Warga Pisang Candi Tewas Tak Wajar

MALANG – Sulkani (59 tahun) warga Jl Pisang Candi Barat RT 3, RW 4, Kelurahan Pisang Candi, Kecamatan Sukun, Kota Malang ditemukan tewas tak wajar, kemarin. Warga dibuat heboh dengan penemuan jasadnya yang menggantung di gudang rumahnya, Jl Pisang Candi Barat nomor 28.
Jasad Sulkani ditemukan anak dan menantunya Aprilia Wulandari (19 tahun) dan Angga (23 tahun) sudah dalam posisi menggantung di dalam gudang sekitar pukul 16.30 WIB.
"Saya pulang kerja, pas melihat sudah dalam kondisi tergantung," ujar Wulan, panggilan akrab Aprilia Wulandari kepada Malang Post, di lokasi kejadian kemarin. Wulan masih shock dengan kejadian tersebut, sehingga enggan memberikan keterangan lebih lanjut.
Sulkani tinggal di rumahnya bersama Wulan dan Angga. Istrinya sudah meninggal. Kesehariannya, dia bekerja serabutan. Baru dua bulan lalu, Sulkani menikahkan Wulan (anaknya) dengan Angga.
Keterangan yang berhasil dihimpun Malang Post dari warga sekitar, terdapat beberapa kejanggalan melihat posisi Sulkani saat tergantung. Pelipis kirinya berdarah, terdapat tetesan darah di sekitar lokasi. Kedua tangan Sulkani memegangi kabel telepon yang digunakan untuk menggantung jasadnya. Lidah Sulkani tidak menjulur, matanya juga terpejam.
Sementara di kamar mandi yang berjarak hanya tiga meter dari gudang tersebut, ditemukan gumpalan darah.
Tidak ada yang menyangka, Sulkani bakal berbuat seperti itu. Pria yang kesehariannya bekerja serabutan ini, terkenal pendiam dan jarang menceritakan dirinya ke orang lain. "Orangnya pendiam, tak pernah cerita apa-apa ke saya. Dia biasa bekerja di rumah saya satu minggu sekali, ya bersihkan toko, rumah atau halaman," ujar Sri Martono, tetangga sekaligus pemilik rumah tempat Sulkani bekerja.
Sri mengaku kaget, melihat Sulkani berlaku demikian. Sebab, meski pendiam Sri menganggap kalau Sulkani orang yang baik dan selalu menampakan diri sebagai sosok yang ceria. "Harusnya malam ini (tadi malam) dia ikut festival patrol di Jl Ijen. Tapi tiba-tiba tadi dikabari kalau ada peristiwa ini," kata Sri.
Senada, Listiyani, pemilik warung di depan rumah Sulkani menyatakan, kalau selama ini Sulkani dikenal sebagai orang yang ramah. Saat tetangganya sedang kerepotan, tanpa disuruh dia langsung membantunya. "Biasa dia beli pulsa disini. Orangnya baik, suka menolong tetangganya. Saya juga tidak menyangka, kok bisa seperti itu," katanya.
Dikatakannya, kalau Sulkani juga dikenal ramah. Kalau bertemu dengan warga sekitar, Sulkani selalu menyapa. "Ya, dia selalu kelihatan ceria. Baik orangnya, supel, pokoknya tidak ada yang menyangka kalau bisa sampai bunuh diri," tegasnya.
Demikian dengan, Sauri, teman Sulkani. Pria berusia 76 tahun ini mengaku benar-benar kaget saat mendengar Sulkani tewas. "Wah, ini pasti banyak yang kecewa. Soalnya dia baik sekali. Tidak pernah macem-macem. Saya khawatirnya ada masalah yang dipendam. Tapi dia tidak pernah cerita," kata Sauri.
Jasad Sulkani dibawa ke kamar jenazah Rumah Sakit Syaiful Anwar sekitar pukul 18.30 WIB. Sementara Kasat Reskrim Polres Malang Kota, AKP Adam Purbantoro menyebut, masih menyelidiki peristiwa tersebut. Adam masih belum berani mengambil kesimpulan. "Kasus ini masih saya dalami. Di pelipis kiri ditemukan luka dan berdarah. Seperti habis kejedod. Masih banyak kemungkinan, kami masih perlu mendalaminya lagi," kata Adam.
Dikatakannya, polisi mendapat laporan sekitar pukul 17.00 WIB. Kemudian, petugas patroli datang lima menit kemudian. Sampai kemarin malam, belum ada kesimpulan dari peristiwa tersebut.(erz/ary)