Warga Sanggong Kedatangan Polisi Brunei

WARGA   Jalan Kelud RT03 RW01, Desa/Kecamatan Jabung Kabupaten Malang  hingga kemarin  tidak percaya H Rustawi, ditangkap. Mereka berniat  menanyakan langsung  hal tersebut  kepada pihak  The Royal Brunei Police Force (RBPF) saat melakukan penggeledahan di rumah Rustawi.
“Kami sebagai warga sangat menghormati H Rustawi. Berita ini sangat mengejutkan bagi kami, dan kami sangat tidak percaya. Itu sebabnya, kami akan bertanya langsung kepada RBPF, saat mereka  melakukan penggeledahan di rumah pak Haji,’’ kata Lukman, warga setempat.
Ditambahkan, warga memang menunggu kedatangan RBPF. Bahkan, Jumat (8/5) malam lalu, warga nyanggong hingga semalaman. Hal ini sangat lumrah, karena sebelumnya tersiar kabar jika RBPF akan mendatangi rumah Rustawi. Tapi begitu, hingga dinihari ditunggu RBPF ternyata tidak datang.
Penantian warga tidak berhenti. Terbukti, kemarin sejak pagi warga sudah kembali menunggu kedatangan RBPF.  Warga memang tidak menunggu di satu tempat, tapi berpencar. Bahkan, beberapa diantarannya juga terlihat menunggu di gapura jalan masuk Jalan Kelud.  “Berpencar seperti ini  dilakukan untuk meminimalisir terjadi pengelabuhan. Di tempat  lain  juga  ada warga yang menunggu,’’ tambah warga lainnya.
Sementara warga menunggu rumah H Rustawi masih tetap sama seperti saat Malang Post datang kali pertama, yakni Rabu (6/5) siang lalu. Rumah tingkat dua dengan pagar besi warna hijau kemarin tampak sepi. Pintu rumah dan pagar terkunci rapat.
Sekitar pukul 12.30 WIB kemarin, sempat ada mobil Isuzu Panther berhenti di depan rumah tersebut. Tapi begitu, mobil ini tidak berisi anggota RBPF, sebaliknya ditumpangi dua anak dan sopir. Menurut warga sekitar, mobil Panther ini adalah mobil antar jemput sekolah. Dan siang itu mengantarkan anak Wit’ani serta anak dari Dwi.
Saat sang anak datang pintu serta pagar rumah H Rustawi sempat terbuka. Tapi itu hanya sebentar. Saat Malang Post mendekat rumah itu kembali tertutup rapat.  Sementara rumah Dwi (anak ke 2) Rustawi kemarin pintunya terlihat terbuka. Hanya saja, penghuni rumah ini tetap bungkam, dan enggan berkata apapun terkait kejadian menimpa Rustawi.
Selain itu, warga juga bertanya-tanya dengan keberadaan Sutrisno alias Cipeng. Pria yang sejak kecil ikut Wahidi salah satu warga ini tiba-tiba menghilang. Bahkan Wahidi, ayah angkat Sutrisno mengaku tidak tahu menahu keberadaan Cipeng. “Cipeng sudah pergi lama, belum kembali sampai saat ini,’’ ungkapnya. Lantaran itulah, Wahidi pun tidak percaya jika Cipeng yang menaruh bahan peledak di tas milik H Rustawi. “Dia tidak pernah pulang. Saat ayahnya mau berangkat umroh, Cipeng juga tidak terlihat, jadi tidak mungkin Cipeng yang meletakkan itu (bahan peledak).
Seperti yang diberitakan koran ini sebelumnya H Rustawi Tomo Kabul, 63 tahun, dan istrinya Pantes Sarjiah, 58 tahun, Sabtu (2/5) lalu ditahan Royal Brunei Police Force ketika pesawat yang ditumpanginya transit di negeri itu. Rustawi disisihkan dari rombongan jemaah umrah sebanyak 53 orang karena kepolisian Brunei menemukan bahan peledak jenis bondet, serta empat butir peluru, pisau lipat, dan gunting dalam kopernya. Namun begitu, setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut, hanya Rustawi saja yang ditahan, sedangkan istrinya Pantes tetap melanjutkan perjalanan menuju Mekkah untuk melaksanakan umroh bersama rombongan lainnya.(ira/nug)