Setengah Bugil Saat Terjaring Operasi Gabungan BNN

MALANG – Dua karyawan Karaoke Doremi di Ruko Pelita Trowulan Square Kav. 9-12 Jalan Candi Trowulan Lowokwaru, diamankan tim Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Malang, kemarin. Yakni Yuni Wulandari, 21 tahun sebagai Lady’s Companion (LC) dan kekasihnya Chandra Ari Setiawan server karaoke. Dari tes urine BNN, keduanya positif terdeteksi memakai narkoba.
Pasangan kekasih kena razia di indekos Yuni Wulandari, Jalan  Ranugrati RT02 RW01, Kelurahan Sawojajar. Yuni asal Jalan Kusuma, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung tak bisa berkutik. Dia diduga tengah bermesraan dengan Chandra Ari Setiawan, 31 tahun, warga Jalan LA Sucipto, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing Kota Malang. Pasalnya, saat petugas masuk, tubuh Yuni hanya ditutupi selimut.
Tim gabungan BNN Kota Malang bersama anggota Reskoba Polres Malang Kota dan anggota Satpol PP Kota Malang sukses menjalankan operasi senyapnya.  Di rumah dua lantai ini, petugas berjumlah sekitar 25 orang. Pengelola indekos sempat panik, namun lebih santai setelah mendapat penjelasan dari petugas.
Petugas meminta seluruh penghuni kamar kos keluar dari kamar. Meskipun ada juga yang terpaksa harus diketuk pintunya oleh petugas. Termasuk kamar Yuni dan Chandra. Petugas harus mengetuk pintu kamar gadis asal Bandung ini berulang-ulang. “Dibukakan Chandra sudah menggunakan pakaian lengkap sambil menenteng tas, dia langsung turun ke lantai satu. Sedangkan Yuni posisinya tengkurap dengan tubuh dibalut selimut,’’ kata salah satu petugas.
Tak lama kemudian, Yuni pun bangun. Yuni keluar dengan tubuh hanya dibalut jaket warna hitam, tanpa dilengkapi pakaian dalam.  Seperti penghuni indekos lainnya, setelah menulis nama pada lembaran absensi, Yuni dan Chandra langsung melakukan tes urine. Dari tes urine inilah, kemudian diketahui jika keduanya mengkonsumsi narkoba.
Melihat hasilnya positif, petugas pun melakukan pemeriksaan intensif kepada sepasang kekasih yang mengaku sama-sama bekerja di Karaoke Doremi ini.
Sedangkan beberapa petugas dari BNN, dan Satpol PP melakukan penggeledahan di kamar Yuni.
“Dari hasil penggeledahan, kami menemukan alat hisap sabu-sabu (bong), yang disimpan Chandra di jaket. Selain itu juga kami temukan dua plastik bekas bungkus sabu-sabu yang disimpang dalam ponsel,’’ katanya.
Petugas yang mengatakan dugaan kuat Chandra sebagai pengguna narkoba semakin kuat dengan temuan barang bukti tersebut.
Sementara di kamar Yuni, petugas juga menemukan satu plastik bekas sabu-sabu. Plastik yang isinya sudah kosong tersebut ditemukan dalam lipatan buku tabungan. Meski tidak diketahui  plastik tersebut milik siapa, yang jelas oleh petugas langsung ikut diamankan.
Sementara, saat melakukan penggeledahan ini, petugas juga meminta Yuni untuk menggunakan celana dalam dan bra. “Wes nggawe CD a, wes nggawe BH, ayo dipakai dulu, terus ikut kami ke BNN,’’ teriak petugas.
Tapi bukannya langsung berdiri, wanita  asal Jalan Kusuma, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung malah terlihat bingung. Lantas langsung memakai celana pendek di depan petugas.
Sementara itu, kepada petugas Chandra mengaku jika bong dan plastik bekas sabu-sabu itu adalah milik temannya. Sementara dia ke rumah Yuni untuk memberikan struk gaji.
“Saya tadi pagi ke sini pak, untuk memberikan struk gaji. Kalau barang itu milik teman,’’ kilahnya.
