Cipeng Ditangkap, Rumah Ortu Angkat Digeledah

MALANG – Sutrisno alias Cipeng kabarnya ditangkap oleh tim Densus 88, kemarin. Dia diduga pemilik bom dan peluru di koper Rustawi Tomo Kabul. Pasca kabar itu, anggota Polsek Jabung langsung menggeledah rumah orang tua angkatnya. Kediaman Waidi Kuncoro, 83 tahun, di Jalan Arjuno RT04 RW02, Desa/Kecamatan Jabung diubek-ubek.
Dari pantauan Malang Post, sebelum menggeledah, Polisi lebih dulu meminta izin kepada Supardi dan Dwi Martini (menantu serta anak Waidi). Selanjutnya petugas pun memulai penggeledahannya di ruang tengah rumah milik pensiunan guru SD ini.
Saat melakukan penggeledaan, Malang Post yang berada di ruang depan sempat mendengar percakapan antara petugas dengan Supardi. Kepada Perangkat Desa Jabung tersebut, petugas mencari satu unit laptop milik Cipeng. Supardi dan keluarganya tidak tahu menahu terkait laptop yang dimaksud, sehingga membiarkan petugas menggeledah rumah  itu.
Di ruang tengah petugas hanya mendapatkan dua unit VCD driver. Dua benda itu ditemukan petugas di lemari yang ada di ruang tengah. Selanjutnya, petugas melakukan penggeledahan di kamar Cipeng. Di kamar ini petugas mendapatkan satu laptop merek Toshiba. Selain laptop petugas juga menemukan satu kardus laptop merek Samsung.
Laptop warna putih yang ditemukan di kamar itu bukanlah yang dimaksud petugas. Sebaliknya, petugas mencari isi dari kardos yaitu Laptop Samsung. “Ini mana isinya,’’ tanya petugas kepada Supardi. Dan saat itu Supardi pun menggelengkan kepala.
Karena bukan yang dimaksud, penggeledahan kembali dilakukan. Kali ini penggeledahan dilakukan di halaman belakang. Kendati anggota keluarga ini mengatakan tidak ada apa-apa di halaman belakang tersebut, namun petugas tidak percaya. Terbukti, petugas tetap melakukan penggeledahan. Mulai dari dapur, kamar mandi hingga kandang ayam, tidak luput dari penggeledahan petugas.
Penggeledahan ini dilakukan tidak lama. Petugas hanya datang tidak lebih dari satu jam, selanjutnya mereka pergi. Hanya saja saat itu, para petugas ini pergi sambil berboncengan dengan Supardi. “Saya tidak tahu kemana perginya. Kalau rumahnya Cipeng ya disini,’’ kata Dwi Martini.
Para petugas ini juga enggan memberikan konfirmasi terkait dengan penggeledahan yang dilakukan. Kepada Malang Post, mereka hanya mengatakan menjalankan tugas. “Kami hanya menjalankan tugas. Untuk konfirmasi langsung di Densus 88 saja, maaf,’’ kata petugas yang kemudian buru-buru meninggalkan rumah Waidi.
Menurut Dwi Martini, ini bukan kali pertama rumah orang tuanya Waidi di datangi dan digeledah polisi, pasca ditangkapnya H Rustawi oleh kepolisian Brunei  Darussalam Sabtu (2/5) lalu. Sebelumnya, Minggu (3/5) lalu penggeledahan juga dilakukan. “Kalau tidak salah Minggu, pertama polisi datang, kemudian melakukan penggeledahan di rumah ini. Tapi tidak menemukan apa-apa,’’ kata Martini yang dibenarkan oleh Waidi.
Waidi pun mengaku tidak akan menutup-nutupi, dan tidak akan menghalangi kinerja petugas. Jika memang menemukan sesuatu yang mencurigakan berkaitan dengan perkara tersebut, pihak keluarga mempersilahkan anggota membawanya.
