Lagi, TNI AD Gagalkan Penyelewengan Pupuk

Prajurit TNI AD membongkar pupuk bersubsidi yang disalahgunakan

MALANG – Anggota TNI AD kembali menggagalkan upaya penyalahgunaan pupuk bersubsidi di wilayah Kabupaten Malang. Senin (11/5) malam, Koramil 0818/20 Tajinan bersama anggota Korem 083/Baladhika Jaya, mengamankan sebanyak 3 ton pupuk bersubsidi yang akan dijual di luar wilayahnya.
Pupuk bersubsidi tersebut, diamankan dari Sugeng Abadi, 44 tahun, warga Dusun Krajan, Desa Kidal, Kecamatan Tumpang.  Sugeng serta barang bukti pupuk, ditangkap ketika melintas di depan Pasar Tajinan. Pupuk diangkut dengan menggunakan truk boks N 8170 AG.
“Di tempat tinggal saya sudah tidak ada lagi yang berjualan pupuk. Sementara saya membutuhkan pupuk untuk lahan tebu. Makanya terpaksa membeli pupuk di luar,” ujar Sugeng kepada Malang Post, kemarin.
Pihak TNI AD mengamankan Sugeng dan pupuk bersubsidi tersebut, karena membeli di luar wilayah yang diizinkan. Ia membeli pupuk tersebut di Kecamatan Gondanglegi. Jenis pupuk yang diamankan adalah, Phonska sebanyak 28 sak, ZA sebanyak 18 sak, Urea sebanyak 6 sak serta SP sebanyak 5 sak.
Dalam pemeriksaan di Koramil Tajinan, Sugeng mengatakan membeli pupuk di luar wilayah tersebut, karena kehabisan stok. Di wilayahnya, pupuk bersubsidi sudah habis. Sedangkan ia berdalih harus memberi pupuk lahan tebunya seluas 3,5 hektare.
 “Pupuk sekitar 3 ton tersebut, tidak untuk saya jual, tetapi untuk memberi pupuk lahan tebu saya sekitar 3,5 hektare,” tuturnya.
Dantim Intel Korem 083/Baladhika Jaya, Kapten Inf Agus Sudjiono mengatakan, penangkapan Sugeng ini berawal dari kecurigaan petugas dengan kendaraan truk yang dibawa Agus. Petugas membuntuti hingga depan Pasar Tajinan. Di depan Pasar Tajinan, petugas menghentikan dan memeriksaanya.
“Saat kami periksa, Sugeng tidak bisa menunjukkan surat pembelian sesuai lokasi distribusi penggunaan pupuk,” jelas Agus.
Soal pengakuan Sugeng, Agus mengatakan bahwa itu hanya dalihnya saja. Sebab sangat tidak relevan kalau pupuk sebanyak 3 ton itu, hanya untuk memberi pupuk 3,5 hektare tebu. Ada indikasi kalau pupuk itu akan dijual. Dan untuk penyelidikannya, bersama barang bukti pupuk bersubsidi, Sugeng langsung dilimpahkan ke Polres Malang.
“Dari pengakuan Sugeng ini, ia membeli pupuk Phonska sebesar Rp 105 ribu per-sak. Sedangkan harga eceran tertinggi (HET) Rp 115 ribu. ZA membeli Rp 85 ribu, SP Rp 100 ribu serta Urea Rp 93 ribu, padahal untuk HET lebih mahal,” papar Agus.(agp/aim)