Anak Korban Biasa Saja

MALANG – Wiji Astutik, TKW asal Dusun Krajan, Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur, yang diduga tewas dibunuh di Hongkong ternyata 10 tahun tak pernah pulang. Namun anak korban bernama Rahayu Putri 10 tahun terlihat biasa saja. Maklum, dia tak pernah melihat ibunya, sebab Wiji pergi sejak putrinya berusia tujuh bulan.
Keluarga sempat tidak percaya dengan kabar kematian tersebut. Mereka yakin setelah Rinda Lestari, adik bungsu Wiji yang bekerja sebagai TKW di Taiwan, memastikan kabar kematian itu.
“Kami sempat tidak percaya dengan kabar itu. Karena yang mengabarkan Wiji meninggal tetangga sekitar, yang anaknya juga bekerja di Hongkong. Kami baru yakin, setelah Rinda Lestari adik kami yang bekerja sebagai TKW di Taiwan membenarkannya,” terang Sulistyo, kakak sulung Wiji Astutik.
Wiji berangkat ke Hongkong sebagai TKW pada Maret 2005 lalu, lewat PT PJTKI Tri Tama Bina Karya, Malang. Saat berangkat dia meninggalkan seorang suami (Supaat, Red) serta seorang anak perempuan (Rahayu Putri) yang saat itu berusia 7 bulan.
Sekarang Rahayu Putri, sudah tumbuh dewasa. Usianya sekarang 10 tahun dan duduk kelas 5 SD. Ia selama ini tinggal bersama kakeknya, Supardi (ayah Wiji Astutik). Sedangkan Supaat, suami Wiji warga asal Kecamatan Singosari, meninggal dunia akibat kecelakaan pada Juni 2014 lalu.
Selama 10 tahun bekerja menjadi TKW, Wiji hanya sekali mengirim uang kepada orang tua dan anaknya. Itupun sudah lama dan jumlahnya tidak terlalu besar, hanya Rp 1,2 juta. “Sekali saja, itupun sudah lama dulu. Setelah itu tidak pernah lagi,” kata Rahayu Putri.
Bahkan komunikasi melalui telepon pun, Wiji sudah tidak pernah. Padahal beberapa tahun lalu, sebelum Rahayu Putri beranjak dewasa, Wiji masih sering telepon. “Saya sama sekali tidak tahu ibu itu seperti apa. Saya mengetahui wajah ibu, ya melalui foto yang dikirimnya dulu,” tutur Rahayu.
Terakhir komunikasi pada bulan Mei lalu. Itu pun, Wiji berkirim pesan melalui media sosial facebook milik Rahayu. Ia menanyakan nomor handphone ayahnya, Supardi. Tetapi karena HP milik Supardi rusak, oleh Rahayu diberikan nomor HP miliknya. “Namun tetap tidak telepon atau SMS saya,” katanya.
Rasa kaget atas kematian ibunya, Rahayu memang merasakan. Tetapi dari raut wajahnya, ia sama sekali tidak merasa kehilangan karena sejak masih bayi ditinggal pergi.
“Kalau kaget, kami semua memang kaget dengan kabar kematian itu. Namun yang kami sesalkan, kenapa selama ini tidak pernah memberikan kabar atau pulang. Tahu-tahu mendapat kabar kematiannya,” papar Supardi, ayah Wiji.
Sulistyo, menambahkan bahwa keluarga sudah mengikhlaskan kematiannya. Keluarga menjadikan kejadian itu adalah sebuah takdir. Tetapi jika memang kematian Wiji karena dibunuh, keluarga meminta kepada pihak kepolisian Hongkong untuk menangkap pelakunya.
“Jika memang dibunuh, keluarga minta kasusnya terus diusut sampai tuntas,” harap Sulistyo, sembari mengatakan bahwa dirinya terakhir komunikasi dengan Wiji pada September 2014 lalu, ketika dirinya memiliki hajat pernikahan anaknya.
Soal kepulangan jenazah, keluarga sudah menghubungi pihak perusahaan yang memberangkatkan Wiji. Termasuk pihak desa, kecamatan dan kepolisian juga berusaha untuk mengurus kepulangan jenazah Wiji. Diperkirakan jenazah Wiji akan dipulangkan minggu ini, setelah proses visum selesai.(agp/ary)