Pengedar Upal Ditangkap Usai Beli Rujak Cingur

Kedua tersangka upal yang diamankan Polsek Sumberpucung, ketika dirilis kemarin.

MALANG –  Masyarakat harus lebih berhati-hati, menjelang Ramadan dan lebaran, uang palsu (upal) mulai banyak beredar di masyarakat. Rabu lalu, petugas Reskrim Polsek Sumberpucung mengamankan dua pengedar upal. Mereka ditangkap setelah menggunakan upal tersebut untuk berbelanja.
Keduanya adalah, Edi Sutrisno, 42 tahun, warga Dusun Krajan, Desa Bangelan, Kecamatan Wonosari. Bapak satu anak ini, yang kali ditangkap terlebih dahulu. Dan Supriyadi, 65 tahun, warga asal Jalan Jenderal Sudirman, Sumberpucung, yang ditinggal di Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan.
“Mereka ini kami tangkap secara terpisah. Barang bukti yang kami amankan dari mereka, sebanyak 64 lembar uang pecahan Rp 50 ribu. Sebanyak 61 lembar dari tangan tersangka Edi, 2 lembar dari tangan Supriyadi, sedangkan satu lembar dari Bu Wati, penjual rujak yang menjadi korban uang palsu,” ungkap Kasubag Humas Polres Malang, AKP Ni Nyoman Sri Elfiandani kepada Malang Post, kemarin.
Penangkapan kedua pengedar ini, berawal dari laporan Wati, penjual rujak di Desa Sambigede, Sumberpucung. Ia melapor ke Polsek Sumberpucung, kalau mendapat uang palsu dari seseorang yang baru membeli rujak. Pelaku membeli rujak habis Rp 21 ribu, dan dapat kembalian Rp 29 ribu.
Berdasarkan laporan itu, polisi kemudian mengobok-obok wilayah Kecamatan Sumberpucung. Hasilnya sekitar 30 menit setelah mendapat laporan, polisi menangkap Edi Sutrisno, ketika sedang jalan di Desa Senggreng, Sumberpucung. Ketika diamankan, Edi sempat mengelak. Namun setelah digeledah dalam tasnya, ditemukan 61 lembar bukti upal.
Dari penangkapan Edi ini, kemudian polisi mengembangkan kasusnya dengan menangkap Supriyadi di rumahnya. Dari tangan Supriyadi ini, ditemukan lagi upal sebanyak dua lembar.
“Total nilai uangnya Rp 3,2 juta. Untuk jeratannya, tersangka Edi kami jerat dengan pasal 36 ayat 3 jonto pasal 26 ayat 3 Undang-undang nomor 7 tahun 2011 tentang mata, dengan ancaman  kurungan penjara uang 15 tahun. Sedangkan Supriyadi, pasal 26 ayat 2 dan 3 sub pasal 36 Undang-undang No 7 tahun 2011 tentang mata uang, ancamannya 10 tahun penjara,” jelasnya.
Dalam pemeriksaan, kedua tersangka mengaku hanya membeli kemudian mengedarkan saja. Edy mengatakan membeli sekitar sebulan lalu kepada Broto, warga Tretes Pasuruan. Ia membeli Rp 2 juta melalui Supriyadi, dan mendapatan Rp 6 juta upal.
Selanjutnya sebesar Rp 1 juta kepada Supriyadi, sedangkan sisanya dipakai sendiri untuk membeli jajan dan diedarkan. “Saya membeli karena tertarik, apalagi warna serta bentuknya mirim uang asli,” kata Edi.
Sedangkan Supriyadi, mengatakan uang sebesar Rp 1 juta yang diberi oleh Edi, hanya tersisa Rp 100 ribu saja. Sisanya diakui dibuang. “Yang Rp 900 ribu, saya buang karena tidak terlalu mirip” ucapnya.(agp/aim)