Tawari Tiket Gratis ke Surga

Di Juanda, Koper Rustawi Dititipkan Tim Umrah
JABUNG- Di tempat asalnya, Kecamatan Jabung, H. Rustawi Tomo Kabul (63 tahun) sempat memiliki aktifitas keagamaan yang diikuti jamaah dari luar. Istri Rustawi pernah menawari tiket gratis ke surga untuk bergabung jamaah keluarga Rustawi. Namun, motif maupun asal muasal bom dan empat peluru di koper milik Rustawi masih misterius.
Yang jelas, sebelum terbang ke Brunei Darussalam, koper Rustawi dan jamaah umrah lainnya dititipkan pada staf Al Aqsha. Hal itu ditegaskan Direktur Biro Perjalanan dan Umroh Al Aqsha, M. Agus Sugianto, yang ditemui Malang Post, kemarin (7/5/15) sore.
Pria asal Madura ini menyatakan, kalau Rustawi mendaftar ke biro perjalanan Al-Aqsha pada April 2014. Dia mendaftar bersama istrinya, Pantes Sastro Prajitno. Mereka berangkat bersama 51 orang dari rombongan Al-Aqsha. Sebanyak 24 orang berasal dari Malang Raya, sisanya berasal dari Pasuruan, Probolinggo sampai Madura.
Sesuai dengan jadwal seperti biasanya, kata Agus, Rustawi dan rombongan berangkat dari Kota Malang pukul 00.00 WIB dan sampai di Bandara Juanda sekitar pukul 02.30 WIB. Setelah itu, rombongan menunggu pesawat take off pukul 06.30 WIB. Selama itu, tak diberikan tim dari Al-Aqsha untuk mengumpulkan tas rombongan dan mengirimnya ke bagasi.
"Sementara rombongan kami berikan tausyiah dan ibadah, sekaligus salat subuh berjamaah. Tas disimpan sesuai dengan prosedur bandara,"kata Agus.
Pesawat akan tiba di Brunei pukul 09.00 waktu Brunei atau 08.00 WIB. Sedangkan pesawat baru berangkat lagi ke Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, pada pukul 10.30 waktu Brunei dan sampai di Jeddah sore atau di Malang pukul 20.00 WIB.
Agus menyebut, mulai dari Bandara Juanda Surabaya, sampai Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, rombongan tidak bisa memegang tas. "Namun, saat itu polisi Brunei kebetulan mendapati ada bom di koper Rustawi dan dia diamankan," kata Agus. Karena peristiwa itu, satu per satu rombongan diperiksa dan menyebabkan pesawat delay berjam-jam.
Dikemukakan, Al Aqsha tidak berhak memeriksa barang bawaan jamaah rombongan karena itu privasi. Kendati demikian, sebelum perjalanan Al Aqsha sudah mengimbau kepada jamaah untuk hanya membawa barang keperluan saja.
Rombongan Bibit, dijadwalkan akan kembali pada 12 Mei mendatang. Jika tidak ada penundaan pesawat, mereka akan tiba di Indonesia tanggal 13 Mei. Kata Agus, Rustawi sudah pernah naik haji dan berkali-kali pergi umrah.
"Informasinya Agus memang sudah beberapa kali pergi ke Makkah untuk naik haji dan umrah. Tapi, saya tidak tahu berapa kali. Soalnya, di Al Aqsha ini pertama kalinya," ujar Agus.
Pria yang akrab disapa Abah Agus ini baru pulang dari Makkah kemarin dini hari. Dia mengaku, mengetahui mengenai penangkapan Rustawi sesaat setelah penangkapan. Saat penangkapan, Agus sedang berada di Makkah.
Agus mengatakan kalau dia mendapat informasi bahwa di Jabung, Rustawi terkenal sebagai orang kaya. Rustawi memiliki penggilingan padi, tebu, serta memiliki banyak lahan persawahan. Sehingga, lanjut Agus, wajar saja ketika Rustawi bisa berkali-kali ke Makkah untuk beribadah. Agus mengemukakan, saat dia menelepon Bibit, ketua rombongan ini berkata kepada Agus kalau dia tidak percaya Rustawi menyimpan bom tersebut.
Sebab, lanjut Agus, Bibit mengetahui bagaimana sifat Rustawi. "Saya pribadi tidak percaya. Saya memang belum kenal kalau pribadi, tapi saya lihat datanya, saya tidak percaya kalau dia membawa bom itu," kata Agus. Sekarang, istri Rustawi, Pantes Sastro Prajitno, bersama rombongan dan berada di Madinah.

