40 Ton Pupuk Subsidi Dijual Lintas Daerah

Sutomo dan Yudiya Witami bersama pickup yang bermuatan pupuk bersubsidi 40 ton yang disalahgunakan.

KEPANJEN – Mafia pupuk bersubsidi kembali dibongkar polisi. Pickup yang membawa pupuk bersubsidi dari Wagir berhasil dihentikan di wilayah Sawojajar Kota Malang. Pupuk sebanyak 40 ton itu akan dikirim ke wilayah Tumpang.
Polisi langsung menangkap  pengecer pupuk bersubsidi, Yudiya Witami, 47 tahun warga Dusun Tulus Ayu, Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir dan pembelinya, Sutomo, 57 tahun warga Dusun Bangilan, Desa Pandanajeng, Kecamatan Tumpang. Polisi menangkap keduanya dengan tuduhan penyalahgunaan penjualan pupuk bersubsidi dengan ancaman hukuman minimal lima tahun.  Selain menangkap pelaku, petugas juga mengamankan pickup berisi pupuk bersubsidi jenis Za sebanyak 20 ton dan Urea sebanyak 20 ton.
“Sutomo tertangkap tangan oleh anggota saat pickup yang dikendarainya membawa pupuk bersubsidi. Sesuai aturan, pupuk bersubsidi tidak boleh dijual kepada petani non wilayah pengecer.,” kata Kasatreskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat kepada Malang Post, kemarin.
Pembeli pupuk bersubsidi pun tidak boleh menjual kembali pupuk bersubsidi kepada petani lainnya.  Witami dalam pemeriksaan, mengaku memang telah melanggar aturan penjualan pupuk bersubsidi. Dia beralasan khawatir pupuk bersubsidi yang sudah dibelinya kadaluarsa. Makanya, begitu ada pembeli pupuk bersubsidi yang sebenarnya tidak boleh dilayani terpaksa tetap dilayaninya.
“Pupuk-pupuk ini memiliki masa kadaluarsa. Kalau sudah kadaluarsa, petani biasanya sudah tidak mau membeli. Sehingga, saya akan merugi. Makanya, ketika ada yang beli dan itu sudah mendekati masa kadaluarsa, terpaksa saya menjualnya,” ujar Witami.
Disinggung mengenai keuntungan, Witami mengaku, sebenarnya harga yang dijualnya kepada petani di Desa Sidorahayu dan Desa Parangargo dengan Sutomo tidak jauh berbeda.
“Saya menjualnya dengan harga yang wajar. Seperti Za, persatu sak saya jual Rp 80 ribu. Sedangkan untuk Urea seharga Rp 94 ribu,” tambahnya.
Sutomo dalam pemeriksaan mengaku pasrah dengan perbuatannya. Terlebih, di kecamatannya memang tidak ada pengecer pupuk bersubsidi. “Saya sengaja membeli dalam jumlah banyak, karena di kecamatan tidak ada pengecernya. Karenanya, begitu tahu ada yang jual, akhirnya membeli dalam jumlah lumayan. Tujuannya, selain untuk sawah saya juga dijual kembali,” ungkapnya. (sit/aim)