Mahasiswa UM Tewas di Sungai Glidik

Evakuasi: Jenazah Yanuru Aksanu saat dievakuasi petugas Polsek Ampelgading dan warga.

Terpeleset di Air Terjun Saat Ambil Foto
MALANG – Universitas Negeri Malang (UM) berduka. Salah satu mahasiswa jurusan PKn, petang kemarin ditemukan tewas di aliran Sungai Glidik, Coban Tumpak Sewu, Desa Sidorenggo, Kecamatan Ampelgading. Yanuru Aksanu Laila, jatuh terpeleset saat mengambil foto di bawah air terjun.
Usai dievakuasi, jenazah pemuda berusia 23 tahun asal Pasuruan ini, semalam langsung dibawa ke kamar jenazah RSSA Malang, untuk dimintakan visum. “Dari hasil olah TKP dan evakuasi, tidak ada tanda bekas kekerasan di tubuhnya. Korban meninggal dunia, murni karena jatuh tenggelam,” ungkap Kapolsek Ampelgading, AKP Mujianta.
Ia menerangkan, Yanuru tercatat masih berstatus mahasiswa Universitas Negeri Malang. Korban saat ini semester akhir, dan sedang mengerjakan skripsi. “Saudaranya yang menjadi saksi mata, mengatakan kalau korban adalah mahasiswa jurusan PKn,” ujarnya.
Mantan Kapolsek Kepanjen ini menjelaskan, korban datang ke Coban Tumpak Sewu bersama lima orang temannya. Mereka berenam berangkat dari Pasuruan, dengan berboncengan sepeda motor. Yanuru sendiri, berboncengan dengan Rusdian Dwi Ramadhan, yang masih saudaranya.
Setiba di lokasi, korban bersama lima temannya langsung bermain di bawah air terjun, yang berada di perbatasan Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang dengan Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. “Korban datang ke Coban Tumpak Sewu, karena tertarik dengan keindahan meski medan yang dilalui sangat ekstrim,” tuturnya.
Beberapa menit sebelum kejadian sekitar pukul 11.30, empat temannya berpamitan untuk pergi ke tempat parkir motor. Sedangkan korban bersama saudaranya masih tetap di lokasi. Sekitar pukul 11.30, Rusdian mengajak korban untuk pulang, karena perjalanan sangat jauh.
Tetapi korban yang saat itu berdiri di pinggir Sungai Glidik, mengatakan kalau ingin mengambil satu foto lagi. Tak lama setelah itu, korban diketahui sudah tidak ada. Ia tenggelam lalu hanyut setelah terpeleset.
Mengetahui hal itu, Rusdian langsung meminta pertolongan warga sekitar, yang kemudian dilaporkan ke petugas Polsek Ampelgading. Medan yang berat dan ekstrim menjadi kendala proses evakuasi. Setelah beberapa jam dilakukan pencarian bersama sekitar 50 orang, akhirnya tubuh Yanuru berhasil ditemukan sekitar pukul 17.00.
“Untuk proses evakuasi jenazah setelah ditemukan butuh waktu sekitar satu jam karena medan yang berat. Saat ditemukan, dari hidung korban keluar darah mungkin karena kemasukan air serta terbentur batu ketika tenggelam,” paparnya.(agp/feb)