Abah Tidak Pernah Neko-Neko

Tertangkapnya H. Rustawi Tomo Kabul, 63 tahun, dan istrinya Pantes Sarjiah, 58 tahun, mengejutkan warga Jalan Kelud RT03 RW01, Desa/Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Warga sama sekali tidak menyangka jika pasangan suami istri ini ditangkap. Apalagi penangkapan itu karena Abah, sapaan akrab Rustawi membawa bahan peledak.
“Saya baru tahu pagi tadi, saat banyak wartawan datang. Kami tidak percaya, karena di mata kami, baik Abah maupun Umik tidak pernah neko-neko. Mereka itu adalah orang baik. Kami tidak percaya kalau abah dan umik ditangkap,’’ kata Sundari salah satu warga, yang menyebut nama Abah dan Umik kepada H Rustawi dan Pantes. 
Ditemui Malang Post wanita yang rumahnya berjarak dua rumah dari rumah Rustawi ini bercerita cukup panjang sosok tetangganya itu. Menurutnya, Rustawi merupakan orang terpandang di Desa/Kecamatan Jabung. Pria ini tidak sekadar kaya raya, tapi juga sangat dermawan, kepada seluruh warga.
Sifat dermawan Rustawi ini ditunjukkan, dengan tidak pernah sekalipun dia menolak warga yang meminta bantuan. Dengan sangat senang hati, bapak empat anak tersebut langsung memberikan bantuan kepada warga yang membutuhkan.
Bukan hanya kepada warga, Rustawi dan Pantes juga kerap memberikan santunan kepada anak-anak Yatim serta Bahkan, menurut Sundari, setiap Minggu Pon, Ruswati juga menyantuni anak-anak Yatim, dan para janda tidak mampu. Sempat beberapa anak-anak yatim ditawari untuk mondok di
Pria ini menurut wanita berambut pendek tersebut tidak pernah menyembuyikan tangan, saat ada warga yang kesusahan. Sebaliknya dia langsung mengulurkan bantuan. “Contohnya jika ada keluarga yang sakit, Abah tidak sekedar datang menjenguk saja, tapi juga memberikan bantuan. Bantuannya itu bermacam-macam, bisa berupa uang atau sembako,’’ tambah wanita ini.
Bukan hanya dermawan, Rustawi juga dikenal warga sebagai orang yang taat beragama. Ketaatan itu terlihat dari aktifitas keagamaan yang dilakukan. Baik Rustawi dan Pantes hampir tidak pernah absen menjalankan salat. Itu terlihat, karena keduanya selalu menunaikan salat di musalah yang ada di belakang bangunan TPQ Baitul Muchlisin.
“Dulu Abah dan Umik selalu salat di musala Baitul Muchlisin. Tapi kemudian, karena membangun musalah sendiri di belakang TPQ miliknya, sekarang salatnya disana,’’ katanya.
Ketaatan Rustawi dan Pantes ini juga terlihat karena kerapnya keduanya mengikuti pengajian. Tidak sekadar pengajian yang diadakan warga kampun, tapi juga luar kampun. Bahkan, hampir setiap Minggu Rustawi ikut pengajian di Pondok milik almarhum Kiai  Ahmad Badri, Desa Sukolilo.
Sementara itu takmir musalah Baitul Muchlisin, Rochmad, 58 tahun,  membenarkan jika Rustawi dan istrinya adalah orang yang taat beragama. Bahkan, pria yang berprofesi sebagai Modin Desa Jabung ini juga tidak mengelak jika Rustawi adalah orang yang sangat dermawan.
“Dulu dia selalu salat di musalah Baitul Muchlisin. Tapi sejak setahun terakhir tidak lagi. Karena dia sudah punya tempat sendiri (musalah) di depan rumahnya,’’ katanya. Kendati tidak pernah lagi menginjakkan kaki di musalah Baitul Muchlisin, tapi Rustawi tidak lupa. Terbukti, dia tetap memberikan bantuan, jika masjid memerlukan biaya.
“Saya masih ketemu hari Jumat (1/5) siang lalu, saat kami sama-sama menunaikan salat Jumat di Masjid Jami’, Jabung,’’ kata Rochmad. Pria ini mengaku sangat tidak percaya jika Rustawi ditangkap. “kalau bawa amunisi atau bahan peledak, kok ketemunya baru di Brunei Darussalam. Padahal, kan lewatnya Juanda,’’ katanya bertanya-tanya.
