Pamit Ibu, Tidak Lagi Akan Pulang

Mobil PMI yang membawa jenazah Yanuru Aksanu Laila, pulang ke rumah duka di Malang.

Korban Selfi Maut di Coban Tumpak Sewu
MALANG – Rusdian Dwi Ramadhan, menjadi orang yang paling terpukul atas meninggalnya Yanuru Aksanu Laila, mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM), yang tewas di aliran Sungai Glidik, Coban Tumpak Sewu, Desa Sidorenggo, Kecamatan Ampelgading. Ia tidak menduga kalau Jumat lalu, menjadi hari terakhirnya bersama korban, yang masih ada ikatan famili dengannya.
Raut wajah Rusdian, terlihat lesu saat ditemui di ruang tunggu kamar jenazah RSSA Malang, Jumat malam lalu. Pandangan kedua matanya terlihat kosong. Ia masih terbayang dengan kejadian yang menghilangkan nyawa Yanuru.
“Saya tidak tahu persis bagaimana kejadiannya. Sebab ketika saya menoleh ke belakang, ternyata Yanuru sudah jatuh tenggelam. Setelah itu saya langsung pingsan,” ujar Rusdian.
Dikisahkan Rusdian, malam sebelum kejadian (Kamis malam, red), Yanuru sempat berpamitan kepadanya kalau mau berangkat ke Gunung Semeru, bersama dengan temannya. Tetapi niatan korban dilarang oleh Rusdian, karena kondisi cuaca malam itu hujan deras. Akhirnya niatan itupun dibatalkan oleh korban.
Sebaliknya, Rusdian mengajak korban untuk pulang ke Pasuruan, Jumat pagi. Tetapi, korban menolak karena baru saja bertengkar dengan ibunya (Sumini, red). “Ia mau pulang kalau Cuma sebentar saja. Kalau pulang lama-lama, ia tidak mau karena baru bertengkar dengan ibunya,” tuturnya.
Lantaran tidak mau diajak pulang, Rusdian beralih meminta tolong untuk diantarkan mencari lokasi untuk KKN di wilayah Kecamatan Pakisaji. Permintaan itu, disanggupi oleh korban dengan mengajak rekan-rekannya. Setelah mencari tempat KKN, korban yang berboncengan motor dengan Rusdian langsung mengajaknya bermain.
“Ketika saya tanya mau bermain kemana, ia tidak menjawab. Baru ketika di tengah perjalanan, memberitahu kalau mau ke Coban Sewu,” katanya.
Selama perjalanan dan bersama, Rusdian mengatakan tidak ada kecurigaan kalau musibah akan menimpa Yanuru. Sikap Yanuru seperti biasanya. “Kata terakhir yang terucap, kalau ia ingin foto selfie terakhir dengan membelakangi air terjun. Itu diucapkan sesaat sebelum ia jatuh terpeleset dan tenggelam, ketika saya ajak pulang,” paparnya.
Supriyatno, ayah tiri korban mengatakan kalau ia bersama istri sama sekali tidak ada firasat yang menonjol. Hanya beberapa hari terakhir, korban memang sering bertengkar dengan ibunya. Ia kontak dengan ibunya Rabu malam, mengatakan kalau sebentar lagi tidak akan pulang.
“Kalau saya sama sekali tidak ada pesan. Karena selama ini jarang sekali berkomunikasi dengan saya. Hanya seminggu lalu, saya bermimpi mendapatkan bayi,” terang Supriyatno.
Sementara itu, jenazah Yanuru Jumat malam sekitar pukul 21.00, langsung dibawa pulang ke rumah duka setelah dimintakan visum luar. Jenazahnya dibawa menggunakan ambulance PMI N 1818 WF milik AKBP Ansori, pejabat di Polda Jatim. Mobil ambulance tersebut, dibawa keluarga dari Pasuruan untuk menjemput jenazah korban dari lokasi terjatuh di Coban Tumpak Sewu.(agp/aim)