100 Motor Teridentifikasi Hasil Kejahatan

Kapolres Malang, AKBP Aris Haryanto dan Kasatreskrim AKP Wahyu Hidayat, mengecek sepeda motor yang diamankan.

MALANG – Satreskrim Polres Malang terus mendalami asal usul ratusan motor yang diamankan dari lokasi pegadaian di Kecamatan Dampit dan Wajak. Hasil penyelidikan sementara, dari 306 unit motor ada sekitar 100 motor yang sudah diidentifikasi pemiliknya. Motor tersebut diindikasi hasil kejahatan, seperti curanmor, penggelapan serta kejahatan fidusia.
“Barang bukti motor yang sudah diidentifikasi akan kami kembalikan kepada pemiliknya. Namun syaratnya harus menunjukkan surat-surat aslinya untuk dicek. Jika memang nomor rangka dan nomor mesinnya sama bisa diambil,” terang Kapolres Malang, AKBP Aris Haryanto.
Kemarin, secara simbolis Kapolres Malang menyerahkan barang bukti sepeda motor Suzuki Satria FU nopol N 4388 RL, kepada kepada Mohammad Anas, warga Desa Ketawang, Gondanglegi. Sepeda motor tersebut, sebelumnya pada bulan Januari 2015 oleh korban dilaporkan telah dibawa kabur oleh temannya bernama Sofian.
“Alasannya hanya meminjam sebentar. Karena kenal saya pinjami beserta dengan STNK. Tetapi ternyata motor dibawa kabur dan tidak dikembalikan,” kata Anas, sembari menunjukkan bukti surat laporan polisi.
Sementara itu, Kasatreskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat menyampaikan, sekitar 100 motor yang sudah teridentifikasi tersebut, kebanyakan adalah milik pihak finance. Motor tersebut mengalami kredit macet yang kemudian digadaikan di wilayah Dampit dan Wajak.
“Diantaranya seperti Federal International Finance (FIF), yang sudah mengidentifikasi 43 motor dan Oto Finance 13 motor. Namun pengecekannya masih berdasarkan nomor polisi. Sedangkan sisanya adalah milik masyarakat yang menjadi korban kejahatan,” jelas Wahyu Hidayat.
Jika hasil cek fisik nomor rangka dan nomor mesin nantinya sama, mantan Kasatreskrim Polres Tuban ini, menyarankan kepada FIF dan Oto Finance untuk membuat laporan polisi. Laporan tersebut, untuk proses penyelidikan perkaranya lebih lanjut.
“Kalau ada laporan dari FIF dan Oto Finance, maka pemilik pegadaian bisa ikut dijerat dengan pasal 480 KUHP tentang penadah hasil curian. Tetapi karena jumlah motornya banyak, pasal yang kami terapkan adalah 481 KUHP, karena menjadikan sebagai mata pencaharian,” tegas Wahyu.
“Selain itu, pemilik pegadaian ini juga kami jerat dengan pasal 46 Undang-undang nomor 10 tahun 2008 tentang melakukan perbuatan praktik perbankan ilegal. Ancamannya adalah minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun kurungan penjara,” sambungnya.
Sekadar diketahui, dalam perkara ini Satreskrim Polres Malang telah menetapkan empat tersangka. Mereka adalah Wiwit, warga Kecamatan Dampit. Ia merupakan pelaku utama perampokan sekaligus pembegalan. WT terpaksa diberi hadiah timah panas di kaki kanan karena mau kabur.
Kemudian Mat Sahir, penadah motor curia nasal Kecamatan Dampit. Lalu Tongan Napitupulu warga Kecamatan Dampit, pemilih pegadaian di Dampit, yang dijadikan tersangka sebagai penadah sekaligus mendirikan kegiatan perbankan illegal. Dan satu tersangka lagi adalah Tongan Longgon, pemilik pegadaian di Kecamatan Wajak.(agp/aim)