Polisi Periksa Anak Korban

Ada pula kemungkinan kematian kedua korban itu dibunuh dengan cara diracun. Saat ini, tinggal anak terakhir yakni Bambang yang hidup. Bambang sendiri mengatakan, dia terakhir bertemu ibu dan kakaknya pada hari Minggu (3/5).
“Saat itu, saya membantu membetulkan plafon rumah bersama tukang lainnya. Kakak saya yang menyediakan makanannya,” terangnya di lokasi kejadian.
Dia mengaku, usai membetulkan plafon, kemudian pulang ke rumahnya yang berada di kampung sebelah. Setelah itu, dia disibukkan dengan bekerja di Kota Malang.
Selama ini, Bambang mengaku ibu dan kakaknya itu tidak bercerita apa-apa terkait permasalahan hidup. Termasuk permasalahan ekonomi dan permasalahan keluarga lainnya, jarang bercerita.
“Kalau dirampok, ya tidak mungkin. Pintunya tidak rusak dan kelihatannya tidak ada barang yang hilang. Saya juga heran dan syok, mengapa hal ini terjadi,” urainya.
Jika bunuh diri, maka hal yang janggal lainnya adalah posisi jasad korban. Sang ibu diperkirakan tengah berjalan ke ruang dapur. Sedangkan Hariyadi tampak ingin menikmati kopi dan gorengan. Sebab, di dekat kursi yang diduduki Hariyadi, terdapat meja dengan satu gelas minuman seperti kopi.
Satreskrim Polres Malang sendiri, masih menunggu hasil otopsi yang dilakukan RSSA Kota Malang, sembari terus melakukan pengusutan dan memintai keterangan para saksi.
“Sudah terdapat empat orang yang kami mintai keterangan, terkait peristiwa ini. Salah satunya anak korban bernama Bambang dan tiga orang warga sekitar,” ujar Kasat Reskrim Polres Malang AKP Wahyu Hidayat SIK kepada Malang Post kemarin.
Dijelaskannya, kematian dari kedua korban ini, dipastikan dalam keadaan tidak wajar. Namun penyebab kematiannya apakah dibunuh maupun bunuh diri, masih didalami oleh pihak kepolisian.
“Semua kemungkinan bisa saja terjadi. Untuk mengetahui penyebab kematian keduanya, kami menunggu hasil otopsi dari RSSA Kota Malang,” terang Perwira Pertama (Pama) dengan tiga balok di pundaknya ini.
Dijelaskannya, pihaknya saat ini masih konsentrasi melakukan Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan mengumpulkan keterangan dari para saksi. Sedangkan saat ditemukan, pihaknya mengumpulkan beberapa barang bukti. Diantaranya gorengan yang terdapat di kedua tubuh korban, obat-obatan, mengambil sampel air liur dan darah.
“Semua sampel yang telah kami ambil itu, nantinya akan dilakukan pemeriksaan di Laboratorium Forensik,” terang mantan Kasat Reskrim Polres Tuban ini.
Masih kata Wahyu, saat dilakukan olah TKP, untuk sementara ini tidak ada barang berharga milik korban yang hilang. Termasuk belum ditemukan pintu dan jendela rumah yang rusak.
“Kemungkinan hasil otopsi dari rumah sakit keluar paling cepat tujuh hari ke depan. Karena melalui hasil otopsi ini, bisa mengetahui penyebab pasti kematian dari kedua korban tersebut,” terang pria berkacamata ini.
Sedangkan disinggung mengenai keduanya melakukan bunuh diri dengan memakan gorengan yang dicampur racun, dia belum bisa memastikannya. Termasuk dugaan penyebab kematian kedua korban, Wahyu masih enggan berspekulasi. Namun ketika disinggung mengenai lama keduanya meninggal, dia mengatakan lebih dari 1x24 jam.
Sesuai kondisi mayat keduanya yang mengenaskan. Selain itu, kedua jasad sudah mengeluarkan aroma busuk.(big/ary)