Diduga dibunuh 

Rafail menjelaskan, proses autopsi terhadap jasad Wiji sudah selesai. Di jasadnya ditemukan luka lebam dan sayatan.
"Kami menduga korban tewas akibat dibunuh dengan menggunakan benda tajam atau benda tumpul. Tetapi, kami masih harus menanti hasil autopsi dari dokter," Rafail menambahkan.
Dugaan sementara, Rafail mengatakan, pelaku pembunuhan adalah kekasih korban yang berkewarganegaraan Pakistan dan berinisial WF. Sangkaan itu muncul, karena pada Februari lalu, dia pernah melaporkan WF ke kepolisian Mong Kok dengan tuduhan melakukan penganiayaan.
Dalam laporan tersebut, turut disertai foto Wiji dengan pipi sebelah kiri yang tersayat benda tajam. Tetapi, laporan itu ditarik ketika polisi berhasil menangkap WF.
Rafail mengatakan, keluarga korban di Malang telah diinformasikan mengenai tewasnya Wiji. Sesuai dengan keinginan keluarga, pihak KJRI akan mengusahakan agar jasad Wiji bisa dipulangkan ke Tanah Air secepatnya
Sementara itu Kepala Desa (Kades) Wonokerto , Kecamatan Bantur, Ali Mas’ud kepada Malang Post mengaku mendapat informasi jasad Wiji ditemukan toko di Mong Kok, Distrik Yau Tsim Mong.
“Setelah saya cek, pihak keluarga sudah menerima kabar duka tersebut. Namun, pihak keluarga saat ini sedang mencari tahu kebenarannya,” ujar Ali kepada wartawan kemarin.
Dijelaskannya, keluarga korban mengetahui kabar itu dari teman Wiji Astutik, yang juga bekerja di Hongkong.
Sementara itu, Kasi Penempatan TKI Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Malang, Sukardi, masih mencari tahu kebenarannya. “Kami masih menunggu keterangan resmi dari Konsulat Jenderal yang ada di sana dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI),” urainya.
Menurutnya, melalui informasi yang diperolehnya, korban berangkat pada 2007 melalui PPTKIS yang berada di Kota Malang, PT Tritama Bina Karya. Dia mulai bekerja dari 2007 sampai 2009 atau sesuai dengan visa kerjanya.
“Kami terus berupaya untuk menggali data dan informasi terkait perisitiwa ini. Termasuk kronologis persinya kejadian ini. Kami juga menunggu rilis resmi dari Konsulat Jenderal yang ada di sana dan juga dari BNP2TKI,” pungkasnya.(big/viv/ary)