Sementara itu warga lainnya juga menyebutkan, Rustawi merupakan warga asli Jalan Kelud, Jabung. Sedangkan istrinya asli dari Wajak. Selama menikah, Rustawi dikaruniai empat anak, yakni Wit’ani, Dwi, Sutrisno, dan Roni. Dari empat anak tersebut, diasuh oleh warga tetangga desa, yaitu Sutrisno.
Dari empat anak ini Rustawi tinggal dengan Wit’ani. Wit’ani pulang ke rumah orang tuanya setelah bercerai dengan suaminya. “Di rumah itu ada empat orang, yaitu Abah, Umik, Hj Wit’ani dan Adfal, 4 tahun, anak Wit’ani,’’ kata warga. Sementara Dwi, anak kedua Rustawi juga tinggal di depan rumah Rustawi. Bahkan, rumah Dwi gabung dengan bangunan TPQ Baitul Muchlisin.
“Istri Dwi orang Lamongan. Dia punya dua anak, salah satunya bernama Ilham, kemarin baru khitan,’’ urai warga yang meminta namanya tidak disebutkan.
Sementara Roni, dia juga sudah menikah dan tinggal di Wajak. Sementara Sutrisno, disebutkan warga ini tidak diketahui keberadaannya.
Disinggung dengan usaha yang dikelola oleh Rustawi, wanita ini pun langsung tersenyum. Dia tidak segan-segan mengatakan jika Rustawi merupakan salah satu tokoh terpandang di Jabung. Dulu, Rustawi sangat kaya raya.
Hartanya sangat banyak. Mulai dari, berdagang,  ladang, sawah, tempat penggilingan padi, tempat persewaan alat-alat pesta hingga rias kemanten. Kesohoran Rustawi inipun terlihat dari kediamannya. Di Jalan Kelud, kediaman Rustawi tampak lebih megah di bandingkan dengan bangunan rumah lainnya. Rumah dua lantai, ini lantainya adalah keramik yang sangat mengkilat.  Di halaman rumah ini juga tampak bersih, serta ada beberapa bunga yang mengiasi halaman.
“Dulu pak Rustawi punya kendaraan banyak, ada mobil, truk, motor, pick up dan kendaraan lainnya,’’ katanya. Namun begitu, kekayaan tersebut, kian hari-kian menipis. Satu persatu harta benda Rustawi di jual.
Tidak jelas sebab Rustawi menjual  satu persatu hartanya. Namun dari informasi menyebutkan, jika Rustawi menjual barang-barangnya, karena ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.  “Dia kan terus menerus menyantuni anak yatim, dia juga terus melakukan ibadah umrah. Katanya karena itu semua hartanya dijual,’’ urai warga tersebut.
Ditanya soal Rustawi ditangkap, warga tersebut langsung menggelengkan kepala. “Kami tahunya abah dan umik umrah. Kami tidak tahu kalau ditangkap,’’ kata warga yang wanti-wanti agar namanya tidak di korankan.
“Jumat (1/5) berangkat, kemudian Senin (4/5) Dwi anak Abah Rustawi punya hajat yaitu mengkhitankan Ilham salah satu anaknya. Hajatan itu mengundang 250 wali makan. Karena selain khitan sekaligus selamatannya abah dan umik yang sedang umroh,’’ tambahnya.
Apakah sebelumnya ada polisi datang? Warga ini mengaku tidak tahu menahu. Dia hanya mengatakan, sejak Senin lalu, banyak tamu yang datang baik ke rumah Dwi maupun rumah Rustawi. “Apakah itu polisi atau bukan kami tidak tahu, karena ada hajatan juga,’’ tandas warga tersebut.
Sementara rumah Rustawi sendiri kemarin tampak sepi. Baik pintu maupun pagar rumah tersebut tertutup rapat. Beberapa kali Malang Post mengetuk pintu, tidak satupun penghuni rumah itu keluar. “Tadi pagi Hj Wit’ani keluar dengan anaknya, Adfal,’’ kata Lusi salah satu warga.
Kondisi yang sama juga terlihat di rumah Dwi. Rumah yang ada di depan rumah Rustawi ini juga tampak sangat sepi. Menurut Lusi, Dwi dan keluarganya mengantarkan salah satu famili pulang ke Lamongan. “Setelah subuh tadi berangkatnya,’’ tandas Lusi.(ira/has/ary)