Tapi sayang, penyataan Chandra sama sekali tidak digubris petugas. Terbukti, pria ini langsung dibawa petugas menuju ke kantor BNN di Jalan Mayjen Sungkono, untuk pemeriksaan lebih lanjut. Rencananya akan direhabilitasi di Dodik Belanegara Rindam V Brawijaya.
“Langsung dibawa ke kantor, untuk dilakukan assessment. Dari hasil assessment nantinya menjadi apakah, keduanya akan menjalani rehabilitasi atau perkaranya lanjut,’’ terang Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Malang, AKBP Hennry Budiman yang kemarin memimpin langsung operasi gabungan tersebut.
“Operasi gabungan ini sasaran kami adalah indekosan, diduga banyak pengguna narkoba bermukim. Sesuai  target,  kami memang memburu pengguna bukan pengedar,’’ imbuhnya.
Dia juga mengatakan, pengguna narkoba sebagai korban bebas dari jeratan hukum. Sebaliknya, dia menyebut pengguna ini akan mendapatkan biaya rehabilitasi gratis dari negara.
“Tahun 2015 anggaran rehabilitasi cukup besar yaitu Rp 500 miliar. Itu sebabnya, jika ada pengguna atau keluarga pengguna yang sukarela melapor untuk meminta rehabilitasi langsung direhabilitasi. Mereka tidak akan diproses pidana, negara menggaransi itu,’’ jelasnya.
Tapi sebaliknya, pengguna yang tertangkap tangan lengkap dengan barang buktinya prosesnya bisa lain.
Dia juga menyebutkan, pengguna narkoba tahun 2015 ini meningkat. Bahkan terhitung sejak Januari – Mei, pengguna narkoba yang direhabilitasi jumlahnya 70 orang. Ironisnya 60 persen merupakan pelajar. “Karena terus ada peningkatan, makanya operasi ini harus terus digelar. Ini tidak sekali, akan berkelanjutan,’’ tandasnya.
Selain mengamankan pasangan yang positif menggunakan narkoba, operasi kemarin juga mengamankan tiga pasangan yang tinggal satu rumah, tanpa ikatan pernikahan. Bahkan, salah satu dari pasangan  berstatus guru SD di Kota Malang.
Adalah MS, 23 tahun, asal Jombang. Dia diamankan bersama kekasihnya, SRS, 28 tahun, yang indekos di Jalan Kendalsari Gg I, Kota Malang. Berbeda dengan pasangan Yuni dan Chandra, tiga pasangan yang diamankan saat berada satu kamar tanpa status pernikahan ini hanya dimintai KTP.
“KTP mereka kami amankan. Mereka tetap diproses, dan segera menjalani sidang Tindak Pidana Ringan (Tipiring),’’ tegas Penyidik Pengawai Negeri Sipil (PPNS) Satpol PP Kota Malang Kateman yang kemarin ikut terlibat dalam operasi gabungan ini.  
Dia juga menyebutkan, tiga pasangan ini akan dikenakan pasal 2  Perda no 8 tahun 2005 tentang Larangan Tempat Pelacuran dan Perbuatan Cabul.  
Operasi gabungan kemarin dilakukan di enam tempat indekosan, yakni satu di Jalan Wisnu Wardana, dua indekos di Jalan Ranugrati, dua indekosan di Jalan Kendalsari Gg I, dan satu indekos di Jalan Terusan Sigura-gura. Operasi gabungan ini berjalan cukup lancar, kalaupun ada bersitegang dengan penghuni kos lantaran tidak terima, dapat diselesaikan dengan baik.
Sementara baik penghuni kos maupun pengelola kos memberi  apresiasi dengan operasi ini. Bahkan, rata-rata mereka ingin operasi ini tidak dilakukan sekali saja, tapi dilakukan terus menerus. “Kegiatan operasi ini sangat bagus, untuk pencegahan peredaran narkoba. Itu sebabnya, jangan hanya sekali ini saja operasi digelar, tapi berkelanjutan, di tempat kos lain juga,’’ kata Erni salah satu penghuni kos di Jalan Wisnu Wardana.(ira/ary)