Komplotan “Brimob dan BNN” Ditembak Mati

MALANG – Seorang Brimob gadungan ditembak mati oleh tim Satreskrim Polres Malang Selasa (16/6) lalu. Ia merupakan komplotan polisi dan anggota BNN gadungan, yang menyekap dan menyiksa para pengguna narkoba. Para korban ditangkap oleh komplotan ini, kemudian disiksa agar memberi uang damai hingga ratusan juta.
Komplotan ini beranggotakan enam orang, salah satunya seorang perempuan. (Lihat Grafis, Red). Serta satu pelaku yang diduga anggota BNN Kota Batu YPU (Yuda Prawira Utama). Perlengkapan yang mereka pakai untuk menyergap pemakai narkoba, benar-benar mirip dengan milik polisi dan anggota BNN.
Dari enam orang tersebut, satu pelaku tewas ditembak Polisi. Yaitu Irsyad Maulana Rukhyat. Pria yang mengaku sebagai anggota Brimob ini, berusaha melawan saat akan ditangkap. Irsyad, mengeluarkan senjata api jenis air softgun  lengkap dengan peluru, untuk menakuti polisi yang mau menangkapnya.
“Irsyad ini, tangkap di wilayah Karangploso. Saat itu dia melawan, hingga akhirnya kami tembak,” tegas Kapolres Malang, AKBP Aris Haryanto, kepada wartawan saat press release kemarin.
“Identitas Irsyad ini tidak jelas. Berdasarkan KTP, alamatnya di wilayah Kecamatan Klojen, Kota Malang. Namun ketika kami lakukan pengecekan, alamat tersebut ternyata sebuah tempat pengajian. Sesuai KTP, mengaku asli Banyumas, namun kepada warga mengaku asal Pati Jawa Tengah. Tetapi Irsyad ini, sudah lama tidak tinggal di tempat itu,” jelas Aris.
Dari tangan Irsyad ini, polisi mengamankan barang bukti berupa satu borgol jari, lima korek gas untuk hisap sabu-sabu (SS), enam peluru aktif kaliber 38, baju doreng Brimob, peluru gotri, peluru air softgun, senpi air softgun serta satu buah Handy Talky (HT). Tugas Irsyad, ikut dalam penggerebekan sekaligus penyekapan terhadap korban.
Mereka sudah melakukan penyekapan dan pemerasan terhadap empat orang. Satu kali pada bulan Maret lalu terhadap warga Kota Batu. Kemudian satu korban lagi pada bulan April atas warga Karangploso. Dan bulan Juni ini dua kali. Korbannya yaitu Hariadi warga Gondanglegi dan M Safiudin, warga Kromengan.
“Untuk korban Karangploso ini, sudah menyetorkan uang kepada para tersangka Rp 100 juta. Dan selain mengaku sebagai anggota BNN, mereka juga mengaku sebagai anggota Jatanras Polda Jatim,” sambungnya.
Modus operandinya, mereka mencari sasaran orang yang menjadi calon korbannya. Setelah mendapatkan, mereka lalu melakukan penangkapan terhadap korban, dengan menuduh sebagai pengedar narkoba. Begitu juga dengan korban Hariadi, mantan suami salah satu tersangka.
Para tersangka ini, memanfaatkan tersangka perempuan yakni Evi untuk memancing mantan suaminya, bertemu di penginapan Bounty Kepanjen untuk transaksi narkoba. Setelah bertemu dan transaksi narkoba, para pelaku ini datang untuk menangkap Hariadi.
Hariadi dituduh sebagai pengedar narkoba. Selanjutnya Hariadi dibawa untuk disekap di dua lokasi. Pertama di wilayah Kecamatan Dau dan di Villa Songgoriti. Selama penyekapan, pelaku menganiaya dan memukuli korban. Mereka meminta sejumlah uang kepada keluarga korban sebesar Rp 100 juta. Setelah nego, akhirnya hanya mendapat Rp 22 juta saja.
Terungkapnya jaringan anggota BNN gadungan ini, berawal dari dua laporan polisi yang keluarganya merasa kehilangan anggota keluarga. Berangkat dari laporan tersebut, polisi lalu melakukan penyelidikan. Pertama polisi menangkap Evi. Kemudian setelah dikembangkan, berhasil menangkap para pelakunya.
“Para tersangka ini rata-rata dari keluarga mampu. Bahkan, salah satu tersangka merupakan anak anggota polisi yang dinas di Kota Malang,” katanya.
Sementara itu, Evi Dian Nitami, mengatakan kalau dirinya semula tidak kenal dengan para tersangka. Bahkan Evi mengaku tidak tahu kalau mereka ini adalah BNN gadungan. Sebab ia dikenalkan kepada para tersangka lain, lewat temannya.
“Saya dikenalkan teman, yang mengatakan anggota BNN. Setelah dikenalkan dan menunjukkan kartu BNN, saya percaya. Awalnya saya hanya minta tolong untuk menyadarkan mantan suami, supaya berhenti mengkonsumi narkoba. Tetapi ternyata saya malah dimasukkan ke dalam jaringannya untuk memancing mantan suami,” jelas tersangka Evi.
Akibat perbuatannya tersebut, mereka ini dijerat dengan pasal 333 ayat 1 KUHP tentang barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum, merampas kemerdekaan seseorang dengan ancaman 8 tahun penjara. Dan pasal 368 KUHP tentang memaksa orang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memberikan barang, dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara.(Agp/Ary)