Kuat,Dugaan Diracun Tikus

MALANG – Kematian ibu dan anak, Rembati (79 tahun) dan Hariyadi (47 tahun) masih misterius. Polisi belum mengambil kesimpulan apakah keduanya mati bunuh diri atau dibunuh. Sampai kemarin, polsi masih menyelidiki penyebab kematian mereka.
“Penyebab kematiannya masih belum tahu. Kami masih menyelidikinya. Tetapi yang jelas kematian mereka memang tidak wajar,” ujar Kasatreskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat.
Untuk mengetahui penyebabnya, polisi masih menunggu hasil otopsi dari dokter forensic RSSA Malang. Termasuk Senin besok, Polres Malang akan mengirim beberapa sample cairan serta makanan ke Laboratorium Forensik Polda Jatim.
“Ada darah kedua korban, cairan dalam lambung serta makanan, serta bekas muntahan korban yang kami kirimkan ke Labfor. Ini untuk mengetahui apakah mengandung racun atau tidak. Hasil Labfor, kemungkinan baru diketahui sekitar satu minggu dan bahkan bisa lebih,” jelasnya.
Hasil Labfor akan membantu polisi untuk mengungkap apakah korban dibunuh atau bunuh diri. “Tetapi kalau bunuh diri, tidak ada motif kuat yang mengarah ke dugaan itu. Sedangkan kalau dibunuh, kami juga masih mendalami motifnya apa,” tuturnya.
Namun dari keterangan dokter forensic RSSA Malang sementara, kematian ibu dan anak tersebut diketahui lebih dari dua hari sejak diketemukan. “Dokter mengatakan kedua korban meninggal diperkirakan sudah lebih dari 48 jam,” katanya.
Sementara itu, dari hasil penyelidikan dan analisa di tempat kejadian perkara, ada kemungkinan ibu dan anak ini meninggal karena racun tikus. Dugaan ini, karena saat olah TKP dan evakuasi, jenazah kedua korban sama sekali tidak dikerubuti semut atau lalat.
Padahal satu hari saja, jenazah orang meninggal sudah dikerubuti semut dan lalat. Apalagi korban juga mengeluarkan darah dan muntah. “Kalau memang racun, ada kemungkinan adalah racun tikus. Sebab tikus yang mati karena racun langsung mongering, dan tidak dikerubuti lalat atau semut. Sama dengan jenazah kedua korban. Tetapi untuk membuktikan, harus menunggu hasil Labfor dan otopsi,” terang mantan Kasatreskrim Polres Tuban ini.
Untuk luka di pipi Rembati, dijelaskan Wahyu bahwa luka itu adalah luka lama. Namun tidak terlihat oleh tetangga karena tertutup jilbab. Dari hasil pemeriksaan dokter forensic sementara, korban Rembati diketahui mengalami diabetes. Sehingga luka pada pipinya tidak bisa sembuh.  “Anak korban mungkin juga tidak tahu kalau korban sakit diabetes,” katanya.
Hasil pemeriksaan Bambang, anak bungsu dari tiga bersaudara Rembati yang tinggal sekitar 200 meter dari rumah korban, mengatakan kalau dia tidak tahu apa penyebab kematian ibu serta kakaknya. Bambang dalam pemeriksaan hanya mengatakan bahwa ibu dan kakaknya tinggal serumah. Sementara Bambang, sendiri mengaku sibuk bekerja di Surabaya.
Sedangkan dari saksi lain tetangga korban, dijelaskan Wahyu, diperoleh keterangan bahwa hari Rabu korban Hariyadi, masih mengawasi siswanya ujian. Dan Rabu malam tetangga masih melihat lampu rumah korban menyala. Tetapi Kamis subuh, lampu rumah sudah dalam keadaan mati. Indikasinya, ada dugaan orang yang masuk untuk mematikan lampu.
Hanya saja siapa orang tersebut, masih dalam proses penyelidikan. “Setiap hari yang datang ke rumah itu adalah istri Bambang (menantu Rembati, red). Ia mengantarkan makanan untuk mertuanya. Terakhir mengirim makanan katanya Rabu, dan posisi mertuanya sama dengan posisi tewas. Sedangkan Kamis, istri Bambang ini sempat datang untuk mengirim makanan. Tetapi ia tidak jadi, karena melihat Hariyadi masih di rumah. Apa alasannya kembali, tidak dijelaskan,” paparnya.
Lantas apakah memang ada permasalahan keluarga, seperti rebutan warisan ? Perwira dengan pangkat tiga balok ini, belum berani berandai-andai. Tetapi ia menegaskan, bahwa segala kemungkinan bisa saja terjadi. Termasuk permasalahan keluarga. Karenanya selain menunggu hasil Labfor, juga menyelidiki motif masalah warisan itu.
Sekadar diketahui, ibu dan anak, bernama Rembati (79 tahun) dan Hariyadi (47 tahun) tewas mengenaskan di rumahnya, Jumat lalu. Peristiwa itu menggemparkan warga Gang Pisangrenggo, RT 03 RW 05, Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Lawang. Kuat dugaan, keduanya tewas akibat racun dari makanan.(agp/nug)