Tertipu Investasi Bodong,Miliaran Rupiah Amblas

MALANG - Puluhan warga Perum Joyogrand, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang, menjadi korban investasi bodong dari salah satu warga yang mengontrak rumah di kawasan tersebut. Para warga tersebut, merugi sampai ratusan juta setiap orang, akibat uang yang diinvestasikan sampai sekarang belum kembali. Sementara pelaku, sampai saat ini menghilang dan tak bisa dihubungi.
Salah satu korbannya adalah Yuliyah (47), warga Perum Joyogrand Blok K No. 119, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Wanita sehari-harinya  membuka lapak sayur, makanan  dan menjadi distributor sembako ini, tertipu oleh pelaku  bernama Nunik Haryati (36), warga yang dulu menempati rumah kontrakan di Blok PP nomor 12. Kerugian  Yuli, panggilan akrab Yuliyah, mencapai Rp 363 juta. Uang itu sekarang lenyap sejak Februari 2015 lalu, karena dibawa kabur Yati, panggilan akrab Nunik Haryati, entah kemana.
Yuli mengatakan, kejadian bermula saat Yati baru mengontrak rumah di Perum Joyogrand pada bulan Februari 2014 lalu. Yati mulai mencoba untuk akrab dengan Yuli. Yati juga menawarkan diri untuk menjadi suplier barang jualan Yuli. "Mulanya skala kecil, seperti sayur-sayuran. Lama-lama dia menawarkan dalam sembako dalam skala besar. Misalnya saya beli mie instan ke dia sampai 100 karton dan beras ribuan sak," ujar Yuli kepada Malang Post, kemarin (2/5/15).
Hubungan bisnis tersebut terus berlanjut. Hingga akhirnya Yuli mengaku mulai percaya dengan Yati. Tawaran investasi baru dilakukan Yati pada Juni 2014. Saat itu, Yati menawarkan Yuli untuk melakukan investasi untuk usahanya menjadi suplier sembako. Yati mengiming-imingi Yuli dengan laba sekitar 5 persen setiap bulan. Karena Yuli percaya, tawaran tersebut diterima. Yuli mulai menginvestasikan sedikit demi sedikit hartanya. Setiap pembayaran, dibuktikan dengan kuitansi pembayaran.
"Baru pada Februari 2015, tiba-tiba Yati  pergi  dari rumah kontrakannya. Saya mencari dia, para warga juga mencarinya. Kami bingung, ponselnya dihubungi juga tidak bisa, akhirnya saya melapor ke Polres Malang Kota 23 Februari 2015," kata Yuli seraya mengatakan kalau dia memegang bukti pelaporannya. Total harta benda yang dia investasikan itu, mencapai Rp 363 juta.
Kendati sudah melapor ke polisi, lanjut Yuli, sampai saat ini belum ada tindak lanjut dari pihak kepolisian. Ini membuat Yuli kecewa. Apalagi, ada sedikitnya 10 orang yang mengalami kejadian serupa. Dan nilai investasi dari masing-masing warga, sekitar Rp 100 juta sampai Rp 200 juta. "Kalau begitu pelaku ini sudah membawa kabur lebih dari Rp 1 miliar. Harusnya polisi segera bertindak," kata Yuli.
Tidak hanya merugi karena investasi bodong, Yuli juga mengalami kerugian karena barang pesanannya tidak dikirim sampai sekarang. Kerugian akibat pembelian barang tersebut, diklaim sedikitnya Rp 500 juta. "Tapi waktu pembelian, saya tidak meminta kwitansi. Saya sudah terlanjut percaya. Jadi tidak ada bukti untuk dilaporkan. Paling tidak, pelaku bisa ditemukan dulu," serunya.
Dikonfirmasi terpisah, Kasat Reksrim Polres Malang Kota AKP Adam Purbantoro mengatakan kalau korban harus menghadap langsung ke Polres Malang Kota dan membawa surat laporan ke sana. Sebab, untuk mencari satu persatu laporan masuk, Polres Malang Kota akan merasa kesulitan.
"Tidak mungkin tidak ada tindak lanjut. Coba korban langsung menghadap saya membawa bukti laporan. Kalau memang benar, kami akan segera menindaklanjutinya. Kalau kami harus mencuri satu per satu, sulit," pungkas Adam. (erz/nug)