Empat Terdakwa Ospek Maut ITN Diputus Bebas

Keempat terdakwa terlihat tegang sebelum Ketua Majelis Hakim memutuskan bebas

MALANG – Isak tangis penuh haru, mewarnai sidang putusan kasus kematian mahasiswa ITN Malang, Fikri Dolasmantya Surya, Kamis siang di ruang Garuda Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen. Ketua Majelis Hakim Bambang Herry Mulyono SH, memutus bebas keempat terdakwa.
Empat terdakwa serta puluhan mahasiswa dan dosen ITN yang memenuhi ruang sidang, tak kuasa menitikkan air mata. Mereka saling berpelukan dan berucap selamat. Bambang yang didampingi dua hakim anggota Sri Hariyani SH dan Nuny Defiary SH, menyatakan berdasarkan fakta di pengadilan serta beberapa keterangan saksi, bahwa tidak ada alat bukti yang sah dan asli untuk meyakinkan kematian Fikri. Sehingga unsur kelalaian yang didakwakan kepada keempat terdakwa sama sekali tidak terbukti.
“Menimbang berdasarkan fakta dan keterangan saksi di pengadilan, dengan ini mengadili dan menyatakan bahwa keempat terdakwa tidak terbukti secara sah, sebagaimana dalam dakwaan yang dituduhkan. Dengan ini maka pengadilan membebaskan keempat terdakwa dari segala dutuhan,” papar Bambang Herry Mulyono, saat membacakan putusan.
Keempat terdakwa yang divonis bebas ini, Kepala Jurusan (Kajur) Planologi, Dr. Ir. Ibnu Sasongko, Ketua Panitia Kemah Bakti Desa (KBD) Putra Arif Budi Santoso, seksi acara KBD Natalia Damayanti serta seksi keamanan acara Halim Nurohman.
Vonis bebas yang diputuskan Ketua Majelis Hakim tersebut, sekaligus menggugurkan tuntutan JPU, Marendra dan Indra Swara. Sebelumnya JPU menuntut Ibnu hukuman 8 bulan penjara dengan masa percobaan 1 tahun. Sedangkan tiga mahasiswa senior (Fendem) hukuman 6 bulan dengan percobaan 1 tahun. Mereka dituntut dengan pasal 359 KUHP, tentang kelalaiannya mengakibatkan meninggalnya seseorang.
Saat dikonfirmasi usai pembacaan putusan, kedua JPU Marendra dan Indra Swara sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Keduanya langsung buru-buru meninggalkan ruang sidang Garuda.
Ibnu Sasongko, mewakili para terdakwa lainnya mengaku sangat bersyukur dengan putusan bebas yang diberikan Majelis Hakim. “Hanya kata alhamdulillah yang saya ucapkan. Majelis Hakim bersikap adil, karena dari awal saya juga bingung apa kesalahan saya sampai dijadikan tersangka. Setelah ini, saya akan tetap mengajar,” tutur Ibnu, sembari mengatakan kalau ia bersama keluarga besar ITN tetap akan selalu mendoakan (alm) Fikri Dolasmantya Surya.
Endarto Budhi Walujo SH dan Johny Hehakaya, kuasa hukum keempat terdakwa terlihat sangat gembira dengan putusan itu. “Ini perjuangan selama dua tahun. Kami menerima keputusan itu dengan baik dan sangat bersyukur,” ujar Endarto.
Sementara, sidang putusan ini kemarin sempat molor. Dari jadwal semula pukul 10.00, sidang diundur pukul 13.15. Sidang putusan tersebut, mendapat perhatian. Puluhan mahasiswa dan beberapa dosen ITN Malang, hadir untuk mendengarkan. Begitu juga dengan pihak kepolisian dari Polres Malang yang memberikan penjagaan khusus di depan ruang sidang.
Sekadar diketahui, Pelatihan Planologi mahasiswa baru (Maba) ITN Malang, di Pantai Goa Cina, Dusun Rowotratih, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, 12 Oktober 2013 berakhir duka. Seorang mahasiswanya, Fikri Dolasmantya Surya, dinyatakan meninggal dunia. Korban, menghembuskan nafas terakhirnya usai mengikuti kegiatan olahraga dan survey pemetaan tanah. (agp/aim)

Perjalanan Panjang Kasus Kematian  Fikri Dolasmantya Surya

12 Oktober 2013
Pelatihan Planologi mahasiswa baru (Maba) ITN Malang, di Pantai Goa Cina, Dusun Rowotratih, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, berakhir duka. Seorang mahasiswanya, Fikri Dolasmantya Surya, dinyatakan meninggal dunia. Korban, menghembuskan nafas terakhirnya usai mengikuti kegiatan olahraga dan survey pemetaan tanah.
 
13 Oktober 2013
Jenazah Fikri diterbangkan pulang ke tempat asalnya, Jalan Sakura IV / 17 BTN Sweta Mataram – NTB. Jenazah yang dimasukkan dalam peti, dinaikkan pesawat cargo dari Bandara Juanda – Surabaya. Didampingi dua mahasiswa yang menjadi panitia pelatihan Planologi, Dosen Wali serta Sekretaris Jurusan.

7 Desember 2013
Beredar foto peristiwa penyiksaan ospek yang menewaskan Fikri Dolasmantya Surya. Polisi pun saat itu langsung turun tangan untuk mengusut.

9 Desember 2013
Polisi mulai gelar perkara untuk menyelidiki kematian Fikri.


12 Desember 2013
Polisi mulai memeriksa keterangan tujuh orang panitia ospek.

16 Desember 2013
114 mahasiswa ITN diperiksa bersamaan oleh 30 penyidik.


18 Desember 2013 sampai 20 Januari 2014
Pemeriksaan saksi-saksi tambahan termasuk saksi ahli, untuk mencari bukti tambahan.

20 Januari 2014
Polres Malang menetapkan empat tersangka, Kepala Jurusan (Kajur) Planologi, Dr. Ir. Ibnu Sasongko (IS) dan tiga lainnya Fendem (mahasiswa senior), yaitu Ketua Panitia Kemah Bakti Desa (KBD) Putra Arif Budi Santoso (PB), seksi acara KBD Natalia Damayanti (ND) serta seksi keamanan acara Halim Nurohman (HN).

26 Februari 2014
Kuasa hukum keempat terdaka meminta kasus dihentikan, karena penyebab kematian Fikri tdak diketahui.

8 Oktober 2014
Sidang perdana kasus Fikri Dolasmantya Surya, di Pengadilan Negeri Kepanjen digelar.

7 Mei 2015
Ketua Majelis Hakim membacakan putusan bebas keempat terdakwa, karena tidak terbukti bersalah.