Guru SMP dan Ibunya Tewas Misterius

LAWANG – Ibu dan anak, bernama Rembati (79 tahun) dan Hariyadi (47 tahun) tewas mengenaskan di rumahnya, kemarin. Peristiwa itu menggemparkan warga Gang Pisangrenggo, RT 03 RW 05, Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Lawang. Kuat dugaan, keduanya tewas akibat racun dari makanan.
Saat ditemukan kali pertama oleh warga, jasad Hariyadi dalam posisi duduk di ruang keluarga. Yakni posisi jasad duduk di kursi dan kaki kanannya terdapat bekas darah kering. Diduga darah kering di kaki Guru SMP PGRI 01 Pakisaji itu, dari muntahan mulutnya.
Sedangkan ibunya Rembati, justru ditemukan di depan pintu dekat ruang makan. TKP merupakan dua rumah yang berada dalam satu areal dan terhubung satu sama lain. Di mulut Rembati juga terdapat darah, yang lazimnya keluar dari korban keracunan. Serta luka berlubang yang terdapat di pipi kanannya.
Melihat jasad keduanya yang sudah mengalami proses pembusukan, diperkirakan sudah tewas selama dua hari. Anehnya, tidak ada barang berharga milik korban yang hilang. Sehingga muncul kemungkinan ibu dan anak ini nekat, mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Atau bahkan dibunuh oleh orang yang amat mengenalnya.
Jasad ibu dan anak ini kali pertama ditemukan Maimunnah, tetangga korban. Yakni pada pukul 08.00 WIB dia melihat dari luar rumah, Hariyadi duduk seperti tertidur. “Posisinya sama saat saya melihat pada hari Kamis (7/5) petang. Saya panggil dan ketuk pintu, Hariyadi ini tidak menjawab,” ujarnya kepada wartawan kemarin.
Curiga dengan keadaan itu, membuatnya memanggil warga sekitar, lalu berinisiatif melakukan pengecekan. “Posisi Hariyadi ini jelas terlihat dari luar. Karena tirai rumahnya tidak ditutup,” imbuhnya.
Setelah warga sekitar berkumpul, kemudian mencoba masuk ke dalam rumah, lewat pintu ruang tamu yang saat itu tidak dikunci. Setelah masuk, baru diketahui yang bersangkutan sudah dalam keadaan tidak bernyawa.
Warga sekitar mencoba memberitahu ibu Hariyadi, Rembati, yang berada di rumahnya. Saat masuk ke dalam rumah Rembati, warga dikagetkan dengan korban yang juga tidak bernyawa.
“Hariyadi ini belum menikah dan kesehariannya memasak sendiri. Saya yang membelanjakan bahannya,” terang Maimunnah.
Sedangkan kesehariannya, mereka hanya tinggal berdua. Dia juga tidak tahu, mengapa hal ini bisa terjadi. Dia mengatakan, sebelumnya mereka berdua tidak pernah bercerita mempunyai masalah.
Sementara itu, tetangga depan rumah korban, Made Lugra mengatakan, selama ini keduanya memang tertutup. “Hariyadi cuma menyapa saya, jarang berinteraksi dengan warga di sini. Juga jarang ikut pertemuan warga. Apalagi ibu Rembati sakit lumpuh, jalannya pun ngesot dan hanya berjemur di depan rumah,” terangnya.
Karena bersifat tertutup itulah, Rembati dan anaknya Hariyadi jarang cerita kepadanya. “Saya terakhir melihat Hariyadi itu hari Rabu (6/5) usai pulang mengajar. Sedangkan saya terakhir kali melihat ibu Rembati, hari Senin (4/5) pagi. Saya juga tidak melihat orang yang mencurigakan masuk ke dalam rumah,” katanya kepada Malang Post.
Dijelaskannya, Rembati mempunyai tiga orang anak, yakni anak pertama bernama Hariono yang sudah meninggal. Anak kedua bernama Hariyadi, yang ditemukan tewas. Sedangkan anak terakhir bernama Bambang. “Suaminya bernama H. M. Sardjoe Hidayat yang pensiunan TNI, sudah lama meninggal,” imbuhnya.
Kabar yang berhembus, penyebab kematian keduanya akibat bunuh diri. Hariyadi yang diduga mempunyai himpitan ekonomi, nekat mengakhiri hidup ibunya dengan cara tragis. Yakni dengan meracuni ibunya terlebih dahulu. Dugaan modus yang dilakukannya, makanan gorengan dicampur dengan racun yang belum diketahui jenisnya. Gorengan itu ada di sekitar meja korban.
Setelah itu, barulah dia memakan gorengan beracun tersebut. Dugaan lainnya, Haryadi nekat melakukan itu, lantaran sering bertengkar dengan ibunya Rembati.
Sedangkan saat ini, kasus tersebut dibackup sepenuhnya oleh Satreskrim Polres Malang. Kasat Reskrim Polres Malang AKP Wahyu Hidayat SIK, yang memimpin langsung olah tempat kejadian perkara (TKP) tersebut.
“Yang jelas kematiannya ada kejanggalan dan tidak wajar, karena apa, maka kita perlu otopsi, darah, air liur dan sisa makanan kita kirim ke labfor, kita dalami juga persoalan keluarga,” tegasnya ketika ditanya soal kemungkinan pembunuhan.(big/ary)