing pasca mengkonsumsi hidangan makan malam.
Salah satu petugas di Kantor Badan Diklat Provinsi Jatim, menjelaskan Imam dilarikan di RS setelah kondisinya mengkhawatirkan.
“Ada dari Kabupaten Malang atas nama Imam. Dia langsung dibawa ke RSSA Malang, karena kondisinya terus drop, setelah mengkonsumsi hidangan makan malam,’’ katanya, kemarin.
Petugas yang enggan menyebutkan namanya ini juga mengatakan, jika Imam bukan satu-satunya kepala desa asal Kabupaten Malang. Dia mengikuti Diklat bersama 9 kepala desa lain asal Kabupaten Malang. Namun dari 10 orang, hanya Imam saja yang mengalami keracunan. Tidak jelas, apakah mereka selamat dari keracunan karena tidak mengkonsumsi, atau karena memiliki daya  tahan tubuh yang kuat. 
“Total dari Kabupaten Malang dan Kota Batu ada 11 kepala desa,  10 dari Kabupaten Malang satu lainnya dari Kota Batu,” ungkapnya.
Sementara Imam sendiri usai menjalani perawatan, dinihari kemarin diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik. Tidak itu saja, kemarin pria ini juga langsung ikut agenda kegiatan yaitu visitasi ke wilahan Kabupaten Tulungagung.
Ya, peristiwa keracunan para peserta Diklat Pengembangan Kapasitas SDM Kepala Desa Dalam Mewujudkan Tata Pemerintahan Desa Yang Baik tahun 2015 di Kantor Badan Pendidikan dan Pelatihan, Provinsi Jatim, Jalan Kawi  tidak melunturkan  agenda yang sudah dijadwalkan panitia. Terbukti pagi kemarin sejumlah kepala desa yang menjadi peserta diklat tetap mengikuti agenda sesuai yang dijadwalkan. Kemarin, merupakan agenda visitasi. Dengan penuh semangat para peserta ini mengunjungi Kabupaten Tulungagung, menggunakan bus yang disediakan.
Koordinator Badan Diklat Provinsi Jatim di Malang Ramliyanto menyebutkan, peristiwa keracunan ini tidak menghapuskan agenda yang sudah dijadwalkan. "Pagi ini peserta mengikuti agenda visitasi. Mereka dibawa ke Kabupaten Tulungagung, mengunjungi lima desa disana," katanya.
Dia mengakui tidak semua peserta diklat ikut dalam agenda tersebut. Lebih-lebih agenda visitasi ini dilakukan seharian penuh atau one day traffic. Itu sebabnya, kepada beberapa peserta yang kondisinya masih belum stabil disarankan untuk tetap beristirahat di asrama. "Dari data, yang tidak ikut visitasi 10 orang. Mereka kami sarankan untuk beristirahat di asrama, agar kondisi  kesehatannya cepat membaik,’’ katanya.
Kepada Malang Post dia menyebutkan, dari seluruh kades yang keracunan, tidak ada yang menjalani rawat inap. Seluruh kades yang dirawat baik di RS Hermina maupun di RSSA Malang kembali ke kantor diklat setelah kondisinya membaik.
"Alhamdulillah, semuanya sudah kembali ke sini. Satu persatu kades diperbolehkan kembali ke asrama setelah kondisinya membaik," tambah pria ini.
Sementara itu beberapa kades yang kemarin ikut dalam agenda visitasi mengaku kondisinya sudah membaik. Mereka mengaku ingin tetap ikut visitasi ke Kabupaten Tulungagung karena ingin melihat potensi di sana. Harapannya visitasi ini menjadi motivasi bagi mereka untuk mengembangkan potensi di desanya masing-masing. Nur Hamim, salah satunya. Pria yang menjabat sebagai Kades Karang Gayam, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar ini mengaku ikut kendati kondisinya belum 100 persen pulih.
"Sudah baikan, tapi masih mual dan pening. Ini juga bawa obat," katanya. Ya menurut dia, semua kades yang dirawat di RS baik di RS Hermina maupun di RSSA Malang harus membawa obat saat mereka mengikuti visitasi. Obat itu menjadi bekal jika kondisinya menurun. "Dikasih dua jenis obatnya. Doakan saja semuanya lancar, dan perjalanan kami sukses," tambah Hamim.
Sementara Sukirno, Kepala Desa Manarsseptimur, Kecamatan Lentang, Kabupaten Sumenep yang kemarin  tidak ikut visitasi mengaku kondisinya masih sangat lemah. Bahkan, pria ini juga menunjukkan plaster yang menempel di tangannya.
 “Kemarin saya lebih lima jam di RSSA Malang . Sekarang kondisinya sudah membaik. Saya istirahat dulu di sini, karena nanti malam (tadi malam) masih ada agenda ,’’ kata Sukirno.
Dia mengaku, saat menjalani perawatan medis, kondisinya betul-betul enak. “Tadi malam mual, pening sempat muntah ndarah. Sekarang sudah membaik.’’ Katanya.
Sementara itu Kepala Badan Diklat Provinsi Jatim Akmal Budianto mengatakan siap melakukan evaluasi. Evaluasi tidak  hanya  terhadap katering,  tapi juga semuanya. “Kita akan melakukan evaluasi semuanya. Terutama katering,’’ katanya. Akmal mengatakan, jika pagi kemarin  dirinya langsung melakukan klarifikasi terhadap pemilik katering. Hanya saja, dalam pemeriksaan kemarin, tidak ada kejanggalan yang berarti. “Katering dari Malang, kalau tidak salah namanya CV Amalia. Katering ini langganan, dia melayani peserta diklat sejak  tahun 2000 lalu,’’ tambahnya.
Bukan itu saja, Akmal juga mengatakan pemilik katering ini sempat dimintai keterangan terkait peristiwa ini. Kemudian diperbolehkan pulang. “Katanya pemilik katering, dia membeli ikan segar, tapi kami tidak tahu di mana. Yang jelas pemilik katering ini bukan kali pertama melayani peserta diklat disini tapi sudah sejak beberapa tahun sebelumnya,’’ katanya. Dan selama melayani,  baru kali ini terjadi keracunan.  
Terpisah, Kasat Reskrim Polres Malang Kota AKP Adam Purbantoro, mengatakan hingga saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan. Tidak hanya peserta, koordinator Diklat Provinsi Jatim pun tidak luput dari berbagai pertanyaan yang dilontarkan petugas. “Semalam ada beberapa yang diperiksa. Termasuk koordinator Diklat. Untuk hasilnya masih belum,’’ katanya.
Dia mengaku belum bisa memastikan, apakah makanan yang dikonsumsi para kades ini menjadi penyebabnya mereka keracunan atau ada penyebab lain. “Sample makanan akan dibawa ke laboratorium untuk diteliti . Yang jelas saat ini belum ada apa-apa,’’ katanya. Termasuk pihak katering, Adam mengaku masih belum melakukan apa-apa.(ira/ary)