Sementara disinggung apakah dirinya telah mendapat kabar jika Cipeng ditangkap? Waidi menggelengkan kepala. Sebaliknya, dia bertanya kepada Malang Post kebenaran anaknya itu ditangkap. “kami belum tahu. Baru tahu dari mbaknya. Dia ditangkap dimana, sekarang ada di mana, kondisinya bagaimana?,’’ tanya Waidi dengan nada kawatir.
Pria yang pensiun menjadi guru tahun 1994 ini mengatakan sejak berita H Rustawi ditangkap kepolisian Brunei mencuat, Cipeng kabur dari rumah. Selama ini, Cipeng tidak pernah pergi, lebih-lebih dalam waktu yang lama, sama sekali tidak pernah dilakukan. Waidi pun sempat mencari anak angkatnya yang kini berusia 33 tahun tersebut. Namun begitu upaya tersebut tidak berhasil.
“Dia itu tidak pernah pergi dari rumah, makanya saya kaget begitu dia menghilang. Saya mencari, kami juga menelepon HP nya tapi nomornya sudah tidak lagi aktif,’’ kata Waidi.
Waidi juga mengatakan ada yang janggal dalam kasus H Rustawi yang kemudian menyeret Cipeng sebagai pelakunya. Kejanggalan pertama adalah, pengakuan H Rustawi saat diperiksa oleh petugas kepolisian Brunei, yang mengatakan memergoki Cipeng meletakkan bom.
“Cipeng dan H Rustawi itu ibarat anjing dan kucing. Cipeng itu tidak diakui anak oleh H Rustawi. Cipeng tidak pernah lagi datang ke rumah H Rustawi. Jika H Rustawi mengetahui Cipeng meletakkan bom, kok dia tidak melapor polisi. Padahal, perkara-perkara kecil oleh H Rustawi selalu membawa Cipeng ke kantor polisi,’’ katanya geram.
Bukan itu saja, jika yang diletakkan Cipeng ke dalam tas adalah bom, kenapa H Rustawi masih membawanya, dan tidak membuangnya. Ketiga, jika bom itu dibawa dari Jabung kenapa bisa lolos hingga Brunei.
“Kami curiga, Cipeng dijebak.  H Rustawi yang tidak menerima Cipeng sebagai anaknya justru ingin memenjarakannya. Jika memang begitu, jujur kami sebagai orang tua meskipun orang tua angkat sangat tidak terima. Bahkan, jika anak saya tidak terbukti kami bisa menuntut balik H Rustawi,’’ kata Waidi.
Pria ini juga menyebutkan, sejauh ini Cipeng adalah anak yang baik serta penurut. Karena sikapnya itu, Waidi menyebutkan Cipeng dipilih sebagai Ketua Karang Taruna desa setempat. “Anak saya selepas SMA sempat melanjutkan kuliah di UM, ambil Bahasa Jerman, tapi tidak lulus. Dia kreatif, disini kerap memberikan pelatihan kepada warga untuk budidaya jamur. Dia ingin warga disini semuanya maju, dan memiliki perekonomian yang maju pula,’’ urai Waidi.
Tidak hanya Waidi, ketua RT03 RW01 Desa/Kecamatan Jabung H Basori juga mengaku tidak tahu menahu informasi Cipeng ditangkap. “Lho iya, ditangkap. Maaf saya baru tahu ini,’’ katanya. Ditemui Malang Post di rumahnya, Basori mengatakan sejauh ini tidak pernah ada yang mencurigakan di rumahn Rustawi. Termasuk informasi kepolisian Brunei yang ingin melakukan penggeledahan.
“Tidak ada, ya sepi begitu kondisi rumahnya. Tidak ada orang yang datang atau melakukan penggeledahan,’’ tandasnya.
Sementara rumah H Rustawi tetap sepi. Bahkan pasca informasi Cipeng ditangkap, rumah ini tetap sepi. Pagar rumah berwarna hijau ini tetap tertutup rapat, dan pintu rumahnya juga demikian. Sementara rumah Dwi, meskipun terbuka dan terlihat orang beraktifitas, mereka enggan keluar.(ira/ary)