Aktifitas Keagamaan Rustawi Ditentang Anaknya

H Rustawi Tomo Kabul sejak pertengahan tahun 2014 mengadakan aktifitas keagamaan di Jalan Kelud RT 03 RW 01 Desa/Kecamatan Jabung. Selama ini rumah Rustawi, biasa dipergunakan untuk pengajian dan didatangi jamaah dari luar. Aktifitas tersebut sempat ditentang oleh anaknya, Sutrisno alias Cipeng (27 tahun) yang kini tak ada di rumah.
Hal itu dijelaskan tetangga Rustawi, Kastigana, 67 tahun, mengatakan, keseharian rumah Rustawi selalu tertutup.
“Bukan saat ada masalah ini saja. Melainkan, sebelumnya rumah dari bapak Rustawi ini selalu tertutup,” ujarnya kepada Malang Post kemarin.
Dijelaskannya, pada tahun 2014 yang lalu, rumah Rustawi selalu berbagai diadakan keagamaan.
Diantaranya seperti pengajian, salawatan, pertemuan calon jamaah ibadah umrah dan kajian agama. Namun, sejak pertengahan tahun 2014 yang lalu, intensitas aktivitas keagamaan di tempat tersebut, berkurang. Akibat salah seorang anak Rustawi bernama Sutrisno Prayogo alias Cipeng, 27 tahun, tidak setuju dengan aktivitas tersebut.
“Dari dulu, Jipeng ini selalu bertengkar dengan ayahnya. Bahkan Jipeng ini telah diusir dari rumah oleh ayahnya. Suatu ketika saat ada pengajian di rumah ayahnya tersebut, Cipeng mencoba memukul habib-habib yang hadir,” paparnya. Lanjut dia, usai kejadian tersebut, Cipeng melarikan diri. Ayahnya sempat melaporkannya ke kepolisian.
Namun, setelah Cipeng kembali ke Jabung, permasalahan tersebut akhirnya sepakat diselesaikan secara kekeluargaan. Meski permasalahan itu selesai, hubungan antara ayah anak tersebut, masih memanas. Suatu ketika, Rustawi melaporkan anaknya ke kepolisan tanpa alasan yang jelas. “Namun, saat itu laporannya tidak diterima polisi,” imbuhnya.
Menurut Kastigana, Cipeng menganggap apa yang ditempuh oleh ayahnya itu salah. Sehingga berani menentang ayah kandungnya sendiri. Diapun curiga dengan aktivitas keagamaan dari keluarga Rustawi tersebut. Diduga, Rustawi mengikuti jaringan radikal. Pasalnya, banyak jamaahnya yang berasal dari luar daerah.
“Rustawi hanya keluar rumah, saat salat berjamaah di musala. Musala itu, satu komplek dengan TPQ milik anaknya yang lain yakni Dwi,” tuturnya.
Dia menjelaskan, keberadaan Cipeng saat ini tidak diketahui. “Memang anaknya keras, namun itu hanya kepada ayahnya. Kalau kesehariannya, dia baik dan mempunyai usaha jamur. Setahu saya, dia tidak mungkin yang meletakkan peledak dan peluru itu,” tuturnya.
Lanjut dia, sedangkan untuk istri Rustawi, Pantes Sastro Prajitno, pernah bercerita mengenai tiket masuk surga gratis. “Dia pernah bilang, sudah mendapatkan tiket masuk surga gratis. Kalau ingin mendapatkan hal itu, dia mengajak bergabung dalam jamaah tersebut,” tuturnya.
Sedangkan rumah Rustawi tampak sepi, ketika wartawan koran Malang Post mendatanginya, kemarin. Anaknya, Dwi ketika ditemui koran ini, enggan berkomentar soal kasus yang membelit ayahnya.
“Rumah Rustawi berada di depan. Saya tidak mau berkomentar apa-apa dulu,” cetusnya sembari menutup pintu rumah.
Sedangkan suasana rumah Rustawi ini tampak sepi. Tidak ada aktivitas yang mencolok, termasuk penggeledahan yang dilakukan oleh pihak berwajib. Sama halnya dengan yang terjadi di rumah Bibit Hariyanto, Dusun Bugis Krajan Timur, Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis, yang juga sepi. (erz/big/ary)