Tebang Tebu Dilahan Sengketa Ditangkap

MALANG – Perseteruan antara PT Margosuko dengan masyarakat desa Kecamatan Dampit, karena perebutan lahan belum berakhir. Jumat (19/6) lalu, Satreskrim Polres Malang mengamankan 10 orang di Desa Majang Tengah, Dampit. Mereka diamankan karena tertangkap tangan menebang tebu di lahan sengketa milik PT Margosuko.
Dari sepuluh orang tersebut, dua diantaranya ditetapkan sebagai tersangka. Yaitu Sahir, 46 tahun, warga Dusun Krajan serta Choirul Anam, 40 tahun, warga Dukuh Kidul Kali, Desa Majang Tengah, Dampit. Mereka dijadikan tersangka setelah bukti dan keterangan saksi-saksi sudah kuat.
“Dua orang yang kami jadikan tersangka ini adalah aktor. Mereka yang menyuruh melakukan penebangan tebu itu. Termasuk menjual tebu tersebut kepada orang lain. Barang buktinya kami mengamankan kuitansi penjualan tebu,” terang Kasatreskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat kepada Malang Post, kemarin.
Sedangkan delapan orang lainnya, menurut Wahyu hanya sebagai saksi. Delapan orang yang diketahui sebagai pekerja (burung tebang), pengawas, sopir truk dan pembeli ini, hanya diwajibkan lapor setiap Senin dan Kamis. “Selain mereka ini, masih ada satu orang lagi yang saat ini kami jadikan DPO. Inisialnya adalah S warga Kecamatan Dampit, yang perannya sama dengan dua tersangka,” jelas mantan Kasatreskrim Polres Tuban ini.
Dikatakannya, penangkapan mereka ini setelah mendapat laporan dan informasi dari PT Margosuko serta warga sekitar, bahwa ada warga yang melakukan penebangan tebu. Warga menginformasikan, karena mengetahui bahwa mereka ini bukan pihak yang bekerjasama dengan PT Margosuko.
Berangkat dari informasi itu, petugas bergerak cepat mendatangi lokasi. Begitu para pekerja dan lainnya sedang bekerja, polisi langsung menangkapnya. “Mereka kami jerat dengan pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan, dengan ancaman hukuman minimal 7 tahun kurungan penjara,” tegas Wahyu.
Sementara itu, kedua tersangka tetap ngotot bahwa lahan tebu itu adalah milik warga. Tersangka Sahir, bahkan mengatakan kalau dirinya disuruh oleh petinggi Desa Majang Tengah. Soal penjualan tanaman tebu sebesar Rp 40 juta, kepada pembeli sama sekali tidak diakui, kendati barang bukti kuitansi ditemukan dari saku celananya.(agp/aim)