Juga Bobol Bank Saudara Rp 3,95 Miliar

Medio Februari lalu, kasus pembobolan bank juga terjadi di Kota Batu. Rupanya sebelum mendekam di LP wanita Sukun seperti saat ini, Fransiska Daris dan Winarti Utami sempat beraksi di PT Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk (Bank Saudara, Red), Kota Batu.
Sesuai catatan Malang Post, kasus itu juga ditangani Satuan Unit I Subdit II Perbankan Ditreskrimsus Polda Jatim, diduga telah melakukan tindak pidana perbankan. Di Bank Saudara, PNS Pemkot Malang berhasil membobol Rp 3, 495 miliar.
Saat itu, Kabid Humas Polda Jatim masih dijabat Kombes Pol Awi Setyono. Awi menjelaskan bahwa Kucuran kredit itu dikhususkan untuk PNS di lingkungan kantor Kecamatan Kedung Kandang, kota Malang.
‘’Tidak semua PNS mendapat kucuran kredit tadi, tapi hanya untuk 22 debitur saja. Plafon kredit dicairkan total mencapai Rp 3,495 miliar dan dilakukan dalam 4 tahap,’’ papar Awi.
Sistem pembayaran cicilan dari 22 debitur tidak dilakukan sendiri-sendiri. Melainkan secara kolektif (bersama) secara tunai dan transfer langsung ke rekening Bank Saudara, yang beralamat di Jl. Brantas 49B, Kota Batu.
Dari cara (mencicil) ini, Fransiska Daris  berhak mendapat fee pembayaran cicilan. Fee itu dibayarkan Win, selaku bendahara, dan totalnya mencapai Rp 55,7 juta terhitung Maret sampai Juli 2014. 
‘’Sejak bulan Juli 2014 itu, angsuran 22 PNS tidak dibayarkan lagi. Akibatnya, terjadi kredit macet sampai tersangka ditangkap. Potensi kerugian Rp 3,4 miliar,’’ rinci Awi.
Merasa ada kejanggalan dalam pembayaran cicilan pihak Bank Himpunan Saudara lantas melakukan investigasi. Pertama-tama manajemen mendatangi Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Pemkot Malang.
Betapa kaget pihak Bank Himpunan Saudara setelah bertemu BPKAD Pemkot Malang. Sebab, 22 debitur yang mengatasnamakan PNS Kecamatan Kedung Kandang, tidak terdaftar di badan keuangan Pemkot Malang tadi alias fiktif.
Tidak puas dari investigasi pertama, kata Awi, 7 Agustus 2014 pihak bank lalu mendatangi Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemkot Malang. Di sini, mereka menanyakan keaslian Surat Keterangan (SK) 22 debitur, yang dijadikan agunan saat pengajuan kredit.
‘’Ternyata, setelah dilakukan verifikasi didapatkan 22 SK itu adalah palsu. Karena nama-nama yang tercantum di dalam SK tidak terregistrasi dalam database BKD Kota Malang,’’ ucap Awi dengan menunjukkan tumpukan 22 SK dimaksudkan.
Tim Polda Jatim lantas melakukan penangkapan dan berhasil 60 item barang bukti kejahatan yang digunakan tersangka. Diantaranya SK CPNS, SK PNS, SK pangkat terakhir, SK gaji berkala atas nama 22 debitur fiktif atau palsu.
Karena terlibat kasus itu, jabatan Winarti Utami sebagai bendahara kecamatan. Winarti juga pernah diturunkan pangkatnya karena bermasalah  yakni dari 3B diturunkan menjadi 3A.
Sementara itu dari penelusuran Malang Post saat itu, Fransisca Daris   diketahui memiliki sebuah rumah di kawasan perumahan mewah, Perum Villa Bukit Tidar Malang. Sekitar setahun lalu, ia pernah tinggal bersama keluarganya di perumahan tersebut.
Rumah berwarna cat hijau daun dengan pagar besi tersebut, berada di Blok E-2 nomor 359, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun. Rumahnya berada paling ujung sendiri. Namun sekitar beberapa bulan lalu, Fransisca sudah tidak tinggal di rumah tersebut.
Meskipun sudah lama tidak ditempati, namun kondisi rumahnya terlihat masih terawat. Dari informasi yang didapat Februari lalu, rumah tersebut dijual dengan harga Rp 830 juta. Penjualan rumah mewah itu dialihkan kepada saudaranya, sejak sekitar 4 bulan lalu. Sertifikat kepemilikan rumah pun, informasinya sudah berbalik nama.(agp/van/hms/nug)