Dua Gadis Ikut Embat Uang Pasien

KEPANJEN-Kerjasama jahat memang tak selalu menguntungkan. Ini terbukti pada
tiga karyawan Rumah Sakit (RS) Wava Husada Kepanjen. Seorang kepala sub unit dibantu dua gadis kasirnya, menggelapkan uang setoran pasien senilai Rp 350 juta. Aksi jahat mereka terbongkar pasca audit, kini ketiganya dijebloskan ke penjara.
Ketiganya, antara lain Kepala Sub Unit (Kasubnit) Aris Alamsyah, 32 tahun warga Desa Cempokomulyo,  Kecamatan Kepanjen. Lantas  Afrida Rikha Wulandari, 25 tahun warga Desa Dilem, Kecamatan Kepanjen. Dan Rizky Novia Eviyanti, 25 tahun warga Desa Cempokomulyo, Kecamatan Kepanjen.
Dua gadis yang membantu Aris adalah staf kasir RS Wava Husada. Keduanya menggelapkan uang pasien sejak September 2012 hingga 2013. Aksi itu baru terungkap, saat pihak rumah sakit melakukan audit keuangan dari pendapatan rumah sakit berupa dana deposit dari pasien.
“Dari data awal yang dilaporkan pihak rumah sakit, penyidik kemudian melakukan pengembangan dugaan penyalahgunaan dalam jabatan di RS Wava Husada. Termasuk, hasil audit keuangan yang sudah dilakukan internal rumah sakit. Dari beberapa bukti itu, memang ditemukan dugaan tersebut,” kata Kasatreskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat.
Disinggung mengenai modus ke tiga pelaku, Wahyu menjelaskan, bahwa dalam setoran dana deposit pasien menggunakan sistem komputerisasi. Di mana, yang mengoperasionalkan adalah Aris. Dari kepandaiannya itulah, kemudian bekerjasama dengan staf kasir dalam menggelapkan uang setoran pasien.
“Saat pasien membayar uang rumah sakit, itu tidak semuanya uang yang dibayar ditulis di komputer atau sistem laporan setoran. Namun, hanya menuliskan beberapa dengan mengelabuhinya memakai sistem DP (uang muka). Sehingga, seolah-olah pasien masih di rumah sakit. Sedangkan uang tunai pasien, langsung diambil di staf kasir,” tambahnya.
Aris Alamsyah dalam pemeriksaan, tidak mengelak dengan tuduhan yang disangkakan kepadanya. Termasuk, kalau dirinya akan berurusan dengan polisi. Mengingat, yang membuat sistem laporan pendapatan uang rumah sakit adalah dirinya.
“Saya melakukan itu, karena saya tahu cara mengoperasionalkannya. Makanya, awalnya hanya mencoba-coba tetapi terus berlanjut,” ujarnya.
Ditanya mengenai penarikan terbesar saat menggelapkan uang, Aris mengaku, sekali ambil bisa sampai Rp 10 juta. Namun, dirinya lebih sering mengambilnya antara Rp 1 juta sampai Rp 3 juta.
“Uang itu tidak saya nikmati sendiri. Namun, saya berikan juga kepada staf kasir,” tambahnya.
Afrida saat diminta keterangan, mengaku kalau dirinya selama beraksi dengan Aris, paling besar mendapatkan bagian Rp 3 juta. Itu pun, tidak terlalu sering. “Saya paling besar dapat Rp 3 juta,” ujarnya.
Disinggung mengenai cara kerjanya, ia mengatakan, dilakukan ketika dirinya atau temannya sesama staf kasir sedang bertugas. Saat menerima uang deposit dari pasien itulah, kemudian dilaporkan kepada Aris. Sehingga, tidak semua uang yang diberikan oleh pasien, dilaporkan dalam keuangan rumah sakit.
“Saya melakukannya saat bekerja sebagai kasir. Itu pun, ketika Aris juga masuk kerja. Sehingga, melakukan bersama-sama,” paparnya. (sit/ary)