Brigadir Yuda Terancam Pecat

MALANG – Brigadir Yuda Prawira Utama (YPU), anggota aktif BNN Kota Batu, tidak hanya meringkuk di balik rutan Mapolres Malang. Polisi yang berdinas di Polres Malang Kota ini, terancam akan mendapat sanksi terberat. Yaitu berupa pemecatan atau pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH).
Pernyataan ini disampaikan Kapolres Malang Kota, AKBP Singgamata SIK kepada Malang Post kemarin.  Ia menegaskan bahwa sanksi untuk Brigadir YPU ini pasti ada. Sanksinya apa, masih menunggu keputusan inkracht (tetap) dari proses pidananya.
“Untuk sekarang ini, kami akan mengikuti proses pidananya terlebih dahulu. Kalau sudah ada keputusan inkracht dari proses pidana, maka akan dilanjutkan dengan hukum internal,” ujar Singgamata.
“Hukum internalnya, bisa dengan sidang disiplin ataupun sidang kode etik. Sanksi terberatnya adalah dipecat atau pemberhentian tidak dengan hormat,” tuturnya, sembari mengatakan bahwa ia sudah berkoordinasi dengan Kapolres Malang, soal penangkapan YPU.
Mantan Kapolres Lumajang ini mengatakan, bahwa apa yang dilakukan YPU ini adalah murni perbuatan oknum polisi. Tidak ada kaitannya dengan instansi kepolisian. Sehingga Kepolisian sama sekali tidak akan memberikan perlindungan, kepada anggotanya yang melakukan perbuatan negative.
“Apa yang dilakukan itu, akan ditanggung sendiri secara perseorangan. Tidak ada kaitannya dengan instansi Polri. Polri pun tidak akan memberikan perlindungan. Bahkan, jika terbukti melakukan pidana akan disanksi dan dihukum seberat-beratnya,” tegasnya.
Sementara itu, sejak ditetapkan sebagai tersangka YPU langsung dilakukan penahanan. Ia ditahan layaknya tahanan umum lainnya. Tidak ada yang dibedakan atau diistimewahkan meskipun YPU anggota polisi aktif. Hanya ruangan tahanan saja yang dipisahkan dengan tersangka dan tahanan lainnya.
“Kami tidak memberikan keistimewaan bagi seorang tersangka. Meskipun dia adalah anggota polisi. Proses penahanannya sama seperti yang lainnya. Hanya ruangannya saja yang kami pisahkan,” kata Kasatreskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat.
Sekadar diketahui, polisi telah menetapkan tujuh orang tersangka komplotan BNN gadungan, yang melakukan penyekapan dan pemerasan terhadap korbannya. Dari tujuh orang tersebut, seorang ditembak mati, karena melawan petugas saat akan ditangkap. Yaitu Irsyad Maulana Rukhya, warga Jalan Gading Pesantren, Malang.
Enam tersangka lagi adalah Yuda Prawira Utama (YPU), Novembra Eko Yulianto alias Vhe alias Ipda Bagus, Endro Setiono alias Edo alias AKP Hendro, Dicky Putra Widianto alias Putung, Candra Tri Widagdo alias Menyun dan Evi Dian Nitami. Selain itu masih ada tiga orang lagi yang masih DPI, yaitu berinisial AN (Aan alias Leo), OF (Ofan) serta JF (Jefri), semuanya warga Kota Malang.(agp/nug)