Keluarga Berharap Jenazah Cepat Dipulangkan

Rahayu Putri, anak kandung Wiji Astutik dan Supardi, ayah kandung Wiji saat menunjukkan foto semasa hidup Wiji Astutik.

MALANG – Hingga empat hari kemarin, sejak ditemukan tewas Senin (8/6) lalu, jenazah Wiji Astutik, TKW asal Dusun Krajan, Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur, masih tertahan di Hongkong. Keluarga berharap, jenazah ibu satu anak yang diduga menjadi korban pembunuhan tersebut, segera dipulangkan. Keluarga menginginkan jenazahnya dimakamkan di tempat pemakaman umum Desa Wonokerto.
“Kami berharap jenazah adik saya, bisa secepatnya dipulangkan ke Indonesia. Karena jika terlalu lama, kasihan dengan jasadnya. Kami menginginkan jenazah bisa dimakamkan di sini (pemakaman Desa Wonokerto, red),” terang Sulistyo, kakak sulung Wiji Astutik.
Sampai kemarin, Sulistyo mengaku masih belum mendapat kabar, kapan jenazah adiknya bisa dipulangkan. Kendati selama10 tahun ini, Wiji tidak pernah pulang, namun keluarga menginginkan jenazah untuk segera dipulangkan.
“Saat ini kami memang belum menyiapkan makamnya. Namun jika sudah ada kepastian kapan dipulangkan, kami akan segera menyiapkannya. Terus terang, jika diminta untuk menjemput jenazahnya ke Hongkong, kami sama sekali tidak memiliki biaya,” ujarnya.
Sementara itu, kematian Wiji Astutik ini, mengundang perhatian Kementrian Luar Negeri (Kemenlu). Rabu (10/6) petang lalu, perwakilan Kemenlu datang ke rumah keluarga Wiji. Kedatangannya didampingi oleh petugas dari PPTKIS (Perusahaan Penyalur TKI Swasta) dan Disnakertrans Kabupaten Malang.
Kedatangan perwakilan ini, membawa surat kematian yang dikeluarkan KJRI Hongkong. Dalam surat tersebut, dijelaskan bahwa Wiji Astutik ditemukan meninggal dunia pada Senin 8 Juni lalu. Namun dalam surat tidak disebutkan, penyebab kematiannya. Penyebab kematian Wiji, kini masih diselidiki oleh pihak Kepolisian Hongkong.
“Pihak PPTKIS juga menyebutkan bahwa ibu satu anak tersebut, sudah diluar tanggungan PPTKIS. Apalagi Wiji juga sudah over stay, sehingga tidak diketahui menggunakan dokumen apa selama 10 tahun berada di Hongkong,” tutur Sukardi, Kasi Penempatan TKI Disnakertrans Kabupaten Malang, yang ikut mendampingi Kemenlu dan PPTKIS.
Untuk pemulangan jenazah Wiji, masih menunggu proses penyelidikan dan visum yang dilakukan Kepolisian Hongkong selesai. Biaya pemulangannya tergantung pada pemerintah dan keluarga. Jika keluarga tidak memiliki biaya, pemulangannya akan ditanggung oleh pemerintah.
“Kalau pemulangannya ditanggung pemerintah, kami harus melengkapi persyaratan bahwa tidak mampu yang diketahui Kecamatan dan pihak desa. Persyaratan itupun, juga sudah kami sampaikan kepada perwakilan Kemenlu,” sambung Sulistyo, sembari mengatakan bahwa keluarga tetap menggelar doa, kendati jenazahnya belum dipulangkan.(agp)