Sel Terputus Seperti Jaringan Narkoba

JARINGAN perjokian kelompok Herwanto alias Anton alias Bowo alias BW ini, merupakan jaringan terstruktur dan terorganisir. Sistem kerja kelompok ini sangat rapi. Buktinya mereka bisa menjalankan aksinya sampai sembilan tahun.
“Mereka ini sangat pintar. Jaringannya seperti jaringan narkotika yang terputus. Antar tim atau divisi dibuat tidak saling mengenal. Hanya pentolan saja dalam jaringan itu yang mengenal. Hal itu untuk menghindari buruan polisi,” ujar AKBP Aris Haryanto.
Sistem kerja perjokian ini, memiliki dua tim yang di bawah kendali Herwanto alias Anton alias Bowo alias BW. Satu tim dikoordinir oleh GLG dengan anggota FND dan NH yang kini statusnya masih DPO. Sedangkan satu tim lain, langsung dikoordinir oleh Herwanto.
“Tim yang dikoordinir GLG itulah, yang merekrut empat calon mahasiswa baru tes masuk Fakultas Kedokteran UMM, yang sudah dijadikan tersangka,” tutur Aris.
Sedangkan tim yang dikoordinir Herwanto, memiliki beberapa divisi. Yaitu Divisi Perlengkapan dan Peralatan. Ada lima orang di divisi tersebut, yaitu Heronimus Cenaga alias Roni alias Densus, Raufiq Asyiari alias Rafa alias Nova, Mustolih alias Alex. Sedangkan dua orang lagi identitasnya Mr X dan statusnya masih DPO.
Kemudian Divisi Recruitmen. Ada empat orang di divisi ini, tiga orang identitasnya Mr X dan statusnya DPO, sedangkan satu pelaku adalah Fajar alias Begeng. Lalu Divisi Master yang bertugas menjawab soal ujian, identitasnya Mr X dan masih DPO. Selanjutnya divisi Operator yaitu Herawanto alias Anton dan Herominus Cenaga alias Roni. Juga Divisi Penagihan, identitasnya masih Mr X dan DPO.
“Selain itu, setiap tim ini masing-masing memiliki lima orang broker. Setiap broker minimal harus mencari tiga orang Camaba yang mau lolos tes lewat jalur perjokian,” sambung Kasatreskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat.
Jaringan ini juga memiliki alur kerja. Pertama sebelum menjalankan perjokian, anggota diberikan briefing oleh Herwanto. Kemudian anggota perjokian melanjutkan arahan atau briefing tersebut, kepada calon Camaba. Arahan yang disampaikan, adalah cara penggunaan alat yang dipakai.
Selanjutnya Camaba mengirimkan foto soal ujian tes lewat peralatan yang disiapkan kepada Divisi Master (jawaban). Divisi Master yang diketahui adalah orang pintar ini, kemudian mengerjakan soal dan mengirim jawaban kepada Divisi Operator. Lalu, dari Divisi Operator meneruskan jawaban kepada Camaba.
“Ketika alat yang digunakan error, mereka masih memiliki alternatif lain. Yaitu menempatkan beberapa orang pintar untuk ikut tes masuk Fakultas Kedokteran. Orang pintar ini, juga dibekali peralatan. Jawabannya kemudian dikirim kepada Divisi Operator. Jika jawaban orang tersebut benar dan dipakai, maka akan diberikan Rp 10 juta setiap orangnya,” papar Wahyu.
Selain itu, masing-masing tim yang terbentuk juga memiliki peralatan dan cara kerjanya. Untuk tim satu yang dikoordinir GLG,  cara kerja seperangkat HP Nokia ditaruh di celana dalam (untuk Camaba laki-laki, Red). Sedangkan Camaba perempuan di dalam kerudung. Kabel headset yang dimodifikasi ditempat ke badan sampai dilingkatkan di bahu peserta. Juga ada sepasang alat mikro yang dimasukkan ke dalam kedua telinga. Fungsinya untuk berkomunikasi dengan operator mengenai jawaban soal serta melaksanakan perintah.
Kemudian, peserta ujian diberi tempat pensil yang di dalamnya ada HP dan sudah dilubangi untuk kamera HP. Fungsinya sebagai mata atau alat mengirim gambar ke operator. Peserta juga diberi tas berisi UPS sebagai pemancar dan penguat signal HP.
Selanjutnya, gambar soal yang dikirim ke operatir langsung dikendalihan dengan laptop. Setelah itu jawaban ujian akan dikirim melalui HP yang dipasang pada tubuh peserta dengan setting auto answer. Peserta yang sudah menerima jawaban, memberikan kode batuk.
Sedangkan tim kedua yang dikoordinir Herwanto, cara kerja alatnya, HP Nokia diletakkan di kantong celana peserta atau joki. Bluetooth diletakkan dalam kerah baju. Hidden earpiece dimasukkan ke dalam telinga. HP Iphone diletakkan di kantong baju dengan posisi kamera menghadap ke depan dan sudah on.
Shutter diletakkan di kantong celana untuk memotret soal. Peserta akanb mengarahkan soal ujian agar terlihat jangkauan kamera HP yang ada di kantor baju. Gambar yang tertangkap kamera HP, tersimpan otomatis dan terupload ke akun dropbox yang sudah disetting.
Gambar yang sudah masyk, akan diakses ke Divisi Master yang menjawab soal. Selanjutnya Divisi Master mengirim jawaban ke Divisi Operator, yang kemudian ditransfer ke pada peserta. Peserta yang sudah menerima jawaban, diminta mengetuk Bluetooth sekali sebagai kode.
“Mereka ini menarik tarif kepada setiap Camaba sebesar Rp 150 juta sampai Rp 300 juta. Itu untuk Camaba yang mengikuti tes ujian. Sedangkan Camaba yang tidak mengikuti tes, namun digantikan oleh orang joki biayanya lebih mahal,” tegas mantan Kasatreskrim Polres Tuban ini.(agp/ary)