Sindikat Online Lowokwaru Dibongkar

SURABAYA–Sindikat jual beli barang melalui online antar negara berpusat di di Jalan Borobudur Agung Timur IX Lowokwaru Malang, berhasil dibongkar Polda Jatim. Sedikitnya dua tersangka berkewarganegaraan Tiongkok dan Taiwan telah mendekam di sel Polda Jatim, kemarin.
Kedua tersangka antara lain HWB alas JH (25 tahun), laki-laki warga negara Tiongkok dan LMH alias S (24 tahun) warga negara Taiwan. ‘’Ada seorang saksi berinisial MI juga dimintai keterangan,’’ tandas Kombes Pol Kombes Pol Nurrochman, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jatim di Mapolda Jatim, Jumat siang.
Nurrochman tidak merinci detail, alamat pasti ditangkapnya kedua tersangka berkewarga negaraan asing, pada Jumat pagi kemarin. Alasannya, Ditreskrimsus Polda Jatim masih intensif mengembangkan kasus yang merugikan banyak pihak ini.
Sebaliknya, Nurrochman hanya merinci modus sindikat perdagangan online dari kedua tersangka yang dilakukan melalui www.58.com. Di mana website perdagangan itu hanya bisa dilakukan masyarakat yang mengerti huruf dan bahasa Tiongkok. ‘’Mereka ditangkap di kawasan Lowokwaru,’’ kilahnya.
Secara teknis, lanjut dia, modus sindikat penjualan barang fiktif diawali ketika keduanya mencari lapangan pekerjaan melalui www.58.com. Setelah memasukkan data dan nomor teleponnya, dua hari kemudian, mereka dihubungi oleh seseorang yang berperan sebagai agen. ‘’Tapi, mereka tidak kenal dan tidak tahu, pihak yang menyatakan dia diterima kerja,’’ paparnya.
‎Dalam pembicaraan ditelepon, kedua tersangka dinyatakan diterima kerja dan ditempatkan di Indonesia, tepatnya di kota Malang. Segala administrasi, akomodasi dan tiket Chatay Pasific untuk keduanya langsung disediakan.
Bahkan, paspor untuk kedua tersangka juga disediakan pihak agen ini. ‘’Mereka lalu terbang dari Hongkong menuju Surabaya. Setibanya di Juanda mereka dijemput orang tidak dikenal dan diajak ke Malang,’’ rincinya.
Dikatakan Nurrochman, setelah tiba di Malang mereka diberi pekerjaan mengangkat telepon orang yang hendak memesan barang. Mereka juga harus bisa meyakinkan barang yang dijual ada dan siap dikirim.
‘’Sebelum kedua tersangka juga diminta meyakinkan calon pembeli untuk mentransfer uang pemesanan barang ke sebuah bank di Tiongkok. Tapi, keduanya tidak tahu siapa identitas penelopon dan pemilik nomor rekening yang harus ditransferi,’’ katanya.
Ditambahkan dia, barang-barang yang ditawarkan oleh kedua tersangka adalah jenis elektronik termasuk handphone. Belakangan, uang yang sudah ditransfer calon pembeli ternyata tidak pernah dikirimkan.
‘’Mereka pun (calon pembeli) melaporkan kejadian ini ke Polda. Setelah dilakukan pengecekan mereka kemudian kita tangkap,’’ kata Nurrochman dengan menyebut mayoritas korbannya adalah orang WNA di Malang.
Sambil terus menelusuri keterlibatan pihak-pihak lain, kedua tersangka diamankan di Polda Jatim. Mereka dijerat melanggar UU RI No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Dengan ancaman pidana 6 tahun, dan denda paling banyak Rp1 miliar.
Sementara, barang bukti yang disita antara lain laptop, 3 buah HP, Iphone, 46 unit telepon, 2 koper router, 2 buah printer, layar monitor, power suplai, recorder CCTV, transmitter, sejumlah kabel ADSL, dan 3 buah dompet.

Lama Resahkan Warga
Penggerebekan rumah rumah WNA di Jalan Borobudur Agung Timur IX nomor 7, terjadi Selasa (9/6) malam lalu. Namun warga mengatakan penggerebekan pertama justru dilakukan oleh anggota Polsekta Lowokwaru.
“Tim dari Polda baru datang besoknya (Rabu 10/6) pagi. Sebelumnya petugas Polsekta Lowokwaru yang datang bersama ketua dan sekretaris RT 04 sini yang datang ke rumah tersebut,’’ kata warga bernama Handoko.
Kepada Malang Post, Handoko menceritakan penggerebekan itu dilakukan sekitar pukul 21.00 WIB. Awalnya Imron Ketua RT dan pak Rahmad  Sekretaris RT berniat melakukan pendataan identitas. Maklum, sejak setahun menetap, tidak satupun penghuni di rumah ini melapor ke  RT maupun RW setempat.
Saat datang ke rumah tersebut, keduanya didampingi oleh petugas dari Polsekta Lowokwaru. Rupanya, kedatangan mereka tidak digubris oleh para penghuni rumah. Hingga akhirnya, ada warga yang kemudian masuk dengan cara melompat pagar.
“Saat ada warga yang melompat pagar inilah, kemudian ada pergerakan dari dalam. Mereka kabur, dengan melompat tembok belakang,’’ kata Handoko.
Melihat hal itu, Rahmad bersama warga lainnya melakukan pengejaran. Hasilnya, dua orang berhasil ditangkap. “Yang ditangkap satu perempuan dan satu laki-laki. Sedangkan sisanya kabur,’’ imbuhnya.
Keduanya pun langsung dibawa ke Polsekta Lowokwaru untuk diamankan.  Selanjutnya esok harinya tim dari Polda Jatim datang, dan mengamankan barang-barang di rumah tersebut. “Kalau apa saja barangnya saya tidak tahu. Yang jelas saat keluar dari rumah  tersebut petugas dari Polda membawa kardus-kardus,’’ katanya. Sementara untuk kasusnya, Handoko sendiri mengaku para WNA ini terlibat kasus penipuan online. “Kemarin tidak boleh ngomong-ngomong, tapi bener kasusnya penipuan online,’’ tambahnya.
Sementara itu Handoko juga menceritakan, para penghuni rumah ini sangat tertutup. Tidak sekalipun pagar rumah megah dua lantai yang bagian depannya dilengkapi dengan kamera CCTV ini terbuka.
Handoko juga menguraikan saat penghuni di rumah ini tidak satupun yang bisa berbahasa Indonesia. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Mandarin. “Mertua saya sempat ngomong mandarin dengan salah satu dari mereka, saat ada petugas PLN datang untuk melakukan pengecekan listrik. Tapi banyak aksen mereka yang tidak dipahami oleh mertua,’’ tambah bapak satu anak ini.
Ditanya berapa orang yang menetap di rumah tersebut Handoko mengaku tidak tahu. Dia mengatakan beberapa kali melihat enam laki-laki keluar dari rumah ini untuk lari malam hari memutari perumahan. Sedangkan satu wanita pernah keluar saat berbelanja sayur.(has/ira/ary)